Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERITA MENGEJUTKAN
Dua hari kemudian...
Mikhaela tengah mengawasi anak buahnya yang sedang menyeterika pakaian pelanggan laundry.
Usaha laundry itu sebenarnya milik mamanya. Laundry sudah di rintis sejak Mikha masih duduk di bangku sekolah.
Ditinggal ayah sejak usia 15 tahun membuat Meri sang mama memutar otak untuk membuka usaha laundry mulai dari nol. Ternyata usaha itu semakin berkembang karena lokasi yang strategis di dekat kampus. Banyak anak-anak kost sekitaran yang menjadi langganan usaha mereka.
Usaha itu semakin berkembang dengan omset yang lumayan tinggi untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Hasilnya bisa menuntaskan pendidikan Mikha hingga menjadi sarjana dan membangun ruko sehingga usaha yang tadinya di rumah memiliki tempat sendiri.
Namun sejak mamanya meninggal dunia tiga tahun yang lalu, Mikhaela yang mewarisi usaha laundry itu.
Mikha tetap melanjutkan usaha itu. Sebenarnya setelah mamanya meninggal dunia Mikha sempat terpikir untuk menghentikan usaha laundry itu. Tapi Dion memberi masukan pada Mikha untuk melanjutkan usaha orangtuanya.
Dengan begitu Mikha ada kesibukan yang bisa melupakan masalah kehamilan yang tak kunjung datang di pernikahan mereka.
Mikha berterimakasih pada suaminya yang selalu mendukungnya. Selain itu banyak yang bersandar dengan usaha laundry mamanya sebagai penopang hidup beberapa karyawan yang sudah di pekerjakan sejak Meri sang mama masih ada.
Banyak yang harus ia pertimbangan jika ingin menutup laundry.
Seperti saat ini, anak buah Mikhaela pada sibuk dengan tugas masing-masing.
Sejak pagi Mikha sudah berada di kantornya, memeriksa pembukuan. Apalagi karyawan kepercayaannya Wati sedang cuti.
"Untuk pengantaran bisa di kirim sekaligus saja di sesuaikan dengan rute. Harus kalian periksa ulang jangan ada pakaian pelanggan yang tertukar", ujar Mikhaela.
"Baik bu", jawab karyawan yang sedang menyeterika mengunakan seterika stream iron untuk mendapatkan hasil maksimal.
Sejak di tangan Mikhaela, usaha laundry semakin maju. Tadinya yang hanya beraktivitas di satu ruko saja sekarang sudah menambah menjadi dua ruko dengan mempekerjakan belasan karyawan dengan tugas masing-masing.
Mikhaela bersyukur karena Dion suaminya mendukung aktivitasnya.
Selang beberapa menit kemudian..
"Bu Mikhaa...Ibu harus lihat berita. B-bukankah ini pak Dion?". Nando berlari tergesa-gesa menghampiri Mikha yang kaget mendengar suara sopir pribadi suaminya itu.
"Berita apa?".
Mikha mengambil ponsel Nando yang tengah menonton salah satu media sosial.
Seketika tubuh Mikhaela gemetaran bahkan handphone Nando terlepas dari tangannya. "M-as D-ion..."
Tubuh Mikhaela sempoyongan. Wajahnya pun kian memutih. Pucat pasi. Mendadak lidah Mikha kelu.
Melihat kondisi Mikha seperti itu, spontan karyawan laundry menghentikan pekerjaan mereka mengerumuni atasannya.
"Ibu..."
Ucap mereka hampir bersamaan.
Tangan Mikhaela memegang keningnya dengan tubuh terhuyung kebelakang.
Sempoyongan.
Beruntung beberapa anak buahnya sigap memegangi tubuh Mikha agar tidak jatuh.
Mikha merasa bumi seakan berhenti berputar pada porosnya.
Kehilangan orang tercinta secara tiba-tiba untuk merobek jiwanya dalam sekejap
"M-as D-ionnn...."
Tangis Mikhaela pecah di barengi jeritan membahana memenuhi seisi ruangan. Terdengar begitu menyayat hati.
*
Keesokan harinya...
Langit gelap berselimut awan hitam mengiringi kepergian Dion ke peristirahatan terakhir.
Kemarin siang adalah hari yang begitu berat bagi Mikhaela dan keluarga. Matanya Seakan tak percaya melihat berita di media sosial dari ponsel Nando. Bibirnya tak sanggup mengeja nama yang menjadi korban kecelakaan di sungai Kalimantan.
"T-idak-tidak, nama itu bukan mas Dion Sadewa suamiku. Pasti itu orang lain. Banyak nama yang sama di dunia ini bukan!!". Kalimat yang keluar dari mulut Mikha yang bergetar setelah memanggil nama Dion dengan histeris.
Netra coklat Mikhaela jelas membaca korban kecelakaan speedboat yang mengangkut Dion dan rekan-rekannya.
