Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Hujan Reda
Pagi itu Arka ingin mengadakan rapat dengan beberapa karyawannya.
Damar, pria paruh baya selaku sekretaris Arka telah mempersiapkan ruangan dan memanggil beberapa orang yang dibutuhkan.
Head of Marketing, Creative Lead dan Content Writer.
Semua telah berkumpul dalam ruangan. Tak lama kemudian Arka datang dan langsung memulai rapat.
Proyektor menampilkan slide bertuliskan:
Campaign: “Cerita di Balik Kota” – Brand Kopi Lokal
Beberapa tim marketing duduk mengelilingi meja. Revan bersandar santai, Helena sibuk mencatat. Aluna fokus menatap layar.
Arka berdiri di depan, remote presentasi di tangannya.
“Kita tidak bisa menjual kopi ini hanya sebagai minuman,” ucapnya tenang. “Brand ini menjual cerita. Mereka ingin positioning sebagai ‘teman perjalanan kota’.”
Slide berganti. Foto gang sempit, pedagang kaki lima, lampu jalan yang redup menjelang malam.
“Kita perlu survey lokasi langsung. Saya mau lihat sendiri suasananya.”
Revan mengangguk.
“Setuju. Visual dan tone copy harus sejalan.”
Arka memandang ke arah meja timnya.
“Saya akan turun langsung besok sore.”
Beberapa orang saling melirik. CEO turun langsung bukan hal yang sering terjadi, tapi juga bukan hal yang aneh bagi Arka.
“Saya butuh satu orang dari tim kreatif ikut.”
Revan mengangkat tangan setengah bercanda.
“Siap, Bos. Saya selalu tersedia untuk touring dadakan.”
Beberapa orang terkekeh pelan.
Arka menggeleng tipis.
“Bukan kamu, Van.”
Ruangan sedikit hening.
“Saya mau Aluna yang ikut.”
Aluna yang sedang mencatat langsung berhenti.
“Sa-saya, Pak?”
Revan menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Arka dengan alis terangkat.
Aluna merapikan duduknya.
“Maaf, Pak. Bukannya saya menolak, tapi untuk survey seperti ini sepertinya Kak Revan lebih tepat. Beliau Creative Lead dan lebih paham arah visual campaign.”
Nada bicaranya sopan.
Arka menatapnya tanpa tergesa menjawab.
“Justru karena ini campaign berbasis cerita, saya butuh Content Writer.”
Ia berjalan mendekat ke layar, menunjuk salah satu foto di slide.
“Kita tidak sedang mencari angle kamera terbaik. Kita sedang mencari sudut pandang.”
Ia beralih menatap Aluna.
“Copy kamu kemarin tentang ‘langkah kecil di kota besar’ — itu bukan hasil riset data. Itu hasil observasi.”
Ruangan kembali hening.
“Saya butuh orang yang bisa menangkap detail seperti itu secara langsung. Bau jalanan, suara motor lewat, ekspresi penjual. Itu tidak bisa saya dapat dari laporan.”
Revan tersenyum kecil.
“Wah, berarti memang spesialisnya Aluna, nih.”
Aluna masih ragu.
“Tapi, Pak… saya takut nanti justru kurang maksimal. Ini klien besar.”
“Karena ini klien besar,” potong Arka tenang, “saya tidak bisa hanya mengandalkan intuisi visual. Narasi campaign ini akan menentukan keseluruhan tone.”
Ia menatapnya lebih dalam.
“Dan kamu yang menulis narasinya.”
Kalimat itu membuat Aluna terdiam beberapa detik.
“Saya tidak memilih berdasarkan jabatan,” lanjut Arka. “Saya memilih berdasarkan kebutuhan project.”
Aluna menelan pelan.
“Survey ini bukan sekadar lihat lokasi. Saya ingin kamu merasakan suasananya. Supaya saat kamu menulis nanti, itu bukan sekadar kata-kata.”
Revan menyenggol pelan lengan Aluna.
“Udah, Lu. Jarang-jarang Bos turun langsung ngajarin beginian.”
Helena ikut berbisik, “Seru, Kak. Bisa jadi bahan tulisan.”
Aluna akhirnya mengangguk pelan.
