Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Ana tak langsung menjawabnya, ia mencerna apa yang Nathan ucapkan.
" Nikah ? " ucap Ana dengan wajah datar
" Hmm " Nathan mengangguk
" Kamu kenapa sih Nat, kenapa tiba tiba banget. Buat pacaran aja saya butuh waktu, apalagi nikah Nat. Nikah itu bukan main main, tapi ibadah seumur hidup "
" Ibadah ? "
" Iyah ibadah, Menikah itu ibadah terpanjang Nat. Menikah juga bukan asal karena cinta, lagian tiba-tiba banget. "
Nathan terdiam mendengar jawaban Ana, sejujurnya Nathan saat ini cemburu.
" Kita mau kemana Nat ? " tanya Ana karena sejak tadi mereka belum juga pergi
" Kayaknya gagal tempat terakhir Na, hujan "
" Oohh yaudah, pulang aja kali ya Nat "
" Yaudah kalau emang kamu mau pulang"
Nathan pun langsung menjalankan mobilnya, sepanjang perjalanan menuju rumah Ana tak ada pembicaraan diantara keduanya.
Ana tak paham dengan Nathan, tiba tiba raut wajahnya juga berubah.
Hingga akhirnya mereka pun tiba dirumah Ana, Nathan turun dari mobil untuk mengantar Ana hingga kerumah.
" Masuk dulu aja, masih hujan pasti jalanan macet " kata Ana sambil membuka pintu rumahnya
" Iyah Na " Nathan mengangguk setuju
Ana pun masuk kedalam rumah diikuti oleh Nathan, setelah masuk Nathan pun duduk di lantai yang beralaskan dengan karpet.
" Mau minum apa ? " tanya Ana
" Engga usah, sini kamu duduk disamping saya " ucap Nathan dan Ana mengangguk
Ana duduk disamping Nathan, Nathan menatap Ana tanpa menoleh.
" Ada apa ? Ko ngeliatinnya gitu banget " kata Ana
" Ternyata saya punya saingan ya Na "
" Saingan apa ? "
" Ya itu, Reyhan "
" Dia cuma teman Nat, ga lebih dari itu"
" Kalau Reyhan cuma teman, lalu saya apa Na ? "
Ana tak menjawabnya, ia sendiri juga bingung menganggap Nathan sebagai apa.
" Ga bisa jawab ya Na ? "
" Ya kamu dosen aku Nat, dan kan kamu bilang seminggu ini kita pacaran "
Nathan menghela nafasnya, menyandarkan tubuhnya pada dinding.
" Aku butuh waktu Nat, kamu tau itu " kata Ana pelan
" Aku tau Na, tapi bagaimana seandainya bukan saya yang kamu pilih? Bagaimana kalau ternyata Reyhan ? "
" Aku ga suka sama Reyhan, aku cuma anggap dia teman Nat. "
" Sedikit pun Na ? Ga ada rasa buat saya ? "
Ana terdiam, ia tak berani menatap Nathan.
" Engga ada ya Na ? " Nathan kembali bertanya
" Saya engga tau Nat, cuma yang saya tau setiap sama kamu saya ngerasa saya nyaman saya aman Nat "
" Na.. "
" Aku cuma butuh waktu Nat buat mastiin perasaan aku, dan aku cuma ga mau salah. "
Nathan sedikit merasa lega setelah mendapat jawaban dari Ana, Nathan menggenggam tangan Ana.
" Kalau cemburu ga usah kayak gini Nat " ucap Ana sembari mengusap pipi Nathan
" Engga cemburu Na, cuma mau tau perasaan kamu "
" Yaudah aku bikin minum dulu, kamu mau minum apa ? " kata Ana yang hendak bangun
" Aku ga haus, kalaupun aku haus nanti aku ambil sendiri Na "
Ana dan Nathan sama sama terdiam, bahkan kini hanya suara hujan yang terdengar diantara keduanya.
" Nat.. " panggil Ana pelan
" Ya ? kenapa Na ? "
" Umur kamu berapa sih Nat ? "
" Kenapa ? Tiba tiba banget nanyain umur "
" Ya mau tau aja, 35 ada ? "
" Emangnya saya setua itu ya Na ? "
" Ga sih, cuma ya emang tua "
" Terus kenapa kalau saya tua Na ? "
" Ya kayak om om, Om Nathan sih cocok "
" Waahh Na, parah sih "
" Om Nathan.. Om.. "
Ana mencoba mencairkan suasana, dan benar saja dalam hitungan detik mereka kembali berbincang. Ana dan Nathan sama sama tertawa bersama.
