NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

♦♦

"Mau ke mana lo?" tanya Dafa, begitu melihat Galvin yang tiba-tiba bangkit berdiri dari kursi yang semula Galvin duduki bersama mereka.

"Cari buku buat materi presentasi," jawab Galvin singkat, sambil meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja cafe itu.

"Presentasi apa? Emangnya ada tugas presentasi, ya?" Dafa mengerutkan kening, bingung.

Seingatnya, sama sekali tidak ada tugas presentasi di hari-hari mendatang. Apakah memang karena dia melupakan tugasnya?

Sementara Galvin, dia langsung saja pergi dari hadapan mereka, tanpa menjawab pertanyaan Dafa yang masih dibuat penasaran oleh ucapannya.

Mereka yang melihat interaksi Dafa dan Galvin, langsung saja tertawa, begitu melihat Dafa diabaikan oleh Galvin.

Ini memang sering terjadi, tetapi hal ini masih terlihat lucu bagi mereka.

Daris yang sedari tadi mengamati sambil menyantap cemilannya, tiba-tiba saja menghentikan aktivitas makannya, kemudian menatap ke arah Dafa, sambil tertawa mengejek.

Jika dia tidak ingat bahwa mereka sedang berada di perpustakaan, tentu saja dia akan terawa terbahak. Namun, untung saja dia masih sadar jika mereka masih berada di dalam cafe Perpustakaan Galaksi, di mana keheningan harus selalu tercipta di sana.

"Kenapa lo ketawa?" ketus Dafa, yang tentu saja tidak terima ditertawakan seperti itu.

Daris meletakkan cemilannya, sebelum dia berbicara. "Tadi ngakunya murid rajin. Tapi ternyata sama tugas sendiri aja lupa. Murid rajin apa'an yang kayak gitu," cibir Daris, mengejek Dafa untuk yang kesekian kalinya.

"Tapi seinget gue, emang ga ada tugas presentasi. Tugas presentasi terakhir itu tadi pagi," timpal Dafa, yakin pada ingatannya.

Dia masih bingung, kenapa Galvin mengatakan ingin mencari buku untuk tugas presentasi.

"Itu, kan, seinget lo. Bukan seinget Galvin. Siapa tahu memang ada tugas lain yang lo nggak inget," sahut Faiz, ikut bersuara di tengah-tengah pembicaraan mereka.

"Mungkin juga kaya gitu, ya. Yaudah, nanti gue inget-inget lagi tugas apa," pungkas Dafa, kembali menikmati kopi panasnya.

"Eh, tapi gue masih penasaran. Itu tugas presentasi apa, ya?" gumam Dafa, pelan. Tetapi masih terdengar oleh teman-temannya.

Daris melihat Dafa dengan tatapan sinis, kemudian dia mendecak kesal, "Mana kita tau. Kita beda sekolah sama lo."

"Mending lo tanyain langsung sama dia," ucap Faiz, menyambung perkataan Daris sebelumnya.

Dafa tampak malas, "Ga, ah. Nanti aja. Mager!" Faiz merasa kesal dengan sikap Dafa dan ingin sekali menjitak pelan kepalanya.

Namun hal itu dia tahan, karena tidak ingin membuat keributan.

"Tuh, kan, terbukti kalau lo itu jauh banget dari image murid rajin," cibir Faiz kepada Dafa.

Faiz melupakan jika Dafa adalah wakil ketua OSIS di Glory High School, yang tentu saja bertanggung jawab pada kewajibannya, termasuk tugas sekolahnya.

"Ga boleh nilai orang dari luarnya doang," ingat Dafa, sambil merapihkan jaketnya. Membuat gerakan untuk mengembalikan wibawanya yang baru saja hilang.

Melihat Dafa bersikap seperti itu, membuat Faiz langsung memberikan tatapan mengejek. "Luarnya aja kaya gini. Gimana dalemnya?" cibirnya.

Tidak ada hari bagi mereka tanpa saling mengejek dan menjatuhkan satu sama lain. Namun, perlu ditegaskan, hanya sesama mereka yang boleh melakukan itu, jika di luar mereka melakukan itu, tentu saja mereka tidak akan terima, dan akan langsung membela harga diri mereka.

