Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN KOSONG
Pagi datang dengan cahaya yang redup, seolah matahari pun enggan menyinari dunia yang kini terasa begitu hampa bagi Kezia. Ruang tunggu yang semalam penuh tangis, kini hanya menyisakan keheningan yang menyakitkan—keheningan yang terasa lebih berat daripada teriakan sekalipun. Beberapa keluarga sudah pergi, mungkin untuk mempersiapkan diri menghadapi kenyataan yang lebih nyata, sementara yang lain masih duduk terpaku, seolah tubuh mereka ada di sana, tapi jiwa mereka telah ikut pergi bersama orang-orang yang mereka cintai.
Kezia masih di tempat yang sama, memeluk Rania yang kini sudah bangun, tapi tidak lagi menangis. Matanya bengkak dan merah, tatapannya kosong, seolah semua emosinya telah terkuras habis semalam. Dia hanya duduk diam di pelukan ibunya, jari kecilnya memainkan ujung baju Kezia, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan Rania itu justru membuat hati Kezia semakin hancur. Lebih baik jika Rania menangis, lebih baik jika dia marah, daripada melihat putrinya yang ceria kini berubah menjadi sosok yang bisu dan hampa.
Seorang petugas mendekati mereka dengan langkah pelan, membawa sebuah kotak kardus kecil berwarna cokelat yang terlihat sederhana. Wajahnya penuh simpati, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Kezia merasakan ketakutan yang lebih besar dari sebelumnya.
"Ibu Kezia..." panggil petugas itu pelan, suaranya bergetar. Dia meletakkan kotak itu di pangkuan Kezia dengan hati-hati, seolah isinya adalah sesuatu yang sangat berharga namun juga sangat rapuh. "Ini... ini adalah barang-barang pribadi yang berhasil tim kami temukan di lokasi kejadian. Setelah melakukan verifikasi, kami yakin ini milik Bapak Rizky. Kami sangat menyesal, Ibu."
Kezia menatap kotak itu dengan mata yang terbelalak. Tangannya gemetar hebat saat perlahan-lahan dia membuka tutup kotak itu. Di dalamnya, ada dompet yang sudah hangus sebagian, jam tangan yang kacanya pecah, dan sebuah benda kecil yang terbungkus kain lap yang sudah kotor dan sobek.
Dengan tangan yang gemetar tak terkendali, Kezia mengambil benda yang terbungkus itu. Dia membuka kain lapnya perlahan, dan saat melihat apa yang ada di dalamnya, dunianya seakan berhenti berputar. Itu adalah sebuah kalung kecil berbentuk hati, terbuat dari perak yang sudah sedikit kusam. Kalung itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Rizky pernah berjanji, dia akan selalu membawanya ke mana pun dia pergi, sebagai tanda bahwa cintanya pada Kezia dan Rania akan selalu ada di dekat hatinya.
Di bagian belakang kalung itu, masih terukir jelas tulisan kecil yang dibuat dengan tangan: "Untuk Kezia dan Rania, cintaku selamanya."
Tulisan itu. Tulisan tangan Rizky yang khas. Tulisan yang setiap hari dia lihat, tulisan yang selalu membuatnya merasa dicintai. Dan sekarang, tulisan itu ada di hadapannya, terbungkus dalam kain yang kotor, menjadi satu-satunya sisa fisik dari suaminya yang telah pergi.
"Ayah..." suara Rania tiba-tiba memecah keheningan. Dia menunjuk kalung itu dengan jari kecilnya, matanya yang kosong kini berbinar sedikit, namun penuh kesedihan. "Itu kalung Ayah, kan? Ayah selalu pakai itu. Ayah bilang itu buat Ibu dan Rania."
Kezia tidak bisa menjawab. Suaranya tertahan di tenggorokan, seperti ada batu besar yang menyumbatnya. Air matanya kembali mengalir, tapi kali ini tidak ada suara tangis. Hanya air mata yang mengalir deras, membasahi kalung itu di tangannya. Dia menempelkan kalung itu ke dadanya, tepat di tempat jantungnya berdetak, seolah-olah dia bisa merasakan detak jantung Rizky melalui benda dingin itu. Dia bisa membayangkan bagaimana Rizky memegang kalung itu di saat-saat terakhirnya, bagaimana dia memikirkan mereka berdua sebelum segalanya berakhir.
"Kenapa kalungnya kotor, Bu?" tanya Rania lagi, suaranya mulai bergetar. "Kenapa kalungnya rusak? Ayah mana? Kenapa Ayah nggak bawa kalungnya ini sama dia?"
Pertanyaan itu menembus hati Kezia seperti ribuan jarum tajam. Dia menatap putrinya, dan untuk pertama kalinya, dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membohongi dirinya sendiri atau Rania. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi harapan palsu. Kalung itu adalah bukti nyata. Bukti bahwa Rizky ada di sana, bukti bahwa dia telah pergi, dan tidak akan pernah kembali.
