NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 DAS UNHEIMLICHE DAN TEATER KAUM TERASING

[06:48 AM] FASILITAS PSIKIATRI BENTENG UTARA, BLOK ISOLASI

Udara di lorong Fasilitas Psikiatri Benteng Utara terasa tebal dan anyir. Lampu darurat berwarna merah berputar memancarkan kilatan-kilatan darah ke dinding beton, menciptakan siluet-siluet panjang yang menari liar. Suara sirine yang memekakkan telinga berpadu dengan lolongan tawa, jeritan amarah, dan suara daging yang menghantam logam. Ratusan pintu sel baja telah terbuka menganga.

Saraswati melangkah keluar dari ruang evaluasi, menggenggam erat tongkat kejut listrik di tangannya yang masih terborgol. Sensasi dingin dari lantai beton yang menjalar ke telapak kaki telanjangnya adalah satu-satunya hal yang menambatkannya pada realitas materiil.

Dalam literatur psikoanalisis Sigmund Freud, pemandangan di hadapan Saraswati saat ini adalah manifestasi fisik yang paling sempurna dari konsep Das Unheimliche—sebuah kondisi mengerikan yang sering diterjemahkan sebagai 'Yang Ganjil' atau 'Yang Menakutkan' (The Uncanny). Freud mendefinisikan Unheimlich bukan sekadar rasa takut pada sesuatu yang asing, melainkan ketakutan yang muncul ketika sesuatu yang sudah sangat dikenal (namun sengaja ditekan dan disembunyikan di alam bawah sadar) tiba-tiba kembali muncul ke permukaan (the return of the repressed).

Fasilitas psikiatri ini adalah alam bawah sadar dari struktur negara. Di sinilah negara mengubur rapat-rapat rahasia tergelapnya, produk-produk gagal dari sistemnya, dan trauma yang menolak untuk disembuhkan. Dan pagi ini, berkat campur tangan Sang Pembebas, represi itu telah jebol. Monster-monster yang disembunyikan oleh masyarakat metropolitan dari pandangan mata mereka kini berhamburan keluar, menuntut pengakuan atas eksistensi mereka.

Bagi para sipir dan dokter yang kini berlarian panik menyelamatkan diri, para pasien ini adalah anomali yang menakutkan. Namun bagi Saraswati, yang kini telah mengafirmasi kebebasannya untuk berpikir di luar kotak Apollonian (keteraturan hukum) yang usang, jeritan para pasien ini terdengar seperti paduan suara kejujuran yang brutal.

Saraswati menyusuri lorong sayap timur dengan postur yang merunduk dan waspada. Dari arah persimpangan, tiga orang pasien berbadan kurus kering, mengenakan seragam putih yang telah ternoda darah, sedang memukuli seorang penjaga yang terkapar di lantai menggunakan gagang sapu berbahan logam.

Mata Saraswati memindai pemandangan itu menggunakan lensa kritik Karl Marx. Penjaga yang sedang dipukuli itu adalah representasi dari suprastruktur penindas—alat negara yang digaji untuk menjaga hierarki kelas. Sementara itu, ketiga pasien yang sedang meluapkan amarah mereka adalah bentuk paling ekstrem dari kaum yang teralienasi (terasing). Sistem kapitalis dan birokrasi negara telah merampas Gattungswesen (esensi kemanusiaan) mereka. Mereka dilucuti dari identitasnya, diubah menjadi sekadar "Pasien Nomor Sekian," dan dikurung seperti hewan percobaan. Kekerasan yang mereka lakukan saat ini bukanlah sebuah peradilan; itu adalah ledakan amuk Id yang primitif, sebuah reaksi kimiawi dari jiwa-jiwa yang telah kehilangan orientasi rasionalnya.

Saraswati tidak merasakan dorongan moral untuk menyelamatkan sang penjaga, dan ia juga menolak untuk bergabung dengan euforia kaum tertindas itu. Ia bukan lagi pelindung sistem, tapi ia juga menolak menjadi bagian dari herd mentality (mentalitas kawanan) yang dikritik habis-habisan oleh Friedrich Nietzsche. Seorang Übermensch bertindak berdasarkan kehendaknya sendiri yang otonom, melampaui dualitas baik dan buruk versi manusia kebanyakan.

