Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Darah Iblis
Hujan lebat di luar Paviliun Angin Musim Gugur seolah terhenti di udara. Tetesan-tetesan air membeku, lalu melesat mundur ke arah langit seiring dengan meledaknya sebuah kekuatan yang tak tertandingi.
Atap paviliun yang terbuat dari genteng tanah liat berlapis tembaga hancur berkeping-keping. Dari balik celah langit-langit yang runtuh, sesosok pria tua berjubah abu-abu keemasan melayang turun dengan perlahan, seolah-olah udara itu sendiri adalah anak tangga yang tak kasat mata.
Ia adalah Shen Cangqiu, Tetua Agung Keluarga Shen. Salah satu dari tiga orang terkuat di seluruh Kota Debu Merah, seorang penguasa mutlak yang telah memadatkan hawa murninya menjadi sebuah pusaran luas di dalam Dantian-nya—Ranah Pengumpulan Lautan Qi!
Begitu ujung kaki Shen Cangqiu menyentuh lantai pualam, sebuah gelombang kejut yang tak terlihat meledak ke segala penjuru.
Brak! Brak! Brak!
Pilar-pilar batu di dalam aula retak. Sisa-sisa meja perjamuan hancur menjadi serbuk kayu. Para pemuda keluarga cabang yang sebelumnya sudah ketakutan, kini memuntahkan darah segar dan pingsan di tempat; organ dalam mereka tak mampu menahan tekanan aura murni dari seorang ahli Lautan Qi.
Bagi pendekar biasa di Ranah Penempaan Raga, berdiri di hadapan ahli Ranah Pengumpulan Lautan Qi ibarat seekor semut yang menatap naga raksasa. Tekanan auranya saja sudah cukup untuk menghancurkan tulang-tulang mereka.
Namun, di tengah badai hawa murni yang mencekik itu, Shen Yuan tetap berdiri tegak.
Kaki kanannya masih menginjak dada Shen Tian yang terkapar tak berdaya. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuh Shen Yuan berdenyut ganas, memancarkan hawa panas kehitaman yang melawan tekanan dari Tetua Agung. Otot-otot punggungnya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas, berderit menahan beban ribuan kati yang tak kasat mata. Hidung dan sudut bibir Shen Yuan mulai meneteskan darah segar, namun sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun.
"Kakek... s-selamatkan aku... dia... dia menghancurkan nadiku..." rintih Shen Tian dengan suara yang lebih tipis dari jaring laba-laba. Wajahnya yang dulu angkuh kini basah oleh air mata dan keputusasaan.
Mendengar rintihan cucu kesayangannya, mata Shen Cangqiu memerah. Kemarahan yang mampu membakar lautan terpancar dari wajah keriputnya. Ia menatap Shen Yuan, dan keterkejutan melintas di matanya saat menyadari bahwa pemuda yang seharusnya menjadi sampah cacat ini tidak hancur oleh auranya.
"Anak haram... kau bersembunyi sangat dalam! Tidak hanya pembuluh nadimu yang pulih, tubuh fanamu bahkan mampu menahan auraku!" suara Shen Cangqiu bergema berat, setiap suku katanya mengandung kekuatan hawa murni yang menusuk telinga. "Tapi di hadapan kekuatan mutlak, semua siasat murahanmu sia-sia. Lepaskan cucuku, berlutut, dan potong kedua tangan serta kakimu. Jika kau melakukannya, aku akan membiarkanmu mati dengan utuh!"
Shen Yuan menyeka darah di sudut bibirnya dengan ibu jari. Alih-alih menurut, ia justru tertawa. Tawa itu perlahan mengeras, penuh dengan ejekan dan rasa muak yang tak tertahankan.
"Mati dengan utuh? Hahaha! Tetua Agung Shen Cangqiu, kau dan cucumu ini benar-benar terbuat dari cetakan kotoran yang sama," desis Shen Yuan sedingin es. "Saat cucumu merampas pusaka peninggalan ibuku dan menendangku ke Jurang Ratapan, di mana kau menyembunyikan keadilanmu? Sekarang, saat anjing peliharaanmu ini menggigit batu yang terlalu keras dan taringnya patah, kau muncul menuntut penghormatan?"
