NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Jahat

Di koridor temaram yang lembap dan berbau tajam antiseptik di dekat toilet, kontras dengan kemegahan aula utama, Ana dan Yunda berdiri mematung dalam balutan gaun anggun yang seolah kehilangan kemilaunya tertutup oleh kabut kebencian yang nyata. Wajah mereka yang biasanya dipoles senyum porselen kini mengeras, memancarkan garis-garis permusuhan yang mendalam saat nama Claire terlintas dalam benak.

Sementara itu, Glenna berdiri di antara mereka, memejamkan mata rapat-rapat seolah tengah berusaha membendung badai amarah yang siap meluluhlantakkan martabat keluarga Lergan karena kedatangan tidak terduga putra tirinya.

Pikiran Ana dan Yunda serempak terhunus pada satu sosok—Claire, wanita yang dalam pandangan mereka tak lebih dari sekadar parasit licik yang berhasil menyusup ke dalam silsilah terhormat melalui skandal ranjang yang menjebak Julian.

Namun, kejutan pahit malam itu tak berhenti di sana-- kehadiran Ares yang tak pernah diharapkan oleh Glenna, di acara makan malam keluarga ini seolah menjadi tamparan keras yang membuyarkan ketenangan nya. Ketegangan itu menggantung di udara, mencekik, mengubah kemewahan busana mereka menjadi sekadar tameng rapuh bagi hati yang terbakar oleh dendam dan ketidakpercayaan yang membara.

Ana menyandarkan tubuh di dinding marmer, matanya menyala penuh amarah. "Kau lihat itu, Kak Yunda? Bagaimana cara wanita licik itu menatap Ares? Padahal suaminya sendiri duduk tepat di sampingnya. Cih, benar-benar tidak tahu malu. Dia seolah ingin melahap semua pria di ruangan itu dengan tatapan menjijikkannya itu!"

Yunda melipat tangan di dada, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Bukan hanya itu, Ana. Dia bersikap seolah-olah seluruh aset keluarga Lergan sudah jatuh ke tangannya. Dia merasa sudah memenangkan permainan ini hanya karena berhasil masuk ke rumah ini. Dan kau, Bibi Glenna..." Yunda menoleh ke arah Glenna yang sedari tadi memejamkan mata. "Kau lihat sendiri tadi, kan? Beraninya dia menghinamu di depan seluruh keluarga, menyebutmu hanya 'istri kedua' secara tidak langsung, sementara dia membusungkan dada sebagai 'istri pertama' yang sah. Benar-benar penghinaan yang luar biasa."

Glenna membuka mata perlahan, tatapannya dingin dan tajam seperti pisau. Hmph. "Wanita itu... dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia pikir dengan menjebak Julian di atas ranjang, dia otomatis menjadi ratu di sini? Dia hanyalah sampah yang kebetulan tersapu masuk ke istana." Glenna mendengus benci. "Dia harus diberi pelajaran supaya dia tahu di mana posisi rendahnya yang sebenarnya."

Ana mendekat dengan langkah pelan, suaranya merendah menjadi bisikan licik. "Aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kita mempermalukannya sedemikian rupa? Kita buat skandal besar tepat di rumah ini, malam ini juga, sampai dia didepak keluar tanpa membawa sepeser pun."

Yunda mengernyitkan dahi, tertarik. "Maksudmu? Apa yang kau rencanakan, Ana?

Ana tersenyum miring, matanya berkilat. "Dia masuk ke keluarga ini dengan cara menjebak Julian di atas ranjang, kan? Maka dia juga harus keluar dengan cara yang sama. Bagaimana jika kita menjebaknya di ranjang pria lain? Bayangkan wajah Julian saat menemukan istrinya yang menjebak nya itu tengah memadu kasih dengan orang lain di tengah acara keluarga ini."

"Ide yang berisiko, tapi menarik. Lalu... siapa pria yang akan menjadi 'pemeran utamanya?

Ana terkekeh pelan, nada bicaranya penuh penghinaan. " Bagaimana jika dengan salah satu bodyguard berbau keringat di rumah ini? Bukankah itu akan menjadi skandal yang sempurna? Istri sah pewaris Lergan berselingkuh dengan pelayan rendahan. Itu akan menghancurkan harga dirinya selamanya."

Glenna mengangguk pelan, setuju. "Lakukan dengan rapi. Aku ingin melihat dia merangkak di kakiku memohon ampun malam ini juga."

Namun, di balik pilar marmer yang tak jauh dari sana, Claire berdiri dalam keheningan yang absolut, dia mendengar semuanya. Tidak ada gemetar ketakutan, tidak ada napas yang memburu. Claire justru menyunggingkan senyum tipis yang dingin, seolah semua dialog jahat itu hanyalah barisan naskah yang sudah ia hafal di luar kepala. Baginya, rencana mereka hanyalah drama murahan dari drama Antagonis kelas teri yang sudah ia prediksi gerakannya.

Claire berdiri diam, bersandar pada dinding marmer yang dingin. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Ia justru mengulas senyum tipis yang tampak sangat mengerikan di tengah kesunyian. Ia merapikan gaunnya yang elegan tanpa sedikit pun gemetar.

Claire berbicara dalam hati. "Kalian ingin menjebakku dengan skenario basi ini? Menggelikan. Alur drama murahan kalian ini bahkan tidak layak masuk ke dalam naskah yang sudah kususun. Silakan bermain dengan rencana licik kalian... Kita lihat saja, apakah naskah amatir kalian cukup kuat untuk menyingkirkan naskahku, atau justru kalian yang akan menjadi pemeran utama dalam kehancuran kalian sendiri."

