Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jatuh ke Surga dan Hukum Penekan Dewa
Perjalanan melintasi Gerbang Alam Dewa bukanlah seperti berjalan melewati pintu. Itu adalah proses dihancurkan dan disusun kembali pada tingkat fundamental.
Di dalam lorong dimensi yang penuh dengan warna-warni badai kosmik, Ye Chen melayang tanpa daya. Tubuhnya yang sebelumnya dipaksa melampaui batas saat melawan Ba'al kini menanggung beban yang tak terbayangkan. Cahaya putih dari portal itu mencoba mengikis energi "fana" di dalam dirinya.
Jika dia hanyalah kultivator Spirit Severing biasa, dia sudah menjadi debu kosmik.
Namun, kelima kunci—Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, dan Bintang—berputar mengelilinginya, membentuk kepompong energi lima elemen yang melindunginya dari kehancuran total. Di dalam perutnya, Mutiara Penelan Surga berdenyut pelan, menelan arus turbulensi ruang untuk menjaga Dantian Ye Chen agar tidak meledak.
Waktu kehilangan maknanya. Entah itu sedetik atau seratus tahun, Ye Chen tiba-tiba merasakan tarikan gravitasi yang maha dahsyat.
WUUUUUUSHH!
Kepompong lima warna itu terlempar keluar dari celah langit, meluncur jatuh ke sebuah daratan asing seperti komet yang kehilangan arah.
BOOOOOOOOOOOM!
Bumi bergetar hebat. Kepompong itu menghantam sebuah hutan lebat, menciptakan kawah raksasa selebar satu kilometer dan menerbangkan pepohonan hingga tercerabut dari akarnya.
Asap tebal dan debu membumbung tinggi ke udara.
Di tengah kawah yang membara itu, kepompong lima warna perlahan memudar. Kelima kunci itu kehilangan cahayanya dan masuk kembali ke dalam Cincin Awan Putih di jari Ye Chen, tertidur karena kehabisan energi.
"Uhuk... Uhuk!"
Ye Chen memuntahkan seteguk darah hitam—sisa luka dalam dari pertarungannya di Menara Babel.
Dia membuka matanya perlahan. Penglihatannya kabur untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus.
Hal pertama yang dia rasakan adalah... Berat.
Bukan hanya gravitasi yang menarik tubuhnya ke bawah, melainkan udara itu sendiri yang menekan pundaknya. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk besi. Oksigen di sini dicampur dengan Qi Dewa (Divine Qi) purba yang sangat padat, murni, namun luar biasa liar.
Bagi makhluk dari alam bawah, menghirup Qi Dewa sama saja dengan menelan racun mematikan. Paru-paru mereka akan meledak.
Namun, Tulang Emas Hitam dan sisa-sisa Darah Naga di tubuh Ye Chen beresonansi, secara paksa beradaptasi dengan lingkungan brutal ini.
"Gravitasi di sini... setidaknya sepuluh ribu kali lipat dari Alam Roh Sejati," Ye Chen menggertakkan gigi, memaksa dirinya untuk duduk. Suara tulang-tulangnya berderit keras bergema di dalam kawah sunyi itu.
"Dan Qi-ku... tersegel."
Ye Chen mencoba memutar Inti Emas di Dantiannya. Tapi energi di dalam dirinya terasa seperti lumpur beku. Di dunia ini, Hukum Alam (Natural Laws) berada pada tingkatan yang jauh lebih tinggi. Qi fana dari dunia bawah tidak diakui di sini.
Dengan kata lain, di Alam Dewa Kuno ini, kultivasi Spirit Severing yang membuatnya menjadi raja di dunia bawah, kini di-reset menjadi setara dengan manusia biasa. Dia kehilangan kemampuan untuk terbang, berteleportasi, atau memanipulasi elemen jarak jauh.
Satu-satunya yang tersisa hanyalah Kekuatan Fisik Murni dari Tubuh Naga Asura.
"Kembali menjadi semut," Ye Chen tersenyum pahit, menyeka darah dari sudut bibirnya. "Dewa-dewa tua ini benar-benar tidak suka menerima tamu."
Dia memaksakan diri berdiri. Kakinya gemetar, tapi dia menolak untuk berlutut.
Ye Chen melihat ke sekeliling.
Dia berada di tengah hutan yang sangat aneh. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun hijau, melainkan daun yang terbuat dari kristal giok yang tajam. Batang pohonnya berwarna perak kehitaman, kokoh seperti logam tingkat surga.
