Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: GERBANG NAGA
Perjalanan menuju Istana Kekaisaran memakan waktu tujuh hari.
Namgung Jin dan rombongan kecilnya melewati pegunungan, lembah, dan dataran luas. Semakin ke utara, pemandangan semakin berubah—dari hutan hijau menjadi padang ilalang, lalu perlahan muncul bangunan-bangunan megah di kejauhan. Kota-kota besar mulai bermunculan, dipenuhi pedagang, pengrajin, dan pendekar dari berbagai penjuru.
Namgung Jin mengamati semuanya dengan mata tajam. Ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia luar setelah bereinkarnasi. Banyak yang berubah dalam tiga ribu tahun—jalanan lebih teratur, bangunan lebih megah, dan orang-orang berpakaian berbeda. Tapi esensi manusia tetap sama: serakah, licik, dan mudah dimanipulasi.
Nyonya Hwa Ryun berkuda di sampingnya, sesekali menjelaskan tentang tempat-tempat yang mereka lewati. Sebagai pemimpin Sekte Bunga Mekar, ia sudah sering bepergian ke berbagai daerah.
"Kau lihat kota di depan itu?" Ia menunjuk ke arah hamparan bangunan dengan atap merah. "Itu Kota Jang'an, pusat perdagangan terbesar di utara. Dari sini, tinggal setengah hari lagi menuju Istana."
Namgung Jin mengamati kota itu. Dari kejauhan saja, sudah terlihat kemegahannya—tembok tinggi menjulang, gerbang besar dengan patung naga, dan ribuan orang keluar masuk seperti semut.
"Kita akan bermalam di sana?"
"Sepertinya begitu. Pejabat Hwang sudah mengatur penginapan."
Di belakang mereka, Pejabat Hwang sendiri berkuda bersama para pengawal istana. Pria itu sejak tadi diam, hanya sesekali melirik ke arah Namgung Jin dengan ekspresi tidak terbaca.
---
Kota Jang'an ternyata lebih ramai dari yang dibayangkan.
Saat memasuki gerbang kota, Namgung Jin disambut hiruk-pikuk pasar yang luar biasa. Pedagang berteriak menawarkan barang, anak-anak berlarian di antara kerumunan, dan para pendekar berjalan dengan pedang terhunus—pemandangan biasa di dunia persilatan.
Mereka berhenti di sebuah penginapan mewah bernama Paviliun Awan Merah. Bangunan tiga lantai dengan ukiran naga di setiap tiangnya. Para pelayan berlarian menyambut tamu penting.
Pejabat Hwang turun dari kuda, menatap Namgung Jin.
"Kita akan bermalam di sini. Besok pagi, kita lanjut ke istana. Manfaatkan waktu ini untuk beristirahat."
"Terima kasih, Paduka."
Namgung Jin dan Nyonya Hwa Ryun mendapatkan kamar di lantai dua, bersebelahan. Kamar-kamar itu luas dan mewah—sangat kontras dengan paviliun reot di Klan Namgung.
Setelah menaruh barang, Nyonya Hwa Ryun mengetuk pintu kamarnya.
"Aku akan keluar sebentar. Mencari informasi."
"Hati-hati."
"Kau tidak ikut?"
"Aku akan istirahat. Perjalanan ini melelahkan."
Nyonya Hwa Ryun mengangguk, lalu pergi.
---
Namgung Jin duduk di kamarnya, merenung.
Besok, ia akan tiba di Istana Kekaisaran. Ia akan berhadapan dengan Janda Permaisuri—wanita yang mungkin tahu tentang kelemahannya. Ia harus waspada.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk.
Bukan ketukan Nyonya Hwa Ryun. Lebih pelan, lebih ragu.
"Masuk."
Pintu terbuka. Seorang gadis muda masuk—mungkin berusia tujuh belas tahun, dengan pakaian sederhana dan rambut dikepang dua. Wajahnya cantik, dengan mata bulat dan pipi merona. Tapi yang paling mencolok adalah sikapnya yang canggung, seperti tidak terbiasa berada di kamar pria asing.
"Ma-Maaf mengganggu, Tuan." Suaranya bergetar. "Aku diutus Pemilik Penginapan untuk menawarkan... menawarkan..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Wajahnya merah padam.
Namgung Jin mengerutkan kening. "Menawarkan apa?"
"Pe-Pelayanan khusus, Tuan."