" Kalau kamu panggil saya om sekali lagi, saya kasih kamu hukuman "
" Ga takut om Nathan, haha "
Nathan menarik tubuh Ana, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Ana.
Nathan bisa mencium wangi segar parfum Ana, Ana pun menoleh kearah Nathan.
" Kamu cantik Na " puji Nathan
" Ya kan aku udah bilang, kalau tampan itu kamu Nat "
Nathan mengangkat sedikit wajah Ana, mengusap lembut bibir Ana dengan ibu jarinya.
Ana menatap lekat wajah Nathan, jantungnya berdebar-debar saat ini.
" Saya ga akan lakukan kalau ga kamu kasih izin " kata Nathan
" Izin untuk apa ? "
Nathan menjawabnya dengan mengusap bibir Ana, Ana pun meneguk Salivanya.
" Boleh Na ? " tanya Nathan sekali lagi
Ana menganggukkan kepalanya pelan, ia mengizinkan Nathan kali ini.
Nathan langsung mendaratkan bibirnya itu, Ana memejamkan matanya menikmati bibir lembut milik Nathan.
Nathan melepas kacamatanya, memperdalam ciumannya. Begitu juga dengan Ana, ia membuka sedikit bibirnya memberikan Askes untuk Nathan.
Ana membalas sebisanya, bergantian Nathan menciumi bibir atas bawa Ana.
Nathan mengakat tubuh Ana agar duduk dipangkuan Nathan, tanpa melepaskan bibirnya kini Ana berada diatas pangkuannya.
Tangan Ana melingkar pada leher Nathan, dinginnya hujan mulai berganti rasa panas bagi keduanya.
" Takut ada yang liat Nat " ucap Ana pelan, sambil mendorong tubuh Nathan
Apa yang Ana katakan benar, bisa saja ada yang melihat keduanya dari kaca jendela rumah Ana.
Nathan mengusap lembut bibir Ana yang basah, bibir keduanya pun sedikit bengkak.
" Aku ambil minum dulu ya " kata Ana dan Nathan mengangguk
Ana pergi ke dapur untuk mengambil segelas air, saat Ana tengah menuangkan air kedalam gelas. Nathan yang menghampiri Ana pun tiba tiba memeluk Ana dari belakang.
" Kamu mau minum ? " Ana berbalik badan, sambil memegang gelas.
Nathan meletakkan gelas yang Ana pegang, Nathan menundukkan wajahnya dan kembali mencium Ana.
Ana sedikit berjinjit, tubuhnya yang terlalu pendek dari Nathan.
" Nat... " ucap Ana begitu Nathan mengakhirinya
" Aku sayang sama kamu Na "
Ana memeluk tubuh Nathan dengan erat, rasanya begitu nyaman sekali.
...
Pukul 8 malam, hujan belum juga reda. Nathan dan Ana masih bersama, kini keduanya tengah menonton film di laptop milik Ana.
Nathan merebahkan kepalanya pada paha milik Ana, sesekali Ana mengusap lembut kepala milik Nathan.
" Besok saya ga bisa temuin kamu, saya ada urusan Na. Engga apa apa kan ? "
" Ya engga apa apa lah Nat, kamu selesaikan dulu urusan kamu "
" Tapi kalau ada apa apa kamu langsung hubungi aku ya Na "
" Iyah "
" Cuma Iyah ? "
" Terus apa Nat ? "
" Ya harusnya tuh, Iyah sayang. "
" Yaudah, Iyah sayang. Dan puas kan ? "
" Hehe "
Nathan bangun, ia pun memposisikan dirinya duduk.
" Saya pulang dulu ya Na, kamu pasti butuh istirahat " kata Nathan sembari mengusap lembut pipi Ana
" Yaudah, hati hati. Jangan ngembut ya "
" Iyah sayang, yaudah saya pulang dulu ya " ucap Nathan yang diakhiri dengan ciuman di kening Ana
Ana mengantar Nathan hingga depan pintu, laki laki itu pun berlari masuk kedalam mobilnya.
Hari ini Nathan berhasil membuat Ana yakin kalau ia memang memiliki perasaan kepada Nathan
Nathan mulai melaju, meninggalkan rumah Ana. Ana pun menutup pintunya, ia pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
Ana menatap langit kamar, ia mengusap bibirnya pelan sambil tersenyum.