NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Irama sol sepatu bot yang menghantam permukaan batu jalanan yang tidak rata menciptakan ketukan yang konstan, mengisi kekosongan di antara embusan angin musim gugur yang terjebak di gang sempit Arondisemen ke-5. Felysha Anindhita melangkah dengan kepala sedikit menunduk, memperhatikan ujung sepatunya sendiri yang sesekali menghilang di balik bayangan bangunan-bangunan tua sebelum kembali tertimpa cahaya kuning dari lampu jalan. Di sampingnya, sekitar tiga puluh sentimeter ke arah sisi jalan raya, Mahesa berjalan dengan langkah yang lebih lebar namun sengaja diperlambat.

Tangan Mahesa tenggelam sepenuhnya di dalam saku jaket denimnya. Ia bisa merasakan tekstur logam dari gantungan kunci pemberian Felysha tadi bergesekan dengan kulit telapak tangannya. Mahesa tidak banyak menoleh, namun sudut matanya terus memantau pergerakan Felysha. Setiap kali ada genangan air sisa gerimis sore tadi, Mahesa akan sedikit menggeser posisinya, memberikan isyarat tanpa suara agar Felysha tidak menginjak bagian yang licin.

Felysha merapatkan syal wol birunya sampai menutupi dagu, membiarkan hanya matanya yang terlihat. Udara malam ini terasa lebih tajam daripada biasanya, seolah-olah Paris sedang mencoba menguji seberapa kuat mereka bisa bertahan di luar ruangan. Ia menghirup napas panjang, membiarkan oksigen yang dingin menusuk paru-parunya, lalu mengeluarkannya sebagai uap putih yang segera berpencar di udara.

"Kamu selalu pulang jalan kaki?" Felysha memecah keheningan, suaranya teredam oleh kain syalnya namun tetap terdengar jelas di telinga Mahesa.

Mahesa sedikit mendongak, menatap deretan balkon besi tempa di lantai atas gedung yang mereka lewati. "Tergantung sisa tenaga. Kalau kedai lagi ramai banget, biasanya saya pilih naik Metro. Tapi kalau malamnya tenang seperti sekarang, jalan kaki terasa lebih masuk akal. Paris lebih jujur kalau dilihat sambil jalan kaki."

"Jujur?" Felysha mengulangi kata itu dengan nada bertanya.

"Iya. Kalau naik Metro, kamu cuma lihat terowongan gelap dan wajah orang-orang yang capek. Tapi kalau jalan kaki, kamu bisa lihat detail-detail kecil. Kayak toko buku tua yang sudah tutup tapi lampunya masih nyala di dalam, atau sisa-sisa poster konser yang sudah sobek tertiup angin. Hal-hal yang bikin Paris terasa seperti tempat tinggal, bukan cuma museum besar."

Mahesa berhenti sejenak di depan sebuah persimpangan kecil. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada sepeda motor yang melaju kencang sebelum ia memberikan isyarat dengan kepalanya agar Felysha menyeberang bersamanya.

Felysha mengikuti langkah Mahesa. Ia memperhatikan profil samping pria itu. Ada ketenangan yang aneh pada cara Mahesa bergerak—tidak ada ketergesaan, seolah-olah ia sudah sangat mengenal setiap lekuk jalanan ini. Felysha teringat pada Andre, supirnya, yang selalu mengemudi dengan sangat hati-hati dan kaku, seolah-olah setiap meter jalanan Paris adalah ranjau yang berbahaya.

"Aku nggak pernah benar-benar jalan kaki sejauh ini sejak sampai di sini," bisik Felysha saat mereka sampai di trotoar seberang. "Biasanya dari apartemen langsung ke kampus pakai mobil. Atau kalau mau belanja, Andre yang antar sampai depan toko."

"Itu namanya kamu nggak tinggal di Paris, Felysha," Mahesa menatapnya sekilas, ada kilatan jenaka di matanya. "Kamu cuma lagi transit di sini dalam waktu yang lama. Paris itu harus dirasakan pakai kaki, sampai betismu pegal dan kamu harus duduk di bangku taman cuma buat nunggu napas kembali normal."