“Baik, Pak. Saya ikut.”
Arka kembali ke posisi semula, ekspresinya tetap tenang.
“Besok jam tiga sore. Kita berangkat sebelum jam pulang kantor supaya bisa lihat suasana menjelang malam.”
Revan tersenyum jail.
“Naik mobil atau touring, Bos?”
Arka menjawab singkat,
“Motor.”
Aluna spontan menoleh.
“Area yang kita datangi banyak gang sempit. Mobil tidak efektif,” lanjut Arka profesional. “Kita perlu fleksibel berhenti di beberapa titik.”
Penjelasannya logis dan masuk akal.
Rapat kembali berjalan membahas teknis lainnya. Namun sejak nama itu disebut, Aluna merasa ada sesuatu yang berubah.
Ia tidak dipilih karena kebetulan.
Ia dipilih karena memang dibutuhkan.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya.
***
Keesokan harinya saat Aluna dan bosnya mulai melakukan survey di lokasi.
Semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang direncanakan.
Aluna berjalan sejajar dengan Arka, mencatat bagian-bagian penting setiap kalimat yang dijelaskan pria disampingnya. Memotret beberapa objek, mewawancarai beberapa pedagang dan orang lokal di area tersebut.
Ada momen ketika Aluna mendongak ke atas, warna warni langit jingga terbentang luas seperti sebuah lukisan. Ia memotret beberapa, melihat hasilnya lalu tersenyum puas.
Dari jarak yang berbeda, Arka memperhatikan perempuan itu. Caranya tersenyum pada keindahan semesta, caranya melihat dari sudut pandang seorang perempuan biasa. Matanya yang berbinar bagai senja yang tenggelam dibalik awan.
Untuk pertama kalinya, ia terpesona dengan wanita yang mungkin tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya.
Karena semua mengalir tanpa bisa dikendalikan olehnya.
Saat merasa semua sudah cukup, mereka kembali ke kantor. Namun di perjalanan tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi lebih gelap.
Arka melajukan motornya lebih cepat karena tidak ingin kehujanan.
Tak berselang lama.
Hujan turun tanpa aba-aba, rintikan hujan yang begitu deras memaksa Arka harus berhenti disebuah bangunan.
Selesai memarkirkan motornya, pria itu mengajak Aluna sedikit bergeser ke bangunan yang lebih aman dari rintikan hujan.
Bangunan bekas ruko itu tampak kosong dan sudah lama terbengkalai.
Namun sepertinya pijakan mereka tidak benar-benar aman dari terpaan angin dan tetesan hujan. Arka kembali memperhatikan setiap bangunan itu, setelah menemukan tempat yang lebih aman ia mengajak Aluna masuk ke dalam ruko.
"Kayaknya disini lebih aman."
Arka melangkah masuk, Aluna mengikuti dari belakang.
Mereka duduk dilantai yang masih terlihat bersih. Aluna menyenderkan punggungnya dibalik jendela kaca. Arka duduk berada di sebelahnya dengan jarak yang cukup jauh namun masih terasa jelas untuk memperhatikan wajah Aluna.
Aluna tahu ia sedang diperhatikan oleh Arka.
Namun ia berpura-pura tidak tahu. Hal itu membuatnya menjadi canggung, namun ia memilih diam.
Ia meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk di atas motor.
Arka masih memperhatikan Aluna sambil memeluk kedua lututnya.
Hening berada diantara mereka.
Hanya suara hujan yang semakin deras menjadi irama kecanggungan mereka.
Hingga Arka memecah hening diantaranya, "Sebelumnya kamu bekerja dimana, Aluna?"
"Saya tidak bekerja, Pak. Hanya ibu rumah tangga."
Tangannya memijat lututnya.
"Terus kenapa sekarang Memilih bekerja?"
"Karena bosan. Juga karena desakan ekonomi."
Suaranya terdengar merendah.
"Suami kamu mengizinkan kamu bekerja?"
"Awalnya nggak. Tapi karena rayuan saya, akhirnya luluh."
Suasana berubah hening kembali. Arka tidak membalas kalimat Aluna.
Ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat perasaannya lega.
Saat Aluna merasa bergantung pada pekerjaannya, membuat Arka merasa memiliki kuasa atas harapan Aluna.
