Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: DEMAM TIGA HARI TANPA OBAT
Mahesa tidak ingat kapan mulai. Hanya tahu bahwa sekarang—hari ini, malam ini—ia tidak bisa bangun. Tidak bisa makan. Hanya bisa minum air. Dari gelas yang ibu berikan. Dari tangan yang gemetar.
Kaki kanan terasa meledak. Bukan nyeri lagi. Bukan panas biasa. Tapi tekanan. Seperti ada sesuatu di dalam yang ingin keluar. Yang ingin pecah. Yang ingin bebas. Seperti balon yang terlalu penuh, siap meletus kapan saja.
Ibu kompres. Air hangat. Dari panci yang tersisa. Dari api yang menyala terlalu lama. Terlalu banyak kayu bakar. Terlalu banyak yang tidak bisa dikorbankan. Tapi ibu tetap melakukannya. Diam-diam. Tanpa keluhan. Seperti biasa.
"Minum." Ibu berkata sambil membantu kepalanya terangkat. Sedikit. Sebentar. Air masuk. Sebagian. Sebagian tumpah di bibir, di dagu, di leher. Di yang tidak penting.
Mahesa menelan. Susah. Tenggorokan seperti amplas. Seperti jalan berbatu yang ia lalui kemarin—atau lusa—atau kapan pun itu. Waktu terasa kabur.
Ayah tidak bisa tinggal. Harus kerja. Tidak kerja, tidak makan. Kalimat yang selalu ada. Kalimat yang selalu benar. Kalimat yang memisahkan.
"Bapak pergi dulu, Mas." Ayah berdiri di ambang pintu. Bayangan hitam melawan cahaya pagi. "Kuat, ya. Doa Bapak selalu buat kamu."
Mahesa ingin menjawab. Ingin bilang, "Jangan pergi, Pak." Tapi suara tidak keluar. Hanya anggukan lemah. Anggukan yang mungkin tidak terlihat dari kejauhan.
Ayah pergi. Pagi. Sebelum matahari benar-benar naik. Sebelum Mahesa sadar sepenuhnya. Sebelum bisa bilang selamat tinggal.
Bima di rumah tetangga. Dijaga Bu Tini. Karena ibu tidak bisa menjaga dua. Karena Mahesa sakit. Karena Bima kecil. Karena prioritas.
Mahesa sendirian. Di tikar. Di pojok yang basah. Menggigil. Meski kaki kanan terbakar. Meski seluruh tubuhnya terbakar. Tapi menggigil. Dingin dari dalam. Panas di luar. Seperti api dan es bersamaan. Seperti hidup dan mati dalam satu tubuh.
---
Malam kedua. Ibu tidur di sebelah. Akhirnya. Setelah dua hari hanya duduk, hanya kompres, hanya menunggu.
Tapi dengan Bima. Yang kembali dari rumah tetangga. Yang rewel. Yang menangis.
"Panas! Mau tidur sama ibu!" teriak Bima. Lima tahun. Yang tidak mengerti. Yang hanya ingin. Yang selalu dapat.
Ibu memeluk Bima. Menjauh dari Mahesa. Satu meter. Dua meter. Tiga meter. Jarak yang terasa seperti tiga dunia.
Bukan karena tidak sayang. Mahesa tahu. Di dalam hati yang membeku, ia tahu. Bima kecil. Bima rewel. Bima butuh. Bima selalu butuh lebih.
Tapi Mahesa merasa ditinggal. Lagi. Seperti selalu. Sejak Bima lahir. Sejak ia menjadi yang di pojok. Sejak ibu mulai memandangnya dengan mata yang berbeda—mata yang melihat beban, bukan anak.
"Ibu..." panggilnya pelan. Suara tidak keluar. Atau keluar, tapi terlalu kecil. Terlalu lemah. Terlalu tidak didengar.
Ibu tidak berbalik. Tidak menjawab. Atau pura-pura tidak dengar. Atau benar-benar tidak dengar. Di tengah tangis Bima, di tengah rewel, di tengah segalanya.
Mahesa menutup mata. Tidak mau lihat. Tidak mau rasakan. Tapi tubuhnya terbakar. Dan hatinya membeku. Api dan es. Seperti selalu. Seperti dirinya.
---
Malam berlalu. Tidak tidur. Tidak benar-benar sadar. Hanya ada. Hanya menunggu. Menunggu apa? Sembuh? Mati? Atau hanya menunggu waktu berlalu, seperti biasa?
Pagi ketiga. Matahari masuk dari jendela. Cahaya biasa. Yang sama setiap hari. Tapi hari ini terasa berbeda.
Demam turun. Tiba-tiba. Seperti pergi. Seperti tamu tak diundang yang pergi tanpa permisi.
Tapi kaki kanan lebih besar. Jelas lebih besar. Dari dua hari lalu. Dari seminggu lalu. Dari yang ia ingat.