Felysha tertawa kecil, tawa yang membuat uap napasnya keluar lebih banyak. "Mungkin kamu benar. Selama ini aku cuma lihat Paris dari balik kaca jendela mobil yang gelap. Semuanya kelihatan kayak film yang diputar tanpa suara. Baru setelah aku mulai jalan sendirian kemarin, dan ketemu kamu... rasanya suaranya baru muncul."

Mahesa terdiam. Kata-kata Felysha seolah-olah menjadi pengingat bagi Mahesa tentang tanggung jawab moral yang ia pikul—atau setidaknya, rasa bersalah yang ia bagi dengan Pierre. Ia meraba gantungan kunci di sakunya lagi. Benda itu terasa dingin, namun maknanya terasa sangat hangat bagi seseorang yang sudah lama tidak menerima penghargaan tulus dari orang lain.

Mereka melewati sebuah toko roti yang sudah tutup, namun sisa aroma mentega dan ragi yang dipanggang masih tertinggal dengan kuat di udara sekitarnya. Mahesa berhenti di depan etalase kaca toko itu, menunjuk sebuah rak yang sudah kosong.

"Toko ini punya croissant paling enak di distrik ini kalau kamu datang jam tujuh pagi," ucap Mahesa. "Tapi kalau kamu datang jam segini, yang tersisa cuma baunya. Kadang baunya saja sudah cukup buat bikin saya merasa kenyang."

Felysha ikut berhenti, menatap pantulan dirinya dan Mahesa di kaca etalase. Mereka terlihat seperti dua orang yang sangat kontras—Felysha dengan mantel wol mahal dan syal desainer, sementara Mahesa dengan jaket denim pudar dan sepatu bot yang sudah banyak goresan. Namun, dalam pantulan itu, mereka tampak memiliki ritme yang sama.

"Kamu... benar-benar tahu semua sudut daerah ini ya?" Felysha bertanya sambil kembali melangkah.

"Setahun di kedai itu, kamu bakal belajar banyak. Pelanggan yang datang bukan cuma mau kopi, mereka juga suka cerita. Ada kakek-kakek yang sudah tinggal di sini sejak zaman perang, ada mahasiswa seni yang selalu frustrasi sama tugasnya... saya cuma dengerin."

Mahesa menarik tangannya dari saku, membetulkan letak kerah jaketnya yang sedikit miring. "Kadang saya merasa jadi bagian dari dinding kedai itu sendiri. Melihat orang-orang datang dan pergi dengan masalah yang beda-beda, tapi mereka semua butuh hal yang sama: tempat yang hangat dan segelas kopi yang beneran kopi."

Langkah kaki mereka membawa mereka semakin dekat ke arah jalan besar yang menuju ke arah jembatan Pont de l'Alma. Suara deru mesin mobil mulai terdengar lebih dominan, menenggelamkan kesunyian gang. Felysha melirik jam tangannya, lalu mendesah pelan. Waktunya hampir habis.

"Besok kamu shift pagi lagi?" Felysha bertanya, mencoba menunda momen perpisahan yang sudah di depan mata.

"Iya. Jam sepuluh kedai sudah dibuka. Monsieur Girard biasanya datang lebih pagi buat cek stok biji kopi." Mahesa berhenti berjalan saat mereka sampai di dekat sebuah lampu jalan besar yang cahayanya sangat terang. "Mobilmu... yang itu, kan?"

Mahesa menunjuk ke arah sedan hitam mewah yang terparkir di dekat tikungan. Andre berdiri di samping mobil, menatap ke arah mereka dengan pandangan yang waspada. Mahesa secara otomatis menurunkan kepalanya sedikit, menarik topeng "orang asing"-nya kembali secara tidak sadar.

Felysha menatap mobil itu dengan pandangan yang meredup. "Iya. Itu mobilnya."

Ia berbalik menghadap Mahesa. Di bawah cahaya lampu jalan yang kuning, wajah Felysha tampak sangat pucat namun matanya bersinar. Ia meraba saku mantelnya, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Terima kasih sudah mengantar, Mahesa. Dan terima kasih buat ceritanya hari ini. Rasanya... aku baru saja pulang ke Jakarta sebentar tadi."

Mahesa mengangguk kecil. "Sama-sama. Pulanglah, Andre sepertinya sudah mulai hafal setiap detail jaket saya kalau saya terus berdiri di sini."