Tiba-tiba, telinga Ye Chen menangkap suara gemerisik.
Sesuatu sedang mendekat. Sesuatu yang tertarik oleh suara ledakan pendaratannya.
Dari balik rimbunan semak kristal di tepi kawah, sepasang mata kuning menyala menatap Ye Chen.
Seekor makhluk melangkah keluar dengan anggun namun mematikan. Bentuknya menyerupai macan kumbang raksasa, berukuran sebesar gajah dewasa. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh sisik berbentuk berlian biru, dan ekornya berujung pada bilah tajam seperti pedang.
Macan Tutul Kristal Dewa (Divine Crystal Leopard).
Tingkat Kekuatan di Alam Dewa: Binatang Buas Tingkat 1 (Setara dengan Nascent Soul Puncak di dunia bawah, namun dengan ketahanan fisik alam dewa).
Makhluk ini hanyalah predator tingkat rendah di hutan ini, tapi di mata Ye Chen yang sekarang sedang tersegel Qi-nya, ini adalah ancaman mematikan.
GRRR...
Macan itu mengendus udara, mencium bau darah Ye Chen. Darah yang mengandung aura Asura dan Naga. Air liur menetes dari rahangnya yang penuh gigi bergerigi.
"Baru bangun tidur sudah ada yang mengantar sarapan," gumam Ye Chen.
Dia meraba punggungnya. Pedang Naga Langit masih ada di sana, tersarung. Tapi saat dia mencoba mencabutnya, pedang itu terasa seberat gunung. Hukum Alam Dewa menekan artefak dari dunia bawah hingga ke tingkat terendahnya. Jika dia memaksakan diri mengayunkan pedang seberat ini di bawah gravitasi 10.000 kali lipat, lengannya akan putus sebelum pedangnya mengenai musuh.
"Tangan kosong kalau begitu." Ye Chen melepaskan genggamannya dari pedang dan mengambil kuda-kuda bertarung.
Macan itu tidak menunggu.
SWUSH!
Kecepatannya di bawah gravitasi ekstrem ini sangat tidak masuk akal. Macan itu menerjang seperti kilatan cahaya biru, cakar depannya mengincar leher Ye Chen.
Ye Chen tidak bisa menghindar dengan kecepatan penuhnya. Ruang di sekitarnya terlalu kental.
Maka, dia tidak menghindar.
Tubuh Guntur Asura: Kepadatan Maksimal!
Ye Chen menyilangkan kedua lengan Tulang Emas-nya di depan dada.
CLANG!
Suara benturan logam terdengar saat cakar macan itu menghantam lengan Ye Chen. Bunga api memercik. Kulit Ye Chen tergores dalam, darah emas menetes, tapi tulangnya menahan hantaman tersebut.
"Berat!" batin Ye Chen. Tenaga fisik macan ini setara dengan pukulan Titan (Dewa Perang di Menara Babel).
Macan itu terkejut mangsanya tidak hancur. Ia membuka rahangnya, mencoba menggigit wajah Ye Chen.
"Mundur, Kucing Besar!"
Ye Chen menggunakan momentum tolakan macan itu, menarik tangan kanannya dan melepaskan sebuah pukulan uppercut langsung ke rahang bawah macan kristal tersebut.
DUMMM!
Pukulan Ye Chen mengandung sisa-sisa tenaga Asura. Rahang macan itu berderit keras. Tubuh raksasanya terangkat ke udara setinggi dua meter.
Namun, macan itu sangat tangguh. Di udara, ia mengibaskan ekor pedangnya ke arah pinggang Ye Chen.
SRET!
Ekor itu menyayat pinggang Ye Chen, merobek jubahnya dan meninggalkan luka panjang yang berdarah.
Ye Chen meringis, tapi dia mengabaikan rasa sakit. Ini adalah pertarungan hidup dan mati pertama di dunia baru.
Dia melompat menyusul macan yang sedang jatuh itu, lalu mengunci leher macan itu dengan lengannya, menjatuhkan diri bersama-sama ke tanah.
BLARR!
Mereka bergumul di tengah debu kawah. Macan itu meronta liar, mencakar punggung Ye Chen berulang kali. Darah membasahi tanah kristal.
Ye Chen mengunci leher makhluk itu sekuat tenaga. Otot-otot lengannya menegang hingga uratnya hampir pecah.
