NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Asing dari Masa Depan

“Sekarang aku jadi penasaran.”

Raka masih bersandar santai di bangku terminal.

Lampu neon di atas mereka berdengung pelan, kadang berkedip sebentar sebelum kembali stabil. Suara mesin bus yang masih menyala terdengar berat di kejauhan.

Nara masih memegang jam tua itu di tangannya.

Jarumnya tetap berhenti.

Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya memasukkannya ke saku jaket.

Raka memperhatikan gerakan itu.

“Kamu pegang jam itu seperti orang yang baru saja menemukan harta karun.”

Nara menoleh sedikit.

“Bukan harta karun.”

Raka mengangkat alis.

“Tapi penting?”

Nara ragu sebentar.

“Lumayan.”

Raka mengangguk pelan.

Ia tidak memaksa.

Beberapa detik mereka hanya duduk mendengar suara terminal malam.

Seorang kondektur berteriak di kejauhan.

“Garut! Garut! Satu kursi lagi!”

Raka akhirnya berkata lagi,

“Jadi… kamu datang dari mana?”

Nara menarik napas kecil.

Pertanyaan itu lagi.

Ia menatap lantai semen di depan mereka.

“…Bandung juga.”

Raka tersenyum miring.

“Bandung juga?”

“Ya.”

“Bagian mana?”

Nara berhenti.

Ia mencoba mengingat peta kota yang ia kenal.

Namun Bandung yang ia kenal adalah Bandung tiga puluh tahun setelah ini.

Banyak tempat yang mungkin belum ada.

Ia akhirnya menjawab,

“…dekat pusat kota.”

Raka menyeringai kecil.

“Itu jawaban paling luas yang pernah aku dengar.”

Nara menoleh padanya.

“Apa?”

“Bandung ini besar.”

Ia menunjuk jalan di luar terminal.

“Setengah kota bisa bilang mereka tinggal dekat pusat kota.”

Nara mengangkat bahu kecil.

“Aku tidak pandai menjelaskan arah.”

Raka tertawa pendek.

“Tidak apa-apa.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Tapi aku masih penasaran.”

Tentang apa?

Raka menunjuk pakaiannya.

“Bajumu.”

Nara melihat jaketnya.

“Kenapa?”

“Modelnya aneh.”

“Bagus atau aneh?”

Raka berpikir sebentar.

“…dua-duanya.”

Nara hampir tersenyum.

Raka melanjutkan,

“Dan sepatu itu.”

Ia menunjuk sepatu putih Nara lagi.

“Sepatu seperti itu jarang aku lihat.”

Nara menatapnya.

“Serius?”

“Serius.”

Ia menyeringai.

“Kelihatannya mahal.”

Nara menggeleng.

“Tidak juga.”

“Kalau tidak mahal… berarti kamu punya selera aneh.”

Nara menatapnya beberapa detik sebelum berkata,

“Kenapa kamu peduli?”

Raka mengangkat kedua tangan sedikit.

“Tidak peduli.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku cuma orang yang suka memperhatikan.”

Ia menyandarkan siku di lututnya.

“Terminal itu tempat yang bagus untuk melihat orang-orang aneh.”

Nara menatapnya curiga.

“Kamu sering di sini?”

“Lumayan.”

“Kenapa?”

Raka mengangguk ke arah gitarnya.

“Main musik.”

“Oh.”

Nara melirik gitar itu.

“Kamu musisi?”

Raka mengangkat bahu.

“Kadang.”

“Kadang?”

“Kalau ada yang mau dengar.”

Nara menatap gitar itu lagi.

Sarungnya sudah sedikit pudar.

Seperti sudah dipakai bertahun-tahun.

“Jadi kamu cuma duduk di terminal dan main gitar?”

“Kadang di taman.”

“Kadang di kafe kecil.”

“Kadang di tempat lain.”

Raka menatap langit-langit terminal.

“Musik tidak terlalu pilih tempat.”

Nara memperhatikannya beberapa detik.

Ada sesuatu tentang cara Raka bicara yang terasa santai tapi jujur.

Tidak dibuat-buat.

Ia berkata pelan,

“Kedengarannya bebas.”

Raka tertawa kecil.

“Bebas?”

“Ya.”

“Tidak juga.”

Ia menatap orang-orang di terminal.

“Semua orang punya alasan untuk berada di suatu tempat.”

