NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Tirai

Laras melangkah menyusuri lorong apartemennya dengan perasaan yang masih tertinggal di lantai atas—di tempat tidur Elang. Jubah mandi yang tadi ia kenakan sudah berganti dengan pakaian santai yang dipinjamkan staf Elang, namun aroma kayu cendana dan wiski tipis seolah masih melekat di pori-pori kulitnya. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia membawa beban rahasia yang terlalu besar untuk pundaknya yang kecil.

Saat pintu unit apartemennya terbuka, suara riuh televisi dan aroma mi instan menyambutnya. Maya sedang duduk di sofa, tangannya sibuk mengoleskan masker wajah, namun matanya langsung beralih tajam saat melihat Laras masuk.

"Astaga, Laras Maheswari! Kamu dari mana saja semalam?" seru Maya, suaranya naik satu oktaf. Ia segera berdiri, mengabaikan masker di wajahnya yang mulai mengering. "Aku hampir lapor polisi kalau bukan karena penjaga di depan bilang kamu 'sedang bersama Tuan'. Tapi sepagi ini? Dengan baju yang berbeda?"

Laras tersentak. Ia berusaha menghindari tatapan selidik Maya dengan berjalan menuju dapur, berpura-pura mencari air minum. "Aku... aku hanya mengobrol dengan Tuan Elang di unitnya, May. Pembicaraan soal yayasan jadi sangat lama, lalu aku ketiduran di sofanya."

Maya menyipitkan mata. Ia sudah mengenal Laras sejak mereka masih berbagi satu bantal di kos-kosan kumuh. Ia tahu kapan sahabatnya itu berkata jujur dan kapan ia sedang menyembunyikan badai. "Ketiduran di sofa? Ras, bibirmu sedikit bengkak. Dan tatapan matamu itu... kamu tidak bisa berbohong padaku. Apa yang dia lakukan padamu?"

Laras tertegun, tangannya yang memegang gelas bergetar sedikit. "Dia tidak melakukan apa pun yang merusakku, May. Dia... dia hanya menunjukkan siapa dia sebenarnya."

Maya menghela napas panjang, ia kembali duduk namun matanya masih menatap Laras dengan cemas. "Hati-hati, Ras. Elang Dirgantara itu bukan pria sembarangan. Dia bisa memberimu dunia malam ini, tapi dia juga bisa mengurungmu di dalamnya selamanya. Ingat tujuan kita di sini: karirmu, uang untuk masa depan kita, bukan untuk menjadi koleksi pribadi konglomerat posesif."

Laras terdiam, ia menunduk menatap air di dalam gelasnya. Kata-kata Maya tentang "koleksi pribadi" menghantamnya tepat di ulu hati. Memang itulah yang Elang katakan semalam, bukan? Bahwa ia adalah berlian yang harus disimpan di brankas.

"Oh ya, hampir lupa karena aku terlalu panik mencarimu," Maya tiba-tiba menepuk jidatnya. "Ingat kontrak video klip dengan grup band The Rebels yang kita tanda tangani dua minggu lalu? Sebelum yayasan ini datang?"

Laras membeku. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak. "Video klip?"

"Iya! Yang syutingnya di studio tua daerah Jakarta Utara. Lagunya tentang kerinduan, dan mereka mau tarian kontemporer tradisionalmu sebagai nyawa di video itu. Bayarannya sudah masuk DP separuh, Ras."

Laras terdiam. Ia bengong. Pikirannya melayang pada dokumen kontrak tebal dari Nusantara Arts Foundation milik Elang. Di sana tertulis jelas dalam huruf kapital yang dicetak tebal: KONTRAK EKSKLUSIF. PIHAK KEDUA TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGAMBIL PEKERJAAN SENI DI LUAR YAYASAN TANPA IZIN TERTULIS DARI PIHAK PERTAMA.

Laras membayangkan wajah Elang. Wajah pria yang semalam menghapus semua jarak di antara mereka. Pria yang pagi ini mengecup keningnya dengan lembut namun posesif. Jika Elang tahu ia menari untuk orang lain—apalagi untuk grup band pria di studio luar—Elang mungkin akan meledak.

"Laras? Ras! Hei!" Maya melambaikan tangan di depan wajah Laras.

Laras tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. "Ah, iya, May? Maaf."

"Kamu kenapa sih? Bengong terus sejak masuk. Aku sedang bicara soal jadwal syuting besok malam. Kita harus berangkat jam tujuh malam."

"May... sepertinya kita tidak bisa," bisik Laras lirih. Suaranya mengandung ketakutan yang nyata. "Kontrak dengan yayasan itu eksklusif. Tuan Elang... dia sangat ketat soal ini. Dia melarangku berhubungan dengan pihak luar, apalagi mengambil pekerjaan lain."

Maya mendengus kesal. "Eksklusif bukan berarti kamu jadi budaknya, Ras! Ini pekerjaan profesional yang sudah kita sepakati lebih dulu sebelum dia datang dengan semua kemewahan ini. Kita punya kewajiban moral dan hukum di kontrak itu juga."

"Tapi kamu tidak tahu bagaimana dia, May," Laras berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Dia mengawasiku. Selalu. Dia tahu setiap langkahku. Syuting itu akan memakan waktu semalaman, bagaimana aku menjelaskan padanya kalau aku tidak ada di apartemen?"

Maya terdiam sejenak, otaknya yang terbiasa hidup keras di jalanan mulai mencari celah. Ia menatap Laras yang tampak begitu rapuh dan tertekan. Ketulusan Laras adalah kelemahannya, dan Maya tahu ia harus menjadi sisi yang lebih berani.

