dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Itu Bahagia?
Apa itu bahagia?
Sebuah kebahagiaan adalah cita-cita dan keinginanku sejak kecil. Bisa makan enak, punya keluarga yang utuh, ada yang menyayangiku, dapat perhatian dari kedua orang tua—itu semua hanyalah sebuah angan-angan yang semu untukku.
Apa daya lah aku yang hanya anak korban dari broken home.
Dulu aku sempat berpikir, apa aku bisa seperti mereka? Saat aku duduk termenung sendirian di parkiran sekolah, aku memandangi teman-temanku yang setiap hari diantar-jemput orang tuanya.
Mereka terlihat begitu bahagia setiap hari, hanya bisa menunjukkan jari dan merengek saat menginginkan sesuatu yang mereka inginkan.
Sedangkan aku? Makan pun jarang, apalagi mau beli jajan.
Anak sekecil aku harus bisa mencari uang sendiri demi sesuap nasi untukku makan dan bertahan hidup.
Aku bisa sekolah hanya berbekal belas kasihan orang-orang.
Aku bisa merasakan rasanya jajan pun, itupun hanya sisa dari anak mereka.
Coba bayangkan saja: sejak aku berumur 7 tahun, aku harus menyusuri jalan dan mengais tempat sampah untuk mencari botol plastik bekas untuk ku tukar dengan uang.
Setiap hari pulang sekolah, saatnya anak-anak lain makan dan beristirahat dengan nyaman, justru aku harus bekerja membanting tulang—menjadi tukang bersih-bersih, menyapu, mengepel, mencuci piring, dan sebagainya—hanya demi uang receh dan sesuap nasi.
Mentalku dihancurkan oleh orang tuaku sejak balita.
Aku harus melihat pertengkaran kedua orang tuaku yang hampir setiap hari.
Tak jarang, aku pun menjadi sasaran pelampiasan kekesalan mereka.
Hingga sampailah pada titik di mana orang tuaku berpisah. Aku pun hidup sendiri, sebatang kara.
Cacian dan makian bagaikan melodi dalam hidupku.
Dibenci, dijauhi, dan dikucilkan adalah temanku sehari-hari.
Bukan hanya ragaku saja yang capek? Tapi perasaan dan mentalku pun ikut hancur.
Angan Ku melayang jauh, hingga terpecah saat angin sore berhembus, menggoyangkan dahan pohon beringin tua di pinggir jalan yang kini menjadi tempatku duduk. Batangnya yang kasar dan kokoh seolah mengerti perasaanku.
Aku menyandarkan punggungku ke sana, merasakan tekstur kulit batangnya yang kasar di punggungku—satu-satunya "teman" yang tidak pernah memaki, tidak pernah menjauh, dan selalu ada dalam diam.
Di bawah naungan pohon ini, aku menatap langit yang mulai berwarna jingga. Meski hatiku hancur dan hidupku penuh kepahitan, ada satu hal yang masih tersisa di dalam dadaku: sebuah tekad kecil yang mulai tumbuh. Mungkin takdirku sekarang menyedihkan, tapi aku tidak akan membiarkannya selamanya seperti ini. Suatu hari nanti, aku akan membuktikan bahwa aku bisa bahagia, meski aku harus melakukannya dengan tanganku sendiri.
Aku berada di titik di mana aku benar-benar lelah dan benar-benar merasa capek.
Aku bangun tidur dengan tubuh yang terasa kurang enak badan. Tak ada ayah yang peduli, tak ada seorang ibu yang merawatku saat aku sakit. Tapi aku harus kuat. Kupaksakan diriku berangkat sekolah tanpa sarapan, demi sebuah harapan kecil—yaitu sebuah kebahagiaanku kelak.
Hari di sekolah terasa begitu panjang, hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Sepulang sekolah, perutku mulai terasa keroncongan, rasa lapar yang tak dapat kutahan lagi. Setibanya di rumah, ku lempar tasku sembarang arah, begitu juga sepatu dan seragamku. Aku bergegas berganti baju, lalu kulempar tubuh ini pada kasur usang milikku.
Ku pejamkan mata ini, kuhirup udara sedalam-dalamnya, ku hembuskan perlahan, dan kulakukan berulang kali. Kuharap rasa lelah dan rasa lapar ini akan berkurang. Namun, justru semakin menjadi-jadi. Tak terasa air mataku pun mengalir di pipi begitu deras, namun tak ada suara apapun yang keluar dari mulut kecilku. Aku benar-benar benci dan begitu muak dengan apa yang kualami saat ini.
Dalam diam, aku bertanya di dalam hatiku: Kenapa aku harus diciptakan kalau aku tak diizinkan untuk bahagia? Kenapa aku ada jika aku pun harus menanggung luka? Mengapa Kau tak mengambil nyawaku saja, Tuhan? Aku capek.
Bagaimana kalau aku mati saja? Sejenak, kematian terlintas di benakku. Mungkin jika aku mati, aku tak akan merasakan sakit lagi, tak akan merasakan capek, tak akan merasakan rasa lapar yang begitu menyiksa ini.
Hah! Aku hembuskan nafas dengan kasar. Aku hapus air mataku, berusaha menghilangkan rasa dan pikiran buruk ini. Aku pun mulai bangun, kemudian aku pergi ke rumah Budeku.
"Bude... Bude..." kupanggil setibanya di rumah Bude, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Bude... Bude..." kau panggil sekali lagi, namun masih sama, tak ada jawaban lagi.
Dalam hati aku bertanya, kemana sebenarnya Bude? Pintu rumahnya terbuka, tapi tak ada seorangpun di dalamnya.
Karena perutku terus berbunyi dan semakin perih, aku menerobos masuk rumah Budeku. Aku berjalan menuju dapur, mencari makanan.
Ya Allah, semoga masih ada sisa makanan yang bisa aku makan, doaku dalam hati.
Saat ku buka tudung saji di atas meja, mataku seketika berbinar.
Di sana ada nasi serta lauk, meskipun hanya lauk sederhana yang berupa tempe, tahu, serta sambal terasi.
Aku pun bergegas mengambil piring, kemudian mengambil nasi serta lauk-pauknya, lalu mulai makan dengan lahap.
Namun, tiba-tiba...
"Hei! Apa yang kau lakukan di dapurku?" teriak Bude, berjalan menghampiriku dengan membawa tas belanja yang berisi beberapa sayuran dan buah. Sepertinya Budeku habis berbelanja di pasar.
"Makan... Bude... maaf aku nggak izin tadi. Bude aku panggil-panggil nggak ada jawaban, sedangkan perutku sudah kelaparan," jawabku sambil terus mengunyah, berniat menghabiskan makananku sebelum Bude mengambil piring ini.
Dan benar saja...
"Enak saja makan-makan di sini! Bapak ibumu saja nggak peduli kamu, rugi aku kadang-kadang ngasih makan kamu. Nambah beban saja! Kalau kamu mau makan, minta sama bapak ibumu, bocah!" seru Bude sambil berkacak pinggang.
Dia meletakkan tas belanjaannya dengan kasar di atas meja, kemudian menghampiriku untuk mengambil piring, lalu melemparnya ke tempat cucian piring. Untung saja tadi aku cepat-cepat makannya, jadi tinggal sisa sedikit di piring tadi.
"Pergi sana! Nggak orang tua nggak anaknya sama saja, sama-sama nyusahin, sama-sama jadi beban, bocah!" ucap Budeku sambil mengibaskan tangannya.
Aku pun pergi. Meskipun telinga dan hatiku sakit mendengar kata-kata itu, seenggaknya perutku sedikit kenyang.