Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Titik Balik Takdir
Keesokan paginya di wilayah valtia, amukan sang Baron mengguncang seluruh kediaman.
"Siapa?! Siapa penyusup yang berani masuk ke ruang kerjaku?!" teriaknya hingga urat lehernya menegang. Lalu Sang Baron memanggil semua pengasuh dan bertanya?"
Di dalam aula yang dingin dan mencekam, sang Baron berdiri dengan napas yang memburu. Matanya yang merah karena amarah menyapu barisan para pengasuh yang tertunduk lesu, tak berani menatap sang penguasa panti asuhan tersebut.
Dengan suara menggelegar yang menggetarkan dinding-dinding kayu tua itu, ia berteriak,
"Katakan padaku" raung sang Baron sembari menggebrak meja jati di hadapannya. "Apakah kalian semua sudah kehilangan mata dan telinga? Siapa tikus kecil yang begitu lancang menyelinap masuk ke dalam ruang peraduanku semalam tanpa kalian ketahui?!"
Ia berjalan perlahan, suara sepatunya yang beradu dengan lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Aku membayar kalian bukan untuk terlelap seperti bangkai! Bicara! Siapa di antara kalian yang membiarkan pintu itu terbuka untuk sang penyusup?"
Para pengasuh hanya bisa gemetar, hingga akhirnya sang pengasuh jahat memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya yang penuh kelicikan. Seorang pengasuh berhati busuk maju dengan senyum licik. "Tuan Baron... tadi malam saat saya hendak ke toilet, saya melihat seorang gadis kecil membuka pintu ruangan Anda."
"Anak sialan itu... tubuhnya mungkin sudah penuh lebam, tapi matanya tak pernah menunjukkan rasa gentar," desis sang Baron penuh kebencian. "Katakan, di mana dia bersembunyi sekarang?"
Dengan suara gemetar, para pengasuh menyahut, "Dia... terakhir kali kami melihatnya menuju loteng lantai dua, Tuan."
Baron segera berlari menuju loteng dan mendobrak pintunya dengan keras. Namun, ia tertegun. Kamar itu kosong melompong. Jendela loteng terbuka lebar, menunjukkan bahwa tawanan kecilnya telah melarikan diri.
"Menjaga satu anak kecil saja tidak becus! Kalian semua tidak berguna!" raungnya murka. Saat ia menunduk, matanya menangkap selembar kertas yang tergeletak di lantai. Ia memungutnya dan membaca tulisan yang tertera di sana: 'Kejahatanmu akan segera terungkap ke seluruh penjuru dunia, wahai Baron yang bodoh.'
Begitu selesai membaca isi kertas itu, rahang sang Baron mengeras. Ia merasa martabatnya baru saja diinjak-injak dengan hina. Dalam ledakan amarah yang tak tertahankan, ia menatap tajam para pengasuh dan menitahkan mereka untuk segera memburu anak itu hingga dapat.
"KEJAR DIA! CARI TIKUS KECIL ITU SAMPAI DAPAT!"
(Flashback)
Beberapa saat kemudian, Rubellite menatap tanah dari jendela lantai dua yang terbuka. Napasnya memburu. Di belakangnya, suara gedoran pintu dan teriakan Baron terdengar semakin dekat. Tanpa pilihan lain, ia memejamkan mata dan melompat.
BRUK!
"Aaakh!" Rubellite mengerang tertahan saat tubuh mungilnya menghantam tanah yang keras. Suara krak yang halus terdengar dari pergelangan kaki kanannya. Rasa sakit yang tajam dan panas menjalar seketika, seolah-olah ada besi panas yang ditusukkan ke tulangnya. Namun, ketakutan lebih besar daripada rasa sakit. Mendengar teriakan Baron dari jendela atas, Rubellite memaksa dirinya berdiri. Setiap langkah terasa seperti menginjak duri berapi. Adrenalin adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap tegak saat ia terpincang-pincang memasuki kegelapan hutan.
(Masa sekarang)
Cahaya matahari yang menyilaukan menembus sela-sela rimbunnya pepohonan, namun sinarnya tidak membawa kehangatan bagi Rubellite. Di bawah langit siang yang cerah, pengejaran itu terasa jauh lebih brutal. Tak ada kegelapan untuk bersembunyi; setiap gerakannya terlihat jelas di bawah cahaya yang benderang.
"Sana! Dia berlari ke arah pohon itu!" seru Sang Baron sambil menghunuskan telunjuknya ke arah bayangan kecil yang bergerak di kejauhan. Wajahnya merah padam, bersimbah peluh akibat panas yang menyengat, namun matanya tetap memancarkan kekejaman yang dingin.
Di belakangnya, para pengasuh berlari dengan wajah yang terdistorsi oleh amarah dan kelelahan. "Dasar anak tidak tahu diuntung!" teriak salah satu pengasuh, suaranya melengking tinggi di tengah udara siang yang pengap. "Berhenti, Rubellite! Kau hanya akan membuat kami semakin menderita di bawah terik ini!"
