⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 (Part 2)
Dua hari tanpa Pak Radit di jam pelajaran PJOK rasanya kayak makan seblak tapi nggak ada kencurnya—hambar dan kurang nendang. Guru penggantinya adalah Pak Bambang yang udah sepuh, yang kerjanya cuma nyuruh anak-anak main bola bebas sementara dia tidur di bawah pohon kersen.
Gia duduk di pinggir lapangan, bengong liatin ring basket. Biasanya jam segini dia lagi debat sama Pak Radit soal free throw.
"Gi, lo udah kayak zombi di film Warm Bodies tau nggak," kata Caca sambil nyodorin teh botol. "Udah sih, cuma dua minggu. Nanti juga dia balik."
"Masalahnya bukan dua minggunya, Ca. Masalnya adalah... gue ngerasa Pak Radit sengaja ngejauh. Dia beneran nggak bales chat gue. Cuma di-read doang, itupun baru tiga jam kemudian."
"Ya bagus dong! Berarti dia dengerin kata Bu Nur. Lo juga harusnya fokus belajar. Eh, tapi lo tau nggak?"
Caca mendekat, suaranya mengecil. "Gue dapet info dari grup sebelah, katanya Siska sering dateng ke rumah Pak Radit semenjak dia di-suspend."
Gia langsung berdiri tegak. Mata yang tadinya sayu langsung nyala kayak lampu neon. "Hah?! Tau dari mana lo?"
"Ada yang liat mobil merahnya parkir di depan komplek rumah Pak Radit kemarin sore. Katanya sih bawain makanan. Ya kan mumpung Pak Radit lagi down, si Tante itu pasti masuk lewat jalur support system."
Darah Gia mendidih. Dia ngerasa dikhianati. Pak Radit nyuruh dia jaga jarak, nyuruh dia jangan cari-cari, tapi malah nerima kunjungan dari "Mbak-mbak SCBD" itu?
"Nggak bisa dibiarin, Ca. Gue harus ke rumah Pak Radit."
"Gila lo?! Lo mau cari mati?"
"Gue nggak mau cari mati, gue mau cari keadilan! Gue udah dapet poin disiplin gara-gara dia, masa dia malah enak-enakan movie date sama mantan?!" Gia langsung nyamber tasnya. "Gue butuh alamatnya. Sekarang."
...
Komplek Perumahan: The Stalking Game
Sore itu, dengan bantuan tracking lokasi yang sangat creepy (tapi efektif) dari salah satu temen Caca yang rumahnya satu komplek, Gia sampai di depan sebuah rumah minimalis modern dengan cat abu-abu gelap.
Benar saja. Ada mobil merah Honda HR-V parkir di sana.
Gia ngumpet di balik pohon mangga tetangga.
Jantungnya deg-degan parah. Dia merasa kayak karakter di film thriller, tapi versinya lebih cringe karena dia pakai jaket kegedean dan masker hitam.
Pintu rumah terbuka. Pak Radit keluar, cuma pakai kaos oblong putih dan celana pendek pendek—tampilan santai yang belum pernah Gia liat sebelumnya. Dia kelihatan... lebih muda, lebih manusiawi, dan sialnya, sepuluh kali lipat lebih ganteng.
Lalu Siska keluar di belakangnya. Dia bawa bungkusan makanan. Mereka berdiri di teras, ngobrol santai. Siska sesekali ketawa dan megang bahu Pak Radit. Pak Radit nggak menepis.
Gia ngerasa hatinya kayak diremes-remes. Dia pengen keluar dari persembunyiannya terus teriak, "Bapak bilang jangan cari Bapak, tapi Bapak malah cari mantan?!"
Tapi tiba-tiba, Pak Radit berhenti ketawa. Dia menoleh ke arah pohon mangga tempat Gia ngumpet. Radar insting guru olahraganya kayaknya emang nggak bisa dibohongi.
"Gia? Saya tau kamu di sana. Keluar."
Gia membeku. Siska ikut menoleh dengan bingung.
Gia keluar dari balik pohon dengan gaya yang sangat kikuk. "Eh... hai, Pak. Kebetulan saya lagi... lagi nyari alamat tukang seblak yang viral di daerah sini, eh nggak sengaja lewat."
Pak Radit melipat tangan di dada. Ekspresinya nggak bisa dibaca. "Cari seblak sampai ke komplek perumahan buntu?"
Siska melirik Gia dengan tatapan meremehkan. "Dit, murid kamu yang 'khusus' itu lagi ya? Ternyata dia beneran obsessed sama kamu ya?"
