Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Sang pualam dari Amarta telah mati. Retak, hancur berkeping-keping, dan dari abunya, lahir sesuatu yang jauh lebih tajam dari pedang pusaka manapun. Sesuatu yang terbuat dari es dan dendam murni.
Pregiwa perlahan bangkit berdiri. Gerakannya begitu anggun, begitu terukur, hingga membuat Pangeran Jayantaka tanpa sadar menghentikan ocehannya.
Sang ratu melangkah mendekati suaminya. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan duka. Sebaliknya, sebuah senyum tipis, memukau, namun memancarkan aura bahaya yang sangat pekat, terukir di bibirnya. Ia mengangkat sebelah tangannya, membelai rahang Pangeran Jayantaka dengan lembut, persis seperti yang sering ia lakukan untuk menyembunyikan rasa jijiknya.
"Sebuah mesin perang yang berguna," ulang Pregiwa, menggemakan kata-kata suaminya dengan nada yang sehalus sutra, namun sedingin bisa laba-laba. "Kata-kata yang sangat tepat, Suamiku. Raksasa itu memang dilahirkan hanya untuk mati bagi kita. Para dewa telah menunaikan tugas mereka dengan sangat baik."
Jayantaka tersenyum lebar, merasa bangga bahwa permaisurinya memiliki pandangan pragmatis yang sama dengannya mengenai nilai nyawa seorang bawahan. Ia menangkap tangan Pregiwa dan mengecup punggung tangannya. "Aku senang kau tidak meratapi kematiannya berlebihan. Keraton ini tidak membutuhkan ratu yang lemah."
"Swantipura tidak akan pernah memiliki ratu yang lemah, Kanda," bisik Pregiwa, mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan bibirnya ke telinga Pangeran Jayantaka. Matanya menatap lurus ke arah kobaran api di perapian, memantulkan nyala merah yang menari-nari dalam pupilnya. "Hamba telah belajar dari yang terbaik. Hamba belajar bahwa di dunia ini, kebaikan adalah sebuah dosa, dan pengorbanan adalah permainan bagi mereka yang kalah. Mulai hari ini... hamba berjanji tidak akan pernah lagi menjadi pihak yang dikorbankan."
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat intim, namun ada sesuatu di dalam getaran suara Pregiwa yang membuat bulu kuduk Jayantaka meremang untuk sesaat. Sang pangeran merasa seolah ia sedang dipeluk oleh seekor harimau putih yang sedang mengukur letak urat lehernya. Namun, ego lelakinya segera menepis perasaan itu.
"Kau kelelahan, Istriku," ucap Jayantaka, melepaskan tangan Pregiwa dan berdiri. "Istirahatlah. Malam ini aku harus memimpin dewan jenderal untuk merundingkan pembagian rampasan perang. Amarta berhutang sangat banyak pada kita."
"Tentu, Kanda. Pimpinlah mereka dengan bijak," balas Pregiwa, kembali menundukkan kepalanya dalam sikap ketaatan seorang permaisuri yang sempurna.
Begitu pintu raksasa itu tertutup di belakang Pangeran Jayantaka, senyum di bibir Pregiwa seketika menguap lenyap, digantikan oleh raut wajah yang lebih keras dan lebih dingin dari batuan granit benteng Swantipura.
Ia berbalik, berjalan perlahan menuju meja rias pualamnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perak. Di dalam cermin itu, ia tidak lagi melihat putri kesayangan Arjuna. Ia melihat seorang wanita yang hidupnya telah dicuri.
*Ayahandaku mengorbankanku demi lima puluh ribu pasukan,* batin Pregiwa, suaranya di dalam kepala bergema dengan kebencian yang jernih dan tak terbantahkan. *Pangeran ini melihatku tak lebih dari sekadar piala kemenangannya. Dan semesta... semesta membunuh satu-satunya pria yang berani terbakar matahari demi diriku.*
Pregiwa mengangkat tangannya, menyentuh lehernya sendiri yang jenjang.
*Jika dunia ini dibangun di atas tumpukan mayat orang-orang yang tulus,* lanjutnya bermonolog, matanya menggelap, memancarkan kecerdasan dan kelicikan yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng kepatuhan. *Maka aku akan memastikan, mulai detik ini, akulah yang akan berdiri di puncak tumpukan mayat itu. Mereka pikir mereka telah membeli seorang putri penurut dari Amarta. Mereka salah. Mereka telah membawa masuk sebuah badai yang akan menghancurkan mereka dari dalam.*
Pregiwa memejamkan mata. Ia memanggil memori terakhir tentang wajah Gatotkaca. Bukan wajah pria yang berlumuran darah, melainkan wajah raksasa canggung yang tersipu malu saat pertama kali menatap matanya di dasar jurang Wanamarta. Memori itu kini bukan lagi sumber kesedihan; memori itu telah ia tempa menjadi inti dari kekuatan barunya.
"Tidurlah dalam damai, Kanda Gatotkaca," bisik Pregiwa kepada keheningan ruangan. Sepucuk janji yang diikat dengan darah jiwanya sendiri. "Kau telah menyelesaikan peperanganmu dengan sangat agung. Sekarang... biarkan aku memulai peperanganku sendiri. Aku akan membuat mereka semua berlutut. Aku akan membuat Swantipura, Amarta, dan para dewa di kahyangan membayar setiap tetes darah yang kau tumpahkan dari dadamu."
Pregiwa membuka matanya. Tatapannya menajam. Sang Ratu Es Swantipura telah sepenuhnya bangkit.
"Emban!" panggil Pregiwa dengan suara lantang yang memerintah.
Dua orang pelayan wanita bergegas masuk dengan tergopoh-gopoh, bersimpuh di hadapannya dengan tubuh gemetar. Mereka belum pernah mendengar nada suara sang permaisuri setegas dan sedingin ini.
"Siapkan perkamen, tinta emas, dan stempel rahasia keraton," titah Pregiwa, melangkah mendekati meja kerjanya. "Aku harus menulis surat untuk beberapa panglima kavaleri utara yang selama ini merasa dianaktirikan oleh suamiku. Sudah saatnya permaisuri mereka menunjukkan sedikit belas kasih... dan merajut jaring laba-laba di dalam benteng ini."
Permainan politik telah berubah. Jika Senopati Gatotkaca menghancurkan musuh dengan hantaman fisik yang meledakkan bumi, maka Dewi Pregiwa akan menghancurkan kerajaan ini dengan bisikan, racun, dan senyum pualamnya. Pembalasan dendam atas gugurnya sang penjaga awan, baru saja dimulai.