Tujuan Saraswati adalah Pusat Ruang Kendali (Panopticon) di lantai tiga. Untuk mencapai akses ke sana, ia membutuhkan kartu keamanan tingkat merah dan sebuah radio komunikasi—benda-benda yang saat ini masih melekat di sabuk penjaga yang sedang diamuk massa itu.

Saraswati mencengkeram tongkat kejutnya, menekan tombol aktivasi hingga percikan listrik biru sebesar puluhan ribu volt berderak nyaring. Ia menerjang maju.

"Minggir," desis Saraswati dingin.

Ketiga pasien itu menoleh serentak. Mata mereka liar, dilatasi pupil menunjukkan bahwa mereka mungkin berada di bawah pengaruh obat-obatan atau dalam fase psikosis akut. Salah satu dari mereka, seorang pria tinggi dengan rambut panjang sebahu, menyeringai dan mengayunkan pipa logamnya ke arah kepala Saraswati.

Saraswati tidak mundur. Ia telah dibentuk oleh trauma, dilatih oleh akademi kepolisian, dan kini dibakar oleh api eksistensialisme. Ia merendahkan tubuhnya, menghindari ayunan pipa itu dengan presisi silogistik Aristotelian yang memperhitungkan lintasan benda fisik, lalu menyodokkan ujung tongkat kejutnya tepat ke ulu hati pria itu.

BZZZT!

Pria itu kejang-kejang dan ambruk seketika. Dua pasien lainnya ternganga sejenak, sebuah keraguan yang cukup bagi Saraswati untuk menghantam rahang pasien kedua dengan lututnya, dan menyetrum pasien ketiga di bagian leher.

Dalam kurang dari lima detik, ketiga pria yang kehilangan akal sehatnya itu terkapar di lantai. Kekuatan Dionysian (kekacauan) hanya bisa ditundukkan oleh mereka yang mampu mengarahkan kekacauan itu menjadi energi yang terfokus.

Saraswati berlutut di samping penjaga yang sudah babak belur dan nyaris kehilangan kesadarannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menenangkan penjaga itu, tangan Saraswati yang terborgol dengan cekatan melucuti radio panggil (walkie-talkie) dan mengamankan kartu akses tingkat merah dari saku pria tersebut.

[07:15 AM] TANGGA DARURAT DAN DEKONSTRUKSI SANG LIYAN

Saraswati menyusuri tangga darurat yang gelap menuju lantai tiga. Bau asap mulai tercium. Seseorang di lantai bawah sepertinya telah menyulut api di ruang arsip. Ia harus bergerak cepat sebelum karbon monoksida mengisi paru-parunya yang masih rentan akibat tragedi gas amonia dua minggu lalu.

Tiba di bordes lantai dua, pintu baja tangga darurat didobrak dari luar.

Seorang pasien berukuran raksasa—tingginya nyaris dua meter dengan otot-otot yang menonjol dan tato di sekujur lehernya—masuk ke area tangga. Ia adalah napi kriminal dengan rekam jejak psikopati tingkat tinggi. Mata pria raksasa itu langsung tertuju pada Saraswati yang berdiri beberapa anak tangga di atasnya.

Pria itu tersenyum mesum, sebuah senyuman yang memancarkan dominasi patriarkis paling purba. Di matanya, Saraswati yang mengenakan kaus tipis, bertelanjang kaki, dan terborgol adalah mangsa yang sempurna.

"Wah, wah..." suara serak pria raksasa itu menggema di lorong tangga yang sempit. "Seorang wanita kecil yang tersesat. Dokter-dokter keparat itu selalu menjauhkan wanita dari selku. Kemarilah, manis. Aku akan menunjukkan padamu kebebasan yang sesungguhnya."

Pria itu melangkah menaiki tangga. Setiap pijakannya terasa berat dan mengancam.

