NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Hangat dan Kehampaan yang Dingin

Pintu ganda kamar pribadi keluarga kerajaan terbuka lebar. Di dalam sana, Mantan Raja Henri dan Ibu Suri Eleanor sedang duduk dengan wajah layu. Namun, saat melihat sosok Geneviève berdiri di ambang pintu, Henri menjatuhkan cangkir tehnya hingga hancur berkeping-keping.

"Ève... Putriku?" Henri bangkit dengan kaki yang sedikit gemetar.

Geneviève tidak bisa lagi menahan ketenangannya. Ia berlari kecil dan menghambur ke pelukan ayahnya, lalu ke ibunya. Tangisan yang ia tahan selama di paviliun akhirnya pecah di sini.

"Aku pulang, Ayah... Ibu... maafkan aku membuat kalian menunggu lama," isak Geneviève.

Ibu Suri memeluk wajah putrinya, mencium keningnya berkali-kali. "Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting kau selamat. Kami hampir gila memikirkanmu."

Di tengah suasana haru itu, seorang pengasuh muncul membawa seorang bayi mungil yang baru saja bangun tidur. Amelie. Begitu melihat Geneviève, bayi itu merentangkan tangan kecilnya dan meracau riang, seolah mengenali aroma bibinya.

Geneviève mengambil Amélie dari gendongan ibunya (istri sang raja). Ia memeluk bayi itu erat-erat, menghirup aroma bedak bayi yang menenangkan—aroma yang ia panggil-panggil saat demam tinggi semalam.

"Halo, Cantik... Bibi di sini," bisik Geneviève sambil mengecup pipi gembul Amelie. Tangisan bayi itu mereda, digantikan oleh tawa kecil yang membuat hati Geneviève yang sempat beku di tangan Eisérre perlahan mencair. Di istana ini, dia adalah seorang anak dan seorang bibi yang dicintai, bukan sekadar "Ève" yang disembunyikan.

Sementara itu, di Paviliun Sanctuary, suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Kamar yang tadinya hangat karena kehadiran Geneviève kini terasa sangat luas dan dingin.

Eisérre berdiri di tengah kamar, masih di posisi yang sama saat Geneviève pergi. Ia menatap tempat tidur yang seprainya masih sedikit berantakan—sisa dari tubuh Geneviève yang berbaring di sana semalam. Ia berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.

Ia memungut sekuntum bunga kering yang terjatuh dari vas saat Geneviève terburu-buru tadi. Hanya benda mati ini yang tersisa.

Tok, tok, tok.

"Jenderal," suara Ajudan Kael terdengar dari balik pintu, nadanya sangat formal dan kaku. "Laporan dari perbatasan sudah siap. Dan... Madame Hestia meminta jadwal pertemuan untuk membahas rencana pertunangan Anda dengan putri bangsawan lain."

Eisérre memejamkan mata. Rasa sesak di dadanya hampir membuatnya sulit bernapas. Inilah realitasnya. Robot tanpa nyawa yang harus kembali mengikuti protokol dan ambisi neneknya. Tanpa Geneviève, rumah ini hanyalah bangunan batu tanpa jiwa.

"Katakan pada Nenek, aku tidak akan menemui siapa pun," suara Eisérre terdengar hampa, tanpa emosi. "Dan Kael... bersihkan paviliun ini. Jangan sisakan apa pun yang bisa mengingatkanku padanya."

Namun, saat Kael mulai bergerak, Eisérre tiba-tiba membentak, "Tidak! Jangan sentuh apa pun! Biarkan seperti ini."

Eisérre bangkit, mengenakan seragam militernya kembali. Ia mengancingkan kerah kaku yang mencekik lehernya, memasang lencana-lencana berat di dadanya. Wajahnya kembali menjadi topeng es yang tidak tersentuh. Jenderal Agung d'Orléans telah kembali, namun pria bernama Eisérre yang bisa tersenyum itu seolah telah terkubur di bawah bantal tempat Geneviève tidur semalam.

Ia melangkah keluar paviliun tanpa menoleh lagi, kembali ke dunianya yang gelap, membiarkan kenangan tentang "Ève" menjadi rahasia paling menyakitkan yang akan ia simpan seumur hidupnya.

Entah apa yang akan terjadi setelah ini, tapi apapun itu konsekuensinya. Eisérre akan terima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!