Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Menara Astral
...****************...
Keesokan harinya di Akademi Duskveil terasa seperti hari biasa.
Para murid berjalan menuju kelas masing-masing, para guru mengawasi latihan sihir di berbagai halaman, dan lonceng akademi berdentang menandai pergantian pelajaran.
Namun bagi Arkan, Leyna, dan Solan, hari itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Mereka bertiga berpura-pura menjalani aktivitas seperti biasa.
Arkan mengikuti kelas manipulasi bayangan bersama murid Darkveil lainnya.
Leyna menghadiri latihan sihir alam di taman Natureveil.
Sementara Solan berada di aula terang Lightveil untuk mempelajari mantra penyembuhan.
Tetapi pikiran mereka semua tertuju pada satu hal yang sama.
Menara Astral.
Sepanjang hari, Arkan beberapa kali merasa diawasi.
Saat berjalan di koridor batu, ia sempat melihat bayangan seseorang di ujung lorong.
Namun ketika ia menoleh dengan jelas—
Tidak ada siapa pun di sana.
Saat makan siang di aula besar, Kael duduk di seberangnya sambil memakan sup dengan lahap.
“Kau terlihat aneh hari ini,” kata Kael.
Arkan mengangkat alis sedikit.
“Aneh bagaimana?”
Kael menunjuk wajahnya dengan sendok.
“Kau terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.”
Arkan tetap tenang.
“Mungkin aku hanya kurang tidur.”
Kael tertawa kecil.
“Kalau kau mau melakukan sesuatu yang berbahaya, setidaknya ajak aku.”
Arkan tidak menjawab.
Namun dalam pikirannya, ia tahu perjalanan malam ini terlalu berisiko untuk melibatkan lebih banyak orang.
Matahari akhirnya tenggelam di balik pegunungan yang mengelilingi lembah akademi.
Malam kembali menyelimuti Duskveil.
Satu per satu lampu sihir menyala di sepanjang halaman.
Dan seperti yang telah mereka rencanakan—
Tiga murid dari tiga rumah berbeda diam-diam meninggalkan asrama mereka.
Arkan keluar dari wilayah Darkveil melalui lorong batu yang jarang digunakan.
Leyna menyelinap keluar dari taman Natureveil.
Solan berjalan santai melewati halaman Lightveil sebelum berbelok menuju jalan yang lebih gelap.
Mereka bertemu di sebuah jalan kecil di belakang akademi.
Leyna datang lebih dulu.
Ia membawa tas kecil berisi beberapa kristal sihir alam.
Solan muncul beberapa menit kemudian.
“Tidak ada yang mengikuti kalian?” tanyanya.
Arkan menggeleng.
“Sejauh yang aku tahu, tidak.”
Leyna menunjuk ke arah utara.
“Kalau begitu kita jalan sekarang.”
Mereka bertiga berjalan melewati jalan setapak yang jarang digunakan murid.
Semakin jauh dari akademi, semakin sunyi tempat itu.
Pepohonan tinggi mulai mengelilingi jalan.
Angin malam berhembus melalui cabang-cabang yang gelap.
Beberapa menit kemudian—
Bangunan tua itu akhirnya terlihat.
Menara Astral.
Menara itu berdiri sendirian di atas bukit kecil.
Batu-batunya tampak retak oleh usia.
Beberapa bagian tembok ditumbuhi tanaman merambat liar.
Jendela-jendela tinggi terlihat kosong dan gelap.
Leyna berhenti beberapa langkah dari menara itu.
“Tempat ini benar-benar menyeramkan.”
Solan justru tampak tertarik.
“Menurut catatan akademi, tempat ini dulu digunakan untuk eksperimen energi sihir tingkat tinggi.”
Arkan menatap pintu besar menara yang setengah rusak.
“Artinya tempat ini cocok untuk ritual.”
Mereka mendekati pintu itu perlahan.
Ketika Arkan mendorongnya—
Pintu kayu tua itu terbuka dengan suara berderit panjang.
Di dalam menara, udara terasa dingin dan lembap.
Debu tipis melayang di udara.
Tangga batu melingkar menuju lantai atas.
Namun di tengah ruangan utama terdapat sesuatu yang menarik perhatian mereka.
Sebuah lingkaran sihir tua terukir di lantai batu.
Leyna berjongkok di dekatnya.
“Ini…”
Ia menyentuh salah satu ukiran.
“Rune kuno.”
Solan juga memperhatikannya dengan serius.
“Rune yang sangat tua.”
Arkan melihat pola lingkaran itu.
Simbol-simbol yang terukir di lantai terasa anehnya… familiar.
Seolah-olah ia pernah melihatnya sebelumnya.
Di buku tua di perpustakaan bawah tanah.
Arkan berkata pelan,
“Ini tempatnya.”
Leyna menatapnya.
“Kau yakin?”
Arkan mengangguk.
“Lingkaran ini cocok dengan yang ada di buku.”
Solan menyilangkan tangan.
“Kalau begitu… kita benar-benar akan mencobanya?”
Arkan mengeluarkan tiga batu kecil dari sakunya.
Batu itu berwarna hitam pekat.
“Buku itu mengatakan ritual harus dimulai dengan tiga sumber sihir.”
Ia menunjuk lingkaran itu.
“Tiga posisi berbeda.”
Leyna berdiri di sisi kiri lingkaran.
Solan mengambil posisi di sisi kanan.
Arkan berdiri di tengah bagian depan.
Tiga titik.
Membentuk segitiga sempurna.
Angin malam tiba-tiba bertiup masuk melalui jendela menara yang pecah.
Debu berputar di udara.
Arkan berkata pelan,
“Kita mulai.”
Leyna mengangkat tangannya.
Energi alam mulai mengalir dari telapak tangannya.
Daun-daun kecil yang terbawa angin berputar di sekitarnya.
Solan menutup matanya.
Cahaya lembut mulai bersinar dari tangannya.
Sementara itu—
Bayangan di sekitar Arkan mulai bergerak perlahan.
Sihir Darkveil bangkit dari dalam dirinya.
Ketika tiga energi itu mulai mengalir menuju
lingkaran sihir di lantai—
Rune-rune tua di batu mulai menyala satu per satu.
Cahaya hijau.
Cahaya emas.
Dan bayangan hitam pekat.
Leyna terkejut.
“Rune-nya aktif!”
Solan membuka matanya.
“Ini benar-benar bekerja!”
Arkan merasakan sesuatu yang aneh.
Energi dari lingkaran itu terasa jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.
Tiba-tiba—
Seluruh menara bergetar pelan.
Angin berputar lebih kencang.
Rune di lantai menyala semakin terang.
Dan tepat di tengah lingkaran—
Sebuah retakan cahaya muncul di udara.
Seperti pintu yang mulai terbuka.
Leyna mundur setengah langkah.
“Apa itu?”
Solan menatapnya dengan takjub.
“Gerbang…”
Namun sebelum mereka sempat bereaksi lebih jauh—
Sebuah suara tua dan dalam terdengar dari dalam retakan cahaya itu.
Suara yang terasa seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Suara itu berbisik.
“Siapa… yang membangunkan… segel ini…”
Arkan merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Ia menatap gerbang yang perlahan terbuka itu.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia mulai menyadari bahwa ritual ini mungkin membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.