NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Aku harus bicara dengan kala, aku harus bicara dengannya dan memaksa dia bicara....harus" kanaya menatap cermin, mengepalkan buku tangannya.

"Semangat...kanaya"

Dengan langkah yang tegap, kanaya melangkah penuh semangat, ia menghitung derap langkahnya seperti langkah seorang prajurit di medan perang.

 Yap kanaya merasa, seakan ia akan memasuki medan pertempuran.

Kini kanaya berdiri di depan pintu kamar kala, tangannya sudah terulur ingin mengetuk pintu kamar itu.

Ia melirik arlojinya, pukul 18.00 wib. Kanaya yakin kala sudah pulang kerja dan sudah dikamar. Kanaya sudah memahami ritme harian kala, biasanya pulang kerja kala akan langsung ke kamarnya.

Tok...tok...

Kanaya nekad mengetuk pintu itu, walau hatinya bagai genderang perang yang ditabuh bertalu-talu, ia tetap memberanikan dirinya.

Sedetik dua detik, kanaya tidak mendengar sahutan dari dalam, ia ragu apakah mengulangi ketukannya atau menyerah.

Kanaya masih berdiri di depan pintu, menajamkan pendengarannya, ia tak mendengar suara apapun.

'sekali lagi. Yah mari kita ketuk sekali lagi',

bisik hati kanaya meyakinkan dirinya.

Tok...tok...

"Masuk"

sebuah perintah terdengar dari dalam kamar. Kanaya memegang handle pintu, tak lupa ia membaca basmalah. Detak jantungnya masih berdebar kencang, perlahan ia membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, sebuah pemandangan yang sulit untuk dilewatkan terpampang di mata kanaya.

Sepertinya kala baru saja selesai mandi, pria itu masih menggunakan bathrobenya. mengeringkan rambutnya dengan mengusap menggunakan handuk.

 Mata kanaya memandang tak berkedip, aroma sabun mandi masih tercium samar di hidung kanaya, ia terpesona beberapa saat, mata mereka saling menatap tak berkedip.

"Oh...maaf" tergagap kanaya membalikkan tubuhnya.

"Nanti saja saya balik lagi"

"Masuklah.....", sahut kala cepat, meminta kanaya masuk.

"Kamu duduklah dimana kamu suka, saya berpakaian dulu" pamit kevin meninggalkan kanaya sendirian, melangkah ke walking closetnya.

Kanaya memilih duduk di sofa yang terletak di dekat pintu, matanya mengitari kamar kala yang terlihat sangat manly.

Nuansa hitam putih memenuhi dekorasi kamar ini, sejenak kanaya terpikir, apa mungin dekorasi kamar ini juga hasil karya syafira.

Kanaya memonyongkan bibirnya mengingat wanita sombong itu, mengingatnya saja kanaya ogah.

Apalagi meyakini kalau interior kamar ini juga hasil karya dari wanita itu. Di dinding sebelah atas kepala ranjang, terpampang foto setengah badan milik kala. Dengan nuansa foto hitam putih, membuat foto itu terkesan unik dan mahal.

Kanaya tersenyum, ia tak menyangka ternyata kala sedikit narsis. Mata kanaya masih asyik memandangi isi kamar kala.

Tanpa kanaya sadari kala sudah duduk di hadapannya, pria itu sudah berpakaian rapi, walau hanya mengenakan kaos oblong big size dipadu celana pendek yang juga berukuran besar.

Rambut sudah tersisir rapi, kanaya mencium aroma lotion dari tubuh kala. Ia mengerjapkan matanya dengan cepat.

Ketika kala menatapnya lekat dan tak berkedip, kanaya memperbaiki posisi duduknya, merapatkan kedua lututnya.

Posisi duduk kanaya seperti seorang pesakitan, tidak lebih tepatnya seperti seseorang yang sedang wawancara pekerjaan.

Kala masih saja diam, ia mengamati tingkah kanaya yang salah tingkah, kala ingin tertawa melihat kanaya yang kelihatan gugup.

Sementara kanaya kebingungan, bagaimana cara dia memulai pembicaraan ini. Tadi ketika di kamarnya, ia sangat semangat berapi-api menghafal skenario yang ingin ia sampaikan kepada kala.

Tapi entah mengapa, begitu kanaya berhadapan dengan kala. Lidahnya mendadak kelu, semangatnya seperti kerupuk yang tersiram air.

Keringat mulai muncul di hidungnya, telapak tangan kanaya sudah basah karena keringat. Mendadak kanaya teringat pertama kali ia dipanggil keruangan kala. Saat ia masih bekerja untuk pria itu.Kanaya juga saat itu, persis seperti saat ini, keringatan karena gugup dan takut.

Bedanya saat ini ia gugup karena akan mengakui perasaannya, sementara dulu, ia gugup karena takut dipecat dari pekerjaannya.

"Anu.....hmmm, saya ingin bicara.."

Akhirnya kanaya memberanikan dirinya menatap ke mata kala langsung, kedua tangannya saling bertautan dan meremas, menunjukkan bahwa kanaya saat ini benar-benar gugup luar biasa.

"Maaf..kalau misalnya pembicaraan saya ini, akan sedikit tidak nyaman untuk kamu"

Kala mengangguk tanda mengerti, kala merapikan posisi duduknya, dengan duduk menghadap tepat ke arah kanaya.

"Saya tahu kalau hubungan kita hanyalah hubungan kontrak...." ucap kanaya tenang, suaranya pun kedengaran sudah stabil dan tidak gugup.

