"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
♦♦
Tin!
Suara klakson mobil tiba-tiba mengejutkan Khaira yang sedang fokus membaca beberapa lembar laporan organisasi.
"Galvin," gumam Khaira pelan, begitu melihat mobil Galvin yang berhenti di samping jalan, tepat di hadapannya.
Khaira yang semula memang sedang menunggu Galvin di kursi panjang yang ada di halte bus itu, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya yang sedang membaca laporan mingguan organisasi yang baru dia terima dari ketua divisi lainnya, sebagai pertanggung jawaban atas tugas mereka.
"Masuk," pinta Galvin, begitu kaca pintu mobil itu perlahan turun dan akhirnya terbuka lebar, menampakkan Khaira yang masih duduk di halte bus sana.
Khaira langsung mengangguk, kemudian memasukkan dokumen itu ke dalam tasnya. Hingga akhirnya dia menghampiri Galvin dan masuk ke dalam mobil itu, duduk tepat di samping Galvin yang memegang setir.
"Mau langsung pulang?" tanya Galvin, tanpa menoleh ke arah Khaira.
Sementara Khaira, dia langsung melirik ke arah Galvin, begitu Galvin bertanya.
Khaira langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Hm. Kamu mau pergi dulu ke suatu tempat?" tanyanya, sambil memasang self belt-nya.
Dia sama sekali tidak keberatan jika Galvin tidak ingin langsung pulang dan ingin mengunjungi sebuah tempat terlebih dahulu.
"Langsung pulang," ucap Galvin, atas pertanyaan Khaira sebelumnya.
Khaira langsung mengangguk paham, tanpa berkata apa pun lagi.
Sementara itu, Galvin langsung menghidupkan mesin mobilnya, kemudian membawa mobil itu melesat dari halte bus.
Jalanan di sore itu selalu ramai seperti biasanya, bahkan lebih ramai jika dibandingkan dengan malam hari.
Galvin mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang bisa dibilang cukup tinggi, tetapi tidak sampai membuat Khaira was-was atau pun takut, karena Galvin begitu lihai dalam berkendara.
Sehingga saat mengemudikan mobil dalam kecepatan berapa pun, pembawaannya akan tetap tenang.
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya dia berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran rumah mereka.
"Alhamdulillah," ucap syukur Khaira, karena dia dan Galvin bisa sampai rumah dengan selamat.
Mereka berdua langsung membuka pintu mobil itu kemudian keluar dari sana secara bersamaan, dari arah pintu yang berbeda.
"Makasih, Gal!" ucap Khaira, sambil menutup pintu mobil dengan pelan, kemudian menjauh dari sana.
"Ga perlu bilang makasih. Gue ga butuh itu," ucap Galvin, melangkah lebih dulu di depan Khaira.
Khaira menanggapi respon Galvin itu dengan sebuah gelengan pelan.
Hari ini, dia langsung pulang ke rumah, tidak ke perpustakaan terlebih dahulu, dikarenakan hari ini adalah hari liburnya dalam bekerja. Dalam satu minggu, dia mengambil cuti satu hari untuk libur dan beristirahat.
"Assalamu'alaikum," ucap Khaira, kepada beberapa penjaga yang berdiri di depan rumah.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan masuk, Den, Non."
Salah satu penjaga yang sudah bekerja paling lama di rumah itu, mengantarkan Galvin dan Khaira sampai di depan pintu utama.
"Terima kasih, Pak."
Khaira tidak pernah lupa mengucapkan kalimat yang memiliki sangat berarti bagi yang mendapatkan kalimatnya.
Kepala penjaga itu langsung mengangguk seraya tersenyum ramah.
Khaira melangkah masuk ke rumah bersama Galvin, matanya menelusuri sekeliling ruangan yang beberapa hari ini sudah dia tempati begitu dia menjadi menantu di rumah itu.
"Sepertinya bunda dan ayah belum pulang, ya?" tanya Khaira kepada Galvin.
