NovelToon NovelToon
Perjodohan Dengan Anak SMA

Perjodohan Dengan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.

Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!

Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANDA TANGAN YANG MERUSAK SEMUA

"Jika tidak menandatangani ini dalam waktu 24 jam, perusahaan yang didirikan kakekmu akan jatuh bangkrut dan ratusan karyawan akan kehilangan pekerjaan."

Kalimat itu menggelegar di benak Kezia Putri Ramadhan saat dia berdiri di depan jendela kantornya yang berada di lantai 30 Gedung Ramadhan Textile. Badan tinggi dengan postur langsingnya terpancang seperti patung es, wajah cantik dengan alis yang sedikit menekuk menunjukkan ketegangan yang dia coba sembunyikan. Matanya yang warna coklat tua menatap jauh ke arah langit yang mulai gelap, ekspresinya tetap cuek dan dingin seperti biasa – seolah tak ada apa-apa yang bisa menggoyahkan ketenangan dirinya.

"Bu Kezia, pak direktur sedang menunggu di ruang rapat," ucap Maya, asisten pribadinya yang sudah bekerja dengannya selama dua tahun. Wanita muda itu berdiri di pintu dengan wajah khawatir, tahu betul betapa beratnya keputusan yang harus diambil bosnya yang baru berusia 25 tahun.

Kezia hanya mengangguk tanpa menghiraukan, lalu berjalan menuju ruang rapat dengan langkah yang mantap. Setiap langkahnya mengeluarkan suara keras dari hak sepatunya yang menyentuh lantai marmer, seperti irama yang mengumumkan kedatangan sosok yang tak bisa ditawar. Di dalam ruangan, tiga orang lelaki tua yang merupakan anggota dewan direksi sudah duduk mengelilingi meja besar berbentuk persegi panjang. Di tengah meja, sebuah amplop coklat tua terlihat jelas, disertai dengan dokumen yang sudah diberi tanda tempat untuk menandatangani.

"Kezia, kamu sudah paham kondisi perusahaan, bukan?" kata Bambang Ramadhan, ayahnya yang juga ketua dewan direksi. Wajahnya yang keriput menunjukkan usia yang sudah lanjut dan beban yang membuatnya menua lebih cepat.

"Perusahaan mengalami defisit sebesar 15 miliar rupiah dalam tiga bulan terakhir akibat kesalahan keputusan investasi yang dilakukan oleh kakakku. Dan keluarga Wijaya bersedia menyuntikkan dana jika aku menikahi putra mereka," ucap Kezia dengan nada datar, seolah sedang membaca laporan keuangan biasa saja. Tak ada emosi yang terlihat di wajahnya yang selalu terlihat dingin dan tidak mudah mendekati.

"Betul. Rizky Wijaya – putra sulung keluarga Wijaya. Dia baru saja lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah di fakultas bisnis semester depan. Anak yang baik, meskipun terkadang sedikit... ceroboh," tambah salah satu direktur dengan suara pelan.

Kezia mengangkat alisnya sejenak. Ceroboh – kata itu terdengar seperti kata yang terlalu ringan untuk menggambarkan seseorang yang akan menjadi suaminya. Tapi dia tidak punya pilihan. Tanpa dana dari keluarga Wijaya, perusahaan yang sudah berdiri selama lima puluh tahun akan lenyap. Dengan tangan yang tidak sedikit pun gemetar, dia mengambil pulpen yang sudah disiapkan dan menandatangani setiap lembar dokumen perjanjian perkawinan dengan gaya tulisan yang rapi dan tegas.

"Selesai," ucapnya dengan nada yang tetap dingin, lalu berdiri dan keluar dari ruangan tanpa melihat lagi wajah para direktur yang sekonyong-konyong tampak lega.

Sementara itu, di sisi lain kota Palembang, sebuah rumah besar bergaya klasik menjadi saksi kelucuan yang sedang terjadi. Rizky Wijaya, pemuda berusia 18 tahun dengan rambut hitam yang selalu tampak acak-acakan dan wajah muda yang penuh dengan semangat, sedang berlari-lari kecil di halaman belakang sambil membawa ember berisi air penuh. Dia sedang mencoba membuat kolam kecil untuk ikan mas koki yang baru dia beli, tapi sayangnya, dia terlalu sibuk bernyanyi teriak-teriak hingga tidak menyadari bahwa embernya sudah mulai tumpah dari sisi yang sobek.