Baru ia mengerti. Ini adalah "teman tidur" yang biasa ditawarkan penginapan pada tamu penting.
"Tidak perlu. Kau boleh pergi."
Gadis itu terkejut. *"T-Tapi Tuan, aku sudah diperintahkan—"
"Aku bilang tidak perlu."
Gadis itu menunduk, matanya berkaca-kaca. "Maaf, Tuan. Aku... aku akan dihukum jika pulang tanpa melayani tamu."
Namgung Jin menghela napas. Dunia ini memang kejam pada yang lemah.
"Duduk."
Gadis itu duduk di kursi, masih gemetar.
"Siapa namamu?"
"Na- Na Ryun, Tuan."
"Na Ryun. Kau dari mana?"
"Dari desa sebelah, Tuan. Orang tuaku meninggal, jadi aku kerja di sini."
Namgung Jin mengamatinya. Matanya jujur, tidak seperti mata pembohong. Gadis ini benar-benar korban keadaan.
"Kau bisa tidur di kursi ini malam ini. Besok pagi, kau bisa bilang pada pemilik penginapan bahwa kau melayaniku. Tapi tidak terjadi apa-apa."
Na Ryun menatapnya tidak percaya. "T-Tuan... kenapa?"
"Aku tidak suka memanfaatkan orang lemah."
Untuk pertama kalinya, senyum muncul di wajah Na Ryun. Senyum tulus yang menyentuh hati.
"Terima kasih, Tuan."
---
Malam itu, Namgung Jin tidak bisa tidur.
Ia duduk di kursi, menatap Na Ryun yang tertidur pulas di kursi. Gadis itu tampak damai, mungkin pertama kalinya tidur tanpa rasa takut.
"Dasar bodoh." Ia menggerutu pada dirinya sendiri. "Kau jadi lemah."
Simma di dadanya berdenyut hangat. Mungkin menyetujui tindakannya. Atau mungkin mengejeknya.
Pintu diketuk—ketukan kode Nyonya Hwa Ryun.
Namgung Jin membuka pintu. Nyonya Hwa Ryun masuk, lalu berhenti melihat Na Ryun.
"Oh? Kau sudah punya teman?"
"Bukan begitu." Ia menjelaskan situasinya.
Nyonya Hwa Ryun tersenyum geli. "Namgung Jin yang kejam, penyayang pada gadis malang. Siapa sangka?"
"Sudahlah. Apa yang kau dapat?"
Nyonya Hwa Ryun duduk, ekspresinya berubah serius.
"Aku dengar desas-desus di pasar. Janda Permaisuri sedang sakit. Tapi bukan sakit biasa—katanya, ia kerasukan."
"Kerasukan?"
"Atau pura-pura kerasukan. Yang jelas, ia jarang keluar akhir-akhir ini. Istana dikendalikan oleh para pejabat."
"Termasuk Pejabat Hwang?"
"Termasuk dia. Tapi ia bukan yang paling berkuasa. Ada satu nama yang lebih berpengaruh: Nyonya Go, kepala dayang Janda Permaisuri. Wanita itu tangan kanannya."
"Nyonya Go..." Namgung Jin mengingat nama itu.
"Ia wanita licik. Banyak orang yang meremehkannya karena ia hanya dayang, tapi ia punya pengaruh besar. Jika kau ingin tahu tentang Janda Permaisuri, kau harus melewatinya dulu."
---
Pagi harinya, Na Ryun terbangun dengan perasaan aneh.
Ia tidak pernah tidur senyaman ini. Tanpa rasa takut, tanpa ancaman. Ia menatap Namgung Jin yang sedang duduk bersila di lantai, bermeditasi.
"Tuan sudah bangun?"
"Aku tidak tidur."
"Oh." Ia turun dari kursi, membungkuk dalam. "Terima kasih, Tuan. Aku... aku tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu berkata apa-apa. Pergilah."
Na Ryun melangkah ke pintu, lalu berhenti.
"Tuan... boleh aku tahu nama Tuan?"
"Namgung Jin."
Ia mengulang nama itu dalam hati. "Namgung Jin..."
Lalu ia pergi, dengan senyum di wajah.
---
Rombongan melanjutkan perjalanan setelah sarapan.
Kota Jang'an tertinggal di belakang, berganti dengan pemandangan pedesaan yang asri. Sawah terhampar hijau, petani bekerja di ladang, dan sesekali terdengar suara kerbau membajak sawah.