Ia menoleh kembali ke Nara.

“Termasuk kamu.”

Nara tidak langsung menjawab.

Raka memiringkan kepala sedikit.

“Jadi… kenapa kamu di sini?”

Nara menatap jalan di luar terminal.

Lampu-lampu kendaraan lewat seperti garis cahaya yang bergerak pelan.

Jawaban yang sebenarnya terlalu aneh untuk diucapkan.

Ia akhirnya berkata pelan,

“Aku tersesat.”

Raka mengangguk pelan.

“Ya, kamu sudah bilang.”

“Bukan seperti itu.”

“Lalu bagaimana?”

Nara terdiam beberapa detik.

Ia mengangkat bahu kecil.

“Aku… tidak tahu harus ke mana.”

Raka menatapnya.

Lebih lama dari sebelumnya.

Seperti mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.

Lalu ia berkata pelan,

“Kamu juga tidak kelihatan seperti orang yang biasa naik bus malam.”

Nara menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kamu terlihat seperti seseorang yang seharusnya berada di tempat lain.”

Nara tersenyum tipis.

“Tempat lain seperti apa?”

Raka menunjuk ke arah pusat kota dengan dagunya.

“Tempat dengan lampu lebih terang.”

Ia menunjuk jaket Nara.

“Tempat dengan pakaian seperti itu.”

Kemudian ia menatap mata Nara.

“Tempat yang seharusnya bukan terminal.”

Nara menahan napas kecil.

Karena untuk pertama kalinya malam itu…

Seseorang hampir mengatakan kebenaran tanpa tahu.

Ia memang berada di tempat yang salah.

Di waktu yang salah.

Raka bersandar lagi di bangku.

“Tenang saja.”

Ia berkata santai.

“Aku tidak akan menginterogasi kamu.”

Nara mengangkat alis.

“Kamu sudah melakukannya.”

Raka tertawa kecil.

“Baiklah.”

Ia menunjuk ke arah gitarnya.

“Kalau kamu tidak mau cerita…”

Ia menarik gitar itu mendekat.

“…aku bisa cerita lewat musik.”

Nara menatapnya.

“Kamu serius?”

Raka menyeringai.

“Terminal juga butuh hiburan.”

Ia membuka sarung gitar itu.

Kayu gitar yang sudah agak pudar muncul di bawah lampu neon.

Ia memetik satu senar.

Ting.

Suara gitar itu jernih.

Raka menatap Nara lagi.

“Pernah dengar orang main gitar di terminal?”

Nara menggeleng.

“Belum.”

Raka tersenyum.

“Berarti malam ini kamu akan dengar yang pertama.”

Raka menggeser posisi duduknya sedikit agar lebih nyaman.

Ia menaruh badan gitar di atas pahanya, lalu menyesuaikan posisi tangan kirinya di leher gitar. Lampu neon terminal memantulkan sedikit kilau di senar logamnya.

Ia memetik satu senar lagi.

Ting.

Suara itu bersih.

Jernih.

Raka memiringkan kepalanya sedikit, mendengarkan nada yang keluar.

Kemudian ia memutar kunci senar pelan.

Ting. Ting.

Ia mengangguk puas.

“Lumayan,” gumamnya.

Nara memperhatikan dengan tenang.

Cara Raka memegang gitar terlihat sangat natural, seperti seseorang yang sudah melakukannya ribuan kali.

Ia tidak terlihat gugup sama sekali.

Beberapa orang di bangku terminal mulai melirik ke arah mereka.

Raka tidak terlihat peduli.

Ia mulai memetik beberapa chord pelan.

Melodi sederhana mengalir keluar dari gitar.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup jelas untuk terdengar di tengah suara mesin bus yang jauh.

Nara bersandar sedikit di bangku.

Ia tidak menyangka terminal bisa terasa seperti ini.

Raka berkata tanpa berhenti bermain,

“Kamu suka musik?”

Nara mengangguk pelan.

“Suka.”

“Jenis apa?”

Nara berpikir sebentar.

Pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana yang terdengar.

Musik yang ia dengar berasal dari puluhan tahun setelah waktu ini.

Beberapa band bahkan mungkin belum ada.

Ia akhirnya berkata,

“Macam-macam.”

Raka tersenyum kecil.

“Jawaban aman lagi.”

Ia memainkan melodi pendek.

Nada-nada itu mengalir santai seperti percakapan.