Kulit mengilap di sinar matahari. Seperti akan pecah. Seperti terlalu tipis untuk menampung isi di dalamnya. Seperti balon yang siap meledak.
Ibu melihat. Saat membawa air. Saat membantu duduk. Saat melihat.
Cemas. Terlihat jelas. Di mata yang membelalak. Di tangan yang berhenti bergerak. Di diam yang terlalu panjang.
Tapi tidak ada uang. Sudah habis untuk perjalanan ke puskesmas. Untuk obat yang tidak mempan. Untuk Bima yang ikut. Untuk yang tidak berhasil.
Mahesa diam. Tidak protes. Tidak minta. Tidak berkata, "Lihat, Bu, kakiku makin besar. Dokter salah. Kita harus ke dokter lagi."
Karena minta tidak akan dikasih. Karena uang tidak ada. Karena protes tidak akan didengar. Karena ia sudah tahu tempatnya. Di pojok. Di belakang. Di urutan terakhir setelah Bima, setelah ayah, setelah kebutuhan rumah.
---
Tapi kemudian, di siang yang panas, ada suara. Dari luar. Dari jalan.
Suara ayah. Lebih cepat dari biasanya. Lebih bersemangat. Berlari. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan ayah.
"Mahesa!" panggilnya dari pintu. Napas terengah. "Mahesa, bangun!"
Mahesa berusaha. Mengangkat kepala. Melihat. Ayah dengan tas anyaman. Dengan wajah berbeda. Dengan sesuatu di mata—harapan.
"Dari kampung sebelah." Ayah masuk. Cepat. Ke tikar. Ke pojok. "Dukun bilang ada obat. Herbal. Gratis. Dari hutan."
Obat. Herbal. Gratis. Kata-kata yang tidak biasa. Kata-kata asing. Kata-kata yang tidak pernah ada di kamus keluarga mereka.
Ayah membuka tas. Daun-daun. Kering. Berbau tajam. Aneh. Tapi obat. Mungkin. Bisa jadi. Harapan.
"Rebus," ayah berkata. Suara mantap. "Minum tiga kali sehari. Dukun bilang bisa hentikan pembengkakan."
Mahesa menatap daun-daun itu. Tidak yakin. Tidak percaya. Tapi ada ayah. Yang mencari. Yang bertanya ke sana kemari. Yang tidak menyerah.
Ibu datang dari dapur. Melihat. Mengernyit. "Dukun? Herbal? Itu tidak..."
"Tidak ada salahnya coba." Ayah memotong. Suara tegas. Suara yang jarang keluar. Suara yang biasanya hanya untuk hal-hal penting. "Dokter tidak bisa. Tidak ada uang ke dokter lagi. Ini gratis. Ini harapan."
Ibu diam. Tidak membantah. Tidak setuju. Hanya diam. Mungkin lelah. Mungkin pasrah. Mungkin juga berharap, meski tidak mau mengaku.
Ayah merebus daun. Di dapur. Di api yang menyala. Di panci yang tersisa—panci yang sama untuk masak sayur, untuk rebus air, untuk sekarang rebus obat. Bau mengisi seluruh rumah. Bau aneh. Bau yang obat.
Mahesa minum. Pertama kali. Pahit. Sangat pahit. Lebih pahit dari obat puskesmas. Lebih pahit dari segala yang pernah ia rasakan.
Tapi ia minum semua. Tanpa sisa. Karena ayah yang mencari. Karena ayah yang merebus. Karena ayah yang berharap.
---
Malam itu, demam tidak kembali. Kaki masih besar. Masih mengilap. Masih salah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Rasa hangat yang menyebar. Bukan dari demam. Bukan dari kaki. Tapi dari dalam. Dari tempat yang lebih dalam. Dari hati.
Mahesa tidur. Sungguh-sungguh tidur. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Tidak menggigil. Tidak terbakar. Hanya tidur. Tenang. Damai.
Dan di dalam tidur, ada ayah. Yang memegang tangannya. Yang duduk di sebelah tikar. Yang tidak pergi. Tidak ke tambang. Tidak meninggalkan.
"Ibu pergi ke tetangga." Bisik ayah. Samar. Antara mimpi dan nyata. "Bima ikut. Ayah di sini. Denganmu."
Mahesa tidak menjawab. Tidak bisa. Tapi ia merasa. Merasa hangatnya tangan ayah. Merasa kehadiran. Merasa tidak sendirian.
---
Pagi keempat. Mahesa membuka mata. Langit abu-abu di jendela. Seperti biasa. Tapi hari ini terasa berbeda.
Kaki masih besar. Masih mengilap. Tapi demam tidak kembali. Dan ayah masih di samping. Tidak ke tambang. Tidak pergi.
"Bagaimana?" tanya ayah. Pertama kalinya dengan suara yang benar-benar khawatir. Dengan suara yang peduli. "Lebih baik?"