Menjelang sore, mereka tiba di gerbang Istana Kekaisaran.
Gerbang Naga—namanya. Dua patung naga raksasa dari batu giok berdiri di kiri kanan, masing-masing setinggi sepuluh meter. Matanya dari batu rubi merah, menyala terkena sinar matahari sore. Di belakangnya, tembok istana menjulang tinggi, dikelilingi parit lebar dengan jembatan gantung.
Para pengawal istana berjaga di setiap sudut, dengan seragam hitam merah dan tombak berkilau. Mereka semua adalah prajurit pilihan—kultivator level menengah ke atas.
Saat rombongan mendekat, seorang perwira tinggi menyambut.
"Pejabat Hwang, selamat kembali."
"Terima kasih, Komandan." Pejabat Hwang turun dari kuda. "Ini dia tamu kita, Namgung Jin dari Klan Namgung."
Komandan itu menatap Namgung Jin dengan rasa ingin tahu. "Bocah ini?"
"Jangan remehkan."
Komandan itu tersenyum tipis. "Baiklah, silakan masuk."
---
Di dalam istana, kemegahan yang sesungguhnya terbentang.
Bangunan-bangunan megah berjejer rapi, masing-masing dengan arsitektur yang rumit. Ukiran naga dan phoenix menghiasi setiap sudut. Taman-taman indah dengan bunga-bunga langka dan kolam-kolam jernih. Para dayang berlalu-lalang dengan pakaian sutra berwarna-warni, membawa nampan berisi makanan atau perlengkapan upacara.
Namgung Jin berjalan di belakang Pejabat Hwang, diam-diam mengamati sekeliling. Ia memetakan setiap jalan, setiap bangunan, setiap titik jaga.
Mereka berhenti di sebuah paviliun kecil, tidak terlalu mewah tapi cukup nyaman.
"Ini tempat tinggalmu selama di istana." Pejabat Hwang menunjuk. "Besok pagi, kau akan menghadap Kaisar. Istirahatlah."
Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin dan Nyonya Hwa Ryun.
---
Setelah Pejabat Hwang pergi, Namgung Jin memeriksa paviliun itu dengan teliti.
Ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan halaman kecil dengan kolam ikan. Tidak ada jebakan—setidaknya, tidak yang terlihat.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Nyonya Hwa Ryun.
"Malam ini, aku akan menyelidiki."
"Sendirian?"
"Kau jaga di sini. Jika ada yang datang, alihkan perhatian."
Nyonya Hwa Ryun menghela napas. "Kau memang nekat."
"Itu sebabnya aku masih hidup."
---
Malam tiba. Istana Kekaisaran berubah menjadi lautan lampu.
Namgung Jin keluar dari paviliunnya setelah memastikan tidak ada yang mengawasi. Dengan pakaian hitam sederhana dan wajah setengah tertutup, ia menyelinap di antara bayangan.
Ia sudah mempelajari peta istana dengan saksama. Tujuan pertamanya: Kediaman Janda Permaisuri di sayap timur.
Bangunan itu lebih besar dari yang lain, dijaga ketat oleh para dayang dan kasim. Tapi Namgung Jin tidak perlu masuk. Ia hanya perlu melihat dari jauh, mencari celah.
Ia bersembunyi di balik semak-semak, mengamati.
Dari dalam, terdengar suara samar—suara wanita tua, marah.
"BODOH! KALIAN SEMUA BODOH!"
Itu pasti Janda Permaisuri.
"Aku sudah bilang, cari bocah itu! Bawa ke sini! Kenapa belum juga?"
Suara lain menjawab—lebih lembut, lebih kalem. "Paduka, bocah itu sudah tiba di istana. Besok ia akan menghadap Kaisar."
"Bocah itu... Namgung Jin?"
"Ya, Paduka."
"Baik. Pastikan ia datang padaku setelah menghadap Kaisar. Aku ingin melihatnya langsung."
"Baik, Paduka."
Namgung Jin mengerutkan kening. Janda Permaisuri ingin bertemu dengannya. Itu bisa jadi kesempatan—atau jebakan.
Saat ia bersiap pergi, tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.
"Mencari sesuatu?"
Namgung Jin berbalik cepat, tangan siap menyerang. Tapi ia menghentikan gerakannya saat melihat siapa di depannya.
Seorang wanita muda—mungkin seumuran dengannya—dengan jubah sutra putih dan rambut panjang tergerai. Wajahnya cantik, dengan mata yang tajam dan senyum misterius. Di tangannya, sebuah lentera kecil.
