NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Saudara di Tepi Sungai Sunyi

Bonus gambar karakter:

​Tiga hari telah berlalu sejak takdir menyeret jiwa Su Fan ke dalam tubuh kecil Li Fan. Di tepi sebuah sungai sunyi yang mengalir tenang, membelah perbatasan antara Negara Chu dan Negara Yun, kabut tipis tampak bergelantungan rendah di atas air. Suasana begitu mencekam, seolah alam sendiri enggan melepaskan cengkeramannya pada dunia fana yang penuh darah.

​Di antara semak belukar dan bebatuan berlumut, dua sosok berjubah kuning berdiri membisu. Mereka menatap sebuah tubuh yang terbujur kaku di hadapan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Pria pertama memiliki tubuh tinggi dengan rahang persegi yang kokoh, matanya tajam memancarkan tekanan yang kuat. Sementara rekannya bertubuh lebih pendek dan kurus, dengan wajah tirus serta mata sipit berbentuk segitiga yang menyiratkan kewaspadaan sekaligus kelicikan. Namun, saat ini, wajah licik itu pun tak mampu menyembunyikan kecemasan yang mendalam.

​Mayat yang tergeletak di hadapan mereka mengenakan pakaian sutra yang rapi, sangat kontras dengan tujuh atau delapan tubuh lain di sekelilingnya yang mengenakan jubah abu-abu koyak. Luka-luka pada mayat-mayat pengawal itu sangat mengerikan: beberapa terbelah dua, lainnya kehilangan kepala atau patah tulang dengan cara yang tak wajar. Pemandangan itu lebih menyerupai ladang pembantaian daripada sekadar pertempuran.

​“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya pria pendek itu dengan suara serak yang penuh tekanan. “Tuan muda mati dengan begitu mudah. Lalu, apa yang akan kita katakan pada Pemimpin Klan nanti?”

​Pedang panjang yang terikat di punggungnya memantulkan cahaya matahari yang suram, namun tak cukup untuk menutupi getaran ketegangan dari tubuhnya. Dia adalah Lu Lao San, saudara ketiga dalam kelompok mereka.

AN: Lao San \= Saudara ketiga – Biasanya tidak ada hubungan darah.

​Pria tinggi di sampingnya, Guan Lao Da, mengernyitkan dahi dalam-dalam. “Lu Lao San, kalau kau bertanya padaku, lalu siapa yang bisa kujadikan tempat bertanya? Siapa sangka bocah itu begitu ceroboh? Seorang Pendekar Pemula, tapi membiarkan dirinya disusupi oleh pencuri dan digorok lehernya! Pemimpin Klan bahkan memberi kita belasan pil pemulih untuk berjaga-jaga, tapi bahkan seratus pil pun tak akan menyelamatkannya dari luka fatal seperti itu.”

​Suara Guan Lao Da terdengar berat dan penuh frustrasi. Wajahnya yang biasanya keras seperti pahatan batu kini berkedut menahan amarah yang bercampur dengan rasa takut akan konsekuensi yang menanti.

AN: Lao Da \= Kakak laki-laki pertama atau Kakak laki-laki tertua.

​“Betapapun bodohnya, dia tetap anak angkat Pemimpin Klan,” desah Lu Lao San lirih, matanya berkedip cepat karena gelisah. “Pemimpin Klan bahkan membayar mahal agar dia bisa ikut serta dalam Upacara Penerimaan Murid. Tapi sekarang, dia mati di tengah jalan seperti ini... kita akan dihukum. Atau bahkan lebih buruk.”

​“Hmph.” Guan Lao Da mendengus tajam. “Kalau kita hanya dipukul, aku akan membakar dupa sebagai rasa syukur.”

​Lu Lao San menegang mendengar perumpamaan itu. “Apa maksudmu? Kita ini Pendekar Tingkat Menengah! Tak mungkin Pemimpin Klan akan mengorbankan kita hanya karena...”