"Yeay! Besok aku punya kolam sendiri nih, Ikan Pipit dan Ikan Cupu!" teriaknya dengan suara keras, sambil menari-nari kecil sambil membawa ember berat itu. Air terus menetes di belakangnya, membuat lorong menuju garasi penuh dengan genangan air. Tak lama kemudian, dia menjatuhkan embernya dengan keras saat melihat kucing kampung yang sedang berlari menyilang di depannya.

"Kocak! Kamu mau ketawa sama aku ya?" ucap Rizky sambil mengejar kucing itu, tanpa peduli ember yang sudah terbalik dan airnya meresap ke dalam tanah kebun. Ketika dia berhasil menangkap ekor kucing itu, dia langsung menggendongnya seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.

"Rizky! Kamu lagi apa sana?!" suara keras ibunya, Rina Wijaya, terdengar dari arah rumah. Wanita itu berlari keluar dengan wajah merah padam, melihat kondisi halaman yang berantakan dan anaknya yang sedang menggendong kucing kotor.

"Bunda, aku mau bikin kolam buat ikan aku. Tapi kucing ini malah menggangguku!" jawab Rizky dengan wajah polos, sambil mengusap-usap bulu kucing yang membuat bajunya yang berwarna biru muda penuh dengan rambut hewan.

"Udahlah, kamu masuk aja. Ada orang penting yang mau datang dan mau ngobrol sama kamu," ucap Rina dengan nada serius, sesuatu yang jarang terjadi padanya saat berbicara dengan anaknya yang selalu bertingkah konyol.

Rizky mengangguk dan melepaskan kucing itu, lalu berjalan masuk ke rumah dengan langkah yang ceria. Dia menginjak-injak alas kaki yang ada di depan pintu dengan cara yang tidak biasa – melompat-lompat sambil menghitung jumlah batu yang ada di sekitarnya. Ketika sampai di ruang tamu, dia melihat ayahnya yang sedang duduk bersama seorang wanita muda yang sangat cantik dengan gaya rambut yang rapi dan wajah yang terlihat sangat dingin.

"Kakak ini siapa ya, Bunda? Cantik banget kayak selebriti!" teriak Rizky dengan lugu, langsung duduk di sofa di sebelah wanita itu tanpa izin. Dia bahkan mencoba menyentuh jas blazer warna hitam yang dikenakan wanita itu dengan rasa penasaran.

"Rizky, sopan sedikit!" suara ayahnya, Wijaya Kusuma, terdengar dengan nada tegas. "Ini Kezia Putri Ramadhan – calon istri kamu."

Kata itu seperti petir yang menyambar langsung ke otak Rizky. Matanya yang besar melotot lebar, mulutnya terbuka seperti ingin menyebut sesuatu tapi tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Tak lama kemudian, dia berdiri dengan tergesa-gesa dan menabrak meja kecil yang ada di depannya, membuat cangkir teh yang ada di atasnya terbalik dan air teh hangat merembes ke lantai karpet mahal.

"Maaf! Maaf banget! Aku bukan sengaja!" teriak Rizky dengan panik, langsung mengambil kain lap yang ada di dekat sana tapi malah salah mengambil kain dekorasi yang ada di sofa. Dia mencoba menyeka karpet dengan kain itu, tapi malah membuat noda teh semakin membesar dan menyebar ke seluruh permukaan karpet.

Kezia hanya menatap seluruh kejadian itu dengan wajah yang tetap cuek dan dingin, seolah melihat sesuatu yang tidak berharga. Tak ada ekspresi yang terlihat di wajahnya saat melihat pemuda yang akan menjadi suaminya itu sedang berlarian kesana-kemari dengan tangan penuh dengan kain dekorasi yang sudah kotor, bahkan sampai salah menyeka wajahnya sendiri sehingga meninggalkan noda coklat di pipinya.

"Saya rasa ini sudah cukup jelas, pak Wijaya," ucap Kezia dengan nada datar setelah beberapa saat. "Kita akan menikah dalam seminggu. Saya harap tuan muda bisa belajar untuk lebih teratur dan tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu lagi."