Gia menatap Siska tajam. "Saya nggak obsessed, Mbak. Saya cuma mau balikin ini!" Gia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sesuatu. Dia nggak punya apa-apa buat dibalikin, jadi dia asal ambil benda pertama yang dia pegang.
Dia menyodorkan sebuah... bungkus permen karet yang udah kosong.
"Tadi jatuh di mobil Bapak kemarin. Saya cuma mau jadi warga negara yang baik dengan tidak membuang sampah sembarangan," kata Gia dengan muka paling serius yang dia punya.
Pak Radit menatap bungkus permen itu, lalu menatap Gia. Ada keheningan yang cukup lama. Siska kelihatan mau meledak karena tawa ejekan, tapi Pak Radit tiba-tiba jalan mendekati Gia.
Dia berdiri tepat di depan Gia, menghalangi pandangan Siska.
"Gia," bisik Pak Radit rendah. "Pulang sekarang. Sebelum saya beneran marah."
"Bapak udah marah kan sama saya? Makanya Bapak nyuruh saya jaga jarak tapi malah berduaan sama dia?" balas Gia, matanya mulai panas lagi.
Pak Radit menghela napas. Dia mengambil bungkus permen itu dari tangan Gia. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan Gia, dia menekan telapak tangan Gia pelan—sebuah gestur rahasia yang nggak kelihatan dari posisi Siska.
"Siska cuma nganter titipan dari Ibu saya. Dia mau jalan sekarang. Tunggu saya di minimarket depan komplek sepuluh menit lagi. Saya anter kamu pulang," bisik Pak Radit cepat banget, hampir nggak kedengeran.
Mata Gia langsung melotot. "Hah?"
"Sepuluh menit. Minimarket depan. Jangan telat, atau saya beneran hapus nomor kamu," ancam Pak Radit dengan nada guru, tapi ada senyum kecil yang tersembunyi.
Pak Radit berbalik ke arah Siska. "Sis, makasih makanannya. Aku ada urusan sebentar, kamu pulang duluan ya?"
Siska kelihatan bingung tapi nggak bisa protes. Dia masuk ke mobilnya dan pergi dengan muka bete maksimal.
Gia? Dia lari ke minimarket depan dengan kecepatan cahaya. Kakinya yang kemarin katanya "sakit" mendadak punya kekuatan super.
Sepuluh menit kemudian, Civic hitam itu berhenti di depan minimarket. Gia masuk ke kursi penumpang dengan perasaan campur aduk. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah.
Pak Radit nggak langsung jalan. Dia nyandar di kemudi, terus ketawa pelan. "Kamu beneran nekat ya, Gia. Nyari seblak di rumah saya?"
"Bapak yang bikin saya nekat! Lagian Bapak ngapain sih ramah banget sama Tante-tante itu?"
Pak Radit noleh ke Gia. Kali ini, dia nggak pakai kacamata. Matanya kelihatan tulus. "Gia, saya nggak pernah punya perasaan apa-apa lagi sama Siska. Dia emang deket sama Ibu saya, jadi susah buat saya usir kasar-kasar. Tapi saya juga nggak suka kamu stalking sampai sini. Bahaya kalau ada yang liat."
"Saya cuma... kangen Bapak. Sekolah sepi nggak ada yang marahin saya," cicit Gia jujur.
Pak Radit terdiam. Dia mengulurkan tangannya, ragu sebentar, lalu akhirnya mengacak-acak rambut Gia dengan lembut. "Dua minggu itu sebentar, Gia. Tahan dikit kenapa sih? Biar masalahnya reda dulu."
"Dua minggu itu 336 jam, Pak. Dan setiap jamnya saya ngerasa Bapak makin jauh."
Pak Radit narik tangannya, kembali fokus ke jalan. "Saya nggak jauh, Gia. Saya cuma lagi nunggu waktu yang tepat. Sekarang, saya anter kamu pulang. Dan janji sama saya, jangan pernah nekat kayak gini lagi. Mengerti?"
"Mengerti, Daddy... eh, Pak Radit!"
Pak Radit geleng-geleng kepala. "Kamu ini beneran butuh remedial hati, bukan cuma remedial basket."
Gia tersenyum lebar. Dia tahu, meskipun mereka lagi "perang dingin" di sekolah, tapi di dalam mobil ini, garis itu rasanya makin tipis. Dan Gia nggak sabar buat nunggu dua minggu itu selesai.
Tapi Gia nggak tau, kalau saat mereka pergi dari minimarket, ada seseorang di dalam mobil lain yang memotret mereka lagi. Seseorang yang mukanya jauh lebih berbahaya dari Siska.
[To be continued selanjutnya. ]
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..