Shen Yuan menekan kakinya lebih keras di atas dada Shen Tian. Krek! Terdengar suara tulang rusuk yang retak. Shen Tian menjerit melengking bagai babi yang disembelih.
"Satu langkah lagi kau maju, Tetua Agung, dan aku akan memastikan kepala pewaris kubu kebanggaanmu ini meletus seperti semangka busuk di bawah kakiku!" ancam Shen Yuan. Suaranya tidak bergetar sedikit pun.
Wajah Shen Cangqiu berubah sangat kelabu. Sebagai Tetua Agung, tidak ada seorang pun di Kota Debu Merah yang berani mengancamnya dalam sepuluh tahun terakhir. Terlebih lagi ancaman itu datang dari seorang pemuda di Ranah Penempaan Raga!
"Kau mencari mati!" raung Shen Cangqiu.
Namun, ia benar-benar menghentikan langkahnya. Di balik kemarahannya, Shen Cangqiu adalah rubah tua yang licik. Ia bisa melihat ketegasan mutlak di mata Shen Yuan. Pemuda ini adalah serigala liar yang terpojok; ia tidak akan ragu untuk membunuh Shen Tian jika didesak.
Keheningan yang mematikan menyelimuti aula yang hancur itu. Hanya suara deru hujan dari atap yang bocor yang terdengar.
"Bocah! Jangan gegabah!" Suara Leluhur Darah tiba-tiba meledak di lautan kesadaran Shen Yuan dengan nada cemas. "Rubah tua itu sedang memusatkan hawa murni Lautan Qi-nya ke ujung jarinya! Dia berniat menggunakan teknik tanpa bayangan untuk melubangi kepalamu sebelum kau sempat menginjak cucunya! Perbedaan ranah kalian terlalu besar, kau tidak akan bisa menghindari serangannya dengan cara biasa!"
Mata Shen Yuan menyipit. Benar saja, ia merasakan hawa dingin yang mematikan berkumpul di lengan kanan Shen Cangqiu yang tertutup jubah.
"Aku butuh cara untuk keluar dari sini, Leluhur," balas Shen Yuan dalam batinnya. "Gunakan warisanmu!"
"Gila! Menghadapi ahli Lautan Qi saat kau baru di Penempaan Raga... kau benar-benar iblis gila! Baik! Bakar sepuluh tetes intisari darahmu! Gunakan 'Jurus Pelarian Darah Iblis'! Teknik ini akan meminjam esensi darahmu untuk meledakkan kecepatan setara dengan pendekar Ranah Pembukaan Nadi Puncak selama tiga tarikan napas!"
Tanpa ragu sedetik pun, Shen Yuan menggigit ujung lidahnya dan memutar Sutra Penelan Surga secara terbalik. Sepuluh tetes intisari darah yang baru saja ia kumpulkan dari Pembersihan Sumsum terbakar hebat di dalam Dantian-nya. Rasa sakit yang mengerikan, seolah tubuhnya dilemparkan ke dalam kuali mendidih, meledak di sekujur urat nadinya.
Tepat pada detik yang sama, Shen Cangqiu melepaskan serangannya.
"Jarum Pembelah Jiwa!"
Sebuah jarum hawa murni yang tembus pandang melesat dari ujung jari Shen Cangqiu dengan kecepatan kilat, menembus udara tanpa suara, membidik langsung ke tengah alis Shen Yuan.
Namun, naluri bertarung Shen Yuan yang didorong oleh pembakaran darah iblis telah membacanya. Alih-alih menghindar ke samping, ia menendang tubuh Shen Tian dengan kekuatan ribuan kati dari Lapisan Keempatnya, melontarkan cucu kesayangan Tetua Agung itu tepat ke arah lintasan Jarum Pembelah Jiwa!
"Tian'er!" teriak Shen Cangqiu dengan panik.
