Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal Sehat di Tengah Orang Banyak
Pagi Hari
Desa Bang Kah Chng
Matahari baru naik setinggi tombak, tapi Desa Bang Kah Chng sudah gempar.
Di rumah Lau Cu, puluhan warga berkumpul. Suara gaduh seperti pasar malam. Ibu-ibu bawa anak, bapak-bapak bawa parang, dan semuanya bawa cerita versi masing-masing.
"Matanya biru menyala! Seperti setan!"
"Obor padam semua dalam satu kedipan!"
"Aku lihat dia terbang sebentar! Mungkin setan terbang!"
"Aku lihat ekornya! Panjang!"
"Aku lihat tanduknya!"
Lau Cu duduk di kursi bambu, memegang kepala. Kepalanya pusing. Istrinya tadi pagi sudah lempar sandal karena dia pulang pagi-pagi buta dengan keadaan pingsan di punggung warga.
Dia sudah terlalu tua untuk ini.
"Sudah! Sudah!" Lau Cu teriak lemah. "Tenang dulu! Jangan tambah-tambah cerita!"
Tapi tidak ada yang dengar. Semua sibuk bercerita dan saling membenarkan.
Di pojok rumah, duduk seorang pemuda. Pakaian rapi meski tambalan di siku. Usia sekitar 20-an, di tangannya ada buku—buku langka di desa ini. Dia akan ujian negara bulan depan.
Ah Niu.
Satu-satunya pemuda desa yang sekolah layak untuk ikut ujian negara bagi calon pejabat rendah. Dia ikut ujian ke kota tiap tahun, belum lulus-lulus, tapi sudah dianggap "orang pintar" oleh warga. Kalau ada masalah butuh logika, warga kadang tanya dia. Tapi hari ini dia diam saja.
Dari kemarin, Ah Niu mikir.
Sejak dengar kabar Kwee Lan sembunyikan laki-laki di gunung, dia mikir.
Kemarin malam dia juga di situ. Dia hanya melihat pria berpakaian sederhana dan tertatih-tatih. Chi miliknya memang besar, itu yang ia rasakan sebagai pemuda paling sakti di kampung ini setelah meninggalnya ayah dan Kakak laki-laki Kwee Lan.
Ada yang tidak masuk akal.
Bukan soal mata biru. Itu bisa dijelaskan nanti. Tapi soal laki-laki itu sendiri.
Seorang pria, yang masih muda tapi jalannya saja kayak orang mau mati.
Mungkinkah dia bisa memperkosa orang?
Ah Niu menghela napas. Logika dasarnya sederhana: orang yang susah bangun dari dipan, mana mungkin punya tenaga untuk hal-hal jahat yang dituduhkan warga? Mau Chi nya sebesar Tai San Lao Chu juga.
Tapi kalau dia bilang itu, warga pasti marah. Mereka sudah punya "kebenaran" versi mereka.
Ah Niu diam. Memilih dengar dulu.
Lau Cu berdiri. Mencoba ambil kendali. "Kita harus... kita harus selidiki dulu! Jangan main serbu!"
"Selidiki?" Tan Ku maju. "Masih perlu selidiki? Matanya biru! Apinya mati! Itu jelas setan! Iblis! Kita harus bunuh sebelum dia sembuh total!"
"Iya! Bakar rumah Kwee Lan! Bakar mereka berdua!"
Massa mulai bergerak. Semangat berkobar. Lau Cu mundur, kalah oleh suara banyak.
Ah Niu tutup bukunya. Lalu berdiri.
"Tan Ku."
Suaranya tidak keras. Tapi semua diam. Karena Ah Niu jarang bicara. Kalau bicara, biasanya ada yang masuk akal.
Tan Ku menoleh. "Ah Niu? Kau mau ikut? Bagus! Otak pintar kita—"
"Gua bo gam, Koh. Dosa!" (Bo gam \= Tidak berani/tidak tega) Katanya santai. Ia melangkah pulang ke rumah.
"Apa?"
"Stop… Lah kok pulang—"
Pemuda santai suka ngupil itu bilang,
"Engkoh, dia itu muda. Tapi kenapa gak kabur bawa Kwee Lan. Chi besar itu.”
"Semalam, dia bangun, matanya biru, obornya padam, lalu?"
"Lalu? Gak lari?!"
"Iya Pingsan."
“Berarti…”, Ah Niu menekuk telunjuknya, ngupil, ia menuju rumah Kwee Lan. Siapa tahu bisa membantu.
Diam panjang.
Dua jam kemudian
Rumah Kwee Lan
Kwee Lan sedang memasak bubur ketika tiga bayangan muncul di halaman.
Refleks. Ototnya tegang. Bu Ki Sut level 3 aktif—dia sudah tahu siapa mereka sebelum menoleh. Langkah kaki. Tiga orang. Satu langkah rapi, dua langkah kasar.
Ah Niu.
Dua pemuda di belakangnya terlihat tegang. Bawa parang, tapi disembunyiin di belakang punggung.
Kwee Lan tidak bergerak. Tetap aduk bubur.
Ah Niu berhenti di batas halaman. Angkat tangan kosong.
"Kwee Lan. Saya Ah Niu. Ingat? Dulu ayahmu pernah obati ibu saya."
Kwee Lan menoleh sedikit. "Ingat."
"Saya mau lihat pasienmu. Boleh?"
Kwee Lan diam. Matanya mengamati. Ah Niu—orang paling masuk akal di desa. Kalau ada yang bisa diajak bicara, ini dia.
"Masuk."
Dua pemuda di belakang ragu. Ah Niu melangkah masuk.
Di dalam, pemuda itu masih tidur di dipan. Napasnya lebih tenang dari semalam. Jahitan di perutnya kering. Kain perban diganti bersih.
Ah Niu jongkok. Memeriksa. Luka. Jahitan. Bekas sayatan senjata. Bukan luka biasa.
"Luka perang," gumamnya.
Kwee Lan mendengar. "Kau tahu luka perang?"
"Baca buku. Ada gambar."
Ah Niu berdiri. Menatap wajah pemuda itu. Wajah biasa. Pucat karena sakit. Tidak ada tanduk. Tidak ada ekor.
Dia menarik napas panjang. Lalu balik ke luar.
Di luar, dua pemuda menunggu dengan tegang. Ibu-ibu memepet Ah Niu dan mengelilingi ranjang tempat orang itu tidur.
"Gimana, Niu?"
Ah Niu menatap mereka.
"Bilang ke Pak Cu, pria ini cuma orang sakit. Luka perang. Tidak bisa apa-apa."
"Tapi matanya biru—"
"Besok kalau dia sehat, kita tanya. Sekarang biar dia sembuh dulu."
Dua pemuda itu saling pandang. Tapi Ah Niu sudah berjalan turun.
Kwee Lan mengikuti dengan mata. Tidak bilang apa-apa.
Ah Niu berhenti. Menoleh.
"Kwee Lan."
"Iya?"
"Buburnya hangus."
Kwee Lan menoleh ke periuk. Asap mengepul. Bubur gosong.
Ah Niu sudah pergi.
Kwee Lan menatap bubur gosong. Lalu ke arah Ah Niu yang menjauh.
"Orang desa aneh," gumamnya. "Yang waras malah paling aneh."
Di dalam, pemuda itu mengerang pelan.
Kwee Lan kembali ke periuk. Buburnya bisa diselamatkan. Bagian atas masih bagus. Yang gosong buat makan malam.
Tiba-tiba warga kaget. Pria itu dikerubungi ibu ibu dan duduk. Akhirnya mencium bibir istrinya Lau Cu. ….
[Bersambung]