NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.7 Pelarian dari Masa Lalu

Aku masih duduk di depan pintu gua ketika pintu batu itu mulai bergerak pelan. Suaranya tidak keras. Hanya hembusan angin dingin yang keluar lebih kuat, membawa bau logam dan sesuatu yang lebih dalam, seperti tanah yang baru tergali. Aku mengangkat kepala perlahan. Tangan kiri masih memegang gagang katana, tidak ditarik, hanya dipegang agar tidak kosong. Bara api di depanku berkedip sekali, seolah terkejut dengan perubahan udara.

Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya perak samar keluar dari celah itu, bercampur dengan cahaya oranye kecil dari bara api. Aku melihat siluet kecil yang familiar. Namun ada yang berbeda. Siluet itu terlihat… lebih tinggi. Bahu lebih lebar sedikit. Pinggang lebih ramping. Proporsi tubuhnya tidak lagi seperti anak kecil yang kurus dan rapuh seperti yang kukenal.

Nyx melangkah keluar.

Aku terdiam. Napasku berhenti sejenak. Mataku tidak bisa lepas dari sosok di depanku. Tingginya sekarang hampir sama dengan Cae. Mungkin hanya beberapa senti lebih pendek dari aku. Tubuhnya tidak lagi kecil dan rapuh seperti sebelumnya. Bahu lebih tegak. Lengan lebih panjang dan proporsional. Pinggul sedikit lebih lebar, membuat dress krem yang dipinjam dari Lyre terlihat lebih pas di badannya, bukan lagi longgar seperti baju anak kecil. Kakinya lebih panjang, membuat langkahnya terlihat lebih mantap meskipun masih pelan.

Rambut hitam pendeknya masih sama, tapi telinga kucing hitamnya berdiri lebih tegak, lebih tajam. Ekor hitamnya melengkung di belakang dengan gerakan yang lebih percaya diri, bukan lagi melingkar ketakutan seperti biasa. Matanya masih kuning keemasan, tapi ada cahaya perak samar di dalamnya, seperti pantulan bulan di malam gelap.

Aku bangkit perlahan. Lutut terasa kaku karena terlalu lama duduk. Aku menggosok lutut kanan dengan tangan kiri sambil menatapnya. Dada terasa sesak. Bukan takut. Lebih seperti kaget yang bercampur lega dan bingung.

“Nyx…” suaraku keluar pelan, hampir tidak terdengar. “Kau…”

Aku tidak melanjutkan. Aku hanya menatapnya dari atas ke bawah sekali lagi. Tingginya sekarang jelas lebih tinggi dari sebelumnya. Proporsi tubuhnya sudah mulai mendekati Cae—pinggang ramping, bahu yang lebih seimbang, kaki yang lebih panjang. Cae memang masih sedikit lebih pendek dariku, tapi Nyx sekarang hampir menyamai Cae. Hanya selisih beberapa senti saja.

Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Dingin malam membuat mata terasa panas. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya untuk pertama kalinya.

“Nyx… berapa umurmu sekarang?”

Nyx berhenti di depanku. Ia menatapku dengan mata kuning keemasan yang masih sama, tapi ada kedalaman baru di dalamnya. Ia tersenyum kecil, senyum yang lemah tapi tulus.

“Masih tiga belas tahun, Kak Ely.”

Aku terdiam lagi. Tiga belas tahun. Sama seperti yang kuingat. Tapi tubuhnya… tubuhnya sudah berubah. Aku menatapnya sekali lagi. Tinggi yang bertambah. Proporsi yang lebih seimbang. Bahu yang lebih tegak. Semua itu terjadi hanya dalam beberapa jam di dalam gua.

Nyx seolah mengerti apa yang kupikirkan. Ia mengangkat tangan kanan pelan, melihat jari-jarinya sendiri yang sekarang lebih panjang dan lebih halus.

“Ini efek dari kekuatan yang baru terbuka sebagian,” katanya pelan. Suaranya masih kecil, tapi ada nada yang lebih mantap. “Guardian of the Night… darahku mulai mengalir lebih kuat. Hanya beberapa persen dari potensi penuhnya. Tapi sudah cukup untuk mengubah tubuhku sedikit. Tinggi bertambah. Proporsi tubuh mulai menyesuaikan. Seperti… tubuhku mulai siap menampung kekuatan yang lebih besar.”

Aku mengangguk pelan. Dada masih terasa sesak. Aku mengusap wajah lagi. Dingin malam membuat pipi terasa kaku. Aku menarik selimut yang tadi kupakai lebih rapat ke bahu, tapi tidak cukup. Dingin ini sudah masuk ke tulang.

“Kau… terlihat lebih dewasa sekarang,” kataku pelan. “Hampir seperti Cae. Hanya sedikit lebih pendek dariku. Aku… tidak menyangka akan secepat ini.”

Nyx tersenyum kecil lagi. Ia melangkah mendekat. Kakinya yang lebih panjang membuat langkahnya terlihat lebih ringan. Ekor hitamnya melengkung pelan di belakang, bukan lagi melingkar ketakutan. Telinganya berdiri tegak, mendengar setiap hembusan angin di sekitar reruntuhan.

“Aku juga tidak menyangka,” jawabnya. “Di dalam gua… aku bertemu dengan bagian dari diriku yang selama ini tertidur. Bulan di ukiran itu… cahaya di tengah kegelapan. Itu yang membuatku mengerti. Kekuatan ini bukan untuk menghancurkan. Tapi untuk menjaga cahaya tetap ada meski malam semakin gelap.”