Rizky yang baru saja selesai membersihkan karpet dengan cara yang salah itu langsung menatap Kezia dengan wajah bingung. "Menikah? Tapi aku masih SMA lho, Kak! Aku belum bisa masak sendiri, belum bisa nyetrika baju, dan aku masih suka main game jam tiga pagi!" ucapnya dengan cepat, seperti sedang mengucapkan daftar kebutuhan hariannya. Bahkan dia tidak menyadari bahwa kain dekorasi yang masih ada di tangannya sudah terjatuh ke lantai dan dia sedang menginjaknya tanpa sengaja.

Kezia hanya mengangguk sebentar, lalu berdiri untuk pergi. Sebelum keluar dari rumah, dia berbalik sebentar dan menatap Rizky dengan mata yang dingin. "Itu semua akan saya atur. Yang penting kamu siap pada hari H. Jangan membuat masalah."

Setelah Kezia pergi, Rizky masih berdiri dengan wajah yang penuh kebingungan. Tak lama kemudian, dia melihat cermin yang ada di dinding dan teriak kaget saat melihat noda teh di wajahnya. "Astaga! Aku baru aja ketemu calon istri tapi wajahku kayak orang yang baru makan bubur!" teriaknya dengan panik, langsung berlari ke kamar mandi dengan langkah yang tergesa-gesa, tanpa menyadari bahwa dia masih menginjak kain dekorasi yang sudah kotor itu dan menariknya ke seluruh lorong rumah.

Di dalam mobil yang sedang menjauh dari rumah Wijaya, Maya yang sedang mengemudi melihat bosnya yang duduk di belakang dengan wajah yang tetap dingin. "Bu Kezia, apakah Anda benar-benar siap dengan ini?" tanya Maya dengan suara pelan.

Kezia hanya menatap keluar jendela, melihat pemandangan jalanan yang lewat dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. "Tidak ada pilihan, Maya. Yang penting perusahaan selamat. Sisanya... akan saya atur dengan cara saya sendiri."

Namun di dalam hatinya yang selalu tertutup rapat, sedikit ada rasa penasaran yang muncul. Bagaimana mungkin seorang anak SMA yang ceroboh dan bertingkah konyol bisa menjadi suami bagi seorang CEO yang dikenal dingin dan profesional seperti dirinya? Dan apakah pernikahan yang dimulai dari paksaan ini akan membawa sesuatu yang dia tidak pernah duga sebelumnya?

1
M ipan
sepertinya begitulah kak😁
rinn
ganti judul aja thor
M ipan: apa tu...?
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Udah kelakuan kayak anak kecil, seperti pria gak normal.aja..
Qaisaa Nazarudin
Jangan jadi Pebinor ya,Itu cewek udah punya Suami,kamu aja yg pengecut,udah jadi isteri orang baru mau bertindak,Jangan Mentang2 Suaminya bocah kamu ambil kesempatan..
M ipan
sabar💪
Qaisaa Nazarudin
Duh jadi terharu,Nikah baru hitungan hari udah dapat hadiah aja dari.Misua,Lha apa kabar dengan ku yg udah punya buntut banyak,tapi belum pernah dapat hadiah..
Qaisaa Nazarudin
Terlalu muda apanya?? Udah 18 Tahun juga,Biasanya dinovel2 Sultan yg ku baca masih SMP aja udah diajarin bisnis, SMA udah pegang satu perusahaan,lha ini malah gak tau apa-apa..😁
Qaisaa Nazarudin
Kasian Kezia,capek2 mempersiapkan semuanya malah hancur gitu aja..
Qaisaa Nazarudin
Hadeeuuhh kenapa Perannya jadi kebalik gini.udah ratusan novel yang aku baca,aku belom pernah ketemu alur yg kayak gini,Ngakak juga kesel bacanya,gimana gitu ya,rasa nano nano gitu..😅😅😅
M ipan: 🤣🤣 cari inspirasi baru
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Yasalam..Disuruh Mandi bukannya langsung pergi...Malah nambah masalah lagi..🤦🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Berarti Kezia kaya dong,kalo gitu ngapain harus Nikah utk menutupi hutang perusahaan? Mending jual aja Mension ini utk menutup hutang,dan beli rumah minimalis utk sementara kan bisa..
M ipan: mungkin dia lelah🤭
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Kenapa situasi nya seakan terbalik,masak dan nyetrika kan kerjaannya cewek, kenapa malah kamu Rizky? wkwkwkwwk Rizky ini lekaki Normal kan? maksudnya gak sakit sindrom2 gitu kan?
M ipan: dia agak agak kak kena🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!