Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Latar kamar yang temaram perlahan berubah menjadi sebuah taman bunga lili putih yang sangat luas—bunga kesukaan Kirana. Ziva berdiri di sana, di tengah embun yang terasa nyata menyentuh kulitnya. Di depannya, seorang wanita dengan gaun putih yang melambai tertiup angin tersenyum lembut. Wajah itu, sorot mata itu... tidak salah lagi.
"Kak Kirana?" suara Ziva bergetar.
Wanita itu merentangkan tangannya. Ziva langsung menghambur, memeluk kakaknya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya lagi ke dalam gelapnya malam kecelakaan itu.
"Kak... Tolong jangan pergi, aku kangen Kakak. Rumah sepi tanpa Kakak, semuanya hancur," Ziva terisak di pelukan kakaknya. Ia bisa merasakan kehangatan yang selama ini hilang, aroma parfum vanilla yang selalu Kirana gunakan.
Kirana mengusap rambut Ziva dengan lembut, persis seperti yang sering ia lakukan saat Ziva masih kecil. "Ziva, Kakak sudah tenang di sini. Tempat ini sangat indah."
Namun, raut wajah Kirana berubah sedikit redup. Ia menangkup wajah adiknya, menatap dalam ke mata Ziva yang sembap. "Tapi Kakak masih kepikiran, Dek. Kakak sedih liat kamu terus-terusan memupuk benci sama Baskara. Dia nggak seburuk yang kamu pikir. Jangan hukum dia terus, Ziva... Kakak titip dia ya?"
"Nggak mau, Kak! Dia jahat, dia sabotase hidupku!" bantah Ziva keras.
"Buka hatimu sedikit saja, Ziva..."
Ting! Ting! Ting!
Ziva tersentak. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang disinari cahaya matahari pagi. Jantungnya berdegup kencang, dan pipinya terasa basah. Ia meraba wajahnya; benar, ia menangis dalam tidurnya.
"Cuma mimpi... itu cuma mimpi, Ziva. Itu cuma bunga tidur karena lo denger omongan Bunda kemarin," serunya pada diri sendiri, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Namun, pesan Kirana di dalam mimpi tadi terasa begitu nyata, seolah-olah kakaknya memang benar-benar datang untuk memberikan mandat terakhir.
Ziva berusaha duduk, namun perhatiannya langsung teralih pada ponselnya yang terletak di atas nakas. Benda itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi notifikasi bertubi-tubi.
Ziva meraih ponselnya dengan dahi berkerut. Matanya melotot saat melihat daftar panggilan tak terjawab dan rentetan pesan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal, namun memiliki identitas yang sangat familiar.
HRD Bank Nasional: "Selamat pagi, Ibu Nadhira Ramadhani. Kami ingin mengklarifikasi bahwa terjadi kesalahan administratif pada sistem kami kemarin. Kami mengundang Ibu untuk mengikuti tahap interview akhir pada hari Rabu ini pukul 09.00 WIB."
Recruiter Tech Corp: "Halo Ibu Nadhira, berkas Anda telah kami tinjau kembali. Kami tertarik untuk mendiskusikan posisi Analis Junior dengan Anda. Mohon konfirmasinya."
Ada tiga perusahaan besar lainnya yang mengirimkan pesan serupa. Ziva tertegun. Ia teringat ucapan Baskara semalam di dapur: "Aku akan menarik semuanya besok pagi."
Pria itu benar-benar melakukannya. Ia membatalkan semua sabotase itu bahkan sebelum matahari terbit sepenuhnya. Ada perasaan lega yang luar biasa karena impian kariernya kembali terbuka, namun di sisi lain, Ziva merasa kesal. Kesal karena Baskara memiliki kekuatan sebesar itu untuk mengatur hidupnya—baik untuk menutup maupun membukanya kembali.
"Dasar om-om manipulator. Lo pikir dengan begini gue bakal maafin lo?" gumam Ziva, meskipun jemarinya dengan cepat membalas pesan-pesan tersebut dengan nada profesional.
Karena terlalu asyik membalas pesan dan menjadwalkan interview, Ziva keluar dari kamar sambil terus menatap layar ponselnya. Ia berjalan menuju tangga tanpa melepaskan pandangannya dari balasan email yang baru saja masuk.
Pikirannya penuh dengan persiapan baju apa yang harus ia pakai dan dokumen apa yang harus ia bawa. Ia menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah yang otomatis, namun tidak fokus.
"Oke, jam sembilan di Sudirman... berarti gue harus berangkat jam tujuh..." gumamnya pelan.
Begitu sampai di anak tangga terakhir, Ziva salah memperkirakan jarak pijakan. Kaki kanannya mendarat di tepian anak tangga yang licin, sementara beban tubuhnya condong ke depan karena ia masih sibuk mengetik.
