Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Cemburu yang Berujung Maut
Malam itu, Camille berdiri dengan gelisah di balik pilar batu sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Ia terus meremas syal sutranya, matanya menatap liar ke arah kegelapan. Ia hanya ingin satu hal, menyingkirkan wanita yang selalu berada di dekat Dokter Zukho, wanita yang menurutnya adalah penghalang cintanya.
Langkah kaki yang terseret-seret terdengar mendekat. Seorang perwira dengan seragam yang sudah kotor dan wajah penuh memar—Letnan Varg—muncul dari balik bayangan. Napasnya memburu, dan tangannya gemetar saat mencoba menyulut cerutu.
"Kau terlambat, Varg!" Desis Camille dengan suara melengking. "Bagaimana? Apa wanita itu sudah benar-benar lenyap? Kau bilang kau sudah memukulnya dan membuangnya ke tumpukan mayat di perbatasan setelah ledakan itu!"
Varg tiba-tiba maju dan mencengkeram bahu Camille dengan kasar, membuat gadis itu terpekik kaget. Tatapan Varg penuh ketakutan yang murni.
"Kau gila, Camille! Kau benar-benar wanita gila!" Bentak Varg dengan suara tertahan. "Kau tahu siapa yang kau suruh aku lenyapkan? Hah?!"
Camille mencoba melepaskan diri. "Apa peduliku? Dia hanya gadis yang sok suci di depan Dokter Zukho!"
"Dia bukan orang sembarangan, bodoh!" Varg memaki, wajahnya yang memar tampak mengerikan di bawah cahaya bulan. "Informasi militer baru saja bocor. Wanita yang ada di lapangan saat ledakan itu... wanita yang kupukul dan kubuang ke atas tumpukan mayat itu... dia adalah Putri Mahkota Geneviève!"
Seketika, darah di wajah Camille seolah menguap. Ia mematung, jantungnya seolah berhenti berdetak. "A-apa? Tidak mungkin... Dia hanya seorang relawan medis..."
"Dia Putri Mahkota yang sedang menyamar!" Varg meremas bahu Camille semakin kuat hingga gadis itu merintih. "Sekarang Jenderal Eisérre dan seluruh unit intelijen sedang mengamuk mencari tahu siapa yang menyentuh sang Putri sebelum bom itu meledak. Jika mereka tahu aku yang memukulnya atas perintahmu, kita tidak akan hanya mati, Camille. Kita akan disiksa sampai kita memohon untuk mati!"
Camille gemetar hebat, kakinya terasa lemas hingga ia harus bersandar pada pilar. "Tapi... tapi dia seharusnya mati karena bom itu, kan? Jika dia mati, tidak akan ada yang tahu..."
"Masalahnya, mayatnya tidak ditemukan!" Varg berteriak frustrasi. "Dan aku mendengar kabar burung bahwa Jenderal Eisérre menyembunyikan 'sesuatu' di paviliunnya. Jika itu dia, dan dia ingat wajahku... kita sudah tamat!"
Camille menutup mulutnya dengan tangan, air mata ketakutan mulai mengalir. Cemburu butanya terhadap Dokter Zukho kini telah berubah menjadi tali gantungan yang melilit lehernya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa obsesinya telah membuatnya mencoba membunuh calon Ratu mereka.
"Apa yang harus kita lakukan, Varg?" Tanya Camille dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Diam. Jangan temui Dokter Zukho, jangan tunjukkan wajahmu di dekat markas Valois," desis Varg sambil melepaskan Camille. "Jika Jenderal Eisérre mencium bau kita, bahkan lubang tikus pun tidak akan aman untuk kita bersembunyi."
Varg pergi menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Camille yang jatuh terduduk di tanah yang dingin. Ia menatap tangannya yang gemetar, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan monster yang jauh lebih mengerikan dari sekadar rasa cemburu.
Camille benar-benar bermain api karena dia tidak tahu siapa target aslinya. Camille bener-bener dalam masalah besar! Sekarang dia dan Varg harus hidup dalam ketakutan karena mereka tahu Jenderal Eisérre bukan orang yang suka memaafkan.