"Kau... siapa?"
"Aku yang seharusnya bertanya. Kau di sini, mengintip kediaman Janda Permaisuri. Kau tahu itu bisa dihukum mati?"
Namgung Jin tidak menjawab. Ia mengamati wanita itu, mencari kelemahan.
Wanita itu tersenyum. "Tenang. Aku tidak akan melaporkanmu. Aku hanya... penasaran."
Ia mendekat, menatap Namgung Jin dari dekat.
"Jadi ini Namgung Jin, bocah ajaib dari Klan Namgung."
"Kau tahu namaku?"
"Seluruh istana membicarakanmu. Calon Pendekar Kekaisaran termuda dalam sejarah." Ia tertawa kecil. "Atau mungkin, korban intrik terbaru Janda Permaisuri."
"Siapa kau?"
Wanita itu tersenyum lebar. "Aku Putri Sohwa, putri Kaisar dari selir rendahan. Tidak ada yang menganggapku penting. Itu sebabnya aku bisa berkeliaran bebas di malam hari."
Putri Kaisar? Namgung Jin terkejut.
"Kenapa kau memberitahuku?"
"Karena aku bosan." Putri Sohwa berbalik, melambai. * "Sampai jumpa lagi, Namgung Jin. Mungkin kita akan bertemu di tempat yang lebih... formal."*
Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin dengan seribu pertanyaan.
---
Kembali di paviliunnya, Namgung Jin merenung.
Putri Sohwa. Sosok baru yang tiba-tiba muncul. Apa perannya dalam semua ini? Apakah ia sekutu, musuh, atau hanya pengamat?
Nyonya Hwa Ryun mendengarkan ceritanya dengan saksama.
"Putri Sohwa... aku pernah dengar namanya."
"Apa yang kau dengar?"
"Ia putri Kaisar dari selir rendahan. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ia dibesarkan di istana, tapi tidak pernah dianggap penting. Konon, ia cerdas, tapi sengaja berpura-pura bodoh agar tidak dianggap ancaman."
"Pintar."
"Atau berbahaya."
Namgung Jin mengangguk. "Kita harus awasi dia."
---
Pagi harinya, Namgung Jin bersiap menghadap Kaisar.
Ia mengenakan jubah formal yang disediakan istana—hitam dengan sulaman naga perak, lambang kehormatan bagi tamu penting. Nyonya Hwa Ryun merapikan kerahnya, tersenyum puas.
"Kau tampak seperti bangsawan."
"Aku bukan bangsawan."
"Tapi kau akan diperlakukan seperti satu. Setidaknya hari ini."
Pejabat Hwang datang menjemput. Bersama dua pengawal istana, mereka berjalan menuju Aula Naga Emas—tempat Kaisar bersidang.
Bangunan itu megah, dengan atap berlapis emas dan pilar-pilar berukir naga. Di dalam, para pejabat berjejer rapi. Di ujung ruangan, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Go—pria tua dengan jubah kuning, wajah lelah, dan mahkota emas di kepala.
Di samping singgasana, sebuah kursi lebih rendah dihiasi tirai sutra. Di balik tirai itu, samar-samar terlihat sosok wanita—Janda Permaisuri.
Namgung Jin berlutut di hadapan Kaisar, mengikuti protokol.
"Namgung Jin dari Klan Namgung menghadap Yang Mulia."
Suara Kaisar tua, parau. "Angkat kepalamu."
Namgung Jin menatap Kaisar. Pria itu memang tua, mungkin tujuh puluhan. Tapi matanya... matanya tajam. Tidak setua fisiknya.
"Kau yang disebut-sebut sebagai calon Pendekar Kekaisaran?"
"Aku hanya hamba yang siap mengabdi, Yang Mulia."
"Hmm." Kaisar mengamatinya. "Kau masih muda. Terlalu muda. Tapi aku percaya pada usulan Janda Permaisuri."
Namgung Jin tidak bereaksi. Tapi di dalam, ia waspada.
Dari balik tirai, suara Janda Permaisuri terdengar. "Yang Mulia, biarkan aku yang mengujinya."
Kaisar mengangguk. Tirai itu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Janda Permaisuri.
Wanita itu tua, tapi tidak setua Kaisar. Mungkin lima puluhan, dengan kecantikan yang masih tersisa. Matanya hitam pekat, dingin, seperti mata ular.