Aku diam sejenak. Aku menatap wajahnya lagi. Pipinya masih kecil, tapi garis rahangnya sudah sedikit lebih tegas. Mata kuning keemasannya masih sama, tapi ada cahaya perak samar yang bergerak pelan di dalam pupilnya. Aku mengulurkan tangan kanan pelan. Menyentuh bahunya. Bahu yang sekarang lebih tinggi dari sebelumnya. Lebih kokoh.

“Kau masih Nyx,” kataku pelan. “Meski tubuhmu berubah. Kau tetap gadis kecil yang kutemukan di gang malam itu.”

Nyx mengangguk. Tangan kecilnya—yang sekarang sedikit lebih panjang—meraih tanganku. Genggamannya hangat. Lebih kuat dari sebelumnya.

“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi aku juga merasakan sesuatu yang lain. Masa lalu… mulai bergerak. Ada bayangan yang mengikuti kita. Bukan jubah hitam. Bukan Ordo Gerhana. Ini… sesuatu dari desa. Dari malam pembantaian itu. Mereka tahu aku sudah mengambil sebagian kekuatan. Mereka akan datang.”

Aku merasakan dingin yang berbeda. Bukan dingin malam. Dingin yang berasal dari dalam dada. Aku menggosok lengan dengan tangan kiri. Kulit terasa kasar karena debu dan angin malam. Aku menarik napas dalam. Uap putih keluar dari mulut, naik pelan lalu hilang di kabut.

“Kita harus pergi,” kataku pelan. “Sekarang juga. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama.”

Nyx mengangguk. Ia menoleh ke arah reruntuhan desa yang gelap. Matanya menyipit sedikit, seolah mendengar sesuatu yang tidak bisa kudengar. Ekornya melengkung lebih tinggi, seperti sedang siaga.

“Ada suara… dari arah hutan,” bisiknya. “Langkah kaki. Banyak. Mereka datang dari utara. Bukan manusia biasa. Ada bau asap hitam yang sama seperti di festival.”

Aku bangkit perlahan. Lutut terasa kaku. Aku menggosok lutut kanan dengan tangan kiri. Kaki kanan masih sedikit kesemutan. Aku mengambil katana, mengikatnya di pinggang. Tas ransel yang tadi kupakai kutarik ke bahu. Beratnya terasa lebih ringan sekarang, mungkin karena adrenalin yang mulai mengalir.

“Kita lari ke selatan,” kataku. “Menuju sungai kecil yang kita lewati kemarin. Di sana ada tempat persembunyian alami. Kita bisa bersembunyi sampai pagi. Lalu kembali ke Eldoria.”

Nyx mengangguk. Ia melangkah di sampingku. Langkahnya lebih panjang dari sebelumnya. Tingginya yang bertambah membuat ia bisa mengimbangi langkahku dengan lebih mudah. Aku meliriknya sekali lagi. Proporsi tubuhnya yang sekarang lebih mirip Cae membuatku merasa aneh. Cae memang hampir sama tingginya denganku, hanya sedikit lebih pendek. Nyx sekarang hampir menyamai Cae. Hanya selisih beberapa senti saja.

“Kau… benar-benar berubah,” kataku pelan sambil berjalan. “Tapi kau masih kau. Itu yang penting.”

Nyx tersenyum kecil. Ia menggenggam tanganku lebih erat. Tangan yang sekarang lebih panjang dan lebih hangat.

“Aku tahu, Kak Ely. Aku masih tiga belas tahun. Hanya tubuhku yang mulai mengejar kekuatan yang seharusnya kumiliki. Ini hanya sebagian kecil. Masih banyak yang tertidur di dalam.”

Kami berjalan pelan keluar dari reruntuhan. Kabut masih tebal. Angin malam menyentuh kulit seperti jari dingin yang lembut. Aku menggosok lengan lagi. Dingin ini mulai masuk ke tulang. Aku menarik napas dalam. Uap putih keluar dari mulut, naik pelan lalu hilang.

Di belakang kami, suara langkah kaki samar mulai terdengar. Bukan langkah manusia biasa. Ada hembusan asap hitam yang samar di udara. Aku tidak menoleh. Aku hanya mempercepat langkah sedikit. Nyx mengimbangi dengan mudah. Kakinya yang lebih panjang membuat ia tidak perlu berlari kecil seperti sebelumnya.

“Kita harus lari sekarang,” bisikku. “Mereka sudah dekat.”

Nyx mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Kami mulai berlari pelan ke arah selatan. Kaki menyentuh tanah berumput liar. Debu beterbangan kecil di belakang kami. Aku merasakan angin malam menyapu wajah. Dingin. Tajam. Tapi juga menyegarkan.

Di belakang, suara langkah semakin jelas. Tapi kami tidak berhenti. Kami terus lari. Menuju sungai kecil yang kami lewati kemarin. Menuju tempat yang lebih aman.

Aku melirik Nyx yang berlari di sampingku. Tubuhnya yang lebih tinggi dan lebih seimbang sekarang terlihat lebih kuat. Tapi matanya masih sama. Mata kuning keemasan yang penuh rasa aman ketika menatapku.

Kami lari dari masa lalu yang mulai bangun.

Tapi kali ini, kami lari bersama.

Dan aku tahu, kali ini Nyx tidak lagi hanya gadis kecil yang perlu dilindungi.

Ia sudah mulai menjadi Guardian yang sebenarnya.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!