Mahesa mengangguk. "Lebih baik, Pak. Tidak panas."
Ayah tersenyum. Sejenak. Sebentar. Tapi tersenyum. Seperti matahari yang muncul setelah hujan lebat. Seperti yang langka. Seperti yang tidak pernah ia lihat dalam waktu lama.
Herbal dari dukun tidak menyembuhkan. Tidak membuat kaki kembali normal. Tidak menghilangkan pembengkakan. Mahesa tahu itu. Tahu dengan pasti.
Tapi herbal itu memberikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berharga dari obat.
Harapan.
Dan kehadiran. Ayah yang di samping. Yang tidak pergi. Yang memilih untuk tinggal, meski hanya sehari.
---
Siang itu, ayah harus kembali ke tambang. Tidak bisa lebih lama. Tidak kerja, tidak makan. Kalimat itu kembali.
Tapi sebelum pergi, ayah duduk di samping Mahesa. Lama. Diam. Hanya menatap.
"Pak," Mahesa berkata. Suara masih lemah. Tapi cukup.
"Iya, Mas?"
"Makasih... sudah cari obat."
Ayah mengangguk. Lalu meraih tangan Mahesa. Memegang erat.
"Kamu anak ayah. Ayah akan cari apa pun buat kamu. Jangan menyerah."
Jangan menyerah. Kata-kata yang sering ia dengar. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dari ayah. Kali ini dengan genggaman tangan. Kali ini dengan mata yang berkaca.
Ayah pergi. Langkah berat. Meninggalkan Mahesa di tikar. Di pojok.
Tapi kali ini, ia tidak merasa ditinggal. Tidak sepenuhnya.
Karena ayah sudah membuktikan. Ayah mencari. Ayah tidak menyerah. Ayah... ada.
---
Sore harinya, ibu pulang dari tetangga dengan Bima. Melihat Mahesa sudah duduk. Matanya membelalak.
"Sudah baikan?" tanya ibu. Suara ada nada yang berbeda. Mungkin lega. Mungkin kaget. Mungkin...
"Iya, Bu. Obat dari ayah manjur."
Ibu mendekat. Melihat kaki Mahesa. Yang masih besar. Masih mengilap. Tapi tidak demam.
"Kakinya masih besar," ibu berkata. Seperti mengecek. Seperti memastikan.
"Iya, Bu. Tapi tidak panas. Tidak sakit."
Ibu mengangguk. Lalu, tanpa diduga, ia duduk di samping Mahesa. Di lantai. Di tikar yang sama. Di pojok yang sama.
"Makan," katanya. Menyodorkan piring. Nasi dengan sayur. Sedikit lauk. "Kamu harus makan biar kuat."
Mahesa menerima. Makan perlahan. Ibu masih di samping. Tidak pergi. Tidak sibuk dengan Bima. Hanya duduk.
Bima datang. Ingin merebut perhatian. "Bu! Aku mau main!"
"Sebentar, sayang." Ibu menatap Bima. Lalu kembali ke Mahesa. "Kakak lagi makan."
Bima cemberut. Tapi tidak menangis. Hanya berdiri, menunggu.
Mahesa melihat itu. Melihat ibu yang memilih untuk tinggal sebentar. Untuknya. Bukan untuk Bima.
Sederhana. Tapi cukup.
---
Malam turun. Mahesa berbaring. Kaki kanan masih berat. Masih besar. Tapi demam tidak kembali.
Ia memikirkan herbal pahit dari ayah. Memikirkan ibu yang duduk di sampingnya saat makan. Memikirkan Bima yang menunggu.
Keluarga. Rumit. Tidak sempurna. Tapi keluarga.
Besok, ia harus minum herbal lagi. Pahit. Tapi tidak apa-apa. Karena ayah yang merebus. Karena ayah yang percaya.
Kakinya mungkin tidak akan pernah normal. Ia tahu itu sekarang. Tapi setidaknya, tidak tambah besar. Setidaknya, masih bisa jalan. Setidaknya, masih bisa melihat besok.
Ia memegang kaki kanannya. Merasakan hangat yang tersisa. Bukan dari demam. Tapi dari... hidup. Dari perjuangan. Dari tidak menyerah.
Di luar, jangkrik bernyanyi. Bulan bersinar samar. Dunia berputar seperti biasa.
Dan Mahesa, di pojoknya, tersenyum kecil.
Karena hari ini, ia selamat. Hari ini, ayah pulang dengan harapan. Hari ini, ibu duduk di sampingnya.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk besok yang tidak pasti. Itu cukup.
Mahesa menutup mata. Tidur. Dengan senyum yang masih tersisa. Dengan keyakinan kecil bahwa ia tidak sendirian.
Karena di dapur, rebusan herbal masih tersisa untuk esok. Dan di luar sana, ayah akan pulang lagi. Mencari lagi. Berjuang lagi.
Untuknya.
---