Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
"SEZAAA!."
"Mah si Seza pingsan."
"Oh"
"ikh Ari si mamah, anaknya pingsan malah masih anteng bae sama taneman."
"Si Seza bentar juga bangun, kasih aja coba wangi durian bangun sendiri tuh anak, mamah mah hapal da anak mama teh kumaha pegimana?."
"Dih nih anak ternyata belum berubah juga, tau aja makanan mahal yang baru gue beli!."
"Mas Verrell bantuin meta ini si Seza pingsan kasian, taro aja di sofa kasih icip durian yang baru tadi meta beli, nih anak idungnya tajem juga, enggak berubah dari kecil."
"Hahaha ada ada aja kalian ini."
"Iya mas, enggak usah kaget, dia paling tajem penciumannya kalo udah masalah makanan mehong apalagi makanan barat beuh itu mah dia auto pura pura pingsan lama."
"Anjay."
"Yasudah mas ambilkan dulu."
"dikira pingsan kenapa haish bikin orang khawatir saja."
Namun tak lama diberikan durian tidak berpengaruh sama sekali, ia malah tiba tiba saja kedua matanya melotot, dan menepis durian itu dengan kasar.
"Gue enggak mau durian, gue pengen kopi sama udud."
"Hah!."
"Si Seza kok jadi aneh sih, macam mana ini mas?."
"Yaudah panggil dukun beranak gih sana."
"Mas Verrel ikh, bukan dukun beranak juga mas?."
"Abis apa dong mas mana ngerti beginian, panggil mama kamu coba suruh sini."
Tak lama suara radio berbunyi "Ada Mbah dukun sedang ngobatin pasiennya."
"Ampuuun jangan sembur aing, aing masih waras."
"Hah!."
"Makin ngaco!."
"Ah sudahlah antep aja mas, biar pegel sendiri, udah yuk tinggal saja."
Pada akhirnya keduanya pun pergi begitu saja, sementara Seza berdecih kesal, "Sial gue ditinggal, mau ngprank malah gue yang kena prank."
"Apa pula ini Aer malah asin pula haish nasib nasib."
"KAK METAAA!." teriak Seza menggelegar. Membuat semua langsung terkaget, mama Seza yang sedang fokus tanaman tiba tiba nyungsep ke tanah.
Verrel yang sedang minum langsung tersedak dan batuk batuk, sementara Meta sedang menjahit celana yang bolong malah ketusuk jarum.
"SEZAA, KAMPRET LU, YEE NGAGETIN GUE AJA!, GUE LAGI JAHIT JADI KETUSUK TANGGUNG JAWAB GA LU!."
"Hwaa kak meta kak Verrel teganya dirimu padaku, masa melupakan istrimu yang ulang tahun hari ini, mau ngprank kak meta susah bener."
"Oh jadi elu dari tadi niat ngeprank kakak elu hah."
"Nih, lanjutin jaitan gue sampai kelar."
"Haish, niat adikmu baik kak, tapi malah endingnya tidak baik baik saja."
"Hahaha makanya Za, kalo mau ngeprank kompakan dulu, konsepnya apa ini tau tau pingsan terus kerasukan gitu aja, jadi kan gagal total wkwk CK!." ucap Verrel tertawa terbahak.
"Yasudah selamat menjahit adikku." ledek meta sambil membawa setumpuk jahitan dan langsung menaruhnya pada tangan Sazi yang sengaja ia buka keduanya dan akhirnya mengusap kepala Seza sambil ngeloyor dan tertawa. Sementara Verrel tangannya memberi semangat.
"Kejamnya kalian laki bini lucknut!."
Ditempat lain di rumah ayah Fadli. Fadli tiba tiba saja mengeluarkan pakaiannya yang ia masukkan ke dalam koper.
"Bang, mau kemana?." tanya Sazi.
"Zi untuk sementara kamu dirumah ayah dulu ya, disini dulu Abang ada keperluan diluar kota tiga hari ini enggak apa apakan Abang tinggal?."
"Kerjaan bang?."
"I,..iyalah kerjaan masa Abang bohong sama.kamu?."
"Yasudah mau Si antar ke bandaranya bang?."