"Sepertinya kamu sangat menyukai pekerjaan mu."
Arka membuka suara.
Aluna menoleh sebentar, "saya sangat suka dengan pencapaian saya saat ini. Dan saya sangat bersyukur karena berkat Aethera Creative Lab, saya bisa menuangkan bakat menulis saya."
Ia tersenyum tipis, "dan membuat saya merasa harus mengabdi dan memberikan kinerja yang baik pada perusahaan, karena perusahaan yang bapak kelola ini tidak memandang status orang."
Ia mengelus punggung tangannya.
"Kalian memanusiakan manusia," lanjutnya. "Kalian hanya melihat kemampuan dari dalam diri seseorang, bukan dari penampilan seseorang."
Arka yang mendengar setiap kalimat dari Aluna, merasa menjadi orang yang paling baik di mata Aluna. Sekaligus merasa memiliki kuasa untuk mengendalikan Aluna.
"Saya memang CEO yang berbeda dari yang lain. Karena itu kamu harus bekerja lebih baik, berikan saya hasil yang sepadan."
Ucapannya terdengar sombong.
"Baik, Pak," jawabnya singkat.
Setelah obrolan itu, Arka melangkah keluar. Lalu memanggil Aluna untuk mendatanginya.
Aluna menemukan Arka sedang membeli bakpao dari pedagang yang juga sedang berteduh.
Arka memberikan satu bakpao rasa coklat pada Aluna dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada disana.
Aluna memakan bakpao nya dengan pelan. Arka yang lebih dulu menghabiskan bakpao miliknya, membuat Aluna tertawa diam-diam karena melihat mulut bosnya penuh dengan bakpao.
Mungkin dia terlalu lapar, pikirnya.
Arka sedang memperhatikan perempuan itu sedang memakan bakpao cokelat dengan tenang. Cara ia menyobek roti empuk itu perlahan, hati-hati, seolah takut isinya tumpah. Jari-jarinya kecil dan bersih, gerakannya teratur, tanpa tergesa.
Ia meniup sedikit uap hangat yang masih tersisa, lalu menggigitnya pelan.
Tanpa sadar, sedikit cokelat menempel di sudut bibirnya.
Arka memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Aluna.”
Namanya disebut begitu saja.
Aluna menoleh refleks. “Ya, Pak?”
Belum sempat ia bertanya apa, Arka sudah bergerak.
Tangannya terangkat. Jempolnya menyentuh sudut bibir Aluna—singkat, tapi cukup untuk membuat dunia seolah berhenti satu detik.
Sentuhan itu terlalu dekat.
Aluna membeku.
Darahnya seperti naik ke wajah dalam sekejap. Dadanya berdegup keras, tidak terkendali.
“Ada cokelat,” ujar Arka tenang, seolah baru saja melakukan hal paling biasa di dunia.
Ia mengangkat jempolnya yang kini ternodai cokelat, lalu tanpa mengalihkan pandangan—ia menjilat sisa coklat yang menempel di jempolnya.
Lidahnya menyentuh pelan, menghapus jejak manis itu dengan gerakan yang terlalu lambat untuk dianggap biasa.
Aluna menatapnya tak percaya.
Matanya melebar, napasnya tercekat.
Ia bahkan tidak tahu mana yang lebih mengejutkan. Sentuhan tiba-tiba itu, atau fakta bahwa Arka terlihat begitu santai melakukannya.
Ia segera menunduk, pura-pura sibuk dengan bakpao yang kini terasa jauh lebih sulit ditelan.
Aluna mencoba menenangkan detak jantungnya yang berisik.
Aneh.
Sudah lama ia tidak merasakan debar seperti ini.
Terakhir kali… mungkin saat Gavin berlutut di bawah langit senja empat tahun lalu, cincin kecil berkilau di tangannya.
Dan sekarang—Hanya karena sentuhan singkat di sudut bibir.
Itu tidak masuk akal.
Aluna menarik napas perlahan, berusaha mengembalikan dirinya pada batas yang seharusnya.
Ia adalah karyawan.
Dan pria di depannya adalah atasannya.
Namun untuk pertama kalinya, garis itu terasa sedikit kabur.
***