Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaji, Rahasia, dan Chi yang Hilang
Pangeran Lie Bun Hok diam sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah Eng Hong yang sudah dibaringkan di kamar sebelah. Lalu dia menghela napas panjang.
"Gue... gue lupa tujuan awal."
Tiga jenderal menatapnya bingung.
"Lo mau ngapain, Pangeran?" tanya Kim.
Bun Hok mengusap wajahnya. "Gue ke sini sebenarnya nyari kalian bertiga. Buat bayar gaji. Biasa, jasa perang kan 2 kali gaji kalo kalah, 3 kali gaji kalo menang plus libur sesuai kondisi. Kondisi kalian itu dinilai kudu istirahat 3 bulan. Sekalian …Gue cari alasan ke luar istana—" dia melirik ke arah kamar Eng Hong, "—dan lo tahu sendiri alasannya."
Choa manggut-manggut. "Berarti lo pake alasan cari kami buat ketemu doi?"
"Iya."
"WA LAU E."
Go Beng Liong yang dari tadi diem langsung bergerak. Tangan kanannya menutup mulut Choa.
"Diem lo," bisik Go. "Jangan rame-rame."
Choa berusaha protes tapi suaranya cuma "Mmmph! Mmmph!"
Kim melirik ke luar, pastikan gak ada yang denger. "Jadi... gaji kami dibayar? Di sini? Sekarang?"
Bun Hok mengeluarkan tiga lembar kertas dari balik jubahnya. "Surat penukaran emas. Udah gue tandatangan. Lo tinggal cairin ke bendahara istana."
Kim, Choa, dan Go saling pandang.
Mereka jenderal. Punya bawahan. Punya pasukan. Tapi di depan Pangeran, di penginapan kecil ini, dengan surat gaji di tangan...
Mereka sadar: Nasib mereka ternyata ya rendahan juga. Nunggu gaji dari orang. Gak digaji, utang sana sini. Buat berobat. Bedanya, gajinya gedean.
"Makasih, Pangeran," kata Kim pelan.
Bun Hok mengangguk. Dia berbalik, melangkah ke pintu, lalu berhenti.
"Gue percaya kalian. Gak bakal ngomong."
"Udah banyak rahasia lo kami simpen," timpal Kim.
Choa—yang udah dilepas sumpalannya—cuma bisa nambahin, "Tapi yang ini bikin hati mau copot, Pangeran. Lo... lo nekat banget."
Bun Hok tersenyum pahit. "Cinta, Jenderal."
Choa menelan ludah. Dia ingat keluarganya sendiri. Kakaknya dijodohkan sama gadis yang sudah dia bela-belain nabung dan cari sambilan ngelukis. Panas, akhirnya dia menotok kakaknya yang sarjana dan kena kasus tukar pengantin di persidangan militer. Tapi, di pengadilan militer, kakaknya malah lega soalnya ternyata kakaknya sudah punya istri diam-diam. Malah punya 3 anak laki-laki yang waktu dia libur, dia ajari silat juga. Akhirnya sidang kasus ditutup sehari, sidang keluarga sebulan.
Pangeran itu pergi. Menuju kamar Eng Hong.
---
Tiga jenderal itu diem. Lama. Lalu Go berdiri. Berjalan ke dipan Kwee Lan.
---
"Sio Moi."
Kwee Lan membuka mata. Sekarang udah lebih segar. Lumpuhnya mulai hilang. Dia bisa gerakin jari, meski masih lemas.
"Lo melek?" tanya Go.
Kwee Lan mengerjap. "Lo kira gue mau tidur terus?"
Go menghela napas. "Mau uang atau barang?". Dia sudah sangat percaya diri bahwa gadis ini pasti minta ganti barang. Juga bukan tipikal pemuja harta. Dia dikejar-kejar banyak wanita. Mengejar wanita banyak juga. Tapi, hatinya tidak bisa disangkutkan pada salah satunya. Ia bersyukur karena jadi pria di zaman yang tepat dan punya profesi akurat sebagai alasan membujang. Pertama sebagai prajurit ahli strategi, kedua sebagai Sinseh Militer.
Kwee Lan menatapnya.
"Lo serius nanya gitu?" suaranya masih lemah, tapi nada sinisnya kenceng.
Go garuk kepala. "Gua... anu... penasaran. Daripada salah ganti"
Kwee Lan diem sebentar.
"Barang."
“Oke, barang, ya… nanti gue cari bibit yang paling cin-cia hao sendiri ….”
TANGAN KWEE LAN NUTUP MULUT GO.
"Udah. Jangan bilang mau nanem kebun. Gak usah."
Go melongo lewat celah jari Kwee Lan.