Rubellite tidak menoleh. Pakaiannya yang lusuh—selembar kain kasar berwarna kusam yang sudah compang-camping—terlihat semakin menyedihkan di bawah sinar matahari. Noda tanah kering dan bercak darah dari luka-lukanya tampak jelas, membuat sosoknya tak lebih dari sekadar bayangan rapuh yang dikejar maut.
"Jangan biarkan dia lolos!" perintah Sang Baron kepada para pengejarnya. "Tangkap dia!"
Langkah kaki terdengar semakin jelas, menghantam tanah hutan yang kering dengan ritme yang mematikan. Rubellite terus memacu dirinya, meski paru-parunya terasa seolah terbakar oleh udara siang yang panas, berusaha mencari celah di antara pepohonan untuk melenyapkan diri dari pandangan mata-mata yang haus.
Napas Rubellite tersengal-sengal. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan tubuh ringkihnya melesat ke arah kumpulan semak belukar berduri yang tumbuh lebat di bawah pohon ek raksasa.
Srraakk.
Ia merosot masuk, meringkuk di tanah kering, tubuhnya bergetar hebat. Daun-daun dan ranting-ranting berduri menggores kulitnya, namun ia tidak peduli. Yang penting, ia berhasil menjauhkan diri sejenak dari pandangan mata Sang Baron dan para pengasuh yang mengejarnya. Di balik persembunyiannya, ia merapatkan lutut ke dada, berusaha mengatur napas yang memburu. Paru-parunya terasa panas, dan keringat bercampur debu mengalir perih ke matanya.
Rubellite menutup matanya rapat-rapat. Ia mengistirahatkan seluruh tubuhnya yang kelelahan, membiarkan keheningan relatif dari semak-semak memeluknya sesaat. Ia tahu waktu istirahatnya tidak banyak. Sebentar lagi, mereka akan kembali. Namun untuk saat ini, di balik semak berduri itu, ia hanya membiarkan detak jantungnya kembali normal, mengumpulkan energi yang sangat dibutuhkan untuk kelanjutan pelarian hidup dan matinya.
Di kejauhan, suara Sang Baron masih terdengar memotong keheningan siang.
"CARI DIA! TIKUS ITU TIDAK MUNGKIN JAUH DENGAN KAKI SEPERTI ITU!" suara Baron menggema menembus rimbunnya pepohonan.
"Geledah setiap jengkal semak! Jangan biarkan tikus kecil itu melenyapkan jejaknya lebih jauh lagi!" titah Sang Baron, suaranya memantul di antara batang-batang pohon tua.
Rubellite tersentak. Detak jantungnya yang semula lemah kini bertalu-talu di balik dadanya yang sesak. Seolah-olah insting bertahan hidupnya yang paling dasar bangkit dari sisa-sisa keputusasaan.
"Tidak... tidak di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menyeretku kembali ke neraka itu," batinnya dengan napas yang memburu.
Tanpa sempat memikirkan rasa perih pada telapak kakinya yang tanpa alas, Rubellite memaksakan tungkainya yang gemetar untuk bergerak. Ia memutar tubuh, memunggungi sumber suara, dan mulai berlari menembus teriknya siang.
"Hamba tidak boleh tertangkap," bisiknya parau, suaranya hampir hilang ditelan deru angin. "Meski harus mati di hutan ini, itu jauh lebih mulia daripada mati di bawah kaki mereka yang telah membuang hamba!"
Pakaiannya yang lusuh dan tipis tersangkut ranting-ranting tajam, merobek kain dan kulitnya, namun ia tak peduli. Setiap kali sepasang sepatu para pengasuh terdengar mendekat, ia memacu larinya hingga paru-parunya terasa terbakar. Di tengah pelarian yang kalap itu, air matanya tak lagi mengalir. Yang tersisa hanyalah tatapan kosong yang lurus ke depan, menembus rimbunnya hutan.
"Lari, Rubellite... teruslah berlari hingga napasmu menjadi satu dengan kesunyian," gumamnya pada diri sendiri. Kaki kanannya kini membengkak di dalam sepatunya yang tipis. Di belakangnya, terdengar suara para pengasuh mendekat.
‘Sedikit lagi... aku tidak boleh tertangkap... tidak lagi...’ batinnya terisak.
Langkah kaki di belakangnya semakin jelas. Di saat pandangannya mulai kabur dan kakinya tak sanggup lagi menahan beban, Rubellite keluar dari semak belukar terakhir menuju jalan setapak besar.
DUAK!
Ia menghantam sesuatu yang sangat keras dan tersungkur di atas debu jalanan. Di tengah rasa sakit yang memuncak, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuhnya. Bukan tangan kotor Baron, melainkan sepasang sepatu bot kulit yang dipoles sempurna dan ujung jubah yang sangat megah. Di hadapannya, berdiri kokoh sebuah kereta kencana dengan lambang kemegahan Kekaisaran Valtia.