"Enggak usah Zi, Abang sudah ditemani sama orangnya ayah kok."
"yasudah kalo gitu." Sazi pun membantu melipatkan. Pakaian dan beberapa keperluan yang harus dibawa suaminya itu. meski hati Sazi seperti berat untuk mengizinkan namun ia tak banyak bicara.
ia hanya mengikuti alur suaminya saja, sampai dimana ingin bermain sandiwara dengan Sazi. "Sudah selesai bang, ini kopernya."
"Hati hati, jangan lupa makan jangan sampai telat ya bang, itu Sazi sudah taruh obat asam lambung buat Abang."
"Oya terima kasih ya sayangnya Abang."
"Hmm."
Fadlipun mengecup kening Sazi dan Sazi pun tidak menolak. Meski hatinya sedang teriris saat ini. Ia hanya berusaha menyembunyikan setiap goresan luka yang dibuat suaminya itu.
Di bandara, sosok cantik berwajah kebulean pun menghampiri Fadli. Ya dia Nadia,.."Akhirnya kamu jadi juga Fad, yuk bentar lagi kita berangkat."
"Oke."
Sementara dirumah, sang ayah menyuruh beberapa anak buahnya mengejar Fadli untuk menghentikan kepergiannya.
"Cepat cegah anak itu, jangan sampai ia ikut si kuntilanak itu."
"Yah, kenapa sih ribut ribut" tanya Fatma mama Fadli.
"Lihat tuh anak kamu si Fadli, tega banget ninggalin bininya sementara dia enak enakan pergi liburan sama si Kuntilanak sialan itu."
"Masa sih yah, astaga tuh anak" mama Fadli sampai geleng kepala entah bagaiman acaranya untuk menasihati anaknya, berkali kali selalu saja berbuat seenaknya sendiri.
"Yah gimana kalo kitas suruh Sazi liburan ke tempat yang Fadli datengin."
"Nah ide bagus tuh, biar sekalian ketahuan semua kebohongannya."
"Eh tapi yah, ada satu kendalanya."
"Apa itu?."
"Ayah lihat sendiri si Sazi lagi sibuk sibuknya ngejar beasiswa yah, dia lagi banyak kegiatan juga di sekolahnya, Aya enggak kasian kalo si Sazi gagal ujiannya?." Ayah Fadli sampai frustasi dibuatnya sampai mengacak rambutnya sendiri.
"Hellow tantee om aku dataang?."
"Sadewa!."
"Nah yah mama ada ide, biarkan saja si Fadli kesenengan dulu disono yah."
"Kita buat si dewa nginep disini, Gimana menurut ayah, lagian kasian juga kan tuh anak baru datang dari Swiss masa kita biarin dia inap di hotel yah?."
"Setuju."
"Lagian bukannya si dewa temen si Sazi waktu SMP kan?."
"Nah itu yah maksud Mama, Sazi enggak akan bete nungguin lakinya kalo ada si Dewa, dia kan bisa menghibur si Sazi, mereka juga lama enggak ketemu dan temen deket juga kan."
"iya juga ya, biar nyaho dia kalo si Sazi juga bisa selingkuh dari dia."
"iya wa sebentar Tante kesana." teriak Tante Fatma.
Sadewa yang begitu dekat dengan sang Tante pun langsung merentangkan tangannya dan buka. Cuma berhamburan peluk tapi ia yang begitu gemas dan jail ya super kelewat. Tak tanggung-tanggung ia malah menggendong tantenya sambil berlari membuat sang Tante kepusingan.
"DEWAA, TURUNIN TANTE KAMU MASIH AJA ISENG YA SAMA TANTE, TURUNIN ENGGAK, AYAH, INI SIDEWA YAH!."
"Hahaha, kamu enggak berubah juga wa, masih jahil aja sama tantemu kalo sudah ketemu."
"Kangen om."
"Giman kabarnya, Betah banget di Swiss?."
"hehe betah enggak betah om, tapi lebih enak di indo sih om makanannya enak enak."
"Yaiyalah indo gituloh oiya om si Fadli mana om?, Dewa dengar dia sudah nikah ya?."
"Iya tuh bininya ada dikamar, pasti kenal kali sama kamu Wa?."
"Maksud Om?
"