Dalam filosofi Simone de Beauvoir yang tertuang dalam karya agungnya, The Second Sex, momen ini adalah representasi mikrokosmos dari sejarah penindasan perempuan. Pria raksasa ini, didorong oleh konstruksi biologis dan keangkuhan gendernya, secara otomatis memposisikan dirinya sebagai Subjek yang memiliki kuasa absolut. Pada saat yang bersamaan, ia mendegradasi Saraswati menjadi Sang Liyan (The Other)—sebuah objek pasif yang ada hanya untuk memuaskan hasrat dan kekejamannya. Di mata pria ini, Saraswati tidak memiliki eksistensi intelektual; ia hanyalah sebuah tubuh yang terperangkap dalam imanensi.

Mantan Saraswati, di kehidupan lamanya, mungkin akan merasa gentar. Superego-nya mungkin akan menjerit mencari perlindungan hukum. Namun Saraswati yang berdiri di tangga ini adalah entitas yang telah lahir kembali dari kabut Hayra.

"Seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan," gumam Saraswati dengan suara yang sangat tenang dan dingin, mengutip Beauvoir. Makna dari kalimat itu membanjiri aliran darahnya: ia tidak ditentukan oleh takdir biologisnya atau pandangan pria di hadapannya. Ia yang menentukan esensinya sendiri melalui tindakannya.

Saraswati tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah turun.

Pria raksasa itu tertawa, mengira Saraswati menyerah. Ia merentangkan tangannya yang besar untuk menerkam.

Saraswati bertindak melampaui nalar yang diharapkan. Ia tidak menggunakan tongkat kejutnya. Sebaliknya, ia melompat turun dari anak tangga, menggunakan gravitasi dan momentum tubuhnya, dan melingkarkan rantai borgol yang menghubungkan kedua pergelangan tangannya tepat ke leher pria raksasa itu.

Beban tubuh Saraswati yang jatuh bebas menarik leher pria itu dengan kekuatan yang brutal. Pria raksasa itu tercekik seketika, matanya melotot saat udara di tenggorokannya terputus secara paksa. Keduanya berguling menuruni tangga beton yang keras.

Pria itu meronta liar, berusaha melepaskan rantai besi yang mencekiknya, tetapi Saraswati tidak melepaskannya. Ia mengunci kedua kakinya di pinggang pria itu, mengubah tubuhnya sendiri menjadi sebuah mesin pitingan mematikan. Ini adalah penolakan radikal atas peran Sang Liyan. Saraswati menghancurkan objektivikasi pria itu dengan cara mereduksi pria itu sendiri menjadi sebuah entitas yang memohon-mohon untuk hidup.

Wajah pria itu mulai membiru. Tangannya yang besar memukul-mukul lantai beton dengan putus asa.

Tepat sebelum pria itu mati kehabisan napas, Saraswati melepaskan pitingannya. Ia bangkit berdiri dengan cepat, meraih tongkat kejutnya yang terjatuh, dan menancapkannya ke sisi leher pria raksasa yang sedang megap-megap mencari udara itu. Sengatan listrik itu memastikan pria itu pingsan total tanpa perlawanan.

Saraswati berdiri di atas tubuh raksasa yang tumbang itu. Napasnya terengah-engah, namun matanya memancarkan kejernihan absolut. Ia telah menolak untuk dimangsa. Ia membuktikan bahwa eksistensinya tidak bisa dikerdilkan oleh kekuatan fisik semata. Ia adalah subjek yang menakutkan, dan neraka ini adalah panggungnya.

[07:45 AM] RUANG KENDALI PANOPTICON DAN ALAM BARZAKH

Setelah melewati dua blok yang dipenuhi asap dan darah, Saraswati akhirnya tiba di depan pintu berlapis titanium menuju Pusat Ruang Kendali. Pintu ini dirancang untuk menahan serangan luar. Pemindai kartunya mati total karena sistem kelistrikan utama telah diputus.