“Kalau aku,” katanya, “suka yang bisa dinyanyikan orang.”

“Kenapa?”

“Karena musik harus hidup.”

Ia menatap orang-orang di terminal sebentar.

“Kalau cuma dimainkan untuk diri sendiri… rasanya setengah mati.”

Nara memperhatikannya.

“Jadi kamu ingin semua orang ikut bernyanyi?”

“Tidak juga.”

Ia mengangkat bahu sedikit.

“Cukup kalau mereka berhenti sebentar untuk mendengar.”

Beberapa orang memang sudah mulai memperhatikan.

Seorang anak kecil berdiri dekat bangku mereka sambil menatap gitar Raka dengan mata penasaran.

Seorang bapak yang sedang minum kopi juga melirik ke arah mereka.

Raka mulai memainkan lagu yang lebih jelas sekarang.

Melodi yang sederhana tapi hangat.

Tangannya bergerak cepat namun santai.

Nara menatap jari-jarinya.

Ada bekas kapalan di ujung jarinya.

Tanda seseorang yang sering bermain gitar.

“Kamu belajar sendiri?” tanya Nara.

Raka mengangguk sambil tetap bermain.

“Sebagian.”

“Sebagian?”

“Sebagian lagi dari teman.”

Ia memainkan perubahan chord yang lebih cepat.

“Musik itu seperti bahasa.”

“Kalau sering dengar… lama-lama bisa sendiri.”

Nara tersenyum kecil.

“Kamu filosofis juga.”

Raka tertawa pendek.

“Tidak.”

Ia menunjuk gitar.

“Ini yang filosofis.”

Nara hampir tertawa.

Raka mulai menyenandungkan lagu pelan.

Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup dalam.

Tidak sempurna seperti penyanyi profesional.

Namun hangat.

Seperti seseorang yang benar-benar menikmati apa yang ia lakukan.

Beberapa orang di terminal sekarang benar-benar berhenti berjalan.

Mereka mendengarkan.

Nara menyadari sesuatu.

Suasana terminal yang tadi terasa asing dan menegangkan…

sekarang terasa berbeda.

Lebih ringan.

Ia menatap Raka.

Cara pria itu duduk santai dengan gitar, seolah dunia tidak terlalu rumit, membuat sesuatu di dalam dada Nara terasa lebih tenang.

Raka menyelesaikan lagu pendek itu dengan petikan terakhir.

Ting.

Beberapa orang bertepuk tangan kecil.

Anak kecil yang tadi berdiri bahkan tersenyum lebar.

Raka membungkuk sedikit dari tempat duduknya.

“Terima kasih, penonton terminal.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Suasana kembali normal.

Orang-orang kembali ke aktivitas mereka.

Raka menoleh ke Nara.

“Lumayan untuk panggung gratis, kan?”

Nara mengangguk.

“Lumayan.”

“Lumayan?”

Raka menyipitkan mata.

“Biasanya orang bilang bagus.”

Nara menyeringai sedikit.

“Bagus.”

“Sekarang itu terdengar lebih tulus.”

Nara menatapnya beberapa detik.

Ia berkata pelan,

“Kamu kelihatan sangat menikmati itu.”

Raka mengangguk.

“Karena memang begitu.”

Ia memutar gitar sedikit di tangannya.

“Kalau tidak menikmati, buat apa dilakukan?”

Nara memikirkan kalimat itu sebentar.

Ia berkata pelan,

“Tidak semua orang punya pilihan seperti itu.”

Raka menatapnya lagi.

Tatapannya sedikit lebih serius sekarang.

“Benar.”

Ia mengangguk kecil.

“Makanya kalau ada yang bisa dipilih… sebaiknya pilih yang tidak membuat hidup terasa berat.”

Nara menunduk sedikit.

Kalimat itu terasa aneh di telinganya.

Karena hidupnya sekarang memang terasa sangat berat.

Raka memiringkan kepalanya.

“Kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit.”

Nara mengangkat bahu.

“Mungkin.”

Raka memetik satu senar gitar lagi.

Ting.

Ia berkata santai,

“Biasanya orang yang terlihat seperti itu… punya cerita aneh.”

Nara menatapnya.

Raka tersenyum tipis.

“Dan aku suka cerita aneh.”

Nara menahan napas kecil.

Karena ia memang punya cerita aneh.

