Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9:Lembah Tengkorak Dan Kekuatan Yang Di Uji
Setelah menyeberangi Sungai Kegelapan, perjalanan Kaelen dan Lira membawa mereka ke sebuah wilayah yang terasa semakin mencekam. Peta yang diberikan oleh wanita peramal menunjukkan bahwa selanjutnya mereka harus melewati Lembah Tengkorak—sebuah tempat yang terkenal angker dan berbahaya, di mana konon banyak pelancong yang hilang tanpa jejak.
Matahari mulai meninggi, namun cahaya yang sampai ke tanah terasa redup dan suram. Saat mereka melangkah masuk ke lembah itu, pemandangan di depan mereka membuat mereka tertegun. Lembah itu luas dan tandus, dengan tanah yang berwarna abu-abu dan berdebu. Di mana-mana, terhampar tulang-belulang hewan dan bahkan manusia yang sudah kering dan memutih. Tulang-tulang itu tersusun dalam tumpukan-tumpukan yang besar, seolah-olah pernah terjadi sebuah pertempuran besar yang memakan banyak korban di sini. Angin yang berhembus melalui celah-celah tulang itu menciptakan suara melengking yang menyeramkan, seperti suara tangisan arwah yang tidak tenang.
"Ini adalah Lembah Tengkorak," kata Kaelen, suaranya rendah dan serius sambil memindai sekelilingnya dengan waspada. "Seperti namanya, tempat ini penuh dengan bahaya. Konon, lembah ini dihuni oleh roh-roh jahat dan makhluk-makhluk aneh yang memakan daging manusia. Kita harus sangat berhati-hati."
Lira menggenggam pedang esnya dengan erat, merasakan jantungnya berdegup kencang. Pemandangan dan suara di sekitarnya membuatnya merasa takut, tapi dia mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya. Dia harus kuat, terutama di depan Kaelen.
"Baiklah, Yang Mulia," kata Lira, suaranya tegas meskipun sedikit gemetar. "Kita akan berjalan bersama-sama dan tetap waspada. Kita bisa melewati tempat ini."
Kaelen tersenyum kecil, mengangguk setuju. "Benar. Mari kita pergi. Jangan terpisah."
Mereka mulai berjalan melintasi lembah itu, langkah mereka hati-hati agar tidak menginjak tulang-belulang yang tersebar di mana-mana. Suara angin yang melengking terus terdengar, membuat suasana semakin mencekam. Sesekali, mereka mendengar suara-suara aneh dari kejauhan—suara geraman, suara tawa yang hantu, dan suara sesuatu yang bergerak di antara tumpukan tulang.
Setelah berjalan selama sekitar satu jam, mereka tiba di tengah lembah. Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Getaran itu semakin kuat, dan kemudian, dari tumpukan-tumpukan tulang di sekitar mereka, muncul makhluk-makhluk yang mengerikan. Makhluk-makhluk itu terbuat dari tulang-belulang yang disatukan oleh energi gelap, dengan mata yang bersinar merah menyala. Mereka memiliki tubuh yang besar dan kuat, dengan tangan yang panjang dan cakar yang tajam. Itu adalah Skeleton Warriors—pasukan tulang belulang yang dikendalikan oleh kekuatan gelap.
"Awasi dirimu!" teriak Kaelen, segera mengeluarkan pedang esnya. "Mereka datang!"
Lira juga segera mengeluarkan pedangnya, siap untuk bertarung. Skeleton Warriors itu segera menyerang mereka dengan ganas. Mereka bergerak dengan cepat dan kuat, menyerang dengan cakar dan pedang yang terbuat dari tulang.
Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Kaelen menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan gerakan musuh-musuhnya, lalu memotong mereka dengan pedangnya. Lira juga bertarung dengan berani. Dia menggunakan kekuatan esnya yang baru ditemukan—yang bercampur dengan cahaya emas—untuk menyerang musuh-musuhnya. Setiap kali dia mengayunkan pedangnya atau melemparkan serangan es, cahaya emas itu menyala terang, dan Skeleton Warriors yang terkena serangannya hancur menjadi potongan-potongan tulang kecil.
