NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Ziarah di Atas Darah

​Udara di daratan utama Italia terasa lebih berat dan lebih panas dibandingkan semilir angin di Isola del Sangue. Helikopter hitam milik keluarga Valerius mendarat di sebuah landasan pribadi di pinggiran Roma, tepat saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan semburat warna jingga yang menyerupai api.

​Aruna turun dari helikopter dengan bantuan tangan Dante. Ia mengenakan terusan hitam panjang dan kacamata hitam besar, menyembunyikan matanya yang tidak tidur sepanjang malam. Di belakang mereka, Marco dan enam penjaga bersenjata lengkap bergerak dengan presisi militer, membentuk perimeter pengamanan yang ketat.

​"Kau tampak pucat," bisik Dante di telinganya. Tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, sebuah gestur yang bagi dunia luar tampak seperti perlindungan, namun bagi Aruna terasa seperti belenggu besi.

​"Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah kelahiranku setelah bertahun-tahun. Wajar jika aku merasa sedikit sesak," jawab Aruna dengan nada yang datar namun meyakinkan.

​"Jangan biarkan emosimu mengaburkan ingatanmu tentang kode itu, Aruna," Dante memperingatkan. "Kita di sini untuk satu tujuan."

​"Aku tahu, Dante. Jangan terus mengingatkanku seolah aku adalah komputer yang kau program."

​Mereka menaiki iring-iringan SUV lapis baja menuju sebuah pemakaman kuno di daerah perbukitan yang sepi, tempat Adrian dimakamkan di bawah identitas palsu yang diberikan oleh Lorenzo Valerius sebagai bentuk penghinaan terakhir—dimakamkan tanpa nama asli, tanpa kehormatan.

​Sepanjang perjalanan, Aruna hanya menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang pada percakapan singkatnya dengan Marco tadi malam. Marco telah memberinya sebuah pemancar kecil yang disembunyikan di dalam sol sepatunya. Alat itu akan mengirimkan sinyal kepada kontak rahasia Marco yang diklaim sebagai agen interpol yang ingin menjatuhkan keluarga Valerius.

​Namun, Aruna tidak sepenuhnya percaya pada Marco. Di dunia ini, kepercayaan adalah racun. Ia hanya menggunakan Marco sebagai alat untuk menciptakan kekacauan, sehingga di tengah keributan itu, ia bisa membawa ibunya lari.

​"Kenapa kau diam saja?" tanya Dante, memecah keheningan di dalam mobil.

​"Aku sedang memikirkan apa yang akan kukatakan pada ayahku," dusta Aruna. "Apa yang harus kukatakan pada pria yang mati demi melindungiku, sementara sekarang aku berdiri di samping putra dari pria yang membunuhnya?"

​Dante menghela napas, sebuah suara yang jarang terdengar darinya. "Dunia ini tidak sesederhana itu, Aruna. Ayahku membunuh ayahmu karena ayahmu melanggar hukum paling suci dalam organisasi: pengkhianatan. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan keserakahan yang menyatukan mereka sejak awal."

​"Dan kau tidak serakah, Dante?"

​Dante menoleh, menatap Aruna dengan tatapan yang dalam. "Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Termasuk kau."

​Mobil berhenti di depan gerbang besi pemakaman yang berkarat. Suasana di sana sangat sunyi, hanya suara jangkrik dan gesekan daun pohon cemara. Marco turun lebih dulu, memeriksa setiap sudut sebelum memberi isyarat aman.

​Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi lumut. Dante membimbing Aruna menuju sebuah nisan batu tua yang hanya bertuliskan nama “A. S. - 1968-2004”.

​Aruna berlutut di depan nisan itu. Ia meletakkan seikat bunga lili putih yang ia bawa dari villa. Air matanya jatuh dengan tulus, bukan karena rencana manipulasinya, melainkan karena rasa sakit yang nyata dari seorang anak yang baru bisa mengunjungi makam ayahnya setelah dua puluh tahun.

​"Maafkan aku, Ayah..." bisik Aruna.

​Dante berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberi ruang namun tetap waspada. Matanya terus menyapu sekeliling perbukitan. "Ingat tujuan kita, Aruna. Di mana kuncinya?"

​Aruna mengusap air matanya. Ia meraba bagian bawah nisan batu itu, sesuai dengan "ingatan" palsu yang ia karang. "Di bawah sini... ada sebuah kotak kecil yang ditanam di dalam beton nisan."

​Dante segera memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk membawa peralatan pahat. Saat mereka mulai bekerja merusak bagian bawah nisan, Aruna berdiri dan mundur perlahan menuju Marco.

​"Sinyalnya sudah aktif?" bisik Aruna hampir tanpa menggerakkan bibir.

​Marco hanya mengangguk kecil, matanya terpaku pada layar kecil di pergelangan tangannya.

​Tiba-tiba, suara tembakan sniper memecah kesunyian.

​DOR!