Saraswati menyandarkan telinganya ke pintu baja tersebut. Ia bisa mendengar rintihan ketakutan dari dalam. Ada sipir yang bersembunyi di sana, mengunci diri mereka dari amuk massa di luar.

Menggunakan nalar Aristotelian tentang hukum kausalitas, ia tahu bahwa pintu magnetik ini memiliki sistem pemutus arus (fail-safe) manual untuk mencegah staf terkunci permanen jika terjadi kebakaran. Panel pemutus itu berada di kotak utilitas tepat di samping pintu.

Saraswati menghancurkan kotak kaca utilitas itu menggunakan tongkatnya, menarik kabel serat optik berwarna biru dan kuning, dan menempelkan ujung tongkat kejutnya ke sana. Arus listrik statis tegangan tinggi yang ia tembakkan secara paksa me-reboot sirkuit sirkuit relai elektromagnetik pintu.

Sebuah bunyi Klak! yang keras terdengar. Kunci magnetik itu terlepas.

Saraswati menggeser pintu berat itu dan melangkah masuk. Tiga orang petugas keamanan yang bersembunyi di dalam sana terlonjak mundur, mengarahkan pistol mereka ke arahnya dengan tangan gemetar.

"Turunkan senjata kalian, atau massa di luar sana akan mendengar kalian," perintah Saraswati tajam, menyalakan walkie-talkie milik sipir yang ia rampas sebelumnya, lalu menaikkan volumenya hingga maksimal. Suara teriakan para psikopat yang sedang memburu sipir bergema di ruangan itu, menjadi ancaman psikologis yang sempurna.

Ketiga sipir itu, yang sudah kehabisan moral dan keberanian, perlahan menurunkan senjata mereka.

Saraswati mengabaikan mereka dan berjalan mendekati konsol utama.

Ruang Kendali ini adalah bentuk nyata dari konsep Panopticon—sebuah desain arsitektur institusional yang memungkinkan segelintir pengawas mengawasi semua tahanan tanpa para tahanan itu tahu apakah mereka sedang diawasi atau tidak. Ini adalah struktur kekuasaan Apollonian tertinggi. Di dinding depan, puluhan layar monitor CCTV menampilkan setiap sudut fasilitas yang kini dilanda kekacauan.

Saraswati menatap layar-layar tersebut. Dari perspektif mistisisme Ibnu Arabi, dinding monitor ini beroperasi layaknya Barzakh—alam perantara. Saraswati berada di sini, di ruang yang aman dan terpisah (Tanzih - transenden), mengamati penderitaan dan kekacauan berdarah di dunia bawah sana (Tashbih - imanen) tanpa tersentuh olehnya. Layar-layar ini menjembatani realitas fisik kerusuhan dengan realitas digital pengawasan.

"Tunjukkan padaku log rekaman CCTV lima belas menit sebelum pemadaman listrik," perintah Saraswati kepada salah satu teknisi yang meringkuk di sudut. "Sekarang!"

Teknisi itu dengan gemetar mengetikkan perintah di keyboard menggunakan daya dari unit baterai cadangan komputer.

Saraswati menelusuri rekaman itu dengan mata elangnya. Jika Kala atau proksinya berhasil mematikan listrik, mereka harus berada di dekat ruang generator bawah tanah.

Fokus Saraswati berhenti pada Monitor 12, yang menampilkan lorong menuju Sublevel 4.

"Tunggu," dahi Saraswati berkerut dalam. "Apa itu Sublevel 4? Seingatku, cetak biru yang diserahkan ke publik hanya mencatat keberadaan tiga lantai bawah tanah untuk fasilitas ini."

Teknisi itu menelan ludah, wajahnya memucat lebih dari sebelumnya. "Itu... itu adalah sektor hitam, Dokter. Hanya Dr. Kusnadi dan Inspektur Bramantyo yang memiliki akses ke sana. Kami menyebutnya 'Ruang Arsip Khusus', tapi... desas-desusnya, itu adalah tempat para tamu VIP disimpan jika keadaan di darat sedang tidak aman."