Sama seperti biasanya, Dafa hanya bisa menggerutu sambil menunjukkan wajah kesalnya.

Keduanya kemudian terlibat dalam perdebatan sengit yang penuh ejekan dan cemoohan, membuat suasana di sekitar mereka semakin ramai.

Di samping perdebatan mereka, mereka melupakan bahwa di sana masih ada Fardan, yang merupakan wakil ketua mereka dalam kelompok BlackHorse, dengan Galvin ketuanya.

Fardan memejamkan kedua matanya, karena tidak tahan lagi mendengar perdebatan mereka yang tidak ada ujungnya.

Dia mengepalkan kedua tangannya, dengan wajahnya terlihat kesal karena suara perdebatan Daris, Faiz, dan Dafa yang semakin memanas.

"Berisik!" bentak Fardan, tak mampu menahan jengkelnya lagi.

Suaranya memang tidak begitu keras, tetapi penuh dengan penekanan.

"Lo pada ga sadar orang-orang di sekeliling kita pada hening dan fokus baca buku. Sementara kalian?" Fardan menatap ke arah mereka secara satu per satu, dengan sorot matanya yang tajam dan menusuk.

"Kalau masih mau berisik. Mending keluar sekarang!" bentaknya kembali, dengan suara tertahan, dan penuh penekanan.

Dalam keadaan kesal seperti itu, dia masih harus meredam emosinya, karena ada orang-orang di sekitar mereka yang tidak boleh mereka ganggu kenyamanannya.

Mereka yang merasa bersalah langsung diam dan mendadak membungkam mulut mereka. Detail berikutnya, Daris langsung merangkul pundak Faiz dan Dafa.

Yang berdiri di samping kedua sisinya.

Daris mengecilkan suaranya, dan berbisik, "Gue lupa, yang galak dan nyeremin bukan Paketu doang. Wakilnya juga ga kalah galak dan lebih serem," ujarnya sambil menunjuk ke arah Fardan.

Dafa mengangguk setuju, wajahnya tampak sedikit menyesal karena telah mengganggu Fardan.

"Makanya kalian harus diam," timpal Faiz dengan suara pelan, berusaha mengakhiri debat mereka sebelum situasi semakin memburuk.

"Bukan kalian, tapi kita bertiga!" Daris membenarkan ucapan Faiz yang menurutnya keliru.

Ketegangan di ruangan itu mulai mereda, Fardan kembali menarik nafas lega.

Sementara Daris, Faiz, serta Dafa kembali fokus menyantap cemilan mereka. Dengan sesekali memperbincangkan hal yang berbeda dari hal yang mereka bicarakan sebelumnya.

Semua berusaha menjaga suara agar tidak menimbulkan konflik lebih lanjut hingga berujung menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain.

 

Di lain sisi, kini Galvin sudah berada di lantai dua perpustakaan Galaksi. Kehadirannya selalu mendapat penghormatan dari para karyawan yang bekerja di sana.

Terkhusus untuk para karyawan senior, karena karyawan baru yang baru bekerja sekitar dua sampai tiga tahun, kebanyakan belum mengetahui bahwa Galvin anak dari pemilik Perpustakaan terbesar itu.

"Tuan Muda, ada yang perlu saya bantu?" tanya Kepala Perpustakaan.

Dia langsung menghampiri Galvin, begitu Galvin berada di lantai itu.

"Tidak. Saya hanya lihat-lihat saja," jawab Galvin, sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru Perpustakaan itu.

Kepala Perpustakaan langsung mengangguk paham.

"Baiklah kalau begitu, saya permisi," ucapnya.

Usianya memang jauh lebih tua di atas Galvin, bahkan kepala Perpustakaan seumur dengan orang tua Galvin.

Namun, kepala Perpustakaan itu tetap menunjukkan rasa hormat kepada atasannya. Begitu juga Galvin yang menghormati seluruh karyawannya, tanpa memandang usia.

Setelah Kepala Perpustakaan itu pergi dari sana, Galvin kembali melanjutkan langkahnya ke tempat yang memang menjadi tujuan awalnya.