Galvin mengangguk pelan, "Iya, mereka masih ada meeting."
Jawaban Galvin langsung mendapatkan anggukkan paham dari Khaira.
Di ambang pintu, tampak Bi Narti yang telah menunggu kedatangan mereka. "Den Galvin, Non Khaira, biar bibi bantu bawakan tasnya," ucap Bi Narti, begitu ramah.
Kedua tangan Bi Narti sudah terulur, siap untuk membawakan tas Galvin dan juga Khaira.
Namun, Khaira segera mengangkat tangan dengan sopan, "Tidak perlu, Bi. Biar kami sendiri saja yang bawa," ucapnya, sambil tersenyum simpul di balik cadar.
Walaupun senyuman itu tertutup oleh kain cadar, tetapi Bi Narti bisa mengetahuinya dari sorot mata Khaira, sehingga Bi Narti juga ikut tersenyum, membalas senyuman Khaira.
"Baiklah kalau begitu, bibi izin kembali ke dapur dulu ya, untuk menyiapkan makan malam nanti," sahut Bi Narti, yang kemudian berlalu pergi dari sana, setelah mendapatkan persetujuan dari Galvin dan juga Khaira.
Namun, saat Galvin dan Khaira hendak memasuki pintu lift rumah mereka, Bi Narti kembali menghampiri mereka untuk bertanya.
"Maaf, Den Galvin, Non Khaira, bibi lupa bilang sesuatu."
"Bilang apa, Bi?" tanya Khaira dengan sopan.
"Kalau ada yang mau diminum atau dicemil, bilang saja pada bibi, ya. Nanti bibi siapkan untuk kalian," ucap Bi Narti, terlihat begitu tulus.
Khaira tersenyum lembut, mengangguk dengan penuh penghargaan, "Baik, Bi. Terima kasih banyak, ya."
Bi Narti langsung mengangguk seraya pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, Galvin dan Khaira melanjutkan langkah mereka memasuki pintu lift itu, yang bisa langsung mengantarkan mereka ke lantai dua, di mana terdapat kamar tidur mereka di sana.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kamar Khaira terdengar. Khaira yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya karena baru selesai membersihkan diri, tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu itu.
"Siapa, ya? Apa mungkin bibi?" gumamnya pelan, sambil menatap ke arah pintu.
Dia yang semula sedang duduk menghadap ke cermin yang ada di meja riasnya, langsung saja bangkit dari duduknya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu terdengar kembali, sehingga dia memutuskan untuk segera memeriksa siapa yang sedang mengetuk pintunya. Namun, sebelum dia benar-benar membuka pintu kamarnya, dia lebih dulu mengambil cadar yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dalam pikirannya, dia menduga juga yang mengetuk pintu kamarnya adalah Bi Narti yang hendak mengantarkan cemilan padanya.
Namun, karena itu hanya dugaannya saja, maka dia memutuskan untuk menggunakan cadar lebih dulu, ditakutkan jika orang yang berada di depan pintunya itu bukanlah Bi Narti. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk memakai cadar. Hingga kini dia siap melihat orang yang ada di depan pintu.
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka, menampakkan seseorang yang berdiri di baliknya.
"Galvin?" gumam Khaira, pelan, saat membuka pintu kamarnya dan langsung melihat Galvin yang berdiri tepat di hadapannya.
"Udah siap?" tanya Galvin, tiba-tiba.
Hal itu tentu saja membuat Khaira langsung mengerutkan keningnya, karena tidak paham maksud dari yang Galvin katakan.
"Siap untuk apa?" tanyanya.
Apakah dia melupakan sebuah janji dengan Galvin? Ataukah Galvin mengajaknya pergi ke suatu tempat, sehingga dia harus bersiap-siap? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saat ini sedang berputar di benak Khaira.
"Mau di kamar gue atau di kamar lo?" tanya Galvin dengan wajah serius.
Dia bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Khaira sebelumnya. Kali ini, Khaira kembali dibuat bingung sekaligus terkejut. "K-kamar? Maksud kamu apa? Mau apa di kamar?" tanya Khaira, panik.