Menurut Rendy asisten Dion yang saat kejadian bersama Dion ketika menghubungi Mikhaela beberapa jam kemudian. Speedboat yang mereka tumpangi di hantam ombak sungai yang sedang pasang.
Dion yang tidak bisa berenang terseret arus sungai yang deras meskipun sudah memakai pelampung. Sementara Rendy dan yang lainnya tidak bisa menyelamatkan atasan mereka karena mereka terpencar-pencar akibat arus sungai sangat deras saat kejadian.
Mendengar penjelasan Rendy sungguh membuat Mikha syock. Wanita itu bahkan bersikeras ingin melihat sendiri kondisi suaminya yang beberapa jam kemudian di temukan tim SAR.
Namun kerabat menenangkan Mikhaela, sebaiknya Mikha menunggu saja di rumah. Biarkan adik laki-laki Dion dan saudara lainnya yang mengurus kepulangan Dion ke Jakarta.
Tadi pagi mayat Dion telah sampai di kediamannya. Mikhaela dan keluarga menyambut kedatangannya dengan tangisan histeris.
Bahkan walaupun sudah di ingatkan untuk tidak meratapi kepergian Dion namun Mikha tidak bisa menutupi kesedihan.
Perasaannya hancur berkeping-keping.
Bagaimana tidak, kepergian suaminya begitu tiba-tiba. Bahkan sejam sebelum kabar itu, ia masih melakukan video call dengan suaminya. Sama sekali Mikha tidak menduga Dion akan pergi selama-lamanya.
Ternyata video call itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Perasaan Mikha benar-benar hancur berkeping-keping. Ia harus merelakan kepergian laki-laki yang sangat dicintainya. Belahan jiwanya. Teman dalam suka-duka yang selalu ada untuknya.
Kini semua itu tinggal kenangan.
"Mas kenapa tega meninggalkan aku sendirian. Harusnya aku ikut kamu mas. Kita pergi bersama", lirih Mikhaela menatap lekat peti Dion untuk yang terakhir dengan kedua mata sembab karena tak henti menangis. "Bahkan aku tidak bisa melihat wajah mu mas", ratap Mikhaela bersimpuh menangis.
"Bagaimana dengan aku kalau mas tidak ada. Tidak ada lagi tempat aku bersandar mas. Kamu pergi, keadaan tidak akan sama lagi. Aku sendirian mas", lirih Mikhaela beberapa saat yang lalu ketika tubuh suaminya di masukkan ke liang lahat. "Mas Dion sudah janji akan mengajak aku ke Korea kan mas? Mas bilang kita akan honeymoon lagi. Itu janji mu kan mas?", lirih Mikhaela tersedu-sedu berlinang airmata.
Beberapa saat yang lalu dengan tubuh lemah Mikha duduk di kursi yang tersedia di bawah tenda menatap sedih gundukan tanah merah ketika petugas gali kubur memadatkan tanah yang kini menjadi rumah terakhir suaminya.
Air mata Mikha tak henti turun membasahi pipi sambil memeluk pigura Dion di depan dadanya.
"Ah...Mas Dion", isaknya berlinang airmata.
"Mikha, ikhlaskan kepergian Dion. Aku dan Rania akan selalu ada untuk mu Mikhaela. Kamu tidak sendirian", ucap Sandra teman baik Mikha yang kini memeluk temannya itu.
"Iya Mikha. Seperti biasa, kita bertiga akan bersama melewati masa sulit ini. Aku dan Sandra bisa kamu andalkan", ujar Rania menenangkan temannya tersebut.
Keduanya setia menemani Mikhaela sejak kemarin begitu mendapat kabar tentang meninggalnya Dion.
*
Satu persatu orang yang mengantar kepergian Dion ke peristirahatan terakhir meninggalkan TPU. Pun sebagian kerabat sudah pamit pulang pada Mikha dan keluarga Dion. Mama dan dua saudara kandung Dion Nania dan Tio.
Yang masih nampak di bawah tenda berwarna biru Mikhaela di temani Rania dan Sandra juga keluarga Mikha dan Dion. Masih enggan beranjak meninggalkan Dion sendirian di tempat itu.
Alam seakan merasakan perasaan Mikha yang baru saja kehilangan orang terkasihnya, hujan pun turun. Satu persatu orang-orang berlari ke mobil masing-masing.
Begitu juga Mikhaela yang di tuntun dua sahabat baiknya untuk pergi karena hari semakin gelap. Mikha menganggukkan kepalanya menurut pada Rania dan Sandra.
Namun beberapa langkah di depan nampak seorang wanita muda yang baru turun dari mobil mengenakan pakaian serba hitam menangis histeris. Berlari sambil menggendong anak kecil. Bahkan menabrak bahu Mikhaela yang masih blank.
"Sayanggg...Jangan tinggalkan aku!".
"Bagaimana Salfa anak kita..."
...***...
To be continue
Tinggalkan komentar kalian sebanyak-banyaknya ya, sebagai dukungan untuk karya ini 🙏
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