NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PERMAINAN DI ATAS KARPET MERAH

​Seminggu telah berlalu sejak perjanjian berdarah di kamar remang itu. Bagi Reno dan Siska, Gwen masihlah "si buta" yang malang, seorang tawanan di mansion mewahnya sendiri. Namun bagi Elang, Gwen adalah seorang jenderal perang yang sedang memoles pedangnya di balik kain penutup mata.

​Hari ini adalah acara amal tahunan Adiguna Foundation. Acara bergengsi yang dihadiri oleh para konglomerat, pejabat, dan media papan atas.

​"Sayang, kamu yakin ingin ikut? Kamu bisa istirahat di rumah kalau merasa lelah," ucap Reno sambil merapikan dasinya di depan cermin. Dia tampak sangat tampan dengan tuxedo hitamnya, tapi di mata Gwen, ketampanan itu tampak busuk.

​"Aku harus ikut, Mas. Ini adalah yayasan peninggalan Ayah. Aku tidak ingin orang-orang berpikir aku sudah menyerah pada hidup hanya karena mataku tidak bisa melihat," jawab Gwen dengan nada yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar tegar namun rapuh.

​"Baiklah, kalau itu maumu. Siska juga akan ikut untuk membantumu, ya? Dia sudah siap di bawah."

​Gwen tersenyum simpul. Tentu saja Siska siap. Dia pasti sudah memakai barang rampasannya.

​Malam itu, Grand Ballroom hotel berbintang lima itu berkilau oleh cahaya lampu kristal. Begitu pintu terbuka, perhatian seluruh tamu tertuju pada rombongan keluarga Adiguna.

​Reno berjalan dengan gagah, di sampingnya ada Gwen yang mengenakan gaun malam berwarna merah maroon yang sangat elegan. Kain sutra hitam tipis menutupi matanya, memberikan kesan misterius sekaligus anggun. Dan tepat di belakang mereka, Elang berjalan dengan langkah tegap, auranya yang dingin membuat beberapa tamu menepi dengan segan.

​Siska berjalan di sisi lain Reno, mengenakan gaun berwarna champagne yang sangat terbuka. Dan di lehernya, melingkar sebuah kalung berlian dengan liontin zamrud besar yang sangat mencolok.

​Kalung itu milikku, batin Gwen. Dia bisa melihat pantulan cahaya zamrud itu dari balik perban tipisnya. Siska benar-benar tidak punya malu. Dia memakai kalung curian itu di acara yayasan keluarga Gwen sendiri.

​"Nona, target sudah merasa di atas angin," bisik Elang saat dia membungkuk untuk merapikan posisi kursi roda Gwen di meja utama.

​"Biarkan dia terbang setinggi mungkin, Elang. Agar saat jatuh, tidak ada satu pun tulang di tubuhnya yang tersisa utuh," jawab Gwen tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak.

​Acara dimulai dengan pidato Reno yang sangat menyentuh tentang dedikasinya pada yayasan dan istrinya yang tercinta. Beberapa tamu wanita bahkan terlihat menyeka air mata, terharu oleh "kesetiaan" Reno.

​"Dan sekarang," suara pembawa acara menggema, "kita akan melakukan sesi lelang perhiasan langka yang hasilnya akan didonasikan sepenuhnya. Perhiasan pertama adalah salah satu koleksi pribadi dari Nyonya Gwen Adiguna."

​Lampu sorot beralih ke sebuah kotak kaca di atas panggung. Di dalamnya terdapat sebuah gelang berlian. Namun, perhatian tamu justru teralihkan oleh kalung yang dipakai Siska.

​"Tunggu dulu," suara seorang wanita paruh baya, Ny. Wijaya, kolektor perhiasan ternama, terdengar nyaring. "Bukannya kalung yang dipakai Nona Siska itu adalah 'The Green Heart of Adiguna'? Setahuku, itu adalah warisan turun-temurun keluarga Adiguna yang hanya boleh dipakai oleh nyonya besar rumah itu."

​Suasana seketika menjadi bisik-bisik yang riuh. Wajah Siska memucat. Dia melirik Reno dengan panik.

​Reno segera berdeham. "Ah, Ny. Wijaya, Anda benar. Itu memang milik Gwen. Gwen yang meminjamkannya kepada Siska karena Siska adalah asisten pribadinya yang paling setia. Gwen ingin Siska tampil cantik malam ini sebagai bentuk penghargaan."

​"Oh, begitu?" Ny. Wijaya menyipitkan mata. "Tapi bukankah aneh? Istri sedang sakit dan buta, tapi asistennya memakai perhiasan warisan keluarga yang paling berharga?"

​Gwen tahu ini saatnya dia masuk ke panggung. Dia meraba-raba meja, mencari mikrofon di depannya dengan gerakan yang sengaja dibuat kikuk. Elang dengan sigap membantu meletakkan mikrofon itu ke tangan Gwen.

​"Maaf semuanya," suara Gwen terdengar bergetar lewat pengeras suara. "Mas Reno benar. Siska adalah sahabat terbaikku. Tapi... aku agak bingung."

​Gwen menolehkan kepalanya ke arah Reno dan Siska, memberikan kesan pandangan kosong yang menyayat hati.

​"Mas Reno, bukankah minggu lalu kamu bilang kalung itu hilang dicuri pelayan? Kamu bilang kamu sudah melaporkannya ke polisi dan aku tidak perlu sedih karena kamu akan membelikan yang baru? Bagaimana bisa kalung itu ada di leher Siska malam ini?"

