NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota di Atas Luka

​Bali selalu punya cara untuk menyembuhkan jiwa yang lelah. Di sebuah vila privat yang bertengger di tebing Uluwatu, Gendis duduk bersandar pada kursi malas, menatap cakrawala di mana langit jingga bertemu dengan birunya Samudera Hindia. Tidak ada lagi setelan perbankan yang kaku. Sore itu, ia hanya mengenakan silk slip dress berwarna sampanye yang tertiup angin laut.

​Status jandanya yang baru tidak terasa seperti sebuah beban, melainkan sebuah pembebasan. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, ia tidak perlu menyesuaikan jadwalnya dengan siapa pun. Ia tidak perlu menelan kekecewaan saat makan malam mendingin di atas meja.

​Di sampingnya, sebuah tablet menampilkan laporan terkini dari laboratorium. Varian parfum pertamanya, “Resonance No. 1”, sudah memasuki tahap pengemasan akhir.

​"Kurangi saturasi emas pada tutup botolnya sedikit saja," gumam Gendis saat melakukan panggilan video dengan tim kreatifnya. "Aku ingin kemewahan yang tenang, bukan yang berteriak. Kita menjual otoritas, bukan sekadar gaya hidup."

​Setelah menutup panggilan, ponselnya kembali bergetar. Nama "Bi Sumi" muncul di layar.

​"Halo, Bi? Ada apa? Semua aman di rumah?" tanya Gendis dengan nada lembut.

​"Aman, Non Gendis. Tapi... anu, Non," suara Bi Sumi terdengar ragu. "Itu... Non Cindy sudah tertangkap, Non. Katanya digerebek di kos-kosan sempit di pinggiran kota. Dia kena kasus narkoba, sedang transaksi katanya. Dan polisi bilang dia juga kena pasal pencucian uang yang korupsi itu."

​Gendis terdiam sejenak, memutar gelas jus jeruknya. "Sudah waktunya, Bi. Semesta hanya sedang menunda keadilan."

​"Keluarganya di Bandung menangis terus, Non. Bapak dan ibunya malu sekali sampai tidak berani keluar rumah. Mereka terus-terusan titip pesan ke saya sampe ke sini loh mereka, Non, memohon-mohon ingin bertemu Non Gendis untuk minta maaf secara langsung atas kelakuan anak mereka yang sudah merusak rumah tangga Non."

​Gendis menatap ombak yang pecah di bawah tebing. "Bilang pada mereka, Bi. Tidak perlu ke Jakarta. Nanti, setelah liburanku selesai, aku yang akan ke Bandung. Aku akan menemui mereka di kampung."

​Seminggu kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam membelah jalanan pedesaan yang asri di pinggiran Bandung. Kedatangan Gendis ke kampung halaman Cindy bukanlah sebuah misi balas dendam, melainkan sebuah penutupan.

​Begitu mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan dinding batako yang belum diplester rapi, rumah yang dibeli dengan sisa uang milik pak Bambang, sebab rumah dan seisinya yang cukup mewah di kampung itu telah dijual untuk dikembalikan ke perusahaan Indra bekerja karena keterlibatan Cindy sebagai penerima aliran dana, meski jumlahnya tentu tak sebanding dengan uang yang sudah dipakai oleh Cindy. Kerumunan warga mulai berbisik. Gendis turun dari mobil, tampak seperti anomali di tengah kesederhanaan desa itu. Ia mengenakan kulot sutra dan atasan minimalis, rambutnya dibiarkan tergerai indah.

​"Itu Neng Gendis, yang di TV itu, ya?" bisik seorang ibu di warung sebelah.

"Iya, cantik sekali. Jauh lebih anggun aslinya. Kok bisa ya suaminya selingkuh sama si Cindy yang cuma modal dandan menor?"

​Gendis melangkah masuk ke rumah orang tua Cindy. Di dalam, ia disambut oleh sepasang suami istri lanjut usia yang tampak hancur. Ayah Cindy, seorang pensiunan buruh yang sempat hidup nyaman karena Cindy, langsung bersujud di depan kaki Gendis sebelum ia sempat mencegahnya.

​"Nak Gendis, maafkan kami. Kami gagal mendidik anak kami. Kami tidak tahu kalau uang yang dia kirim ke kampung adalah uang hasil mencuri dan menyakiti perempuan sebaik Anda," isak sang Ayah.

​Gendis segera membungkuk, memegang bahu pria tua itu dan membantunya berdiri.

"Pak, jangan begini. Berdirilah."

​Ia duduk di kursi kayu yang keras, berhadapan dengan keluarga yang selama ini menikmati sisa-sisa hasil korupsi Indra tanpa mereka sadari. Di sudut ruangan, dua anak, Rian dan Sandra, adik-adik Cindy, menunduk dengan wajah merah padam karena malu.

​"Saya datang bukan untuk menerima maaf," ujar Gendis tenang namun berwibawa. "Karena bagi saya, kesalahan Cindy adalah miliknya sendiri, bukan milik Bapak dan Ibu. Kalian tidak perlu memikul beban dosa yang tidak kalian perbuat."

​Gendis mengeluarkan sebuah amplop tebal dan meletakkannya di atas meja plastik yang kusam.

​"Ini apa, Nak?" tanya Ibu Cindy dengan suara bergetar.