"Sayang..." ucap Kezia dengan suara yang parau dan hancur. Dia memeluk Rania erat-erat, sambil memegang kalung itu di antara mereka berdua. "Ayah... Ayah harus ninggalin kalungnya ini di sini. Ayah mau kita yang jagain. Ayah mau kita ingat Ayah lewat kalung ini."
Rania menggeleng pelan, air matanya mulai jatuh lagi. "Nggak... Rania mau Ayah yang jagain. Rania mau Ayah pulang dan pakai kalungnya lagi. Ibu, tolong panggil Ayah... Rania takut. Rania nggak mau cuma punya kalungnya. Rania mau Ayah!"
Rania mulai menangis lagi, kali ini lebih pilu, lebih putus asa. Dia memukul-mukul dada Kezia dengan lembut, meminta ayahnya yang tidak akan pernah bisa datang. Kezia hanya bisa memeluk putrinya yang tersayang, ikut menangis dalam diam, membiarkan rasa sakit itu merasuk ke setiap sel tubuhnya.
Di luar jendela, matahari mulai naik lebih tinggi, menyinari kota yang terus berjalan seolah tidak ada yang terjadi. Orang-orang terus beraktivitas, tertawa, berbicara, sementara di dalam ruangan itu, dunia Kezia dan Rania telah hancur lebur. Mereka memiliki kalung itu, mereka memiliki kenangan, tapi mereka tidak memiliki sosok yang paling mereka cintai. Tidak ada lagi pelukan hangat, tidak ada lagi suara tawa, tidak ada lagi janji-janji manis. Yang tersisa hanyalah benda mati dan kenangan yang semakin memudar seiring berjalannya waktu.
Kezia menutup kotak itu perlahan, lalu memeluknya erat-erat di dadanya, bersamaan dengan pelukannya pada Rania. Dia tahu, rasa sakit ini tidak akan pernah hilang. Ini akan menjadi bayangan yang akan selalu mengikuti mereka seumur hidup. Setiap kali mereka melihat kalung itu, setiap kali mereka makan mie instan, setiap kali mereka melihat langit malam, mereka akan merasakan sakit yang sama, rasa kehilangan yang sama.
Malam itu, saat mereka akhirnya pulang ke rumah yang kosong dan sunyi, Kezia meletakkan kotak itu di atas meja riasnya. Dia mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Rania. Kalung itu sedikit besar untuk leher kecil Rania, tapi dia mengikatnya dengan pita agar tidak jatuh.
"Kalung ini sekarang milik kamu, sayang," ucap Kezia pelan, mencium kening putrinya. "Ini adalah hadiah dari Ayah. Jagalah baik-baik, ya."
Rania menyentuh kalung itu dengan jari kecilnya, menatapnya dengan tatapan yang dewasa sebelum waktunya. "Iya, Bu. Rania bakal jagain ini. Ini satu-satunya yang Rania punya dari Ayah sekarang."
Kezia memeluk Rania, menatap cermin di depannya. Dia melihat dirinya dan putrinya—dua orang yang kini harus berjuang sendirian di dunia yang luas dan kejam ini. Di balik cermin itu, dia seolah bisa melihat bayangan Rizky yang tersenyum sedih, menatap mereka dengan penuh kasih sayang. Tapi saat dia berkedip, bayangan itu hilang, meninggalkan hanya dirinya dan Rania di tengah keheningan rumah yang begitu besar dan sepi.
Hari-hari berikutnya akan menjadi perjuangan yang berat. Setiap pagi, Kezia akan terbangun dan secara otomatis mencari sosok di sampingnya, hanya untuk menemukan tempat tidur yang kosong dan dingin. Setiap malam, Rania akan bertanya kapan Ayah akan datang dalam mimpinya, dan Kezia harus menahan tangisnya untuk mengatakan bahwa Ayah pasti akan datang.
Tapi di dalam hati terdalamnya, Kezia tahu bahwa luka ini tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Itu akan menjadi bekas luka yang selalu terasa perih, sebuah pengingat abadi akan cinta yang begitu besar namun terpotong begitu kejam oleh takdir. Dan di setiap malam yang sepi, saat Rania sudah tertidur memeluk kalung itu, Kezia akan duduk di dekat jendela, menatap langit malam, dan berbisik pada suaminya yang telah menjadi bintang: "Aku merindukanmu, Rizky. Lebih dari yang bisa kukatakan. Tolong tunggu kami di sana... karena suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi, dan tidak akan ada perpisahan lagi."
Hingga saat itu tiba, mereka harus berjalan terus, membawa beban kesedihan yang berat, namun juga membawa cinta yang tak akan pernah mati—cinta untuk Rizky, yang kini tinggal di dalam hati mereka selamanya.