Namun, jumlah Skeleton Warriors itu sangat banyak. Mereka terus datang tanpa henti, seolah-olah tidak ada habisnya. Kaelen dan Lira mulai terdesak. Mereka lelah, dan kekuatan mereka mulai menipis.
Salah satu Skeleton Warriors yang paling besar dan kuat melompat ke arah Lira, mengayunkan pedang tulangnya dengan kuat. Lira sempat menghindar, tapi pedang itu masih menyentuh lengannya, membuat luka kecil yang berdarah.
"Lira!" teriak Kaelen, melihat luka di lengan Lira. Dia menjadi sangat marah. Dia mengerahkan semua kekuatannya, menciptakan badai es yang besar yang menghantam musuh-musuh di sekitarnya. Skeleton Warriors yang terkena badai es itu membeku seketika, dan kemudian hancur menjadi debu.
Kaelen segera berlari ke arah Lira, memegang lengannya dengan cemas. "Apakah kamu baik-baik saja, Lira? Apakah lukanya parah?"
Lira tersenyum sedikit, mencoba untuk menenangkan Kaelen. "Saya baik-baik saja, Yang Mulia. Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir."
Kaelen mengeluarkan kain dari tasnya, dan dengan lembut membersihkan luka di lengan Lira, lalu membalutnya dengan hati-hati. "Maafkan saya, Lira. Saya seharusnya bisa melindungimu lebih baik."
"Tidak, Yang Mulia," kata Lira, menggeleng. "Ini bukan salah Anda. Kita sedang dalam perang, dan luka adalah hal yang biasa. Saya tidak apa-apa, dan saya siap untuk terus bertarung."
Namun, saat itu juga, tanah di bawah kaki mereka bergetar lagi. Kali ini, getarannya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Dari tengah tumpukan tulang yang paling besar di tengah lembah, muncul sebuah makhluk yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan daripada yang lain. Makhluk itu memiliki tubuh yang raksasa, terbuat dari ribuan tulang belulang yang disatukan. Di kepalanya, ada banyak tengkorak yang menempel, dengan mata yang semuanya bersinar merah menyala. Itu adalah Raja Skeleton—pemimpin dari pasukan tulang belulang di Lembah Tengkorak.
Raja Skeleton itu mengeluarkan suara auman yang keras dan mengerikan, yang membuat tanah di sekitarnya bergetar. Dia mengangkat tangannya yang raksasa, yang dipenuhi dengan cakar-cakar yang tajam, dan menyerang Kaelen dan Lira dengan ganas.
Kaelen mendorong Lira ke samping untuk menghindari serangan itu. Serangan Raja Skeleton itu menghantam tanah, membuat lubang yang besar dan debu yang beterbangan ke mana-mana.
"Kau tangani yang kecil-kecil, saya yang tangani yang besar ini!" teriak Kaelen kepada Lira.
"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.
Kaelen melompat ke arah Raja Skeleton, bertarung dengan makhluk raksasa itu. Dia mengayunkan pedang esnya dengan kuat, memotong tulang-tulang tubuh Raja Skeleton. Namun, setiap kali dia memotong satu bagian, tulang-tulang itu segera menyatu kembali berkat energi gelap yang mengendalikan mereka.
"Sialan!" geram Kaelen. "Dia tidak bisa mati hanya dengan dipotong. Kita harus menghancurkan sumber energi gelap yang mengendalikannya."
Lira mendengar kata-kata Kaelen, dan dia mulai mencari sumber energi itu. Dia melihat bahwa di dada Raja Skeleton, ada sebuah batu kecil yang berwarna hitam pekat yang bersinar dengan cahaya gelap. Itu pasti sumber energinya.