Cerita yang terlalu aneh untuk dipercaya siapa pun.

Raka berkata lagi,

“Jadi…”

Ia menunjuk Nara dengan ujung gitar.

“…apa ceritamu sebenarnya?”

Raka menunjuk Nara dengan ujung gitar.

Nada suaranya masih santai, tapi matanya terlihat benar-benar penasaran sekarang.

Nara mengalihkan pandangannya ke jalan terminal.

Lampu bus yang menyala menciptakan bayangan panjang di lantai semen.

Ia berkata pelan,

“Tidak ada cerita.”

Raka menyandarkan gitar di pahanya.

“Semua orang punya cerita.”

“Tidak semua orang ingin menceritakannya.”

Raka tersenyum tipis.

“Fair.”

Ia mengangkat kedua tangannya sedikit seperti menyerah.

“Kalau begitu kita ganti topik.”

Nara menatapnya lagi.

“Topik apa?”

Raka menunjuk ke arah jalan.

“Kota ini.”

“Kamu sudah lama tinggal di Bandung?”

Nara hampir menjawab seumur hidup.

Namun ia berhenti.

Karena kalimat itu akan terdengar aneh jika ia benar-benar berada di tahun 1995.

Ia akhirnya berkata,

“Lumayan.”

Raka mengangguk.

“Kalau begitu kamu pasti tahu tempat makan enak di kota ini.”

Nara membuka mulutnya.

Kemudian langsung menutupnya lagi.

Tempat makan yang ia tahu…

Sebagian besar bahkan mungkin belum dibangun.

Ia mencoba berpikir cepat.

“Ada beberapa.”

“Seperti?”

Nara ragu.

Ia hampir menyebut sebuah kafe modern yang sering ia kunjungi.

Untungnya ia berhenti sebelum mengucapkannya.

“…warung kecil.”

Raka tertawa kecil.

“Itu tidak membantu.”

Nara mengangkat bahu.

“Aku tidak terlalu ingat nama tempat.”

Raka memiringkan kepalanya sedikit.

“Lucu.”

“Kenapa?”

“Kamu bilang tinggal di Bandung.”

“Ya.”

“Tapi kamu bicara seperti turis.”

Nara terdiam.

Raka melanjutkan dengan santai,

“Kamu juga tadi tanya kota apa ini.”

Nara menegang sedikit.

“Karena aku… bingung.”

Raka memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Kamu juga terlihat bingung ketika melihat radio tadi.”

Nara menatapnya.

“Kamu memperhatikan itu?”

Raka tersenyum.

“Aku sudah bilang kan, Aku suka memperhatikan.”

Ia menunjuk jam tua yang sedikit terlihat dari saku jaket Nara.

“Dan kamu terus melihat jam itu.”

Nara tanpa sadar menyentuh saku jaketnya.

Raka berkata lagi,

“Biasanya orang yang tersesat tidak membawa jam seperti itu.”

Nara mencoba terdengar santai.

“Kenapa?”

“Itu terlihat… tua.”

“Memang tua.”

“Barang keluarga?”

“…mungkin.”

Raka mengangguk kecil.

Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya.

Ia memetik satu senar gitar lagi dengan ringan.

Ting.

Suara itu menggema pendek di udara terminal.

Raka berkata tiba-tiba,

“Kamu tahu sesuatu yang aneh?”

Nara menatapnya.

“Apa?”

“Kamu bicara seperti orang yang melihat dunia ini sedikit berbeda.”

Nara mengerutkan alis.

“Itu terdengar aneh.”

“Ya.”

Raka tersenyum kecil.

“Tapi aku sering ketemu orang aneh di terminal.”

Ia menyandarkan punggungnya lagi.

“Tapi kamu tipe yang berbeda.”

Nara menatapnya beberapa detik.

“Apa maksudnya?”

Raka berpikir sebentar.

“Kamu terlihat seperti seseorang yang…”

Ia berhenti.

“…tahu terlalu banyak hal.”

Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat.

Ia mencoba mengalihkan topik.

“Kamu selalu menganalisis orang seperti ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa aku?”

Raka menunjuk ke arah jalan kota di luar terminal.

“Karena kamu melihat semuanya seperti baru pertama kali.”

Nara tidak menjawab.

Raka melanjutkan,

“Kamu melihat mobil seperti orang yang tidak pernah melihat mobil.”