Logika deduktif di otak Saraswati mulai merangkai teka-teki itu dengan kecepatan kilat.

Premis Mayor: Kala menargetkan para elit yang terlibat dalam jaringan komodifikasi anak Panti Asuhan Tunas Abadi. Premis Minor: Setelah kerusuhan di perumahan elit metropolitan dua minggu lalu, banyak petinggi dan klien pedofil dari jaringan itu yang kehilangan perlindungan fisik. Kesimpulan: Negara tidak memenjarakan mereka. Inspektur Bramantyo menyembunyikan para monster elit itu di bawah fasilitas psikiatri ini, berlindung di balik tembok rumah sakit jiwa sebagai bungker teraman yang tak akan tersentuh oleh publik!

Kerusuhan pasien di lantai atas ini bukanlah balas dendam acak. Ini hanyalah pengalih perhatian. Sebab Material untuk menyembunyikan Sebab Final. Sang Pembebas sengaja melepaskan para pasien untuk menahan seluruh pasukan penjaga di lantai atas, sementara ia sendiri melenggang bebas menuju sarang para iblis sesungguhnya di bawah tanah.

Saraswati menunjuk ke layar Monitor 12. "Putar rekamannya. Sepuluh menit sebelum lampu mati."

Layar itu memutar rekaman hitam putih. Di lorong Sublevel 4 yang sepi, sesosok tubuh melangkah mendekati pintu brankas raksasa yang menuju ke area perlindungan VIP.

Orang itu mengenakan seragam perawat medis berwarna putih, persis seperti perawat yang mengantarkan obat dan pesan origami ke sel Saraswati semalam.

Di depan kamera CCTV, perawat itu menghentikan langkahnya. Ia secara perlahan melepaskan masker bedah dan face shield plastik yang menutupi wajahnya.

Saraswati menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit. Rantai borgol di tangannya bergetar.

Wajah yang terpampang di layar monitor itu bukanlah Kala.

Itu adalah wajah seorang pria tua dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya. Pria dengan mata yang memancarkan kekejaman absolut, yang telah mati dalam ingatan Saraswati selama dua puluh tahun. Pria yang memegang palu godam di malam pembantaian keluarganya. Pria yang mendobrak pintu lemarinya.

Monster yang asli. Sang Pembantai itu ternyata masih hidup.

Sosok di layar itu menatap langsung ke arah lensa kamera CCTV seolah ia bisa melihat jiwa Saraswati yang berada di Ruang Kendali. Pria tua itu mengangkat tangan kanannya, memamerkan sebuah gembok berkarat dan sebuah kunci tua, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara, membentuk kata:

"Saras."

Detik berikutnya, rekaman itu mati menjadi statis abu-abu.

Dunia Saraswati benar-benar berhenti berputar. Teori Freud tentang kompulsi pengulangan tidak lagi relevan, karena ini bukan sekadar pengulangan psikologis. Ini adalah reuni fisik dengan sumber segala ketakutannya. Kala, Sang Pembebas, ternyata belum mati, dan ia membawa monster dari masa lalu Saraswati ke tempat ini untuk memulai pengadilan terakhir.

Saraswati tidak menyadari bahwa air mata telah membasahi pipinya yang dingin. Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata dari amarah yang telah mengendap menjadi racun paling mematikan.

Ia memutar tubuhnya, menatap ketiga sipir yang ketakutan.

"Buka borgolku," perintah Saraswati, mengulurkan tangannya. "Buka sekarang, atau aku akan membuang kalian ke kerumunan di luar sana."

Setelah borgolnya terlepas, Saraswati menyambar pistol dari meja salah satu penjaga, memeriksa magasinnya, dan mengisi peluru ke dalam biliknya. Ia telah menolak ketiadaan, ia telah melampaui kebingungan Hayra, dan ia telah menjadi Subjek atas kematiannya sendiri.

Pintu menuju kegelapan Sublevel 4 memanggilnya. Dan kali ini, ia tidak akan bersembunyi di dalam lemari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!