"Dengar, Ras," Maya mendekat dan memegang kedua bahu Laras. "Pekerjaan ini hanya sekali. Hanya satu malam. Setelah itu selesai. Kita butuh uang itu untuk benar-benar lepas dari beban masa lalu keluargamu. Kamu ingin bebas, bukan? Kamu tidak mau selamanya bergantung pada belas kasihan Elang, kan?"

Laras menatap Maya dengan ragu. "Tapi bagaimana caranya?"

"Kita lakukan diam-diam. Underground," bisik Maya dengan mata berbinar. "Besok malam, Tuan Elang ada pertemuan rutin dengan dewan komisaris di Singapura, aku dengar dari asistennya tadi di lobi. Dia tidak akan ada di gedung seberang untuk mengintaimu dengan teropong gilanya itu."

Laras terkesiap. Informasi itu seperti setitik cahaya di lorong gelap. "Singapura? Kamu yakin?"

"Seratus persen yakin. Kita bisa keluar lewat jalur kargo seperti kemarin. Aku akan bilang pada penjaga kalau kamu sedang tidak enak badan dan ingin tidur awal, tidak mau diganggu siapapun. Aku akan memutar musik di kamar ini supaya terdengar ada kehidupan di dalam."

Laras menatap jemari kakinya. Jiwa senimannya meronta. Ia sangat ingin menari untuk lagu itu, lagu yang menurutnya sangat indah dan puitis. Namun, rasa bersalah karena membohongi Elang mulai menggerogoti hatinya. Semalam ia telah menyerahkan kepingan hatinya pada pria itu, dan sekarang ia berencana untuk mengkhianati aturannya.

"Ini demi kebaikanmu juga, Ras. Kamu harus punya 'tabungan rahasia'. Kita tidak pernah tahu kapan Elang akan bosan padamu dan melempar kita kembali ke jalanan. Kita harus punya pijakan sendiri," desak Maya lagi.

Laras menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ketulusannya sedang berperang dengan kenyataan hidup yang pahit. "Hanya satu malam, May? Setelah itu tidak ada lagi rahasia?"

"Janji. Hanya satu malam. Mereka tidak akan tahu. Elang Dirgantara mungkin punya mata di mana-mana, tapi dia bukan Tuhan. Dia tidak bisa melihat apa yang tidak kita tunjukkan."

Laras akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Kita lakukan. Tapi May... jika terjadi sesuatu, jika dia tahu..."

"Dia tidak akan tahu, Sayang. Percayalah padaku," Maya memeluk Laras dengan erat, mencoba memberikan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun ragu apakah cukup untuk menghadapi amarah seorang Elang.

*

Sisa hari itu dilewati Laras dengan kegelisahan yang memuncak. Ia pergi ke studio latihan yayasan seperti biasa, mencoba bersikap normal di bawah pengawasan instruktur kiriman Elang. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya seolah melompat keluar.

Sebuah pesan singkat masuk dari Elang di sore hari:

"Aku harus ke Singapura malam ini. Jaga dirimu. Jangan keluar apartemen tanpa seizinku. Aku akan mengirimkan makan malam favoritmu lewat pelayan."

Laras membalasnya dengan tangan gemetar:

"Baik, Tuan. Semoga perjalanannya lancar."

Laras merasa seperti seorang kriminal. Ia merasa sangat berdosa membohongi pria yang semalam baru saja membagikan napas dengannya. Namun, bayangan hutang ayahnya dan keinginan untuk tidak menjadi "barang pajangan" sepenuhnya membuat Laras mengeraskan hati.

Malam pun tiba. Sesuai rencana Maya, mereka berhasil menyelinap keluar setelah makanan kiriman Elang tiba. Laras mengenakan jaket hoodie besar dan topi untuk menutupi wajahnya yang terlalu cantik jika dikenali di jalanan.

Saat mereka masuk ke dalam taksi menuju Jakarta Utara, Laras menatap gedung apartemennya yang menjulang tinggi. Jendela unit Elang tampak gelap. Pria itu sudah pergi. Namun, Laras tidak merasa lega. Ada firasat buruk yang terus menghantui pikirannya. Ia merasa seolah-olah mata elang itu tidak pernah benar-benar tertutup, bahkan saat pria itu berada ribuan mil jauhnya.

"Jangan tegang begitu, Ras. Kamu itu penari, wajahmu harus bisa bercerita, bukan terlihat seperti mau dihukum mati," canda Maya mencoba mencairkan suasana.

Laras hanya bisa tersenyum pahit. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di dalam jet pribadinya menuju Singapura, Elang sedang membuka tabletnya. Layar itu menunjukkan sensor GPS yang tertanam diam-diam di dalam sol sepatu latihan yang baru saja diberikan Elang kepada Laras—sepatu yang saat ini sedang dipakai Laras menuju studio video klip.

Mata Elang menyipit saat melihat titik merah di layarnya bergerak keluar dari koordinat apartemen, menuju ke arah utara, ke sebuah gudang tua di pinggiran kota.

"Jadi, bidadariku sedang mencoba belajar berbohong?" gumam Elang, suaranya dingin sebeku es di dalam gelas wiskinya. Ia tidak marah, setidaknya belum. Ia hanya merasa... terhibur sekaligus kecewa.

Elang mematikan tabletnya, lalu menoleh pada asistennya. "Putar balik pesawatnya. Kita tidak jadi ke Singapura."

"Tapi Tuan, pertemuan dengan komisaris—"

"Batalkan," potong Elang dengan nada yang tak terbantahkan. "Ada mangsa kecil yang harus aku tangkap sebelum dia merasa terlalu bebas."

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!