"Eh—!"
Kaki Ziva oleng. Tubuhnya kehilangan keseimbangan secara mendadak. Ia mencoba meraih pegangan tangga, namun tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat.
"Aaaaa!"
Ziva terpejam, bersiap merasakan kerasnya lantai marmer ruang tengah menghantam tubuhnya. Namun, bukannya rasa sakit yang ia rasakan, ia justru menabrak sesuatu yang hangat, keras, dan sangat kokoh.
Dua lengan kuat menangkap pinggangnya dengan sigap, menahan tubuh Ziva agar tidak jatuh tersungkur. Aroma maskulin yang sangat familiar—campuran sabun mint dan aroma kopi pagi—langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Ziva perlahan membuka mata. Wajah Baskara berada tepat di depannya, sangat dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam pria itu. Baskara tampak masih mengenakan kaus rumahannya, wajahnya terlihat cemas.
"Makanya kalau jalan itu lihat depan, bukan lihat HP terus," ucap Baskara dengan nada suara yang rendah dan berwibawa, namun ada getaran kekhawatiran di sana.
Ziva membeku. Posisi mereka sangat intim; tangan Baskara masih melingkar protektif di pinggangnya, sementara tangan Ziva refleks bertumpu pada dada bidang Baskara. Detak jantung pria itu terasa sangat cepat di telapak tangan Ziva.
Ingatan tentang mimpi Kirana tadi pagi mendadak melintas. "Jangan hukum dia terus, Ziva..."
Ziva segera menarik dirinya, melepaskan cengkeraman Baskara dan berdiri dengan kikuk sambil merapikan piyamanya. Wajahnya merah padam, entah karena malu atau karena sisa amarah semalam.
"Gue... gue cuma lagi bales chat HRD," ketus Ziva sambil membuang muka. "Makasih udah nangkep, tapi lain kali nggak usah sedeket ini."
Baskara berdiri tegak, ia memasukkan tangannya ke saku celana, kembali ke mode kakunya. "Aku sudah batalkan semuanya. Kamu bebas pilih kantor mana pun yang kamu mau. Aku nggak akan campur tangan lagi."
Ziva terdiam. Ia ingin memaki, tapi melihat kantung mata Baskara yang menghitam—tanda bahwa pria itu mungkin benar-benar tidak tidur semalaman untuk mengurus kekacauan ini—membuat kata-kata pedasnya tertahan di tenggorokan.
"Baguslah kalau sadar diri," jawab Ziva pendek. Ia berjalan menuju dapur dengan langkah yang sedikit pincang karena pergelangan kakinya sedikit terkilir saat oleng tadi.
Baskara memperhatikan cara jalan Ziva yang tidak seimbang. "Kaki kamu sakit?"
"Enggak! Cuma kesemutan!" bohong Ziva, meskipun ia harus menahan ringisan setiap kali kakinya menapak.
Baskara menghela napas panjang. Ia tahu Ziva terlalu keras kepala untuk meminta bantuan. Namun, di matanya, Ziva tetaplah tanggung jawab terbesarnya, baik gadis itu menyukainya atau tidak.
***
Suasana di kamar Ziva terasa begitu sibuk. Meskipun pergelangan kakinya berdenyut nyeri akibat insiden oleng di tangga tadi, semangat Ziva tidak surut sedikit pun. Ini adalah hari pembuktian. Ia sudah mengenakan kemeja putih tulang yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam serta blazer senada yang membuatnya tampak sangat profesional. Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan kini disisir rapi dan diikat ekor kuda tinggi.
Ziva menatap pantulan dirinya di cermin. "Lo pasti bisa, Ziva. Jangan kasih liat kalau lo lemah di depan om-om itu," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Namun, saat ia mencoba melangkah, rasa tajam menusuk dari pergelangan kaki kanannya. Ziva meringis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kakinya benar-benar terkilir. Ia mencoba berjalan dengan bertumpu pada kaki kirinya, menghasilkan gaya jalan yang pincang dan sedikit lucu.
Dengan perlahan dan penuh perjuangan, Ziva menuruni tangga sambil memegang erat pegangan besi. Di bawah, Baskara sudah menunggunya. Pria itu sudah rapi dengan seragam dinasnya, namun ia tidak langsung berangkat. Di atas meja ruang tengah, sudah tersedia segelas susu hangat dan sepiring roti bakar.
Ziva berusaha melewati Baskara dengan wajah sedingin mungkin, mengabaikan denyut di kakinya yang semakin menjadi-jadi. Namun, baru dua langkah melewati sofa, sebuah tangan besar dan hangat mencekal lembut pergelangan tangannya.
