Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menumpas Pengkhianat Duri Dalam Daging
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Huang Xuan.
"Karena pasukan kalvaleri langit yang dipimpin oleh Tang Shuyun berhasil dikalahkan maka pihak Xia tak mungkin mendapatkan kabar dalam waktu dekat. Kita harus segera menuju sungai Yinshe dan untuk menghindari pengejaran darat yang bisa saja dilakukan oleh pihak Xia dan orang-orang dari Yinluo akan menjemput dan mengawal selama perjalanan," jawab Luo Qingyin dibalas anggukan oleh Huang Xuan.
"Baiklah. Kita berangkat hari ini karena firasatku mereka telah mendengar kabar apa yang terjadi"
"Bagaimana senior tahu? Tak mungkin Xia mengetahui secepat itu," balas Luo Qingyin tak percaya dengan apa yang didengarkannya.
Huang Xuan tak menjawab melainkan berdiri kemudian ke luar dari dalam tenda. Ia berjalan tanpa berhenti membuat Luo Qingyin bingung dengan apa yang diinginkan olehnya.
"Senior ingin pergi ke mana?" tanya Luo Qingyin dengan nada sedikit berteriak ketika jarak mereka lumayan jauh.
"Aku akan menunggumu di sungai Yinshe," jawab Huang Xuan melanjutkan perjalananya dengan berjalan kaki.
Setiap langkahnya sama saja dengan 10 langkah orang biasa membuatnya cepat dalam berjalan. Ia membawa pedang kayu yang dibuatnya dari batang pohon tumbang disekitarnya. Di dalam hutan yang sebagian besar telah hancur akibat serangan pasukan kalvaleri langit Xia, ia melangkah dengan keheningan melambaikan jarinya pelan menciptakan hembusan angin lembut yang kemudian disertai suara
Brukkk!!
Huang Xuan hanya tersenyum tipis dibuatnya menggelengkan kepalanya pelan mengingat nasib Luo Qingyin yang mengenaskan.
"Jika dia mampu sampai di sungai Yinshe dengan selamat maka aku mengakui bahwa dia seorang putri raja," gumamnya tertawa pelan.
Senandung nyanyian bergema di tengah hutan dan mayat bergelimpangan ditempat-tempat persembunyian mereka. Huang Xuan dengan santai berjalan dan sampai di pinggiran sungai tepat pada malam hari disaat bulan bersinar terang. Dirinya duduk bersandar pada batu menuliskan sesuatu di tanah menggunakan ranting yang ada disekitarnya bertuliskan Bayangan dengan seutas senyuman misterius disudut bibirnya.
"Waktunya bagimu untuk tampil," gumamnya pelan.
Jauh di belakang, Luo Qingyin bersama dengan prajurit pengikutnya berjalan tanpa beristirahat demi bisa sampai secepatnya di sungai Yinshe. Kelelahan tampak jelas dari wajah mereka ketika keringat bercucuran diseluruh tubuhnya.
"Tuan Putri, kami sangat lelah," ucap mereka dengan nada lesu.
Luo Qingyin berhenti menoleh ke belakang melihat raut wajah kelelahan ekstrem pengikutnya mau tak mau membuatnya menganggukkan kepala dan membiarkan mereka beristirahat. Ia berjalan sedikit menjauh menyenderkan tubuhnya pada pohon besar. Tangannya mengusap keringat diwajah cantiknya dengan pelan kemudian meneguk air yang dibawa olehnya. Memandang bulan yang bersinar terang membuat hatinya gelisah tanpa tahu apa yang dipikirkannya. Suasana hening, ia melihat para prajurit yang terisa hanyalah 100 orang sedang bercengkarama membuat hatinya merasa bersalah mengingat pasukan yang dibawa olehnya berjumlah 1.000 yang tersebar dengan berbagai tugas dan sekarang hanya tersisa 100 orang saja.
Tess!!! Tes!! Tes!!
Luo Qingyin mengerutkan keningnya ketika sesuatu membasahi keningnya membuatnya mengusap cairan tersebut dan begitu melihatnya alangkah terkejutnya ketika cairan tersebut merupakan darah membuatnya refleks mendongak dimana mayat-mayat memenuhi percabangan dahan pohon.
"Sesuatu telah terjadi..." pekiknya didalam hatinya.