"Namgung Jin, maju ke sini."
Ia melangkah mendekat. Sekarang ia bisa melihat Janda Permaisuri dengan jelas.
"Katakan, apa kau percaya pada takdir?"
Pertanyaan aneh. Tapi Namgung Jin menjawab dengan tenang.
"Aku percaya pada apa yang bisa kulihat, Paduka."
Janda Permaisuri tersenyum. "Jawaban diplomatis. Tapi aku tahu kau berbeda. Aku bisa melihatnya di matamu."
Ia mencondongkan tubuh, berbisik pelan—hanya untuk Namgung Jin.
"Kau tahu tentang Iblis Murim, bukan?"
Jantung Namgung Jin berdetak kencang. Tapi wajahnya tetap datar.
"Aku tidak mengerti maksud Paduka."
"Tentu kau mengerti." Janda Permaisuri tersenyum. "Tapi tidak apa. Kita akan bicara lebih lanjut nanti. Sekarang, pergilah. Besok, ujianmu dimulai."
---
Setelah menghadap, Namgung Jin kembali ke paviliunnya.
Pikirannya kacau. Janda Permaisuri tahu sesuatu. Tapi seberapa banyak?
Nyonya Hwa Ryun menunggunya dengan cemas. "Bagaimana?"
"Dia tahu. Tapi belum bertindak."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Tunggu. Lihat." Ia duduk, merenung. "Dan cari informasi sebanyak mungkin."
Pintu diketuk. Seorang dayang masuk dengan nampan berisi teh.
"Tuan Namgung, ini kiriman dari Putri Sohwa."
Namgung Jin mengerutkan kening. Ia mengambil teh itu, menciumnya. Tidak ada racun.
"Ada pesan?"
"Putri bilang, 'Sampai jumpa di taman malam ini. Aku punya informasi yang mungkin kau butuhkan.'"
Dayang itu pergi.
Nyonya Hwa Ryun mengerutkan kening. "Perangkap?"
"Mungkin. Tapi aku harus pergi."
· "Aku ikut."*
"Tidak. Kau jaga di sini. Jika sesuatu terjadi, kau bisa bertindak dari luar."
---
Malam itu, Namgung Jin pergi ke taman istana.
Taman itu luas, dengan bunga-bunga yang bersinar redup karena serangga bercahaya. Di tengah, sebuah paviliun kecil berdiri di atas kolam. Di sana, Putri Sohwa menunggu.
Ia tersenyum melihat Namgung Jin datang.
"Kau tepat waktu."
· "Apa yang kau mau?"*
"Langsung ke inti. Aku suka itu." Ia duduk di bangku batu, menepuk sampingnya. "Duduklah."
Namgung Jin duduk, menjaga jarak.
"Aku punya informasi. Tapi aku mau tawar-menawar."
"Tawar-menawar apa?"
"Aku tahu Janda Permaisuri mengincarmu. Aku tahu ia percaya kau terkait dengan Iblis Murim. Tapi aku juga tahu..." Ia mencondongkan tubuh. "...bahwa kau menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang besar."
Namgung Jin diam.
"Aku tidak akan bertanya apa itu. Tapi aku ingin kau membantuku."
"Membantumu apa?"
"Melindungi ayahku—Kaisar. Janda Permaisuri perlahan meracuninya. Dalam setahun, ia akan mati. Dan setelah itu, ia akan menguasai istana sepenuhnya."
"Kenapa kau peduli?"
"Karena jika ia berkuasa, aku akan mati. Aku adalah anak selir yang tidak berguna. Ia tidak akan membiarkanku hidup."
Namgung Jin menatapnya lama. Mata Putri Sohwa tidak berbohong.
"Apa yang kau minta?"
"Bantu aku menyelamatkan ayahku. Sebagai imbalan, aku akan memberimu semua informasi tentang Janda Permaisuri. Termasuk..." Ia berbisik. "...rahasia tentang kelemahan Iblis Murim."
Udara di taman itu terasa dingin.
"Kau tahu tentang itu?"
"Aku tahu lebih dari yang kau kira."
Namgung Jin merenung. Ini bisa jadi jebakan. Tapi juga bisa jadi peluang.
"Baik. Aku setuju."
Putri Sohwa tersenyum. "Bagus. Kita mulai besok."
Ia berdiri, melambai, lalu pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di taman.
Di balik pepohonan, dua pasang mata mengawasi mereka.
---