dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keseruan di sekolah
Seminggu setelah ulang tahunku, sekolah mengadakan acara tahunan yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun: Festival Seni dan Budaya. Acara ini selalu meriah—ada pameran karya seni, pertunjukan musik dan tari, lomba masak, hingga bazar makanan dari setiap kelas.
Tahun ini, karena bakatku dalam menganyam sudah mulai dikenal di sekolah, guru seni, Pak Herman, menawariku untuk mengisi booth pameran seni khusus. "Laras, aku ingin karyamu dipajang di tempat yang paling mencolok. Ini bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang lain," katanya dengan antusias.
Aku tentu saja setuju. Ini kesempatan bagus untuk memperkenalkan "Laras Kreatif" lebih jauh di lingkungan sekolah. Tapi, tantangannya adalah aku harus menyiapkan beberapa karya baru yang lebih besar dan spektakuler dalam waktu yang cukup singkat.
Raka, yang tahu aku akan sibuk, langsung menawarkan diri untuk membantu. "Aku bisa bantu menyiapkan boothnya, Laras. Memasang dekorasi, mengatur rak, apa saja. Pokoknya aku siap sedia!" katanya dengan semangat.
Hari-hari menjelang festival pun menjadi sangat sibuk. Setiap sore setelah sekolah, aku dan Raka pergi ke ruang seni untuk bekerja. Aku sibuk menyelesaikan sebuah vas bunga besar anyaman rotan dengan motif geometris yang rumit, sementara Raka sibuk mengukur dinding, memotong kertas hias, dan menata meja pajangan.
Suasana di ruang seni itu sangat menyenangkan. Kadang, saat tanganku lelah menganyam, aku akan melihat Raka yang sedang bersusah payah menggantungkan hiasan bintang-bintang kertas di langit-langit. Dia akan tersenyum padaku setiap kali kami bertatapan, dan rasa lelahku seketika hilang.
Hari festival pun tiba. Sekolah berubah menjadi tempat yang sangat meriah dan warna-warni. Setiap sudut dipenuhi dengan dekorasi, dan suara musik terdengar bersahutan dari berbagai arah.
Boothku terletak di lobi utama, tepat di dekat pintu masuk utama. Berkat bantuan Raka, boothku terlihat sangat indah. Latar belakangnya berwarna krem yang lembut, membuat warna-warni karyaku—keranjang, tas, kotak penyimpanan, hingga vas besar yang baru saja selesai aku buat—terlihat sangat menonjol dan elegan.
Tidak lama setelah pameran dibuka, boothku mulai dipadati pengunjung. Teman-teman sekelas, siswa dari kelas lain, bahkan guru-guru dan orang tua siswa yang datang berkunjung, semuanya berhenti untuk melihat karyaku.
"Wah, Laras! Ini kamu yang buat semua? Bagus banget!" seru Siti, teman sekelasku, dengan mata terbelalak takjub.
"Aku nggak nyangka kamu bisa bikin sekeren ini, Laras. Bener-bener luar biasa," tambah teman lainnya.
Raka berdiri di sampingku, wajahnya bersinar penuh kebanggaan. Dia bahkan membantu aku menjelaskan kepada pengunjung tentang bahan-bahan yang aku gunakan dan proses pembuatannya. "Ini semua dibuat tangan lho, pakai ketelitian tinggi. Laras itu benar-benar berbakat," katanya dengan nada bangga, membuatku tersipu malu.
Puncak kejadian seru terjadi saat sesi lomba Fashion Show daur ulang. Panitia acara tiba-tiba mengumumkan bahwa ada satu peserta yang mundur mendadak karena sakit. Karena kekurangan peserta, Pak Herman langsung menunjukku.
"Laras! Bagaimana kalau kamu ikut? Kamu kan jago menganyam. Aku yakin kamu punya ide yang bagus. Coba saja, ya?" bujuk Pak Herman.
Aku panik. "Tapi Pak, aku nggak punya baju atau persiapan apa pun!" kataku cepat.
Raka tiba-tiba menyela, "Bisa kok, Pak! Kalau Laras mau, aku bisa bantu. Kita punya bahan-bahan sisa anyaman dan kain perca di sini kan, Laras? Kita bisa bikin aksesori dan hiasan yang keren buat dipakai Laras dalam waktu singkat!"
Aku menatap Raka, lalu menatap Pak Herman yang penuh harap. Akhirnya, aku mengangguk. "Baiklah, Pak. Saya coba."
Lomba akan dimulai dalam 30 menit. Kami pun bekerja dengan cepat dan panik tapi seru. Aku mengambil beberapa potongan anyaman tipis yang fleksibel dan kain perca berwarna cerah. Raka membantuku memotong dan menyusunnya menjadi sebuah selempang yang cantik dan sebuah topi anyaman yang unik. Aku juga membuat gelang dan kalung sederhana untuk melengkapinya. Kami memadukannya dengan baju putih polos yang aku pakai hari ini.
"Wah, kalian berdua ini hebat ya! Bisa bikin busana keren cuma dalam waktu seperempat jam!" seru salah satu panitia saat melihat hasil kerja kami.
Saat giliranku naik ke panggung, aku sempat gugup. Lampu sorot menyinari wajahku, dan aku bisa melihat ratusan pasang mata menatapku. Tapi kemudian, mataku mencari sosok Raka di antara penonton. Dia berdiri di barisan depan, melambaikan tangan kecil dan memberiku tanda jempol dengan senyum lebar.
Rasa percaya diriku langsung kembali. Aku berjalan di atas panggung dengan kepala tegak, memamerkan karya kami dengan bangga. Penonton bertepuk tangan saat aku berputar memperlihatkan detail anyamannya.
Saat pengumuman pemenang, aku ternyata mendapatkan juara kedua! Hadiahnya adalah sebuah piala dan voucher belanja alat seni yang cukup besar.
Saat turun dari panggung, Raka langsung menyambutku. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Kamu hebat banget, Laras! Kamu kelihatan percaya diri banget di atas panggung. Aku bangga banget sama kamu!" katanya sambil menepuk bahuku pelan.
"Semua ini juga berkat kamu, Raka. Kalau nggak ada kamu yang bantu dan menyemangatiku, aku pasti sudah menyerah dari awal," ucapku tulus.
Hari itu, festival seni bukan hanya menjadi ajang pamer karyaku, tapi juga menjadi momen yang sangat menyenangkan dan mempererat hubungan kami. Bekerja sama di bawah tekanan waktu, tertawa saat salah satu hiasan hampir jatuh, dan akhirnya merasakan manisnya keberhasilan bersama—semua itu membuat hari ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.