Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Pagi itu datang dengan cara yang pelan, tapi pasti.
Langit masih menyisakan sisa-sisa mendung dari hujan semalam, seolah belum benar-benar rela melepas jejaknya. Jalanan yang biasanya ramai kini terasa lebih lembap, dengan genangan kecil di beberapa sisi trotoar. Udara dingin yang tipis masih menggantung, cukup untuk membuat siapa pun menarik napas lebih dalam dari biasanya.
Yusallia turun dari mobilnya dengan langkah yang sedikit lebih hati-hati. Sepatu kerjanya menyentuh lantai parkiran rumah sakit yang masih basah, suara langkahnya pelan namun jelas. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai jatuh rapi di punggung, sedikit bergerak tertiup angin pagi.Tangannya sempat berhenti sejenak di gagang tas.
Entah kenapa. Malam tadi… terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Atau mungkin… sesuatu yang memang seharusnya terjadi.
Ia menghela napas pelan. “Fokus, Yusa…”
Suara pelan itu hanya terdengar untuk dirinya sendiri.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, suasana langsung berubah. Bau antiseptik yang khas, suara langkah kaki cepat para perawat, dan beberapa pasien yang sudah menunggu sejak pagi—semuanya menyambutnya seperti biasa.
Rutinitas yang sudah sangat ia kenal. Dan anehnya… justru itu yang membuatnya sedikit lebih tenang.
“Dokter Yusallia, pagi!” sapa salah satu perawat dengan senyum ramah.
Yusallia membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis. “Pagi.”
Ia berjalan menuju ruang praktiknya, membuka pintu, dan masuk ke dalam ruangan yang sudah seperti dunianya sendiri. Meja kerja yang rapi, kursi pasien di hadapannya, dan jendela besar di samping yang memperlihatkan langit Jakarta yang masih muram.
Ia duduk. Diam sejenak Berpikir. Pandangannya kosong ke depan, tapi pikirannya tidak.
Mobil mogok. Hujan deras. Dan seorang pria asing yang tiba-tiba muncul… menawarkan bantuan tanpa diminta.
'Rionegro' batinnya sekilas saat nama itu terlintas begitu saja.
Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana suara pria itu, bagaimana cara dia bicara yang tenang tapi tidak berlebihan, dan bagaimana dia… tidak bertanya terlalu banyak.
'Aneh' pikirnya
Biasanya, Yusallia cukup pandai menjaga jarak dengan orang baru. Tapi semalam… rasanya berbeda.
Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir pikirannya sendiri.
“Ini cuma kebetulan,” gumamnya pelan.
Ketukan di pintu membuatnya langsung kembali ke realitas.
“Dok, pasien pertama sudah siap.” kata perawat yang bertugas sebagai asistennya hari ini.
Yusallia langsung berdiri, merapikan jas dokternya, dan menarik napas dalam.
“Persilahkan pasien pertama masuk.” pintanya pada perawat tersebut.
Dan seperti biasanya hari sibuknya pun kembali dimulai.
———————————————————
Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa jauh lebih hidup.
Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa berjalan cepat menuju kelas, beberapa lagi masih santai sambil tertawa bersama teman-temannya. Udara pagi yang segar bercampur dengan hiruk pikuk khas kampus.
Rionegro memarkir mobilnya dengan gerakan yang tenang.
Kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya ia lepaskan, lalu disimpan dengan santai. Kemeja yang ia kenakan terlihat rapi tanpa perlu banyak usaha, seolah itu sudah menjadi bagian dari dirinya.
Ia melangkah dengan tenang dan santai. Langkahnya panjang dan pasti.
Ia tidak langsung menuju gedung fakultas tempat ia mengajar.
Sebaliknya, ia berbelok ke arah yang sudah sangat familiar yaitu Cafe dekat Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB)—fakultas tempat ia mengajar.
Begitu pintu kaca didorong, aroma kopi langsung menyambut. Hangat. Kuat. Menenangkan.
Dan di salah satu sudut, seseorang sudah duduk dengan santai, satu kaki disilangkan, dan secangkir kopi di tangannya—Savira, temannya yang pernah menjadi juniornya semasa kuliah dan kini telah menjadi rekan kerja sekampus-nya.
Perempuan itu melirik sekilas saat Rionegro mendekat, lalu menyeringai tipis.
“Tumben, lo telat dikit.” kata Savira saat Rionegro sudah dekat dengan tempatnya.
Rionegro menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa banyak basa-basi. “Masih jam segini dibilang telat?”
Savira mengangkat bahu santai. “Buat ukuran lo, iya.”
Rionegro hanya menghela napas pendek, lalu memberi isyarat ke barista untuk memesan kopi seperti biasa.