Felysha tertawa pendek, kali ini ada nada sedih yang terselip di sana. "Dia cuma melakukan tugasnya. Sama seperti kamu yang melakukan tugasmu sebagai barista."

"Barista yang nggak segan-segan pura-pura jadi orang Prancis," canda Mahesa, mencoba mencairkan suasana.

Felysha tersenyum, senyuman yang kali ini sampai ke matanya. "Aku bakal ingat itu. Sampai ketemu besok, Mahesa."

Felysha berbalik dan berjalan menuju mobil. Mahesa tetap berdiri di tempatnya, tangannya kembali masuk ke dalam saku. Ia memperhatikan bagaimana Andre membukakan pintu untuk Felysha, bagaimana Felysha masuk ke dalam kabin mobil yang gelap, dan bagaimana pintu itu tertutup dengan bunyi yang sangat solid.

Mobil itu mulai melaju, perlahan-lahan meninggalkan trotoar dan menghilang di balik deretan kendaraan lainnya. Mahesa menarik napas panjang, udara dingin kini terasa lebih menusuk saat ia hanya berdiri diam sendirian. Ia mengeluarkan gantungan kunci pemberian Felysha, menatap sketsa kecil Menara Eiffel itu di bawah cahaya lampu.

Ia menyadari bahwa mulai malam ini, perjalanannya pulang ke apartemen di Rue des Martyrs tidak akan lagi terasa sama. Ada sebuah bayangan baru yang akan menemaninya berjalan di trotoar—bayangan seorang gadis yang membawa aroma Jakarta di tengah musim gugur Paris. Mahesa memasukkan kembali gantungan kunci itu ke sakunya, memutar tubuhnya, dan mulai melangkah menembus kegelapan malam dengan kepala yang kini dipenuhi oleh rencana-rencana yang tidak seharusnya ia pikirkan.

Langkah Mahesa kali ini terasa lebih mantap. Ia tidak lagi melihat Paris sebagai tempat persembunyian, melainkan sebagai sebuah panggung di mana ia baru saja memulai sebuah adegan baru. Ia melewati gang-gang yang tadi ia lalui bersama Felysha, namun kali ini setiap sudutnya terasa memiliki cerita yang berbeda. Mahesa terus berjalan, membiarkan angin Paris membawa pergi sisa-sisa aroma parfum Felysha yang masih menempel di bajunya, namun ia tahu, ingatan tentang langkah kaki yang beriringan itu akan bertahan jauh lebih lama daripada aroma manapun.

Ia melewati sebuah jembatan, menatap aliran sungai Seine yang berwarna gelap dengan pantulan lampu-lampu kota yang bergoyang di permukaannya. Mahesa berhenti sejenak, menyandarkan lengannya pada pagar besi jembatan yang dingin. Ia menatap ke arah Menara Eiffel yang bersinar di kejauhan. Baginya, menara itu bukan lagi sekadar simbol wisata, tapi pengingat tentang garis-garis sketsa di buku Felysha.

Mahesa merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel lamanya yang layarnya sudah retak di bagian sudut. Ia menatap layar hitam itu sejenak, memikirkan apakah ia harus menghubungi Pierre atau tidak. Namun akhirnya ia memasukkannya kembali. Malam ini, ia tidak ingin memikirkan tentang target, tentang uang, atau tentang kejahatan kecil yang ia lakukan. Malam ini, ia hanya ingin menjadi Mahesa, pria dari Jakarta yang baru saja menemukan sebuah alasan untuk menyukai Paris sedikit lebih banyak daripada kemarin.

Ia kembali melangkah, menuruni tangga menuju jalanan yang lebih sepi. Suara sepatunya di atas aspal menjadi satu-satunya bunyi yang menemaninya. Mahesa menyadari bahwa meskipun ia tinggal di apartemen sempit yang berbau debu, malam ini ia merasa seolah-olah memiliki seluruh Paris di dalam genggamannya. Ia terus berjalan sampai akhirnya mencapai gedung apartemennya, menaiki tangga kayu yang berderit, dan mengunci pintunya rapat-rapat. Namun di dalam hatinya, sebuah pintu baru saja terbuka lebar, menanti kunjungan berikutnya dari gadis yang membawa cahaya di tengah malam yang paling sunyi.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!