Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4. BCS
"Ada apa kalian kemari?" Prasasti menatap dua orang suruhannya yang duduk dihadapannya.
“Aku minta bayaran," jawab pria memakai jaket.
"Chh, pekerjaan kalian saja belum kelar minta bayaran, selesaikan dulu pekerjaan dengan benar. Jangan asal kerja," kata Prasasti dengan malas.
“Itu kan sudah kami kerjakan perintah anda, harusnya anda berterimakasih kepada kami," sahut pria memakai kaos panjang hitam.
Prasasti menggebrak meja dengan kasar matanya bergantian melihat mereka. "Kerjaan kalian itu belum benar, perintahku saja kalian abaikan. Kalian bekerja sama siapa? hah?"
Keduanya terkejut melihat perubahan pada diri Prasasti merasa takut tidak berani menatapnya lalu menunduk .
“Ini bayaran kalian, kalau benar dan mulus aku tambah lagi,“ katanya menyerahkan amplop kepada mereka berdua.
Kedua pria itu melihat isi amplop kemudian beranjak dari tempat duduk. "Nah gitu dong, dari tadi kek ,lama amat kasih uangnya,"
"Tunggu," Prasasti menahan mereka sejenak.
“Harus tuntas," pesannya.
Kedua orang itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Saat berada di luar mereka berpapasan dengan seseorang yang membuat mereka terkejut, mereka berlari sekencang-kencangnya keluar dari perusahaan tersebut.
Pria itu menatap dua orang yang ketakutan melihatnya merasa heran. Pria itu masuk tanpa mengetuk pintu tersenyum melihat kekasihnya sedang serius didepan mejanya.
“Serius sekali," katanya mencium pipi Prasasti.
Prasasti akan menjauh namun pria itu memeluk dengan erat , kembali mencium lehernya dengan nafsu.
“Hentikan, Dave. Ini di ruang kerja, jangan macam-macam kamu, aku tidak suka caramu yang seperti itu," Prasasti memberontak meminta Dave melepaskan pelukannya.
“Ada denganmu sekarang, apa kamu tidak senang melihatku datang?" Dave melihat perubahan sikap kekasihnya yang biasanya mau dipeluk sekarang menolaknya.
“Stop, jangan pernah lakukan itu lagi. Dan mulailah bersikap wajar, jangan berlebihan," ucap Prasasti kesal.
Selama ini Prasasti menjalin hubungan dengan pria asing bernama Dave, keduanya kenal waktu Prasasti ikut lomba selancar di negara Dave. Keduanya berteman hingga akhirnya memutuskan menjalin hubungan lebih dekat.
Prasasti teringat pesan papanya malam itu dan paham saat menjalin hubungan dengan Dave yang terlalu bebas. Prasasti mulai sadar atas apa yang ia lakukan selama ini salah dan ingin memperbaiki diri.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Dave merasa ada sesuatu yang Prasasti sembunyikan.
"Bukan masalah cinta, tapi harga diri, Dave. Aku sadar hubungan kita tidak seharusnya seperti ini. Dan kamu bebas melakukan apapun dengan orang lain yang sesuai dengan seleramu," ucap Prasasti.
Dave tersenyum remeh mendengar kata yang dilontarkan Prasasti. "Kamu tidak usah munafik, kita sudah sering bersama melakukan banyak hal_," Dave menjeda kalimatnya.
"Bahkan pernah satu ranjang, bukan begitu," lanjutnya sambil menatap lekat Prasasti.
"Ingat ya Dave, hanya tidur bersama tidak sampai melakukan hal lebih, itu pun karena waktu aku sakit dan hanya kamu orang yang dekat denganku saat itu," jelas Prasasti mengingatkan Dave.
"Oke, lalu apa arti hubungan kita selama ini? Apa kamu ingin kita menikah? kapan kamu siap, aku akan datang melamar," kata Dave mencoba berdamai dengan keadaan.
Prasasti tidak paham dengan pemikiran Dave, ia merasa Dave hanya berbohong. Dibelakangnya Dave sudah sering bersama dengan perempuan lain tanpa ia tahu.
"Tidak semudah itu Dave," kata Prasasti lirih. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Dave.
“Please, jangan katakan kalau ini hanya mimpi," ucap Dave menahan airmata.