"Saya hanya ingin memperjelas hubungan kita yang sempat kacau balau belakangan ini"

"Saya tahu, sama dengan yang kamu rasakan, saya juga terbawa suasana, maaf kalau saya sempat membuat kamu ragu dan kecewa...."

"Kecewa...?" potong kala cepat, menatap kanaya bingung.

"Yah....kecewa, bukankah kamu pernah bilang, alasan kamu memilih saya jadi istri palsumu, karena kamu yakin, kita tidak akan terlibat perasaan romantis?" tanya kanaya balik menatap mata elang kala lekat.

Kanaya bingung sendiri, ia menatap kala yang mengangguk tanda mengingat. Tapi kanaya heran, kenapa yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan yang ada dihatinya.

Tadi awalnya ia ingin mengakui perasaannya kepada kala, ia tidak perduli jika jawaban kala tidak sesuai dengan yang ia mau. Tapi mengapa bisa bibirnya bicara tanpa kontrol dari hatinya, akhirnya kanaya bingung sendiri.

Apakah sebaiknya ia melanjutkan yang ada di pikirannya atau yang ada dihatinya ini, atau melanjutkan ucapannya tadi. Beberapa saat kanaya terdiam, menimbang apakah yang akan dikatakan selanjutnya.

Kala menunggu lanjutan ucapan kanaya, tapi kala terheran-heran, mengapa mendadak kanaya termenung cukup lama.

"Naya....",

panggil kala menyadarkan kanaya dari lamunannya.

"Maaf...maaf...., tiba-tiba saya bingung, kita bicara besok saja" ujar kanaya cepat, sembari bangkit dari duduknya.

"Tunggu...."

Kala meraih pergelangan tangan kanaya, menarik wanita itu untuk duduk kembali. Kini kanaya dan kala duduk bersisian, tapi saling berhadapan. Kala memegangi pundak kanaya tepat dikedua bahunya, mereka saling bertatapan cukup lama.

"Kamu kenapa?" tanya kala memecah keheningan yang menjerat mereka cukup lama.

"Aku....aku...."

Kanaya gugup lidahnya mendadak kelu, mata kala masih menatapnya. Kanaya memandangi wajah tampan kala, tanpa sadar tangannya terangkat, mengelus pipi kala lembut.

Menyentuh hidung bangir kala, mata kanaya mengikuti kemana jemarinya bergerak. Tangannya berhenti di bibir kala, tiba-tiba ia tersadar.

Wajah kanaya bersemu merah, dengan cepat ia menarik tangannya namun kala menahannya, pria itu meletakkan tangan kanaya kembali ke wajahnya.

Mata mereka saling menatap lagi, kanaya melihat kala menatapnya lembut dan syahdu. Jantung kanaya berdetak lebih cepat, apa ini, suasana apa ini, kenapa indah, syahdu dan intim.

Perlahan namun pasti kepala mereka saling mendekat, tangan kokoh kala menarik wajah kanaya lebih dekat, kanaya memejamkan kedua matanya.

Kala menatap lekat ke bibir kanaya yang sedikit terbuka, kala mengecupnya lembut. Bibir indah kanaya terasa lembut dan harum, ia hanya mengecup bibir indah itu, mengecup dengan lembut, kemudian melepaskannya.

Kanaya merasakan hatinya membuncah indah, ada rasa yang tak dapat ia deskripsikan, hanya perut kanaya terasa mulas dan indah.

Seperti mendapat serangan beribu kupu-kupu yang terbang bebas dalam perutnya. Ini pertama kali bagi kanaya di cium laki-laki, dan laki-laki itu adalah pria yang ia cinta.

Perlahan ia membuka kedua matanya, kanaya menemukan kala yang masih menatap sambil memegang wajahnya.

Kanaya menarik wajahnya dari genggaman kala, menunduk malu. Sesaat kebisuan membungkam mereka, kanaya masih duduk dan tertunduk malu.

"Kala....bolehkah aku menyukaimu?"Tanya kanaya menatap kala yang terperanjat oleh pertanyaannya

******

Kala hampir saja kelepasan kendali, bibir indah kanaya tadi hampir saja dilumat habis, aroma tubuh kanaya membuat kala hampir kehilangan akal.

Wanita ini, wanita ini menyentuh pipinya, hidung dan bibirnya. Sentuhan itu menghadirkan debar indah yang mewarnai hati kala, ingin rasanya tadi ia mencium bibir kanaya yang terbuka indah itu dengan  penuh gairah.

Ingin rasanya kala menyesap madu dari bibir indah itu, bibir indah yang pasrah dihadapannya. Tapi akhirnya kesadaran kala mulai kembali, ia hanya mengecup indah bibir itu, bibir yang kala yakin belum pernah disentuh oleh orang lain.

Tuhan...wanita ini membuat aku bahagia...

Tuhan.. wanita ini membuat aku rindu...

Kala masih menatap mata yang terpejam itu, ingin rasanya dia mengulang kembali, tapi kala menahannya sekuat hati.

Perlahan mata indah itu terbuka, menatap ke arahnya dengan pandangan penuh cinta.

Tiba-tiba wanita itu mengejutkannya, dengan pengakuannya tadi. Belum sempat ia menjawab, wanita pemilik mata indah itu berlari, berlalu dari kamarnya.

'Tuhan bolehkah aku juga menyukainya?'

Bersambung......

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!