​DEG!

​Reno membeku. Wajahnya berubah dari pucat menjadi abu-abu. Dia tidak menyangka Gwen akan "mengadu" di depan umum dengan cara seolah-olah dia bingung.

​"Gwen... kamu salah dengar, Sayang. Aku tidak pernah bilang begitu," Reno mencoba tertawa canggung, tapi keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​"Tapi aku mendengar suaramu dengan jelas, Mas," lanjut Gwen, air mata buatan mulai menggenang di sudut matanya yang tertutup. "Bahkan kamu bilang padaku kalau brankas kita dirampok saat aku sedang tidur. Siska, kamu menemukannya di mana? Apa kamu membelinya dari pencuri itu untuk mengembalikannya padaku?"

​Bisikan di ruangan itu berubah menjadi teriakan tertahan. Media mulai menyalakan lampu kilat kamera mereka. Flash kamera menyambar-nyambar wajah Reno dan Siska yang tampak seperti tertangkap basah merampok bank.

​"I-ini... ini pasti salah paham!" Siska mencoba melepas kalung itu dengan tangan gemetar.

​Tiba-tiba, Elang melangkah maju. Dia mengeluarkan sebuah tablet dari balik jasnya.

​"Maaf mengganggu, Tuan Reno," suara Elang yang berat menginterupsi. "Sebagai pengawal keamanan Nona Gwen, saya merasa bertanggung jawab atas keamanan aset beliau. Saya menemukan rekaman CCTV rahasia dari brankas pribadi Nona Gwen yang sempat saya pasang karena kecurigaan saya atas kehilangan beberapa barang."

​Elang menekan tombol play. Rekaman itu diproyeksikan ke layar besar di belakang panggung.

​Seluruh tamu menahan napas. Di layar besar itu, terlihat dengan sangat jelas Siska masuk ke dalam kamar Gwen saat Gwen sedang tidur. Siska membuka brankas dengan kunci yang dia curi dari tas Gwen, mengambil kalung itu, lalu menciumnya dengan wajah penuh kemenangan sebelum menyelinapkannya ke dalam tasnya.

​"Itu... itu tidak benar! Video itu diedit!" teriak Siska histeris.

​Tapi belum selesai sampai di situ. Video terus berlanjut menunjukkan Reno masuk ke kamar, memeluk Siska dari belakang di depan ranjang Gwen yang sedang tidur, dan mereka berdua tertawa sambil menghina kondisi Gwen yang buta.

​"Biarkan saja si buta itu. Begitu hartanya pindah ke tanganku, kita akan membuangnya ke jalanan," suara Reno dalam rekaman itu terdengar sangat jernih di seluruh ballroom.

​Hening.

​Seluruh ruangan mendadak seperti kuburan. Ribuan pasang mata menatap Reno dan Siska dengan pandangan jijik yang luar biasa.

​Reno ambruk di tempat duduknya. Siska gemetar hingga tidak bisa berdiri tegak.

​Gwen perlahan berdiri dari kursi rodanya. Dengan gerakan dramatis, dia melepas kain penutup matanya. Dia menatap Reno dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh kebencian, membuat Reno tersentak mundur seolah baru saja melihat hantu.

​"Mas Reno... kamu bilang aku buta?" suara Gwen kini tidak lagi lemah. "Ya, aku sempat buta karena cintaku yang terlalu bodoh padamu. Tapi hari ini, mataku sudah terbuka sangat lebar."

​Gwen mendekati Siska, yang kini sudah terduduk di lantai. Gwen membungkuk, lalu dengan satu sentakan kasar, dia merenggut kalung itu dari leher Siska hingga pengaitnya putus.

​"Perhiasan ini terlalu suci untuk leher seorang pencuri seperti kamu," ucap Gwen dingin.

​"Gwen... maafkan aku, ini semua ide Siska! Dia yang menggodaku!" Reno mencoba merangkak mendekati kaki Gwen, mencari belas kasihan.

​Gwen menatap Reno dengan mual. Dia melirik ke arah Elang. "Elang, singkirkan sampah-sampah ini dari hadapanku. Aku tidak ingin pesta amal ayahku dikotori oleh bau pengkhianat."

​"Dengan senang hati, Nona," jawab Elang.

​Dua orang petugas keamanan hotel—yang ternyata sudah disiapkan oleh Elang—maju dan menyeret Reno serta Siska keluar dari ballroom di bawah sorotan lampu kamera media yang terus memotret kehancuran mereka.

​Para tamu mulai berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Mereka mengagumi keberanian Gwen.

​Di tengah keramaian itu, Elang berdiri di samping Gwen. Dia menyodorkan segelas sampanye.

​"Kemenangan pertama yang manis, Nona Gwen," bisik Elang.

​Gwen menyesap sampanyenya, matanya menatap pintu tempat Reno diseret keluar. "Ini baru makanan pembuka, Elang. Aku ingin mereka kehilangan segalanya, termasuk martabat mereka sebagai manusia."

​Elang menatap Gwen, ada kilatan aneh di matanya. "Anda baru saja membakar jembatan Anda, Nona. Sekarang, Reno akan mengejar Anda seperti binatang buas yang terluka. Apakah Anda siap?"

​Gwen menoleh ke arah Elang, tersenyum tipis yang sangat mematikan. "Selama aku punya 'Elang' yang menjagaku, kenapa aku harus takut pada seekor tikus got?"

​Namun, di dalam hati Gwen, dia tahu satu hal: Elang masih menyimpan belati di balik punggungnya untuk dirinya. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!