Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Kebangkitan Kekuatan Rifky
Angin kegelapan berputar di atas halaman sekolah sihir. Portal hitam di langit semakin besar dan makhluk-makhluk bayangan terus bermunculan tanpa henti.
Para murid **kelas IX B** sudah mulai kelelahan.
**Rais**, yang berubah menjadi raksasa, masih bertarung melawan tiga makhluk bayangan sekaligus. Tinju besarnya menghantam tanah.
BOOOOM!
Makhluk-makhluk itu terpental jauh, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.
“Aku bisa melawan sepuluh… tapi bukan seratus!” teriak Rais.
Di sisi lain, **Zahira**, **Wida**, dan **Oliv** terus menembakkan mantra cahaya ke arah makhluk bayangan.
“LUMINA STRIKE!”
Cahaya terang mengenai salah satu makhluk dan membuatnya hancur seperti asap.
Namun dua makhluk lain langsung menggantikannya.
**Deni** yang berdiri di belakang mereka terlihat panik.
“Kenapa mereka terus datang?!”
**Gofirr** menjawab dengan cepat sambil membaca buku sihirnya.
“Selama portal itu masih terbuka, mereka tidak akan berhenti!”
Semua murid menoleh ke arah portal hitam yang berputar di langit.
Di atas atap sekolah, **Mila**, **Diva**, dan **Eva** berdiri dengan tenang sambil menyaksikan kekacauan itu.
“Pertunjukan yang indah,” kata **Eva** sambil tersenyum.
“Sebentar lagi sekolah ini akan hancur.”
Namun tiba-tiba sebuah cahaya besar muncul.
**Nenek Misel** melompat ke udara.
Tongkat sihirnya bersinar terang seperti matahari.
“MANTRA PELINDUNG SEKOLAH!”
Cahaya raksasa menyebar ke seluruh area sekolah.
Makhluk bayangan yang terkena cahaya itu langsung menjerit.
“SKRRRAAAHH!!”
Beberapa di antaranya langsung menghilang.
Namun **Mila** hanya tertawa.
“Hebat sekali, penyihir tua.”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
“Sekarang giliranku.”
Tiba-tiba energi hitam keluar dari tangannya dan menabrak perisai cahaya Nenek Misel.
BOOOOM!
Langit bergetar.
Dua kekuatan besar saling bertabrakan di udara.
Para murid menatap dengan kagum sekaligus takut.
“Ini… level sihir yang luar biasa,” kata Gofirr.
Namun di tengah kekacauan itu, sesuatu yang buruk terjadi.
Salah satu makhluk bayangan meluncur cepat ke arah **Velop** yang berdiri sendirian.
“AWAS!” teriak **Amira**.
Namun sudah terlambat.
Makhluk bayangan itu menangkap Velop dan membawanya ke udara.
“AAAAAA!!!” Velop berteriak ketakutan.
Semua murid panik.
“VELOP!” teriak Wida.
Makhluk bayangan itu terbang menuju portal hitam.
“Jika satu korban dikorbankan… portal akan terbuka sepenuhnya,” kata **Diva** dengan suara dingin.
“Dan dunia sihir akan jatuh ke tangan kami.”
Rifky melihat kejadian itu dengan mata membesar.
“Tidak…”
Ia mengepalkan tangannya.
Sejak datang ke dunia sihir, ia selalu merasa lemah. Ia bukan penyihir. Ia hanya manusia biasa.
Namun sekarang… temannya sedang dalam bahaya.
“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ITU TERJADI!”
Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.
Tubuh **Rifky** mulai bersinar.
Cahaya putih keluar dari dadanya.
Semua orang terkejut.
“Apa itu?!” kata Deni.
**Nenek Misel** yang sedang bertarung di udara langsung menoleh.
“Jadi akhirnya… kekuatan itu bangkit.”
Cahaya dari tubuh Rifky semakin kuat.
Simbol-simbol sihir kuno muncul di udara di sekelilingnya.
“Ini… ini bukan sihir biasa!” kata Gofirr kaget.
Makhluk bayangan yang membawa Velop tiba-tiba berhenti.
Seolah-olah mereka takut.
Rifky mengangkat tangannya tanpa sadar.
“LEPASKAN DIA!”
Cahaya besar melesat dari tangannya.
BOOOOOM!!!
Makhluk bayangan yang membawa Velop langsung hancur menjadi debu hitam.
Velop jatuh dari udara.
Namun sebelum menyentuh tanah…
Rifky menggerakkan tangannya lagi.
Velop berhenti di udara seperti ditahan oleh kekuatan tak terlihat.
Semua murid terdiam.
“Rifky… bisa mengendalikan energi itu?” kata Oliv tidak percaya.
Velop perlahan turun ke tanah dengan selamat.
Ia langsung menangis.
“Terima kasih…”
Namun Rifky hampir tidak mendengarnya.
Cahaya di tubuhnya masih terus bersinar.
Di atas atap sekolah, **Mila** terlihat sangat tertarik.
“Menarik sekali.”
**Eva** tersenyum.
“Anak manusia itu ternyata benar-benar kunci gerbang.”
Namun **Diva** berkata dengan serius,
“Kalau dia belajar mengendalikan kekuatan itu… rencana kita bisa gagal.”
Mila mengangguk.
“Kalau begitu… kita harus menghentikannya sekarang.”
Ia mengangkat tangannya.
Portal hitam di langit mulai berputar lebih cepat.
Makhluk bayangan raksasa mulai keluar dari dalamnya.
Makhluk itu jauh lebih besar dari yang lain.
Tubuhnya seperti kabut hitam raksasa dengan sayap besar.
Semua murid mundur ketakutan.
“Makhluk apa itu?!” kata Brayen.
Gofirr membaca cepat dari bukunya.
“Tidak mungkin…”
“Ini adalah **Penjaga Gerbang Kegelapan**.”
Makhluk itu mengaum keras.
“GRRRRAAAAAHHHH!!!”
Tanah sekolah bergetar hebat.
Rais yang masih dalam bentuk raksasa terlihat serius.
“Sepertinya ini lawan yang sebenarnya.”
Ia bersiap menyerang.
Namun sebelum Rais bergerak…
Makhluk itu langsung menghantam tanah dengan tangannya.
BOOOOOOM!!!
Ledakan besar membuat semua murid terjatuh.
Debu memenuhi udara.
Di tengah debu itu, Rifky masih berdiri dengan cahaya yang menyelimuti tubuhnya.
Matanya bersinar.
Ia menatap makhluk raksasa itu.
Untuk pertama kalinya… ia tidak merasa takut.
Ia merasa seperti… kekuatan dalam dirinya akhirnya bangun.
Nenek Misel menatapnya dari udara.
“Rifky…”
“Nasib dunia sihir sekarang ada di tanganmu.”
Dan pertempuran terakhir untuk kelas penyihir IX B akan terjadi di bab berikutnya.
---