​“Maksudku,” potong Guan Lao Da dengan nada dingin, “anak muda itu bukan sekadar anak angkat biasa. Dia adalah darah daging Pemimpin Klan sendiri, anak haram dari seorang simpanan. Identitas ‘anak angkat’ hanyalah kedok agar hubungan itu tidak mencoreng nama baik istri sah Pemimpin Klan.”

​Lu Lao San tercengang, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. “A-apa? Jadi dia benar-benar anak kandung Pemimpin Klan? Dari mana kau tahu hal sebesar itu?”

​“Aku punya hubungan dekat dengan salah satu pelayan istri Pemimpin Klan,” jawab Guan Lao Da dengan bisikan rendah. “Suatu malam, pelayan itu mengeluh tentang perlakuan tidak adil yang diterima nyonyanya. Saat mabuk, dia keceplosan dan menceritakan semuanya. Aku bersumpah, ini bukan isapan jempol semata.”

​Kebisuan sesaat menyelimuti mereka sebelum Lu Lao San bergumam pelan. “Pantas saja Pemimpin Klan bersikeras mengirimkan anak itu ke Sekte Awan Azure, padahal tempat itu sangat mahal dan proses perekrutannya sangat kejam. Aku dulu mengira itu hanya demi status klan, ternyata ini adalah taruhan besar agar garis keturunannya bisa memperoleh tempat di antara para Kultivator.”

​“Betul,” timpal Guan Lao Da. “Menjadi Kultivator bukan perkara mudah. Syaratnya sangat berat, seseorang harus memiliki akar spiritual, usia tidak lebih dari lima belas tahun, dan hanya segelintir dari ratusan kandidat yang bertahan melalui upacara itu. Bahkan jika selamat, mereka harus bekerja untuk sekte selama 20 tahun sebelum mendapatkan kebebasan. Banyak anggota Klan Ma yang memiliki akar spiritual, tapi hampir semua gagal atau hanya jadi pekerja kasar. Hanya Nyonya Yan yang berhasil menjadi Murid Dalam Sekte Bulan Misterius. Sayangnya, dia perempuan dan suatu hari akan menikah keluar dari klan.”

​Guan Lao Da menatap jenazah sang tuan muda dengan sorot mata tajam yang penuh perhitungan. “Itulah sebabnya Kepala Klan menaruh harapan besar pada anak ini. Dia ingin warisan darahnya sendiri menjadi fondasi masa depan Klan Ma.”

​Lu Lao San menelan ludah dengan susah payah. “Kalau begitu... semakin besar harapan Pemimpin Klan, semakin besar pula amarahnya saat tahu anaknya mati. Mungkin... kita harus melarikan diri dari Negara Chu. Dengan kemampuan kita sebagai pendekar menengah, ke mana pun kita pergi, kita pasti akan dihormati.”

​Tatapan Lu Lao San berkilat, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ambisi liar yang mulai tumbuh.

​“Ha! Meninggalkan Negara Chu?” seru Guan Lao Da, suara tawa dinginnya membelah kesunyian tepi sungai. “Kau benar-benar percaya bahwa Pil Pemelihara Jantung yang diberikan oleh Pemimpin Klan itu hanyalah obat spiritual biasa? Pikirkan kembali apa yang terjadi pada mereka yang pernah mencoba mengkhianati Klan Ma!”

​Ekspresinya mengeras, matanya menyipit tajam menatap rekannya. “Dan jangan lupa... keluarga kita masih berada di dalam wilayah mereka. Istri, anak, orang tua, mereka semua menjadi jaminan diam yang tak tertulis. Kalau kita lari sekarang, siapa yang akan melindungi mereka? Siapa yang akan memberi mereka makan?”