Seorang ksatria pengawal mengulurkan tangannya. "Nona, apakah Anda terluka?" tanyanya sarat akan kekhawatiran. Rubellite berusaha menyambut uluran tangan itu, namun kekuatannya luruh. Rubellite pun kembali terjatuh.
"Nona! Nona, bertahanlah!" Ksatria itu berseru panik. Sang Ajudan melihat itu dan berkata, "Bekas luka ini sepertinya ia dipukuli dan lukanya sudah lama membekas."
Tepat saat pandangan Rubellite mulai menggelap, sebuah suara berat dan berwibawa memecah keheningan: "Ksatria, periksa siapa anak itu."
Napas Baron memburu saat ia sampai di tepi hutan. Ia tertegun melihat Rubellite berada di tangan ksatria berbaju zirah. Sambil mengatur napas, sang Baron berlari mendekat dengan wajah cemas palsu. "Oh, syukurlah! Rubellite, kau membuat Paman sangat khawatir! Tuan Ksatria, mohon maaf, anak ini bermasalah dan melarikan diri."
Ksatria itu menurunkan tubuh Rubellite dengan sangat hati-hati, lalu berdiri tegak menghadap Baron. "Apakah kau mengenal anak ini?" tanya ksatria itu dingin.
Baron mengangguk cepat. "Dia anak panti hamba. Dia kabur karena takut dihukum setelah membuat masalah kecil."
"Masalah kecil, katamu?" sahut Ajudan Kaisar tajam. "Lihatlah tubuhnya. Jadi, kau yang menyiksa anak ini hingga dia nekat kabur dalam kondisi seperti ini, Baron?"
Baron terdiam membeku. Ia mencoba mengelak terbata-bata, "I-itu... tidak benar..."
"Cukup sampai di situ, Ksatria," suara berat dari dalam kereta memotong. Kesadaran Rubellite perlahan kembali. Ia melihat roda kereta kencana yang berkilau. Tujuannya sudah dekat. Dengan sisa tenaga, jemarinya yang gemetar mulai merayap di atas tanah. Ia memaksakan dirinya berdiri. Setiap inci otot di kakinya menjerit kesakitan, namun ia menolak menyerah.
Sang Baron mencoba maju dengan wajah panik. "Paduka! Anak gila ini hanya mencoba mencari perhatian! Biarkan hamba—"
"Langkahmu," potong Sang Kaisar dari dalam kegelapan kereta kencana. Suara itu membekukan Baron tepat di tempatnya.
Rubellite tidak menoleh. Ia kembali memaksa kakinya yang hancur untuk berpijak. Ia mulai berjalan menjauh, goyah menuju kereta kencana di hadapan tatapan ngeri para penyiksanya.
Ajudan itu tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Sebagai seorang ksatria yang telah melewati ratusan medan perang, ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Di hadapannya, seorang anak kecil yang tampak begitu rapuh—compang-camping, bersimbah darah, dan nyaris hancur—berdiri dengan keberanian yang tak terduga. Namun, yang paling membuat sang ajudan terguncang adalah saat mata mereka bertemu. Sorot mata anak itu memancarkan tekad yang luar biasa, sebuah kemauan keras yang sanggup mengabaikan rasa sakit yang mustahil ditanggung tubuh sekecil itu.
Dengan tangan yang gemetar hebat namun tetap terangkat tinggi, Rubellite menyodorkan bundelan dokumen yang ia dekap sejak tadi kepada Sang Ajudan.
"Ini..." bisik Rubellite parau, namun tegas. "...semua dosa Baron yang dia sembunyikan dari Kekaisaran. Bukti penggelapan dana dan perdagangan anak."
Sang ajudan masih terpaku dalam keterkejutannya sebelum akhirnya, dengan gerakan perlahan yang penuh hormat, ia mengulurkan tangan untuk menerima dokumen tersebut. Tepat saat beban dokumen itu berpindah tangan, seluruh kekuatan yang menopang Rubellite luruh. Tugasnya selesai.
Dari balik jendela kereta, Sang Kaisar melihat semuanya melalui sepasang mata merah yang berkilat tajam. Baron jatuh berlutut, menatap dokumen itu dengan putus asa. Martabatnya runtuh.
Ajudan kaisar tidak menghiraukan teriakan sang Baron. Ia membuka sekilas dokumen tersebut, dan seketika aura dingin memancar dari tubuhnya. Tepat sebelum pandangan Rubellite menggelap, ia melihat wajah Baron yang memucat pasi. Sebuah senyum tipis kemenangan menghiasi bibir Rubellite yang berdarah. Ia jatuh pingsan ke dalam kegelapan di bawah perlindungan megah Kekaisaran Valtia.