Dave tidak tahu apa kesalahannya sampai Prasasti berpikiran seperti itu. Dave mencintai Prasasti dan menginginkannya menjadi istrinya, tapi Prasasti tidak mau diajak berhubungan intim ketika dirinya menginginkannya.
"Maaf, Dave. Sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan," Prasasti merasa bersalah tapi juga harus berani mengambil keputusan demi dirinya dan masa depannya.
Prasasti sudah berpikir matang ketika harus memutuskan sebuah hubungan. Ia tidak mau putus dengan perasaan bersalah dan menyesal.
Dave mendekati Prasasti berdiri tepat didepan wajah menatapnya lekat. Dave ingin mencium bibir Prasasti seperti biasanya mereka lakukan.
Prasasti melangkah mundur menjaga jarak, sedangkan Dave tersenyum smirk melihat Prasasti menghindarinya.
"Apa-apaan ini?" Fabio masuk tanpa mengetuk pintu melihat anaknya sedang berduaan dengan kekasihnya dalam keadaan intim.
Fabio menatap tajam Dave yang hendak mencium Prasasti tidak suka. Keduanya terkejut melihat Fabio berada didalam ruangan dengan tatapan siap menghunus.
Sebuah tamparan mendarat diwajah Dave. "Kurang ajar, siapa kamu berani mencium putriku?“
Dave terkejut mendengar perkataan Fabio pandangannya beralih Prasasti yang menatapnya iba seolah meminta maaf, namun Dave hanya menggelengkan kepala.
Dave tidak terima Fabio menamparnya, harga dirinya merasa terancam. "Maaf, saya tidak tahu kalau anda Papanya Prasasti. Saya Dave, kekasih Prasasti," Dave memperkenalkan diri kepada Fabio.
Fabio menampik perkenalan dengan Dave. Fabio tahu siapa Dave karena sudah menyelidiki pria asing itu sejak Prasasti memberitahu kalau sudah mempunyai kekasih.
Fabio bersikap cuek dan mengacuhkan Dave, karena Dave sudah bersikap kurang ajar kepada anaknya.
Dave merasa bersalah dan merasa malu diantara Prasasti dan Fabio papanya. "Saya permisi. Prasasti, masih banyak yang harus kita selesaikan," ucap Dave sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah Dave keluar Prasasti menghembuskan napas kasar lalu duduk bersandar dikursinya. Kepalanya berdenyut dan terasa pening, ia mengambil obat didalam tas kecilnya dan meminumnya.
"Apa kamu masih berhubungan dengan pria asing itu?" tanya Fabio kemudian.
"Sekarang sudah tidak, kami putus," jawab Prasasti sambil memijat kepalanya.
Fabio tidak percaya dengan jawaban Prasasti karena baru saja mereka melakukan ciuman. "Kalau putus lalu tadi itu apa?"
Prasasti baru menyadari apa yang terjadi antara dirinya dan Dave. "Baru saja kami putus,"
"Kalau sakit pergilah ke rumah sakit," perintah Fabio.
"Hanya pusing sedikit kok, Pa," sahutnya merasakan sakit dikepalanya.
"Kamu kalau diberi nasehat selalu membantah, periksa kondisi kesehatanmu, jangan disepelekan takutnya semakin parah," kata Fabio.
“Beneran ,Pa. Hanya sedikit," kata Prasasti dengan senyum mengembang diwajahnya. Sedangkan Fabio menggelengkan kepala melihat sikap anaknya.
________
“Albi, apa kamu ada waktu sebentar?" tanya Dania bersikap biasa dan tidak manja seperti biasa.
Albi tidak menjawab tapi menatap Dania merasa ada yang aneh. Sikap Dania memang tidak bisa menyesuaikan kondisi.
Albi tidak mau Dania terlalu berharap padanya, jadi dia membuat alasan supaya Dania segera pergi.
“Malam minggu jalan yuk,“ ajak Dania.
“Aku ada acara,"jawabnya dengan cuek.
Dania kesal dalam hatinya mengumpat dan memaki Albi dengan kata kasar. "Jarang kita pergi berdua, anggap saja pergi refreshing biar pikiran segar,"
Albi menghembuskan napas kasar. "Bisa tidak kamu tidak mengganggu disaat aku sedang kerja?"
Dania terkejut mendengar suara bentakan Albi, merasa takut lalu beranjak meninggalkan ruangan.