Beberapa detik hening diantara mereka. Lalu Savira menyipitkan mata, memperhatikan wajah Rionegro lebih lama dari biasanya.
“Lo kenapa?” tanya setelah melihat raut wajah Rionegro yang tidak seperti biasanya.
Rionegro mengangkat alis. “Kenapa gimana?”
“Wajah lo beda kayak habis terjadi sesuatu yang tak terduga aja.” jawab Savira sambil menyesap kopinya.
“Lebay.” jawab Rionegro dengan mendengus kecil.
“Serius.” Savira menyandarkan punggungnya, masih menatapnya penuh selidik. “Lo habis ngalamin kejadian apa sampai segitunya?.”
Rionegro terdiam sebentar. Lalu, entah kenapa… ia justru tertawa kecil.
“Semalem gue habia nolong cewek.” ungkap Rionegro.
Alis Savera langsung terangkat tinggi. “Oh?”
“Nggak sengaja ketemu di jalan. Mobilnya mogok, hujan deres.” jelas Rionegro singkat.
Savira langsung menyeringai lebar. “Cewek?”
Rionegro melirik tajam. “Ya, lo pikir gue bohong”
“Siapa tau,” jawab Savira santai, nyengir. “Lanjut.”
Rionegro menggeleng pelan, tapi tetap melanjutkan ceritanya.
Ia menceritakan bagaimana ia menemukan Yusallia di pinggir jalan, bagaimana hujan saat itu begitu deras, dan bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk mengantar perempuan itu pulang.
Tidak ada detail berlebihan. Hanya potongan cerita. Tapi cukup untuk membuat Savira tersenyum penuh arti.
“Terus?” tanya Savira, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Cantik?”
Rionegro langsung menghela napas panjang. “Pertanyaan lo selalu itu.”
“Jawab dulu.” desak Savira.
Rionegro diam sejenak.
“...Lumayan.” jawab Rionegro singkat.
Savira langsung tertawa pelan. “Wah, kalau dari lo bilang ‘lumayan’, berarti di atas rata-rata.”
“Biasa aja.” elak Rionegro.
“Namanya siapa?”
Rionegro menatap cangkir kopi yang baru saja diletakkan di depannya.
“Yusallia.” jawab Rionegro sambil mulai menyesap kopi di depannya.
Savira mengulang pelan, seolah mencicipi nama itu. “Yusallia…”
Lalu ia menyeringai lagi. “Nama bagus.”
Rionegro tidak menjawab. Ia hanya menyeruput kopinya.
Savira memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata dengan nada santai tapi penuh godaan, “Lo nggak biasanya cerita kayak gini.”
“Ini juga nggak penting.” kata Rionegro tanpa menoleh kearah Savira.
“Kalau nggak penting, lo nggak bakal cerita.” kata Savira sambil memperhatikan Rionegro.
Rionegro terdiam.
Savira tersenyum tipis, seolah sudah menangkap sesuatu. “Lo tertarik ya?”
“Enggak.” Jawab Rionegro cepat.
Terlalu cepat.
Savira langsung terkekeh. “Iya deh, terserah lo.”
Rionegro hanya menggeleng, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Obrolan mereka berlanjut dengan santai. Dari topik mahasiswa, dosen lain, sampai hal-hal kecil yang bahkan tidak penting. Tertawa ringan sesekali, saling menyindir seperti biasa.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Sampai akhirnya Savira melirik jam di tangannya. “Hampir jam 9.”
Rionegro ikut melihat jamnya, lalu menghela napas pelan. “Gue harus ke kelas.”
Ia berdiri, merapikan kemejanya sedikit.
Savira masih duduk santai, tapi matanya mengikuti setiap gerakan Rionegro.
“Eh,” panggilnya.
Rionegro menoleh. “Apa?”
Savira menyeringai. “Malem ini free?”
Rionegro menyipitkan mata. “Kenapa?”
“Ada restoran baru buka. Katanya enak.” Savira mengangkat bahu. “Lo kan doyan makan enak.”
Rionegro diam sebentar, mempertimbangkan.
Lalu ia mengangguk kecil. “Yaudah.”
Senyum Savira langsung melebar. “Jam 7?”
“Gue kabarin.”
“Siap, Pak Dosen.”
Rionegro hanya menggeleng ringan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari cafe.
Langkahnya tetap santai. Tapi entah kenapa… Nama itu kembali terlintas dalam benaknya.
'Yusallia' batinnya dalam hati.
Dan tanpa ia sadari, ada sesuatu yang tertinggal dari malam itu. Sesuatu yang belum selesai.