Raut wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sedang panik, jauh dari kata tenang.
"Lo lupa?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya.
Khaira kembali mengerutkan keningnya. "Tentang?"
Galvin langsung menggeleng kepalanya dengan pelan, seraya menghembuskan napas dengan samar. Ternyata Khaira benar-benar lupa akan hal itu. Haruskan dia mengingatkan Khaira? Atau memutuskan untuk tidak jadi melakukan hal itu bersama Khaira?
"Tentang apa, Gal? Maaf, aku benar-benar ga ingat," ucap Khaira, sedikit mendesak Galvin untuk menjawab pertanyaannya.
Galvin melipat kan kedua tangannya di depan dada. Menatap lurus ke arah Khaira, dengan tatapan serius.
"Tentang ucapan gue pas waktu subuh," jawabnya.
Khaira langsung memincingkan kedua matanya. "H-hah? Oh, subuh tadi...," lirihnya, yang sudah kembali mengingat hal itu.
Dia baru ingat, pagi tadi Galvin berjanji akan menjadi imam sholat maghrib baginya. Bisa-bisanya dia melupakan hal yang baru pertama kali akan terjadi pada mereka, setelah mereka menjadi sepasang suami istri.
"Sekarang ingat?" tanya Galvin, memastikan.
Jika Khaira masih belum mengingatnya, maka Galvin akan memutuskan untuk mengurungkan niatnya saja.
"I-iya. Maaf, aku lupa tentang itu," lirih Khaira, yang langsung menundukkan kepalanya, karena rasa bersalahnya kepada Galvin.
"Ingat tentang apa?" Galvin kembali memastikan.
"Ingat bahwa kita mau shalat berjamaah, kan?" jawab Khaira, memvalidasi jawabannya.
Galvin mengangguk samar. "Hm. Jadi mau di mana?"
"Di kamar aku aja!"
Khaira menjawab seperti itu tanpa berpikir terlebih dahulu, karena dia sudah sangat yakin dengan jawabannya. Dia tidak mungkin memilih untuk di kamar Galvin, karena dia belum memiliki keberanian untuk memasuki kamar tidur ketua OSIS..
Itu yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Silahkan masuk!" ucap Khaira, sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Galvin langsung memasuki pintu kamar Khaira yang sebelumnya kamar itu adalah kamar miliknya.
Sementara itu, Khaira ikut masuk kembali ke kamarnya, berjalan mengikuti langkah Galvin yang berjalan di depannya.
"Silahkan duduk," ucap Khaira kembali.
Galvin langsung duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu, begitu Khaira sudah mempersilahkan dirinya untuk duduk di sana.
"Tunggu sebentar, ya. Aku mau pakai mukena dulu," ucap Khaira seraya berbalik menuju lemari.
Dia mengambil mukena yang memang biasa dia pakai sehar-hari untuk beribadah. Khaira langsung mengenakan mukena itu, tanpa melepaskan kan cadarnya.
Di samping itu, sejak awal Galvin diam-diam memperhatikan aktivitas yang Khaira lakukan.
Hingga dia menyadari akan satu hal pada Khaira. "Cadar lo ga di lepas?" tanyanya, begitu melihat wajah Khaira yang masih setengah tertutup cadar.
Khaira langsung menatap ke arah Galvin, matanya seolah mengatakan bahwa dia membutuhkan penjelasan lebih dari pertanyaan yang baru saja Galvin lontarkan padanya.
"Memangnya harus dilepas, ya?" tanyanya, dengan ragu-ragu.
Galvin tidak langsung menjawab.
Selama beberapa detik, dia hanya memandangi Khaira dalam diam.
Galvin katakan, tanpa bertanya lagi apa alasannya.
Dia melangkah pelan ke arah Galvin, kemudian duduk di samping Galvin, yang duduk sambil melipat kedua tangannya itu di depan dada.
"Lo beneran shalat mau pake cadar?" tanya Galvin kembali.