"Yang Mulia! Lihatlah di dadanya!" teriak Lira. "Ada batu hitam di sana. Itu pasti sumber energinya!"
Kaelen melihat ke arah dada Raja Skeleton, dan dia melihat batu hitam itu. "Benar! Itu dia! Lira, bantu saya! Kita harus menghancurkan batu itu!"
Kaelen terus menyerang Raja Skeleton, mengalihkan perhatiannya. Sementara itu, Lira mengerahkan semua kekuatannya. Dia merasakan kekuatan es dan cahaya emas di dalam dirinya berkumpul menjadi satu, menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah bola energi yang besar—yang berwarna biru bercampur emas—terbentuk di telapak tangannya.
"Terima ini!" teriak Lira, dan dia melemparkan bola energi itu ke arah batu hitam di dada Raja Skeleton.
Bola energi itu menghantam batu hitam itu dengan kekuatan yang besar. Terdengar suara ledakan yang keras, dan cahaya yang terang menyelimuti seluruh lembah. Saat cahaya itu meredup, Raja Skeleton itu berdiri diam sejenak, dan kemudian hancur menjadi ribuan potongan tulang kecil yang berhamburan ke mana-mana.
Skeleton Warriors yang lain, yang kehilangan pemimpin dan sumber energi mereka, juga segera hancur menjadi potongan-potongan tulang kecil. Lembah Tengkorak itu kembali sepi, hanya menyisakan tumpukan tulang belulang dan suara angin yang melengking.
Kaelen dan Lira berdiri di tengah lembah itu, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia. Mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka. Mereka berhasil melewati Lembah Tengkorak.
Kaelen berjalan mendekati Lira, dan dia memeluknya dengan erat. "Kamu hebat, Lira. Kamu sangat hebat. Tanpa kamu, saya tidak akan bisa mengalahkan Raja Skeleton itu."
Lira membalas pelukan Kaelen, merasakan kehangatan dan keamanan dalam pelukan itu. "Kita melakukannya bersama-sama, Yang Mulia. Kita adalah tim yang hebat."
Mereka melepaskan pelukan itu, dan saling menatap dengan mata yang penuh dengan cinta dan kekaguman. Mereka tahu bahwa mereka semakin kuat, dan mereka semakin dekat satu sama lain.
Mereka beristirahat sejenak di tengah lembah itu, memulihkan tenaga mereka dan merawat luka-luka mereka. Setelah merasa cukup kuat, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berjalan keluar dari Lembah Tengkorak, meninggalkan tempat yang angker itu di belakang mereka.
Di luar lembah, pemandangan mulai berubah lagi. Tanah mulai menjadi lebih hijau, dan pohon-pohon mulai terlihat lagi. Namun, mereka bisa melihat bahwa di kejauhan, ada sebuah gunung yang tinggi dan gelap yang menjulang ke langit. Gunung itu memiliki puncak yang tertutup oleh awan hitam, dan dari sana, asap hitam terus mengepul ke langit.
Itu adalah Gunung Hitam. Tujuan mereka. Tempat di mana Malakar dan kekuatan gelapnya berada.
Kaelen dan Lira berhenti sejenak, menatap Gunung Hitam itu dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka yang paling berbahaya baru akan dimulai. Mereka tahu bahwa di Gunung Hitam, mereka akan menghadapi musuh yang paling kuat dan paling jahat. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka memiliki satu sama lain, mereka memiliki kekuatan yang besar, dan mereka memiliki cinta yang menghubungkan mereka.
"Kita hampir sampai, Lira," kata Kaelen, menatap matanya dengan serius. "Di sana, di Gunung Hitam, kita akan mengakhiri semua ini. Kita akan mengalahkan Malakar, dan kita akan membawa kedamaian kembali ke dunia ini."
Lira mengangguk dengan tegas. "Ya, Yang Mulia. Kita akan melakukannya. Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, berjalan menuju Gunung Hitam, menuju takdir yang menantinya.