​Guan Lao Da menatap Lu Lao San dalam-dalam, suaranya turun menjadi rendah dan padat. “Jika aku tidak salah ingat, kau menikahi seorang wanita cantik tahun lalu. Dan awal tahun ini, dia sedang hamil, bukan? Tabib Zhang bahkan mengatakan bahwa kemungkinan bayinya laki-laki mencapai delapan puluh persen.”

​Kata-kata itu menampar kesadaran Lu Lao San seperti air sungai yang membeku. Tubuhnya menegang kaku seperti arca batu. Ia tak mampu membalas, hanya mata yang menatap kosong ke arah tanah basah di bawah kakinya.

​Melihat reaksi itu, Guan Lao Da menghela napas panjang. “Kalau semuanya benar-benar tidak bisa diselamatkan... aku punya satu rencana terakhir. Ini sangat sulit dan berisiko tinggi. Peluang kita hidup tidak lebih dari dua puluh persen.” Suaranya berubah pelan, seolah beban dunia menggantung di lidahnya. “Tapi rencana ini akan menghabiskan seluruh tabungan kita. Semuanya.”

​Lu Lao San mengerutkan wajahnya, seolah-olah baru saja menelan racun yang paling pahit. “Seluruh... tabungan kita? Dan tetap saja hanya dua puluh persen peluang untuk bertahan hidup?”

​Guan Lao Da mendengus ringan. “Hmph. Kalau aku tidak punya hubungan baik dengan istri utama Pemimpin Klan, bahkan peluang sekecil ini pun tidak akan pernah muncul. Tapi kalau kau tidak sanggup... aku tidak akan memaksamu.”

​“Tunggu, tunggu, kau salah paham, Guan Lao Da!” Lu Lao San buru-buru melangkah maju dengan ekspresi terkejut yang tulus. “Bagaimana mungkin aku menolak? Jika itu bisa menyelamatkan nyawa kita, maka seluruh kekayaan dunia pun tidak akan berarti!”

​Melihat antusiasme rekannya kembali, ekspresi keras Guan Lao Da sedikit melunak. Ia mengangguk pelan. “Kalau kau mengerti, maka bagus. Kita tidak boleh membuang waktu. Sebelum kabar kematian bocah ini sampai ke telinga Pemimpin Klan, kita harus menyelinap pulang dan mulai bersiap.”

​Di bawah sinar mentari yang mulai miring ke barat, keduanya mulai mendiskusikan rencana terakhir mereka di depan sebuah makam baru yang belum ditandai. Angin meniup rumput liar, seolah alam pun enggan menjadi saksi dari rahasia gelap ini.

​Guan Lao Da mengeluarkan sepasang sarung tangan hijau dari balik jubahnya. Bahan sarung tangan itu tampak asing dan memancarkan kilau samar. Begitu ia mengenakannya, ia memusatkan kekuatan energi dalamnya dan berteriak ringan.

​Seketika, cahaya putih terang menyembur dari permukaan sarung tangan itu, menghantam tanah di depan mereka.

​“Bang!!”

​Tanah dan kerikil beterbangan ke segala arah. Dalam hitungan detik, sebuah lubang sedalam tiga kaki terbentuk, tampak gelap seperti mulut dunia bawah yang siap menelan segalanya. Tanpa berkata-kata, Lu Lao San mulai menyeret satu per satu mayat ke dalamnya.

​Namun, saat ia sampai di depan mayat sang tuan muda, langkahnya terhenti. Ia mencabut pedang panjangnya, cahaya hijau lembut mengalir di sepanjang bilah pedang itu saat ia bersiap melakukan sesuatu pada tubuh tersebut untuk menghapus jejak.

​Tiba-tiba, telinga Guan Lao Da berkedut. Wajahnya berubah seketika, matanya menajam ke arah hutan.

​“Siapa di sana?! Siapa yang berani menyelinap dan menguping kami?!”

​Guan Lao Da mengayunkan tinjunya ke arah semak-semak. Cahaya meledak dari kepalan tangannya, massa udara yang padat menghantam udara dengan suara berat.

​“Boom!”

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!