Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Sinar matahari pagi yang semakin terang memaksa Valerie untuk membuka matanya. Ia mengerjapkan netranya, menyesuaikan diri dengan kemewahan kamar utama yang kini terasa begitu sunyi.
Valerie segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun sosok Damian sudah tidak ada di sampingnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa kancing kemeja piyamanya. Setelah memastikan semuanya masih tertutup rapat dan rapi, ia menghela napas panjang.
"Ternyata dia tidak sebrengsek yang kukira," batin Valerie, merasa lega karena ketakutannya semalam tidak menjadi kenyataan.
Namun, ketenangan itu terusik oleh rasa mulas yang tiba-tiba menyerang. Tanpa membuang waktu, Valerie segera bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi luas di sudut kamar tersebut.
Dalam pikirannya, ini adalah situasi darurat; persetan kalau itu adalah ruang privasi Damian, yang penting hajatnya tertuntaskan.
Valerie memutar knop pintu tanpa mengetuk lebih dulu, yakin bahwa tidak ada orang di dalam karena suasana kamar mandi yang begitu sepi.
Setelah merasa lega telah menuntaskan urusannya, ia mencuci tangan di wastafel marmer yang mewah. Saat itulah pendengarannya menangkap suara gemericik air yang samar dari balik dinding kaca tebal di area shower.
"Astaga, Damian pasti lupa mematikan kerannya", pikir Valerie.
Berniat untuk membantu mematikannya, Valerie melangkah mendekat dan menggeser pintu kaca buram tersebut. Namun, sedetik kemudian, dunianya seolah berhenti berputar.
Valerie membeku di ambang pintu, matanya membelalak sempurna. Di hadapannya, Damian sedang berdiri membelakanginya di bawah guyuran air shower.
Tubuh kekarnya yang atletis dipenuhi busa sabun putih, memperlihatkan lekuk otot punggung dan bahu yang kokoh. Air yang mengalir membasahi kulit terangnya, menciptakan pemandangan yang begitu intim sekaligus mengejutkan bagi Valerie.
Lidahnya kelu, kakinya seolah tertanam di lantai, dan jantungnya berdegup kencang hingga ia lupa cara untuk sekadar memalingkan wajah atau menutup kembali pintu kaca itu.
Valerie memekik tertahan, tangannya refleks menutupi mulut agar suara teriakannya tidak pecah. Ia mengumpat habis-habisan dalam hati, merutuki rasa penasaran yang justru membawanya ke situasi gila ini.
Namun, sisi kecil di kepalanya tidak bisa menolak fakta bahwa tubuh telanjang Damian terlihat begitu erotis—otot-otot yang terbentuk sempurna di bawah guyuran air dan busa sabun.
Jantungnya terasa mau melompat keluar; ini pertama kalinya ia melihat seorang pria dewasa dalam keadaan bugil secara nyata tepat di depan matanya.
Karena instingnya yang sangat peka terhadap kehadiran orang lain, Damian menyadari ada seseorang di belakangnya.
Tanpa merasa canggung sedikit pun, ia dengan santai membalikkan tubuhnya yang tegap, membiarkan air menyapu busa dari dada bidangnya.
"Jangan berbalik! Tutupi tubuhmu dengan handuk!" teriak Valerie gelagapan sambil langsung menutup matanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.
Damian tidak peduli. Ia justru menyeringai, membiarkan butiran air mengalir di perutnya yang six-pack. "Bukankah kau yang sedang mengintipku mandi, Penipu Kecil? Kenapa sekarang kau yang merasa malu?" tanyanya dengan nada suara yang bergetar karena tawa kecil yang mengejek.
Wajah Valerie merona hebat, panasnya hingga ke telinga. Ia merasa sangat bodoh dan malu dengan situasi ini. "Aku... aku tidak sengaja masuk! Aku tidak tahu kalau kau sedang mandi!" sahutnya gagap, masih tidak berani membuka mata sedikit pun.
"Apa kau juga ingin mandi sekarang?" tanya Damian, suaranya terdengar lebih dekat.
"Iya... eh, tidak! Aku tidak mau mandi di sini!" seru Valerie panik. Ia segera memutar tubuhnya, berniat lari sekencang mungkin keluar dari kamar mandi itu dengan mata yang masih tertutup rapat agar tidak melihat bayangan "benda terlarang" tadi.
Namun, Valerie tidak menyadari bahwa Damian sudah melangkah keluar dari bawah shower dan mendekat ke arahnya. Baru saja Valerie melangkah untuk pergi, sebuah tangan yang basah dan kuat menarik lengannya dengan sentakan yang tegas.
"Kau sudah berani masuk ke wilayahku, Valerie. Jadi kau tidak boleh pergi begitu saja," bisik Damian dengan suara rendah yang menggetarkan tepat di telinga Valerie.
Tubuh hangat pria itu terasa sangat dekat di punggung Valerie. "Mandilah bersamaku. Anggap saja ini bagian dari kepatuhanmu."
Valerie terperanjat, matanya seketika membelalak lebar. "A-apa?! Mandi bersama? Kau sudah gila! Aku tidak mau! Lepasin nggak!" serunya sambil mulai berontak.
Ia mencoba menyentakkan tangannya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman Damian, namun tenaga pria itu terlalu kuat, seolah pergelangan tangan Valerie hanyalah ranting kecil di dalam genggaman besi.
Damian justru semakin mendekat, memangkas jarak hingga Valerie bisa merasakan uap hangat dari tubuh basah pria itu. Ia berbisik tepat di telinga Valerie, sebuah bisikan rendah yang seketika membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Jangan lupakan janjimu, Valerie. Patuhi aku, atau kau ingin pacarmu tahu betapa intimnya posisi kita saat ini di dalam kamar mandi?" ancam Damian dengan nada tenang yang mematikan.
Valerie meradang, namun ia seketika terdiam. Amarahnya tertahan oleh ancaman yang menjadi kelemahannya. Saat ia menunduk karena merasa frustrasi, matanya secara tidak sengaja terpaku pada "sesuatu" yang berada di antara pangkal paha Damian.
Detik itu juga, wajahnya memerah padam, lebih merah dari sebelumnya. "Astaga, aku bisa gila kalau lama-lama di sini! rutuknya dalam hati, merasa otaknya nyaris meledak.
Damian sendiri bersikap sangat biasa saja. Ia memamerkan tubuh telanjangnya tanpa canggung sedikit pun, seolah pemandangan itu adalah hal yang lumrah, sama sekali tidak peduli pada Valerie yang sudah seperti kepiting rebus menahan rasa canggunggnya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Damian santai, satu tangannya masih mengunci pergelangan tangan Valerie. "Mau mandi di sini, atau..aku akan menghubungi pacarmu itu?"
Valerie memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain menurut dan mengiyakan permintaan konyol sekaligus memalukan ini.
Setelah dipikir-pikir dengan sisa logikanya, ini memang bukan sepenuhnya salah Damian. Kebodohannya sendirilah yang seenaknya masuk ke wilayah privasi pria itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Baik! Baik, aku akan mandi!" ketus Valerie dengan suara bergetar, menyerah pada situasi yang benar-benar di luar kendalinya.