Jarum hawa murni itu melesat terlalu cepat. Jika mengenai tubuh Shen Tian yang kini sudah tidak memiliki pelindung hawa murni, anak itu pasti akan mati seketika. Terpaksa, Shen Cangqiu menghentakkan kakinya dan melesat ke depan, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menangkap Shen Tian dan memaksakan hawa murninya untuk membelokkan arah jarum mematikan tersebut.
Duar!
Jarum itu meleset, menghancurkan salah satu pilar utama aula hingga berkeping-keping.
Tepat saat Shen Cangqiu disibukkan oleh penyelamatan cucunya, tubuh Shen Yuan telah diselimuti oleh kabut darah yang sangat pekat.
"Jurus Pelarian Darah Iblis!"
Wusshhh!
Lantai pualam tempat Shen Yuan berdiri retak dan amblas. Dalam sekejap mata, tubuhnya melesat menembus sisa-sisa daun pintu, membelah tirai hujan lebat di luar paviliun dengan kecepatan bayangan merah yang nyaris tidak bisa ditangkap oleh mata. Ia melompati tembok kediaman Keluarga Shen setinggi tiga tombak hanya dalam satu tarikan napas, dan lenyap ditelan oleh gelapnya malam Kota Debu Merah.
Di dalam Paviliun Angin Musim Gugur, Shen Cangqiu berhasil menangkap tubuh Shen Tian. Ia segera mengalirkan hawa murninya untuk memeriksa kondisi cucunya, namun seketika itu juga, wajahnya berubah menjadi topeng keputusasaan dan amarah yang tak terkendali.
"Hancur... semua pembuluh nadinya telah menjadi abu. Dantian-nya retak tak tersisa..." gumam Shen Cangqiu dengan bibir bergetar. Harapan terbesar kubunya, cucu yang ia persiapkan untuk memimpin Keluarga Shen, kini benar-benar telah menjadi orang cacat yang bahkan lebih rendah dari manusia biasa.
Shen Cangqiu mendongak ke arah tembok luar tempat Shen Yuan menghilang. Matanya memerah darah, rambut abu-abunya berkibar liar menentang angin.
"SHEN YUAN!"
Raungan Tetua Agung menggelegar ke seluruh penjuru Kota Debu Merah, menembus deru badai petir.
"Pasukan Bayangan Darah! Kumpulkan seluruh pendekar pilihan keluarga! Kunci setiap gerbang kota! Aku menginginkan kepala anak haram itu sebelum matahari terbit! Siapapun yang berhasil membawa mayatnya kepadaku, akan kuberi hadiah seribu keping emas dan posisi Tetua Luar!"
Malam itu, seluruh kediaman Keluarga Shen terbangun. Lentera-lentera dinyalakan. Ratusan pendekar bergegas menembus hujan, membawa pedang dan tombak, memulai perburuan mematikan terhadap satu orang pemuda.
Sementara itu, di sebuah gang gelap yang kumuh di pinggiran kota, sesosok tubuh berlumuran darah jatuh terhuyung menabrak dinding bata.
Shen Yuan terbatuk hebat, memuntahkan segumpal darah hitam. Harga dari membakar intisari darah dengan Jurus Pelarian Darah Iblis membuat wajahnya sepucat kertas, dan hawa murni di dalam tubuhnya hampir sepenuhnya kosong.
Ia menoleh ke arah kediaman Keluarga Shen yang kini dipenuhi oleh lautan obor yang bergerak seperti semut yang mengamuk.
"Menjual nyawa demi membalas setengah hutang... sepadan," bisik Shen Yuan di tengah napasnya yang tersengal. Senyum buas terukir di wajahnya yang basah oleh hujan. "Tetua Agung, simpan lehermu baik-baik. Saat aku menembus Ranah Pembukaan Nadi, aku akan kembali untuk meratakan seluruh kubumu dengan tanah!"
Menyeret langkahnya yang berat, pemuda itu perlahan menghilang ke arah Pegunungan Kabut Beracun, meninggalkan kehidupan fananya, dan secara resmi melangkah ke dunia persilatan yang kejam sebagai seorang buronan.