​Salah satu anak buah Dante yang sedang memahat nisan terjatuh dengan lubang di kepalanya. Darah memercik ke nisan Adrian yang suci.

​"TIARAP!" teriak Dante. Ia menerjang Aruna, menjatuhkannya ke tanah dan melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

​Suara tembakan otomatis menyalak dari arah hutan di sekeliling pemakaman. Itu bukan polisi. Aruna melihat seragam yang dikenakan para penyerang melalui celah ketiak Dante. Itu adalah tentara bayaran Luciano Valerius.

​"Marco! Balas tembakan! Amankan jalur evakuasi!" perintah Dante sambil mengeluarkan dua pistol dari balik jasnya.

​Kekacauan pecah. Pemakaman yang tenang itu berubah menjadi medan perang. Dante melepaskan tembakan dengan presisi yang mengerikan, menjatuhkan satu per satu musuh yang mencoba mendekati mereka. Aruna merasakan panas dari selongsong peluru yang jatuh di dekat wajahnya.

​"Dante! Kita terkepung!" teriak Marco. Namun, Aruna menyadari sesuatu yang aneh. Marco tidak menembak ke arah musuh; ia hanya menembak ke udara, memberikan kesan bahwa ia sedang bertempur.

​Marco mengkhianati Dante malam ini, batin Aruna ngeri. Tapi siapa yang sebenarnya dibantu oleh Marco? Luciano? Atau pihak ketiga?

​"Aruna, ikut aku!" Dante menarik Aruna berdiri, berlari menuju barisan SUV. Peluru-peluru menghantam batu nisan di sekitar mereka, mengirimkan serpihan marmer ke udara.

​Saat mereka mencapai mobil, sebuah ledakan besar menghancurkan SUV paling depan. Dante terhempas ke tanah, telinganya berdenging. Aruna pun terlempar, ia merangkak dengan sisa tenaganya.

​Di tengah kepulan asap, sosok Luciano Valerius muncul, turun dari sebuah helikopter yang mendarat darurat di tengah area pemakaman. Ia dikelilingi oleh belasan pengawal.

​"Cukup, Keponakanku!" suara Luciano menggelegar melalui megafon. "Kau sudah kalah. Serahkan Aruna dan kau boleh pergi hidup-hidup."

​Dante bangkit perlahan, wajahnya berlumuran darah dari luka di dahi, namun matanya memancarkan api yang sanggup menghanguskan dunia. "Kau harus membunuhku dulu, Tua Bangka."

​"Itu bisa diatur," Luciano memberi isyarat pada penembak jitu.

​"JANGAN!" teriak Aruna. Ia berdiri di antara Dante dan Luciano. "Paman, aku akan ikut denganmu! Tapi jangan bunuh dia!"

​Dante menatap Aruna dengan tatapan hancur. "Aruna, jangan... apa yang kau lakukan?"

​Aruna menoleh pada Dante, memberikan tatapan yang penuh arti yang tidak bisa dipahami Dante sepenuhnya. "Aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak awal, Dante. Menyelamatkan nyawa orang yang tersisa."

​Aruna berjalan menuju Luciano. Namun, saat ia berada di tengah-tengah antara kedua pria itu, ia berhenti. Ia meraba sol sepatunya dan mencabut pemancar kecil itu, lalu melemparkannya ke kaki Luciano.

​"Kau pikir aku bodoh, Paman?" suara Aruna kini lantang dan dingin. "Aku tahu Marco bekerja untukmu. Dan aku tahu kau yang memesan pembunuhan ayahku. Sinyal yang dikirim pemancar ini bukan untuk polisi... tapi untuk otoritas anti-mafia internasional yang sudah menunggu lokasi koordinat ini sejak satu jam yang lalu."

​Wajah Luciano berubah pucat. "Apa?"

​Tiba-tiba, suara sirine dan helikopter tempur milik pemerintah Italia terdengar dari kejauhan, lebih banyak dan lebih kuat daripada tentara bayaran Luciano.

​Aruna berbalik menatap Dante yang masih terpaku. "Lari, Dante! Sekarang!"

​Dante menyadari apa yang terjadi. Aruna telah membakar seluruh arena. Dia tidak memihak Dante, dan dia tidak memihak Luciano. Dia mengadu semua monster ini agar mereka saling memusnahkan, sementara dia memegang kendali atas otoritas hukum.

​Dalam kekacauan saat helikopter polisi mulai melepaskan gas air mata, Dante menarik tangan Aruna. "Kau ikut denganku!"

​"Tidak, Dante! Jika aku ikut, mereka akan memburumu selamanya! Pergilah!"

​"TIDAK TANPAMU!" Dante menggendong Aruna secara paksa, berlari menembus kabut gas air mata menuju jalur tikus di belakang bukit yang sudah ia siapkan sebagai cadangan darurat.

​Di belakang mereka, Luciano tertangkap, Marco menghilang dalam asap, dan sejarah keluarga Valerius baru saja ditulis ulang dengan tinta pengkhianatan yang paling murni.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!