Kedua sorot matanya yang tajam, masih menatap lekat wajah Khaira yang kini jaraknya begitu dekat dengannya.
Sofa yang mereka duduki saat ini memang diperuntukkan untuk dua orang saja. Mau tidak mau, hal itu membuat mereka duduk dengan jarak yang berdekatan.
"I-iya. Memangnya kenapa kalau aku pakai cadar?" jawab Khaira, yang kemudian kembali memberikan pertanyaan.
"Gue yang seharusnya nanya. Kenapa lo pakai cadar saat shalat?" tanya Galvin, membuat Khaira merasa sedikit tersudutkan, padahal itu sama sekali bukan tujuannya.
Khaira diam. Tanpa mengatakan alasannya, sudah jelas dia melakukan itu karena dirinya belum siap menunjukkan wajahnya di hadapan Galvin.
"Setiap shalat di masjid umum, aku selalu pakai cadar. Kecuali kalau shalatnya di kamar sendirian," jelasnya, sambil menegakkan punggungnya, ingin memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Ga papa, kan, kalau aku shalat pakai cadar?" sambungnya kembali, untuk menegaskan.
Dia berani berbicara seperti itu bukan tanpa alasan. Dia sudah memiliki alasan yang selama ini sudah dia yakini.
Dia sudah mempertanyakan tentang menggunakan cadar saat shalat di tempat umum, dan gurunya mengatakan bahwa hal itu boleh dilakukan.
Namun, dia hanya bertanya sebatas itu, sehingga dia hanya mengetahui itu, tanpa tahu penjelasan lebih luasnya lagi.
"Gue boleh jelasin sesuatu?" tanya Galvin, tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun dari kedua manik-manik Khaira.
Begitu juga dengan Khaira, dia melakukan hal hal yang sama. Dia membalas tatapan Galvin dengan tenang.
"Tentu saja boleh. Mau jelasin apa?" sahut Khaira dengan suara lembut.
Galvin langsung mengangguk pelan, setelah mendapat persetujuan dari Khaira.
"Dengan baik-baik," perintah Galvin, menatap Khaira dengan tatapan yang semakin dalam.
Dia benar-benar mengarahkan sorot matanya hanya ke arah Khaira, menegaskan akan adanya penjelasan penting yang akan dia sampaikan.
"Iya, Galvin. In Sya Allah aku dengar penjelasan kamu dengan baik," ucap Khaira, seraya memperhatikan Galvin dengan tatapan penuh konsentrasi, menunggu penjelasan yang akan Galvin sampaikan.
Dia juga merasa begitu penasaran dengan apa yang akan Galvin sampaikan padanya.
Hingga akhirnya, Galvin mulai menjelaskan dengan tenang dan pelan.
Hal itu dia lakukan, supaya Khaira mengerti akan setiap perkataan yang dia jelaskan.
"Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin dalam kitabnya 'Fatawa Arkanil Islam' menjelaskan, 'Apabila wanita shalat di dalam rumahnya atau di tempat yang tidak terlihat melainkan oleh laki-laki yang mahram, maka disyariatkan baginya untuk membuka wajah dan dua telapak tangan.'
Tau tujuannya?" tanya Galvin, menghentikan penjelasan, karena ingin mengetahui respon Khaira atas penjelasannya sejauh itu.
Khaira langsung menggelengkan kepalanya.
Hal itu membuat Galvin ikut menggeleng pelan, karena respon yang Khaira berikan padanya.
Sementara Khaira, dia menggeleng bukan karena benar-benar tidak paham, tetapi karena pikirannya mendadak kosong begitu mendengar Galvin menyampaikan kalimat seperti itu padanya.
Setelah itu, Galvin memilih untuk melanjutkan kembali penjelasannya.
"Tujuannya... agar dahi, hidung, dan kedua telapak tangan bersentuhan langsung dengan tempat sujud," sambungnya.
Dia menatap Khaira dengan tenang, lalu bertanya, "Paham apa yang gue bilang barusan?"