​"Ini santunan untuk biaya hidup Bapak dan Ibu, serta biaya sekolah Rian dan Sandra. Saya dengar tabungan kalian disita karena dianggap aliran dana korupsi. Adik-adik ini tidak boleh putus sekolah hanya karena kakak mereka tersesat."

​Rian, sang adik laki-laki, mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Mbak, Kakak saya sudah menghancurkan hidup Mbak Gendis. Kenapa Mbak malah membantu kami?"

​Gendis tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kedewasaan yang tak terukur.

"Karena menghancurkan kalian tidak akan membuat hatiku lebih baik. Tapi memastikan kalian menjadi orang yang lebih benar dari kakak kalian, mungkin akan memberi sedikit arti pada rasa sakitku."

​Kabar tentang kedatangan Gendis menyebar secepat api di musim kemarau. Sebelum ia meninggalkan rumah itu, Gendis menyempatkan diri bertemu dengan Kepala Desa setempat. Di kantor desa yang sederhana, ia menyerahkan bantuan dana untuk renovasi panti asuhan dan pembangunan sumur bor bagi warga yang kesulitan air bersih.

​"Nak Gendis, kami benar-benar tidak menyangka," ujar Pak Kades sambil menjabat tangannya dengan takzim. "Selama ini kami hanya tahu cerita buruk tentang hubungan Anda dengan warga kami. Tapi hari ini, Anda membuktikan siapa yang sebenarnya memiliki martabat."

​Saat Gendis berjalan menuju mobilnya, suasana desa berubah menjadi haru. Warga yang tadinya hanya menonton dari jauh, kini mendekat. Mereka membawa hasil bumi, pisang, singkong, hingga kerajinan tangan, yang diterima dengan senang hati oleh Gendis, sebagai tanda terima kasih.

​"Sehat terus ya, Nak Gendis! Semoga rejekinya makin lancar!" teriak seorang warga.

"Ternyata benar kata orang, berlian tetap berlian meskipun dilempar ke lumpur!" Suara yang lain ikut menyeru.

​Rian dan Sandra ikut mengantar Gendis hingga ke pintu mobil. "Terima kasih, Mbak Gendis. Kami janji akan belajar giat. Kami malu punya kakak seperti dia, tapi kami bangga bisa kenal perempuan seperti Mbak."

​Gendis mengusap kepala Sandra singkat.

"Jadilah wanita yang punya nilai, Sandra. Jangan pernah biarkan orang lain membeli harga dirimu."

​Mobil perlahan bergerak meninggalkan desa. Gendis melihat dari kaca spion, puluhan warga melambai melepaskannya. Kejadian itu terekam oleh ponsel warga dan dalam hitungan jam, video "Gendis Menyantuni Keluarga Selingkuhan Suaminya" menjadi viral nasional.

​Di sebuah lapas wanita yang pengap dan berbau pesing, Cindy duduk di sudut selnya yang sempit. Rambutnya yang dulu selalu dicat pirang mahal kini tampak kusam dan berantakan. Ia baru saja kembali dari interogasi pasal berlapis, narkoba dan pencucian uang.

​Tiba-tiba, seorang sipir wanita lewat di depan selnya sambil memegang ponsel, tertawa kecil bersama rekannya.

​"Eh, lihat nih. Si Gendis yang suaminya lu rebut itu, ternyata baru saja ke kampung halaman lu di Bandung," ujar sang sipir dengan nada merendah.

​Cindy mendongak, matanya yang cekung tampak awas. "Apa? Dia ngapain ke sana? Mau pamer harta?"

​Sipir itu memutar video viral tersebut tepat di depan jeruji besi. Cindy melihat ibunya menangis memeluk Gendis. Ia melihat adik-adiknya menatap Gendis dengan penuh pemujaan. Ia melihat warga desa yang dulu ia bangga-banggakan dengan uang korupsi Indra, kini justru meneriakkan nama Gendis dengan penuh hormat.

​"Dia kasih bantuan ke panti asuhan, dia biayain sekolah adik-adik lu. Lu lihat tuh, seluruh Indonesia sekarang memuji dia sebagai 'Malaikat Tanpa Sayap'," lanjut sipir itu sambil meludah ke lantai. "Cih, lu mah boro-boro. Sudah jadi LC, tukang pakai ekstasi, ngerusak rumah tangga orang, bikin malu keluarga lagi. Kalau gue jadi lu, gue mending nggak keluar-keluar lagi dari sini."

​Cindy berteriak histeris, melemparkan bantal tipisnya ke arah jeruji. "Dia cuma akting! Dia cuma mau bikin aku kelihatan buruk!"

​"Nggak perlu dia akting, Cin," balas sipir itu sambil berlalu. "Tanpa dia ngapa-ngapain pun, lu memang sudah kelihatan seperti sampah dibanding dia. Bedanya jauh, bagai langit dan selokan."

​Cindy merosot ke lantai sel yang dingin, menangis meraung-raung. Rasa sakit yang paling dalam bukanlah penjara ini, melainkan kenyataan bahwa ia telah kalah secara total. Bukan karena Gendis membalasnya dengan kekerasan, tapi karena Gendis membalasnya dengan kebaikan yang menghapus eksistensi Cindy dari hati orang-orang yang ia cintai.

1
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!