Sesuatu terjatuh berkilauan tepat di depannya, begitu dia lihat membuat nya geram ketika menyadari plakat simbol kerajaannya berlumuran darah. Tak lama kemudian salah satu jasad terjatuh, Luo Qingyin memeriksa dengan seksama menemukan sebuah peta dipenuhi simbol-simbol pelariannya yang hanya ia dan orang-orangnya tahu. Amarah memuncak tak bisa dibendungnya ketika menyadari bahwa pengkhianatan dilakukan oleh para prajuritnya.
"Mereka memang pantas untuk mati!" ucapnya menghancurkan peta tersbeut.
Tatapannya tertuju pada prajurit yang tengah berkumpul dan bercengkrama dengan riang gembira. Ia memegang ganggang pedangnya erat-erat beranjak berdiri dengan amarah dan kemurkaan yang tak lagi bisa dibendung. Kabut tiba-tiba muncul di tengah sinar bulan yang begitu indah membuat para prajurit kebingungan dan mulai waspada begitu merasakan ancaman kegelisahan didalam hatinya.
Slashh!!
Kilatan cahaya putih muncul dibalik kabut disertai suara sesuatu terjatuh setelahnya.Satu per satu prajurit menghilang dan suara teriakan menggema membuat mereka yang masih hidup diliputi ketakutan. Luo Qingyin bergerak layaknya bayangan dibalik kabut membunuh satu per satu prajurit memenggal kepalanya hingga menyisakan satu orang saja. Ia muncul dari dalam kabut yang kemudian perlahan-lahan menghilang seperti menuruti kehendaknya.
"Kau memilih mati menggunakan pedangku apa pedangmu sendiri," ucap Luo Qingyin dingin.
Kilatan tajam terlihat dari matanya begitu menatap satu-satunya prajurit yang tersisa dengan tangan bergetar memohon ampun membenturkan kepalanya ke tanah berulang kali.
"Mati!" perintah Luo Qingyin tegas tanpa ada keinginan memberikan belas kasih membuat prajurit itu mengambil pedangnya meletakkannya dilehernya kemudian menggoresnya dengan cepat.
Brukk!!!
Tubuhnya ambruk ke tanah setelahnya. Jasad para prajurit tersebar dengan keadaan mengenaskan tanpa kepala menjadi pemandangan mengerikan tatkala pakaian Luo Qingyin yang berwarna putih ternodai oleh darah. Ia melihat pantulan wajahnya pada pedangnya menghela nafas panjang.
"Tidak ada ampun bagi para pengkhianat," ucapnya menatap para jasad pengikutnya dengan dingin tanpa rasa iba diwajahnya.
Perkataan Huang Xuan membuatnya mengerti mengapa Xia mendengar berita lebih cepat dari perkiraannya dan mengapa Huang Xuan menunggunya di pinggir sungai Yinshe merupakan slalah satu ujian apakah dirinya layak dikawal olehnya.
"Aku harus segera sampai di sana,"ucapnya menyarungkan pedangnya kembali kemudian berlari secepat bayangan seakan tenaganya terisi kembali.
Di tengah malam yang hening dan ditemani sinar rembulan dirinya melesat diantara pepohonan sesekali menginjak dahan pohon berlarian di udara tanpa beristirahat demi mempercepat untuk sampai ke pinggiran sungai Yinshe. Setelah beberapa saat terdengar suara dari balik rerumputan dimana hal tersebut terjadi ketika Luo Qingyin tengah membelah rerumputan yang menghalangi jalannya. Ia memberikan salam kepada Huang Xuan setelahnya, melihat noda darah yang ada dipakaian Luo Qingyin membuat Huang Xuan tersenyum tipis.
"Bagaimana? Apakah kau telah yakin menumpas seluruh pengkhianat?"
Luo Qingyin menganggukkan kepalanya yakin telah menumpas seluruh pengkhianat yang ia ketahui.
”Kita menunggu hingga matahari terbit seseorang akan menjemput dengan kapal sesuai dengan hari yang telah ditentukan.”
Huang Xuan menganggukkan kepalanya beranjak berdiri mengambil pedang kayu miliknya lantas melayang kemudian mendarat di permukaan sungai.
"Aku akan mengajarimu satu jurus pedang perhatikan dengan baik karena aku tak akan mengulanginya lagi," ucapnya yang seketika mendapatkan balasan ekspresi senang Luo Qingyin.
"Baik!!"
"Jurus yang aku ajarkan kepadamu adalah 'Pedang Hati Memutus Kehendak Langit' Jika kau mampu memahami dengan benar maka setengah dewa atau bahkan dewa mampu kau kalahkan," ucap Huang Xuan mengalirkan energi qi nya ke dalam pedang kayu miliknya yang seketika menciptakan hembusan angin lembut.