Khaira mengangguk pelan, dengan kedua kelopak matanya yang baru ingat untuk berkedip, karena sebelumnya dia menyimak penjelasan yang Galvin sampaikan dengan khidmat.
"Jadi, kalau aku shalat di masjid, boleh pakai cadar, kan?" tanyanya, setelah menarik kesimpulan dari penjelasan Galvin sampaikan padanya.
Galvin kembali menjelaskan tentang pemahamannya, "Jika ada wanita yang sudah konsisten menutup wajahnya, lalu dia shalat yang di mana di sekelilingnya ada laki-laki ajnabi atau bukan mahram, maka dia boleh menutup wajahnya," jelasnya, dengan tenang.
"Jika wanita itu shalat di sekitar mahramnya, tanpa ada laki-laki ajnabi di sekelilingnya, maka dianjurkan untuk membuka wajahnya, sehingga wajah itu bisa bersentuhan langsung dengan tempat sujud," sambungnya kembali, mengakhiri penjelasan.
Khaira diam mendengar itu, dia merasa senang sekaligus bangga kepada Galvin. Kalimat yang Galvin sampaikan begitu jelas dan mudah untuk dia pahami.
Dia benar-benar tidak menyangka jika Galvin memiliki pemahaman yang baik tentang hal itu, bahkan jika dibandingkan dengan pemahamannya, sepertinya pemahaman dan pengetahuan Galvin lebih baik darinya.
"Lo bisa nyimpulin apa yang barusan gue sampaikan?" tanya Galvin.
Khaira mengangguk pelan dan penuh keragu-raguan. Dia takut jika pemahamannya tidak sesuai dengan maksud yang ingin Galvin sampaikan padanya.
"Jadi... lebih baik untuk aku sekarang shalat dengan membuka cadar? Karena di sini hanya ada kamu yang merupakan mahram untuk aku?" tanyanya dengan hati-hati.
Galvin langsung mengangguk seraya bergumam pelan.
Degg!
Khaira mendadak panik, saat Galvin membenarkan pemahamannya. Itu berarti dia harus membuka cadarnya sekarang?
Dia terdiam sejenak. "Tapi aku..." ucapnya, yang entah kenapa mendadak gugup seperti itu.
Pandangannya langsung menunduk, tidak berani menatap Galvin.
Melihat kegelisahan Khaira, Galvin segera menenangkan, "Jangan dibuka kalau ga siap."
Khaira yang semula menunduk dengan perasaan gugup, berani kembali mengangkat wajahnya, dengan kedua manik-maniknya menatap lurus ke arah sepasang mata tajam itu.
"Aku—"
~Adzan~
Khaira yang hendak berbicara, segera mengurungkan niatnya, begitu mendengar adzan magrib berkumandang indah di telinganya.
Baik itu Khaira ataupun Galvin, mereka berdua sama-sama diam, mendengarkan adzan magrib hingga adzan itu selesai dikumandangkan.
"Galvin," sahut Khaira, begitu adzan sudah selesai berkumandang.
"Aku mau bilang sesuatu," ucapnya, saat Galvin lebih dulu bangkit dari sofa itu untuk melaksanakan shalat magrib.
Dia ingin mengatakan bahwa dirinya belum siap membuka cadarnya di hadapan Galvin, karena masih ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Namun, sampai kapan dia akan terus bersikap seperti itu? Sampai kapan dia akan menyembunyikan wajahnya dari suaminya sendiri?
Di samping dirinya yang ingin menyempurnakan shalatnya, dia juga merasa bersalah jika terus menyembunyikan wajahnya dari Galvin yang sudah jelas berhak untuk melihatnya.
Walaupun Galvin tidak menuntut hal itu darinya, tetapi rasa bersalah itu tetap muncul dalam hatinya.
"Jangan dibuka sampai lo bener-bener siap," pungkas Galvin, yang seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan Khaira.
"Aku siap!" sahut Khaira, dengan cepat. "Aku siap buka cadar di depan kamu."