Ia menunjuk ke arah radio di kios.

“Kamu melihat radio seperti benda museum.”

Ia menatap mata Nara.

“Dan kamu melihat kota ini seperti kota yang asing.”

Nara mencoba tertawa kecil.

“Semua orang bisa merasa seperti itu.”

Raka mengangkat bahu.

“Mungkin.”

Ia memiringkan kepala lagi.

“Lalu ada satu hal lagi.”

Nara menelan ludah.

“Apa?”

Raka menatapnya dengan ekspresi penasaran.

“Tadi kamu bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Kamu bilang kamu tersesat di waktu yang salah.”

Terminal terasa lebih sunyi tiba-tiba.

Nara menatapnya tanpa berkedip.

Raka menyeringai sedikit.

“Itu kalimat yang menarik.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Biasanya orang bilang mereka tersesat di tempat yang salah.”

Ia menatap Nara lebih dalam.

“Tapi kamu bilang waktu.”

Nara merasa tenggorokannya kering.

Ia berkata pelan,

“Aku hanya bercanda.”

Raka menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Baiklah.”

Ia mengangkat tangan lagi.

“Aku tidak akan memaksa.”

Namun matanya masih penuh rasa penasaran.

Ia berkata santai,

“Tapi kalau suatu hari kamu benar-benar tersesat di waktu yang salah…”

Ia memetik gitar sekali lagi.

Ting.

“…itu pasti cerita yang sangat menarik.”

Nara menatap lampu terminal di atas mereka.

Karena untuk pertama kalinya sejak tiba di tahun ini…

Ia sadar sesuatu.

Ia tidak bisa terus menghindar dari pertanyaan seperti ini.

Cepat atau lambat…

Seseorang akan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak normal tentang dirinya.

Raka menepuk badan gitar pelan.

“Sekarang giliranku tanya sesuatu yang lebih sederhana.”

Nara menoleh.

“Apa?”

Raka menatapnya.

“Kenapa kamu terlihat seperti orang yang tidak punya tempat untuk pergi malam ini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara di antara mereka.

Suara terminal kembali terasa jauh.

Mesin bus yang menyala.

Orang-orang berbicara di kejauhan.

Namun bagi Nara, semuanya terasa sedikit lebih sunyi.

Ia menatap lantai semen di depan bangku.

“…aku…”

Kata-katanya berhenti.

Karena jawaban yang sebenarnya terlalu aneh.

Raka tidak mendesaknya.

Ia hanya duduk di sana, memutar pick gitar kecil di antara jarinya.

“Tidak perlu buru-buru,” katanya santai.

“Aku tidak akan menilai.”

Nara menghembuskan napas kecil.

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

Nara menatap jalan di luar terminal.

Lampu kendaraan lewat seperti garis cahaya yang bergerak pelan.

Ia berkata akhirnya,

“Aku memang tidak punya tempat untuk pergi.”

Raka mengangguk pelan.

Seolah jawaban itu masuk akal baginya.

“Tempat tinggalmu jauh?”

“…ya.”

“Keluarga?”

Nara berhenti bernapas sejenak.

Keluarga.

Kata itu terasa berat.

Ayahnya.

Rumah mereka.

Gudang.

Jam tua itu.

Dan cahaya putih yang menelan semuanya.

“…jauh juga,” katanya pelan.

Raka memperhatikannya beberapa detik.

Tatapannya tidak menekan.

Lebih seperti seseorang yang mencoba memahami tanpa memaksa.

“Kamu kabur dari rumah?”

Nara menoleh cepat.

“Apa?”

Raka mengangkat bahu kecil.

“Banyak orang datang ke terminal karena itu.”

Ia menunjuk jalan.

“Ada yang mau pergi jauh.”

“Ada yang mau mulai hidup baru.”

Ia menatap Nara lagi.

“Ada juga yang cuma ingin menjauh dari sesuatu.”

Nara menatapnya.

Ia tidak tahu apakah harus tertawa atau mengangguk.

Karena tanpa sengaja…

Raka tidak terlalu jauh dari kebenaran.

Ia memang menjauh.

Hanya saja bukan dari rumah.

Tapi dari waktunya sendiri.

Raka memiringkan kepala sedikit.

“Jadi?”

Nara menggeleng.

“Tidak.”

“Tidak kabur?”

“Tidak.”

Raka mengangkat alis.