Hufth! Letak buku nya tinggi semua, gumam Khaira, sambil melihat jejeran rak buku yang menjulang tinggi.

Kali ini, dia ditugaskan untuk menyusun buku-buku baru di rak buku itu. Pekerjaan ini memang biasa dia lakukan, karena menjadi salah satu tugas yang harus dia lakukan dalam pekerjaan.

"Kak Abel lihat ga, tangga ada di mana?" tanya Khaira kepada Abel yang tengah sibuk di kursi kerjanya.

Sementara itu, Abel sedang menyusun laporan yang harus segera dia serahkan kepada Kepala Perpustakaan.

"Tadi ada di ujung sana, Khai. Habis di pakai sama yang lain," jawab Abel, menunjuk ke arah sudut ruangan menggunakan gerakan mata.

Khaira langsung mengangguk paham. "Makasih, Kak."

"Sama-sama," jawab Abel, yang kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

Jarak meja kerja Abel dan Khaira memang sangat dekat. Sehingga keduanya suka saling menolong saat saling membutuhkan satu sama lain.

Sama halnya seperti saat ini, di mana Khaira menanyakan keberadaan tangga yang akan dia gunakan untuk menyusun tumpukan buku.

Khaira berjalan ke arah sudut ruangan yang baru saja Abel tunjukkan.

Di sana dia menemukan pekerjaan senior yang sangat Khaira kenal. Senior itu selalu baik kepada setiap orang, termasuk kepada dirinya.

"Permisi, Kak. Apakah tangganya masih dipakai?" tanya Khaira, dengan sopan.

"Oh, ini udah selesai. Kamu mau pakai?" tanya senior itu, yang merupakan seorang laki-laki.

Khaira langsung mengangguk. "Iya, Kak. Buat nyimpen buku di rak sebelah sana." Dia menunjukkan ke arah rak buku dekat meja kerjanya.

"Biar saya bantu bawa tangganya ke sana," ucap senior itu.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Ga papa, Kak, biar aku saja."

Tentu saja dia menolak bantuan itu, karena dia merasa tidak enak. Selagi dia masih bisa melakukan hal itu sendiri, maka dia akan berusaha melakukannya.

"Ini berat, Khaira. Biar saya aja," ucap senior itu sambil membawakan tangga ke arah rak buku, di mana Khaira akan merapihkan buku-buku itu.

Khaira tidak sempat menolak untuk yang kedua kali, karena seniornya itu lebih dulu membawa tangganya.

Dia hanya bisa menyusul dari belakang, hingga terhenti di depan rak buku nya.

"Makasih, Kak. Maaf merepotkan," ucap Khaira.

Sungguh, benar-benar merasa tidak enak, karena telah merepotkan seniornya.

"Tidak. Ini memang tugas sesama rekan kerja untuk saling membantu satu sama lain," ucap senior itu, setelah meletakkan tangga di depan rak buku yang Khaira tunjukkan sebelumnya.

"Sekali lagi makasih." Khaira kembali berterima kasih seraya menundukkan kepalanya dengan sopan.

"Sama-sama," ucap senior itu yang ikut menundukkan kepala.

"Saya kembali ke sana," sambungnya kembali, menunjuk ke tempat semula, di mana tempatnya bekerja.

Khaira langsung mengangguk. "Silahkan, Kak!" mempersilahkan.

"Udah dapat tangganya, Khai?" tanya Abel, menghampiri Khaira.

"Udah, Kak."

Abel mengangguk, begitu melihat tangga besar di depan mereka.

"Hati-hati. Itu tinggi banget," ucap Abel, mengingatkan.

Khaira langsung mengangguk paham. "Iya, Kak."

Abel tersenyum, karena Khaira mau mendengarkan nasihatnya dengan baik. "Kakak ke ruang Kepala Perpustakaan dulu, ya. Buat ngasih laporan ini," ucapnya.

Dia menunjukkan sebuah berkas yang kini berada dalam genggamannya. Berkas itu berisi laporan terkait daftar tamu atau pengunjung yang datang ke perpustakaan itu tiap bulannya.

Khaira mempersilahkan Abel untuk berlalu dari hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!