Kwee Lan lepas tangannya. "Lo Sinseh tentara. Pasti lu maksa mau nanem sendiri. Jangan, lah Koh. Istirahat. Nanti gua nanem ya bisa. Atau suruh orang."
Go diem, hatinya hangat. Dari semua wanita. Baik yang dia cari sendiri lalu putus juga yang dijodohkan dengannya. Baru ini yang tau dia mikir apa atau mau apa. Jantungnya berdegup.
Tiba-tiba Kwee Lan memberikan isyarat untuk mengecek Chi yang hanya dimengerti oleh pelajar yang belajar ilmu Sinshe.
"Sio Moi," Go pelan. "Lo minta gue periksa chi lo?"
Kwee Lan mengangguk.
Go letakkan tangan di pergelangan Kwee Lan. Konsentrasi. Rasakan aliran chi—
Kosong.
Diam.
Nol.
Wajah jendral Go langsung dari malu-malu jadi serius, seolah menghadapi musuh.
Ia menggeleng.
"Gue tahu."
—---
“Jendral, waktunya kontrol jahitan”, kata Kwee Lan.
“Lan-A. Nanti loe orang gimana?”, kata Jendral Go lembut.
“Cek jahitan itu biar chi Segede Tai Chan Lao Su Kan juga ga kepake?” jawabnya. Sinseh Go mengangguk. Gak tega, tapi memang lukanya terasa nyut-nyutan.
Jendral Kim kepalanya aman. Lukanya kering. Tapi dia trauma melihat resep obatnya. Rasa sakit obat oles itu seperti disiksa di neraka tingkat 18 walaupun semingguan ini lukanya kering.
Jendral Choa, jahitan di bahu aman dan bersih. Ketika diberi resep berpelukan dengan Jendrl Kim “Siao Moi…”
Jendral Kim langsung mengajak Jendral Choa keluar, menyumpal mulut manusi lemes itu. Iya hafal teman gilanya itu. Ia takut si ular (Choa artinya ular) bicara yang gak pantas.
Pintu ditutup. Jendral Go pelan-pelan bergeser dari kursi roda dan membuka seluruh pakaiannya. Bagian samping tubuhnya keduanya robek. Tapi jahitannya kering. Sudah mulai menghitam. Sebagian malah tumbuh kulit baru.
"Sioh Moi, aku mau cerita..." Go menatap ramuan di samping dipan. "Aku minum ramuan lu, ada 5 bahan beda dari ramuan gue. Tapi tetap manjur. Kok bisa?"
"Iya."
"Iya, aku dapat itu dari diskusi di komunitas Bu Ki Sut. Dari Sinseh Lam yang orang negeri jauh itu. Dia juga periksa tanpa chi, Sekte Sip. Aku belajar sama dia juga. Pikir aku, biar nambah refrensi buat ujian Sinseh kan ya. Gak taunya kepake sekarang. Setelah semua langganan aku hilang gara-gara sakit sampe gak punya chi"
Kwee Lan diam.
Go lanjut, "Lo tahu gak? Waktu gue masih jadi tabib militer, gue pernah cobain buat obat ginian juga. Tapi ga mempan. Tapi lo... lo bikin dengan tangan tanpa chi, hasilnya lebih manjur dari ramuan gue dulu. Rasanya juga enak"
Kwee Lan menatap tangannya sendiri.
Jadi... selama ini...
"Gue gak butuh chi?" bisiknya.
Go mengangkat bahu. "Gua juga baru sadar. Mungkin Bu Ki Sut lo itu... lebih dari sekadar olahraga." Wajah pria ini memancarkan aura serius.
Gadis ini seolah-olah melihat ayahnya hidup kembali di mata Jendral Go. “Papa…” bisiknya. Tapi ia sadar. Yang pergi takkan kembali.
Dari luar, suara Choa dan Kim lagi ribut soal gaji.
"LO DAPET BERAPA?"
"RAHASIA!"
"BIKINAN!"
Di dalam, Kwee Lan dan Go saling pandang.
"Sio Moi," kata Go. "Gue rasa lo baru nemu sesuatu."
Kwee Lan meraih periuk di sampingnya. Hangat. Bubur masih ada.
"Mungkin," jawabnya pelan. "Tapi gue mau makan dulu. Capek."
Jendral Go mau melihat -lihat Bu Keng Ki Sut. Ia tertarik. Sinseh wanita itu bilang di depan penginapan ada Ki Kut Sun. Jadi, beli saja di situ daripada pakai punya dia.
Go tersenyum ia, menyasar Ki Kut Sun itu untuk belanja kitabnya dulu.
---
[Bersambung]