“Lalu kenapa kamu di terminal tengah malam?”

Nara menatap tangannya sendiri.

Ia berkata pelan,

“Karena aku tidak tahu harus pergi ke mana.”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia memetik satu senar gitar pelan.

Ting.

Suara itu pendek.

Namun cukup membuat suasana terasa lebih ringan.

Raka berkata,

“Itu jawaban yang jujur.”

Nara meliriknya.

“Kamu percaya?”

Raka mengangkat bahu.

“Kenapa tidak?”

“Kamu tidak curiga?”

“Aku selalu curiga.”

Ia tersenyum kecil.

“Tapi itu tidak berarti aku harus jadi polisi.”

Nara hampir tersenyum.

Raka memutar gitar di tangannya sedikit.

“Kamu tahu sesuatu?”

“Apa?”

“Terminal itu tempat yang aneh.”

“Kenapa?”

“Karena semua orang yang datang ke sini…”

Ia menunjuk sekeliling mereka.

“…sedang berada di antara dua tempat.”

Nara mengerutkan alis.

“Di antara?”

Raka mengangguk.

“Belum sampai tujuan.”

“Dan sudah meninggalkan tempat sebelumnya.”

Ia menatap Nara lagi.

“Semacam ruang tunggu kehidupan.”

Nara menatapnya cukup lama.

“Kamu memang suka bicara seperti itu?”

Raka tertawa kecil.

“Tidak.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku cuma orang yang sering duduk di terminal terlalu lama.”

Beberapa detik mereka hanya duduk diam.

Terminal mulai sedikit lebih sepi.

Bus yang tadi penuh sudah berangkat.

Suara mesin yang jauh terdengar semakin jarang.

Raka akhirnya berkata,

“Sekarang aku tanya sesuatu yang lebih langsung.”

Nara menoleh.

“Apa?”

Raka menatapnya lurus.

“Kamu ini sebenarnya siapa?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba.

Namun tidak terdengar menuduh.

Lebih seperti rasa ingin tahu yang jujur.

Nara membuka mulutnya.

Ia bisa mengatakan kebenaran sekarang.

Ia bisa berkata:

Aku dari masa depan.

Aku memutar jam tua dan tiba-tiba berada di tahun 1995.

Aku bahkan mungkin mengenal anakmu dan berteman dengannya.

Namun semua kalimat itu terdengar gila bahkan di kepalanya sendiri.

Raka masih menunggu.

Akhirnya Nara berkata pelan,

“…hanya seseorang yang tersesat.”

Raka menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Ia tidak bertanya lagi.

Namun ekspresinya jelas mengatakan satu hal.

Ia tahu Nara tidak mengatakan semuanya.

Raka menepuk gitar pelan.

“Sekarang pertanyaan terakhir.”

Nara menatapnya.

“Apa?”

Raka berkata santai,

“Kalau kamu memang tidak punya tempat untuk pergi malam ini…”

Ia berdiri dari bangku.

Sarung gitar ia angkat lagi ke punggungnya.

“…kamu mau tetap duduk di terminal sampai pagi?”

Nara terdiam.

Raka melanjutkan dengan nada ringan.

“Atau kamu mau ikut aku?”

Nara berkedip.

“Maksudnya?”

Raka menunjuk jalan keluar terminal dengan dagunya.

“Aku tahu tempat yang lebih nyaman dari bangku ini.”

Ia menyeringai sedikit.

“Dan tidak ada tiga orang aneh yang akan mengganggu.”

Nara menatapnya.

Ia baru mengenal pria ini… mungkin satu jam.

Namun entah kenapa…

Ia tidak merasa takut.

Raka berkata,

“Tenang saja.”

“Aku bukan penculik.”

Nara hampir tertawa.

“Biasanya penculik tidak bilang begitu.”

Raka tertawa kecil.

“Poin bagus.”

Ia mulai berjalan beberapa langkah menuju keluar terminal.

Kemudian menoleh ke belakang.

“Kamu ikut?”

Nara melihat sekeliling terminal.

Lampu neon.

Bangku keras.

Udara malam yang semakin dingin.

Ia tidak punya tempat lain.

Nara berdiri.

“…baik.”

Raka tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia mulai berjalan menuju jalan luar terminal.

Nara mengikutinya.

Dan tanpa ia sadari…

Langkah itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar tersesat di waktu yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!