"Duduk," ucap Baskara pendek. Suaranya tidak membentak, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Ziva menghentikan langkahnya, ia menoleh dengan tatapan sengit. "Apa lagi sih? Gue udah telat, Kak. Jangan bikin drama lagi pagi-pagi!"
Baskara tidak menjawab. Ia justru sedikit menekan bahu Ziva agar gadis itu duduk di sofa. Sebelum Ziva sempat melayangkan protes lebih jauh, Baskara sudah berlutut di lantai, tepat di depan kaki Ziva yang cedera. Pria itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak urut aromaterapi dari laci meja.
"Gue bisa sendiri, Kak! Lepasin!" Ziva mencoba menarik kakinya, namun tenaga Baskara jauh lebih kuat.
"Diam, Ziva. Kalau kamu paksakan jalan dengan posisi begini, pergelangan kakimu bisa bengkak dua kali lipat dan kamu nggak akan sampai ke ruang interview," ucap Baskara tenang. Ia mulai menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu perlahan memijat bagian yang bengkak.
Ziva terdiam. Sentuhan tangan Baskara terasa sangat ahli. Pria itu sepertinya sudah biasa menangani cedera ringan saat bertugas. Rasa hangat dari minyak itu perlahan meresap, mengurangi rasa kaku yang menyiksa. Ziva memperhatikan puncak kepala Baskara. Untuk sesaat, amarahnya sedikit mendingin melihat bagaimana pria yang paling ia benci ini justru berlutut di depannya hanya untuk mengobati kakinya.
"Sakit?" tanya Baskara tanpa mendongak.
"Dikit," jawab Ziva singkat. Ia memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. "Makasih," ucapnya kemudian dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan.
Baskara menghentikan pijatannya sejenak, ia mendongak menatap mata Ziva. "Sama-sama. Sekarang pakai sepatu yang datar saja, jangan pakai high heels dulu."
Baskara berdiri, ia merapikan kembali botol minyak itu. "Aku anter ya?" tawarnya sambil mengambil kunci mobilnya.
Ziva langsung teringat kembali pada pesan-pesan HRD dan bagaimana Baskara menyabotase hidupnya kemarin. Benteng pertahanannya kembali berdiri tegak. Ia segera berdiri, meskipun masih sedikit tertatih.
"Gausah makasih. Nggak perlu," tolak Ziva ketus. Ia menyambar tas kerjanya dengan gerakan kasar. "Gue bisa naik ojek online. Gue masih marah ya sama lo! Jangan pikir pijatan tadi bikin gue lupa soal apa yang lo lakuin ke lamaran kerja gue!"
Baskara menghela napas panjang, ia menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, namun juga ada keinginan besar untuk melindungi. "Ziva, jalanan Sudirman macet jam segini. Kaki kamu sakit kalau harus turun naik kendaraan umum."
"Biarin! Lebih baik kaki gue sakit daripada gue harus ngerasa berutang budi lagi sama lo!" Ziva melangkah menuju pintu depan dengan kaki yang masih pincang, namun ia memaksakan diri agar tidak terlihat terlalu lemah.
"Ziva," panggil Baskara sekali lagi saat gadis itu sudah di ambang pintu. "Semangat. Kamu pasti diterima. Kamu punya kemampuan yang bagus."
Langkah Ziva sempat terhenti. Kalimat dukungan itu terasa tulus, berbeda dengan perintah-perintah kaku yang biasanya Baskara berikan. Namun, harga diri Ziva masih terlalu tinggi untuk berbalik dan tersenyum.
"Terserah!" sahut Ziva tanpa menoleh.
Ia keluar rumah dan segera memesan transportasi dari ponselnya. Di dalam mobil ojek yang membawanya, Ziva terus menatap ke arah jendela. Bayangan Baskara yang berlutut di depannya tadi terus berputar di kepalanya. Di satu sisi, ia benci karena Baskara seolah tahu titik lemahnya. Di sisi lain, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa perhatian kecil pria itu membuatnya merasa... sedikit dijaga.
"Inget, Ziva. Dia penyebab Kak Kirana nggak ada. Lo nggak boleh luluh cuma gara-gara minyak urut," batinnya menguatkan diri.
Sesampainya di gedung perkantoran mewah di daerah Sudirman, Ziva menarik napas dalam. Ia merapikan blazernya, mencoba berjalan senormal mungkin meski kakinya masih sedikit berdenyut. Ia memasuki lobi dengan kepala tegak. Hari ini, ia bukan hanya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tapi ia berjuang untuk mendapatkan kembali otoritas atas hidupnya sendiri yang sempat dirampas oleh pria berseragam cokelat di rumah itu.