NovelToon NovelToon
Di Balik Tubuh Wanita Bodoh, Ada Jiwa Seorang Ratu

Di Balik Tubuh Wanita Bodoh, Ada Jiwa Seorang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Dalam kehidupan sebelumnya, Vanylla Anderson adalah legenda di dunia teknologi. Ia seorang jenius yang berdiri di puncak, ditakuti sekaligus dihormati oleh banyak orang.

Namun ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis yang dianggap tidak berguna.

Namanya Vanylla Kennedy. Putri keluarga konglomerat yang dikenal bodoh, malas belajar, dan sering menjadi bahan ejekan di kalangan keluarga kaya.

Lebih buruk lagi, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Vanylla Kennedy ternyata bukan anak kandung keluarga Kennedy. Bayi yang tertukar delapan belas tahun lalu akhirnya ditemukan.

Putri asli keluarga itu, Emilly, kembali dengan kecantikan, kecerdasan, dan reputasi yang sempurna.

Sementara Vanylla hanya dianggap sebagai putri pengganti palsu yang memalukan. Ia dihina, diusir, dan dibuang dari keluarga yang dulu ia sebut rumah.

Namun sayangnya. Gadis yang mereka hina itu bukan lagi Vanylla yang dulu.

Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Besar Damascus

Secara berturut-turut keluar Besar.

Sekarang justru harus memilih Kecil?

Apa anak kurang ajar ini sedang mempermainkannya?

Ini tiga puluh dolar terakhir yang Easton miliki.

“Sudah sepuluh kali Besar! Putaran ini pasti Besar!” teriak orang-orang di sekitarnya.

“Pilih Besar, Daddy Easton! Kali ini pasti Besar! Lihat saja, berapa kali kamu sudah kalah? Ikuti aku saja!”

“Benar! Besar!”

“Pasti Besar!”

Namun tiba-tiba uang di tangan Easton ditarik seseorang.

Suara Vanylla terdengar pelan. “Aku Pilih Kecil. Taruh di angka tiga, satu, empat.”

Easton langsung marah. “Kamu sengaja bikin masalah ya? Siapa yang suruh kamu pilih Kecil?”

Namun Vanylla tetap tenang. Dia tidak menjawab ataupun menjelaskan.

Orang di sebelah langsung mengejek.

“Daddy Easton! Tua bangka! Nanti kamu kalah sampai celana pun nggak tersisa!”

“Itu taruhan nggak dihitung! Bukan aku yang pilih! Aku mau pilih Besar!”

Bandar menekan tangan Easton.

“Taruhan sudah dipasang, tarik tanganmu. Jangan melanggar aturan.”

Easton hanya bisa menarik tangannya dengan kesal.

Dia menatap Vanylla dengan tajam. “Kalau aku kalah, kamu mati!”

Bandar membuka kotak dadu. “Angka tiga, satu, empat. Kecil!”

Ekspresi Easton yang tadi kaku langsung berubah hidup.

“Sial!”

“Benar-benar Kecil?”

Dia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kita menang, Paman, yeyyyy,” kata Vanylla santai.

Menang.

Dia benar-benar menang.

“Sial! Benar-benar Kecil!”

Orang-orang di sekitar langsung mengeluh kecewa.

“Aku menang! Aku menang!” Easton tertawa keras. Dia menarik tangan Vanylla dengan penuh semangat.

“Sekarang pilih apa?” Kali ini dia benar-benar percaya pada Vanylla.

Vanylla tersenyum tipis.

“Kecil. Tiga, satu, empat.”

“Baik!”

Setelah menang beberapa putaran berturut-turut, Easton tersenyum sampai matanya hampir tidak terlihat.

Sudah lama sekali dia tidak menang sebanyak ini.

Rasanya luar biasa.

Semua itu diperhatikan oleh seseorang yang berdiri di lantai dua rumah judi. Pria itu berdiri di dekat pagar pembatas.

Di bawah lampu kuning redup, wajahnya terlihat dingin dan tenang. Tangannya yang ramping bertumpu di pagar. Jari-jarinya panjang dan bersih.

Di tangannya tergenggam tasbih berwarna merah darah yang kontras dengan kulitnya yang pucat.

Tangannya begitu indah hingga membuat orang sulit berpaling. Seorang pria muda berdiri di sampingnya dan menatap ke bawah.

“Sial. Ini luar biasa! Dia seperti bisa meramal!”

Dia tidak menyangka seorang wanita bisa begitu hebat berjudi.

“Kamu nggak kenal dia?” tanya pria itu.

“Bro, kamu kenal dia?” Jay Brandon menatap ke bawah dengan lebih teliti.

Di bawah lampu terang, wajah gadis itu terlihat putih seperti porselen dengan cahaya lembut. Cantiknya bersih dan menawan.

Kerumunan orang di sekitarnya hanya menjadi latar belakang yang membuatnya semakin menonjol.

Jika Emilly disebut cantik, maka wanita di bawah sana seperti dewi dari langit.

Sangat indah.

Sangat memikat.

Namun di saat yang sama memancarkan dingin seperti musim dingin. Jika Emilly berdiri di depannya, mungkin bayangannya pun tidak akan terlihat.

Jay Brandon benar-benar terkejut.