"MATI!"
Dengan satu hentakan brutal yang memutar leher, terdengar suara KRAK yang memuakkan.
Tulang leher macan kristal itu patah. Tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya melemas dan tak bernyawa.
Ye Chen tergeletak di atas bangkai macan itu, napasnya memburu keras.
"Hah... hah... Sial. Satu macan liar saja hampir membunuhku," Ye Chen tertawa pahit.
Tapi dia tidak punya waktu untuk beristirahat. Darah segar akan memancing predator lain.
Tiba-tiba, di dalam Dantiannya, Mutiara Penelan Surga bergetar gila-gilaan.
"Lapar... Energi Murni..."
Ye Chen menempelkan tangannya ke dada macan itu.
"Telan."
Pusaran hitam kecil terbentuk di telapak tangannya. Alih-alih menyedot darah, pusaran itu langsung menarik keluar Inti Dewa (God Core) seukuran kelereng dari dalam tubuh macan itu.
Inti itu masuk ke dalam tubuh Ye Chen.
Seketika, energi Qi Dewa yang murni meledak di dalam tubuh Ye Chen. Tapi kali ini, Mutiara Penelan Surga tidak menyimpannya, melainkan menggunakannya untuk mencuci dan mengonversi sisa Qi fana di dalam meridian Ye Chen.
Rasa sakit akibat adaptasi paksa membuat Ye Chen pingsan sejenak.
Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri.
Ye Chen dibangunkan oleh suara derap langkah dan percakapan.
"Nona Muda! Ada kawah besar di sini! Sepertinya ada meteor yang jatuh!" suara seorang pria terdengar kasar.
"Hati-hati. Bisa jadi itu fenomena lahirnya Binatang Ilahi atau artefak kuno," jawab suara seorang wanita muda, jernih dan penuh otoritas.
Ye Chen membuka matanya yang berat. Dia masih terbaring di dalam kawah, di sebelah bangkai macan yang sudah mengering.
Dari atas tepi kawah, muncul sekelompok orang.
Mereka menunggangi burung unta raksasa berwarna putih yang berlari di tanah. Para pria mengenakan baju zirah dari kulit monster, sementara wanita di depan mereka mengenakan gaun perak yang ramping dengan pedang tipis di pinggangnya.
Wanita itu memiliki rambut perak yang diikat ekor kuda dan mata biru es. Aura kultivasinya memancarkan ketajaman yang mengerikan.
"Di bawah sana!" salah satu pengawal menunjuk. "Itu bukan artefak. Itu manusia! Dan... bangkai Macan Tutul Kristal Dewa?"
Wanita berambut perak itu menyipitkan matanya. Dia melompat turun dari tunggangannya dan meluncur ke dasar kawah dengan ringan, sama sekali tidak terpengaruh oleh gravitasi ekstrem hutan ini.
Dia mendarat beberapa meter dari Ye Chen, pedangnya setengah tercabut dari sarungnya.
"Siapa kau?" tanya wanita itu, menatap Ye Chen yang berlumuran darah dan mengenakan pakaian compang-camping. "Seorang manusia berhasil membunuh binatang tingkat dewa dengan tangan kosong di Hutan Hukuman Surga? Apakah kau buronan sekte?"
Ye Chen duduk perlahan, menatap wanita itu. Dia bisa merasakan tekanan energinya.
Di dunia ini, wanita muda ini memiliki kekuatan yang setara dengan Mo Luo (Jenderal Iblis) di dunia bawah, tapi gerakannya jauh lebih selaras dengan hukum alam.
"Aku bukan buronan," jawab Ye Chen serak, suaranya parau karena kehausan.
Dia menatap mata wanita itu tanpa rasa takut.
"Aku hanya pengembara... yang jatuh dari tempat yang sangat tinggi."
Wanita itu mengerutkan kening. Dia melirik bangkai macan yang intinya telah hilang.
"Pengembara? Di wilayah Klan Pedang Perak? Bawa dia," perintah wanita itu kepada pengawalnya. "Pria ini memiliki rahasia. Jika dia tidak berguna, kita jadikan dia umpan buruan."
Para pengawal maju untuk mengikat Ye Chen.
Ye Chen tersenyum tipis di dalam hati.
"Klan Pedang Perak? Menarik. Rantai makanan yang baru... akan kumulai dari dalam kandang kalian."
(Akhir Bab 23)