Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam semakin larut, dan hujan di luar apartemenku belum juga reda. Danesha memutuskan untuk menginap. Ia tidak tega meninggalkanku yang terus menggigil di balik selimut meski suhu badanku mulai terasa seperti membakar kulit.
"Minum air putihnya lagi, Na. Jangan sampai dehidrasi," ucap Danesha sambil membetulkan kompres di dahiku.
Aku hanya bergumam tidak jelas. Kesadaranku antara ada dan tiada, terjebak dalam mimpi buruk tentang masa kuliah dan wajah Baskara yang kecewa.
Tiba-tiba, ponsel Danesha yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat. Danesha mengerutkan kening saat melihat nama di layar. Ia melirikku sejenak, memastikan aku terpejam, lalu melangkah pelan menuju balkon apartemen untuk mengangkat telepon itu.
"Halo? Bas?" bisik Danesha pelan.
Di ujung telepon, Baskara terdiam cukup lama sebelum suaranya yang berat terdengar. "Dia... bagaimana kondisinya?"
Danesha menghela napas, bersandar pada pagar balkon yang basah. "Panasnya tinggi sekali, Bas. Tadi aku paksa ke dokter tapi dia keras kepala menolak. Sekarang dia sedang mengigau sedikit."
Hening sejenak. Hanya terdengar helaan napas frustrasi dari seberang sana. "Obat yang aku kasih tadi siang... apa dia minum?"
"Sudah. Dia minum semua, bahkan buburnya juga dimakan meski cuma sedikit," jawab Danesha. "Bas, kalau kamu masih sepeduli ini, kenapa tadi di lobi kamu bicara kasar sekali padanya? Kamu tahu kan Aruna sedang mencoba memperbaiki diri?"
"Aku tidak peduli, Dan. Aku hanya tidak ingin ada nyawa melayang karena kebodohannya sendiri," jawab Baskara cepat, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Pastikan saja dia tidak mati di apartemen itu. Aku tidak mau proyek ini terhambat gara-gara harus mencari pengganti posisinya."
"Kamu bohong, Bas. Aku kenal kamu bukan baru kemarin," pancing Danesha.
"Terserah apa katamu. Jangan beri tahu dia kalau aku menelepon. Anggap saja ini tidak pernah terjadi," ucap Baskara dingin sebelum memutus sambungan secara sepihak.
Danesha kembali masuk ke kamar, menatapku dengan tatapan iba. Ia melihatku meracau pelan, menyebut nama Baskara berkali-kali dalam tidurku—sebuah gema penyesalan yang akhirnya keluar saat logikaku sedang lumpuh oleh demam.
Danesha mengusap rambutku pelan. "Kalian berdua sama-sama menyedihkan. Yang satu membentengi diri dengan benci, yang satu menghukum diri dengan rasa bersalah."
Malam itu, rahasia kecil tersimpan di antara mereka. Aku tidak pernah tahu bahwa di tengah kebencian yang Baskara tunjukkan, ia masih meluangkan waktu untuk memastikan aku masih bernapas, meskipun ia membungkusnya dengan alasan profesionalitas yang paling tajam
Pukul tiga dini hari, kesunyian apartemen pecah oleh suara napas yang memburu dan erangan lirihku. Tubuhku terasa seperti dipanggang api, namun di saat yang sama aku menggigil hebat sampai gigiku bergelatuk. Kompres di dahiku sudah mengering, tak lagi mampu meredam panas yang kian melonjak.
"Na? Aruna! Bangun, Na!" suara Danesha terdengar panik saat ia menyentuh lenganku. "Ya ampun, badanmu makin panas. Ini bukan demam biasa."
Aku mencoba membuka mata, namun langit-langit kamar terasa berputar hebat. Bayangan Danesha tampak ganda di mataku. "Dan... dingin..." lirihku, suaraku nyaris tak keluar.
Tanpa menunggu persetujuanku lagi, Danesha menyambar kunci mobil dan tasnya. Ia membantuku bangun, memapah tubuhku yang lemas luar biasa. Aku merasa seperti raga tanpa tulang, setiap sendiku terasa nyeri saat digerakkan.
"Kita ke IGD, titik. Nggak ada tapi-tapian lagi," tegas Danesha sambil membantuku masuk ke dalam lift.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, gema kesadaran yang tersisa di kepalaku terus menampilkan potongan masa lalu. Aku teringat dulu Baskara pernah menjagaku semalaman saat aku tipus, ia tidak tidur hanya untuk mengganti kompresku setiap jam. Sekarang, aku berada di bangku mobil yang dingin, menuju rumah sakit tanpa dia di sisiku—sebuah konsekuensi yang harus kutelan bulat-bulat.
Sesampainya di IGD, aroma disinfektan yang tajam menyambutku. Aku segera dibaringkan di atas brancard oleh petugas medis. Suster dengan cekatan memasangkan termometer dan alat pengukur tekanan darah.
"Suhunya 40,2 derajat Celsius. Harus segera masuk infus dan observasi lebih lanjut," ujar perawat itu pada Danesha.
Saat jarum infus menembus kulit punggung tanganku, aku hanya bisa meringis kecil. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadaku. Danesha berdiri di sampingku, sibuk mengisi formulir administrasi sambil terus memantau ponselnya.
Aku melihat Danesha mengetik pesan dengan cepat, raut wajahnya ragu. Aku tahu siapa yang sedang ia hubungi di jam sepagi ini.
"Dan... jangan beri tahu dia..." bisikku lemah di tengah pengaruh obat penurun panas yang mulai masuk ke aliran darahku.
Danesha terhenti, ia menatapku dengan mata sembab. "Dia berhak tahu kalau 'rekan kerjanya' sedang bertaruh nyawa di sini, Aruna. Berhenti menjadi martir untuk rasa bersalahmu sendiri."
Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan merenggut kesadaranku. Di koridor rumah sakit yang dingin ini, aku menyadari bahwa melarikan diri dari masa lalu tidak pernah semudah yang kukira. Semakin aku menjauh, gema itu justru menarikku kembali ke titik paling rapuh.