“Dia Vanylla,” kata pria itu.

“Vanylla?” Jay Brandon tertegun. “Putri palsu keluarga Kennedy itu? Vanylla Kennedy?”

Pria itu mengangguk ringan.

“Sial!”

Jay Brandon menatap gadis di bawah dengan tak percaya.

Dia hampir merasa matanya salah lihat.

Bagaimana mungkin gadis dengan riasan tebal yang terlihat biasa saja di pesta keluarga Kennedy tadi berubah menjadi orang seperti ini?

Setelah sedikit tenang, Jay Brandon menyipitkan mata.

“Bro... jangan-jangan dia sengaja menarik perhatianmu?”

Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang gadis muda bisa berjudi sehebat itu?

Apalagi Vanylla dikenal sebagai anak tidak berguna.

Jay Brandon memang sudah memiliki kesan buruk terhadap Vanylla.

Dia melanjutkan, “Dari kejadian di keluarga Kennedy sampai sekarang, semuanya terasa seperti dia benar-benar berubah jadi orang lain. Dan kebetulan sekali dia muncul di dua tempat yang kita datangi malam ini. Siapa yang percaya kalau ini bukan disengaja?”

“Dia mungkin sedang memainkan taktik tarik-ulur supaya menarik perhatianmu.”

“Pergi,” kata pria itu singkat.

Dia berbalik sambil memainkan tasbih di tangannya. Jay Brandon langsung mengikutinya.

Pria yang berjalan di depan bernama Waats Damascus.

Keluarga Damascus berasal dari Newyork. Namun dua puluh lima tahun lalu mereka pindah ke Alaska.

Dua puluh tahun lalu, kepala keluarga Damascus, Dorian Damascus, meninggal karena sakit.

Saat itu Waats baru berusia delapan belas tahun. Dia memikul seluruh tanggung jawab keluarga.

Dengan kemampuan bisnis yang luar biasa, dia membangun kekuatan keluarga Damascus hingga menjadi keluarga paling berpengaruh di Amerika.

Bahkan para tokoh besar di Alaska memanggilnya dengan hormat.

Tuan Besar Damascus.

Sekarang usianya belum genap tiga puluh tahun. Namun statusnya sudah berada di puncak piramida kekuasaan. Meski begitu, Waats Damascus adalah orang yang dingin dan aneh.

Dia tidak tertarik pada wanita cantik. Sebaliknya, dia lebih suka menghabiskan waktu di kuil. Nyonya Besar Damascus khawatir cucunya tiba-tiba menjadi biksu.

Karena itu dia mengancam bunuh diri agar Waats Damascus kembali ke Newyork dan menikahi putri Kel. Kennedy .

Pertunangan Waats Damascus dengan putri keluarga Kennedy sudah ditetapkan sejak kecil.

Karena keluarga Damascus sudah lama tinggal di Alaska, hubungan dua keluarga itu sebenarnya sudah jarang. Kepulangan keluarga Damascus ke Newyork kali ini dilakukan dengan sangat diam-diam.

Sementara itu, perjudian di lantai bawah masih berlangsung.

“Keponakan, sekarang pilih apa?” tanya Easton tanpa sadar.

Dia bahkan sudah mulai memanggil Vanylla keponakan. Keponakannya benar-benar hebat.

“Sudah cukup untuk malam ini. Kita pulang saja,” kata Vanylla.

Menang terlalu banyak di tempat seperti ini bukan hal yang baik. Easton sebenarnya masih sangat bersemangat.

Namun ketika melihat Vanylla sudah berbalik pergi, dia langsung mengejarnya.

“Tunggu aku, keponakan!”

Namun baru saja mereka keluar dari rumah judi, beberapa pria langsung menghadang jalan Vanylla.

Seorang pria paruh baya yang tampak kasar tersenyum licik.

“Halo cantik. Om Masimmo ingin ngajak kamu makan malam.”

Vanylla menatapnya dengan malas. Dia bahkan sudah bersiap sedikit meregangkan ototnya.

Namun tiba-tiba sebuah bayangan berlari ke depan. Tendangan keras langsung mengenai pemimpin kelompok itu.

Orang itu terjatuh.

Easton berdiri di depan Vanylla dengan tangan di pinggang. “Berani-beraninya kalian ganggu keponakan aku! Mau bangkrut bisnis kalian?”

Pria yang ditendang tadi menggertakkan gigi kesakitan. Dia hampir memaki.

Namun setelah melihat jelas wajah Easton, ekspresinya langsung berubah.

“Daddy Easton! Bukannya tadi di dalam kamu bilang nggak kenal dia? Kalau tahu dia keponakanmu, mana berani kami begini...”

Baru saja tadi dia bilang tidak kenal. Sekarang tiba-tiba jadi paman dan keponakan.

Memang benar.

Ucapan pria tidak bisa dipercaya.

Easton tetap berdiri dengan tangan di pinggang. “Sudah, jangan banyak omong! Ini keponakan aku, Vanylla! Cepat minta maaf sama dia!”

1
davina aston
👍👍👍👍👍👍👍👍
kaylla salsabella
lanjut
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Lyvia
semangat thor dtunggu upnya
Piw Piw: iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!