Claire melangkah pergi dengan tenang, tumit sepatunya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seolah ia adalah hantu yang siap menerkam dari balik bayang-bayang.

Claire melangkah dengan keanggunan yang memancarkan ketegasan, dagunya terangkat tinggi seolah sedang menantang setiap pasang mata yang menunggunya di Aula Utama. Gaunnya berdesir halus menyapu lantai marmer, menciptakan irama konsisten di tengah kesunyian lorong yang megah.

Namun, aura dominasi yang baru saja ia bangun seketika buyar saat tubuhnya menghantam sesuatu yang kokoh dan tak tergoyahkan. Claire terhuyung, kehilangan keseimbangan sesaat, ketika ia menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah sekadar rintangan, melainkan Ares yang menatapnya dengan tatapan intimidatif yang sulit diartikan.

Claire tertegun. "Maaf, aku tidak sengaja!"

Claire merapikan gaunnya dan hendak berlalu tanpa menoleh, namun sebuah cengkeraman kuat menahan pergelangan tangannya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ares dengan raut wajahnya yang datar, matanya menelisik wajah Claire lebih dalam.

Suara Ares rendah, matanya menyipit mencoba menggali memori dari wajah di hadapannya.

Claire tersenyum tipis, hampir mengejek. "Modus yang sudah basi, Tuan Ares. Bisakah kau melepaskan tanganku? Aku takut jika suamiku melihatnya, dia akan salah paham pada tamu agung keluarga ini."

Ares melepaskan tangannya perlahan, namun tatapannya tak beralih. "Aku tidak sedang bersandiwara. Aku hanya merasa sangat tidak asing dengan garis wajahmu. Seolah aku pernah melihatmu di tempat yang jauh dari kemewahan ini."

Claire melipat tangan di dada, bersandar pada pilar. "Bukankah ini pertama kalinya kau menginjakkan kaki di kediaman Lergan? Jadi, secara logika, sangat tidak mungkin kita pernah bertemu sebelumnya. Kecuali, kau sering memimpikan orang asing."

Ares tersenyum getir. "Kau benar. Jika bukan karena ibu tiriku yang 'terhormat' itu, aku tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di lantai yang penuh kepalsuan ini."

Claire menatap Ares lekat, suaranya merendah menjadi bisikan tajam. "Aku rasa tujuanmu datang ke sini memang bukan untuk menghormati keluarga yang telah merenggut kebahagiaan keluargamu, bukan? Kau datang untuk melihat bangkainya."

Ares tertegun sejenak sebelum menyeringai. "Kau tajam juga. Jika boleh jujur, aku sangat membenci wanita itu. Wanita yang menjadi duri dalam kehidupan orang tuaku, yang tersenyum di atas air mata ibuku."

Claire mengangguk pelan, jemarinya memainkan ujung rambutnya. "Hmm, Bibi Glenna memang perlu diberi sedikit 'pengertian'. Jika kau ingin melihat sebuah pertunjukan yang menarik malam ini, aku sarankan kau tetap tinggal. Mungkin kau akan sangat menyukai adegan puncaknya."

Ares maju selangkah, penasaran. "Drama apa yang sedang kau rencanakan, Nona Claire?"

"Lihat saja nanti. Pertunjukan tidak akan seru jika dibocorkan sekarang," ucap Claire tenang.

Tiba-tiba, suasana tegang itu pecah oleh suara cempreng dan cadel dari ujung koridor.

"MOMMYYY!"

Michel berlari kencang ke arah mereka. Sebelum Ares datang-- Michel sedang bermain di taman belakang mansion dengan Mikael. Jadi mereka belum sempat bertemu.

Namun, tepat saat langkah kecilnya mendekat dan ia mendongak menatap wajah Ares, Michel tiba-tiba mengerem larinya. Ia terpaku, matanya membulat sempurna.

"HEH! OM KETIPLEK!" teriak Michel sambil menunjuk wajah Ares.

Ares membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat wajah gadis kecil di depannya—wajah yang seolah menjadi cermin dari masa kecilnya sendiri. "Siapa... gadis ini?"

"Ketiplek?" Claire mengernyit bingung. "Istilah apa lagi itu, Michel?"

"Itu loh, Mommy! Olang kalo punya muka milip banget cama olang lain, altinya Ketiplek!" seru Michel dengan semangat berapi-api.

Claire mendengus, mencoba menahan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Itu namanya jiplak, Michel! Bukan ketiplek."

"Ohh, cudah belubah lupa na ya?" Michel mengangguk paham, lalu kembali menatap Ares dengan berani. "Om! Om Jiplak! Muka na kok bica milip banget cama Abang? Om menculi muka Abang ya?"

Ares masih tertegun, lidahnya kelu. Sementara itu, Claire yang awalnya ingin mengabaikan ucapan anaknya, kini ikut tertegun sendiri. Ia kembali memandang wajah Ares, lalu beralih ke wajah Michel, dan kembali lagi ke Ares. Sebuah kesadaran yang mengerikan mulai merayap di benaknya saat ia menyadari kemiripan garis rahang dan sorot mata mereka yang identik.

" Aku baru sadar, kok bisa mirip banget... bahkan sama Julian saja mereka tidak terlalu mirip.."

" Bukankah dia gadis kecil yang ada di rekaman CCTV mal itu?' batin Ares bergejolak. 'Dia... anak dari menantu keluarga Lergan? Anak Julian? Bagaimana mungkin wajahnya bisa menyerupaiku? hanya saja ini versi wanita nya."

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!