Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 TERPANCING
Tiba-tiba suara Liora menambah suasana semakin mencekam, di meja makan yang semula tenang perlahan berubah menjadi penuh ketegangan.
"Sa, apa kamu nggak pernah siapkan makan untuk suamimu?" celetuknya dengan nada polos, tetapi terdengar menusuk.
Mendengar pertanyaan itu, Kevandra hampir saja tersedak. Ia terkejut karena tidak menyangka Liora akan bertanya langsung seperti itu.
"Dia sudah biasa melakukannya sendiri, Li. Aku nggak perlu repot-repot. Iya kan, Mas?" jawab Salsa matanya melirik ke arah Kevandra, berharap suaminya membenarkan ucapannya.
Kevandra hanya memberi anggukan kecil sambil berdehem, berusaha tetap terlihat tenang di depan mereka.
Mana mungkin ia mengatakan bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak baik-baik saja. Kevandra memilih diam, menelan semua keganjilan yang mulai ia rasakan sejak kedatangan Liora dan Raka malam itu.
Setelah itu, Salsa yang tidak bisa lagi menahan kekesalannya akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
"Li, aku izin ke belakang sebentar ya. Aku mau ngambil makanan penutup." pamitnya dengan nada dibuat setenang mungkin.
Liora hanya mengangguk sambil menampilkan senyum ramahnya, seolah benar-benar percaya dengan alasan itu. Tatapannya tampak tenang, tetapi di balik senyum itu tersimpan kepuasan kecil melihat reaksi Salsa.
Setelah mengatakan itu, Salsa bergegas meninggalkan ruang makan dengan langkah cepat, menahan emosi yang hampir meledak.
"Sialan! Apa-apaan dia bermesraan di depanku?" gerutunya di sepanjang langkahnya menuju dapur.
Namun di ruang makan, Raka yang merasa suasana semakin tidak nyaman dan mulai gelisah tiba-tiba ingin menyusul Salsa untuk menenangkannya.
"Sayang, aku izin ke kamar mandi, ya." ucap Raka dengan nada hati-hati.
Kevandra hanya menatap sekilas tanpa curiga, sementara Liora kembali tersenyum tipis, seolah sudah menebak apa yang akan terjadi.
"Silahkan."
Raka beranjak dari tempat duduknya, dengan langkah sedikit tergesa, ia berjalan menuju arah kamar mandi.
Tatapan Liora mengikuti langkah Raka yang menjauh, di dalam hatinya. Ia semakin yakin bahwa permainan ini baru saja dimulai.
Saat Raka berada di tengah koridor, ia melihat Salsa yang baru saja keluar dari dapur dengan wajah kesal. Ia langsung menahan tangan gadis itu. Seketika ia mendapatkan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
"Lepas!" sentak Salsa sambil melepaskan cengkraman tangan Raka dengan kasar, wajahnya memerah menahan emosi.
"Maaf, Sayang. Bukan maksudku membuatmu marah atau cemburu. Aku benar-benar tidak tahu kalau Liora akan berani bersikap seperti itu di depan kamu." bujuknya dengan nada lembut, ia memeluk Salsa dari belakang, berharap bisa meredakan amarah gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di meja makan, keheningan menyelimuti Kevandra dan Liora. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya suara dentingan sendok yang sesekali terdengar.
Sepuluh menit berlalu, namun Salsa dan Raka tidak kunjung kembali.
Liora mulai merasa jenuh menunggu. Di dalam hatinya, ia tahu betul apa yang mungkin sedang terjadi di luar sana. Tetapi ia tetap berpura-pura tenang di hadapan Kevandra.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul mereka.
"Kevan, aku kebelakang dulu, ya. Sepertinya ada yang tersesat di rumahmu yang besar ini." ujar Liora dengan nada setengah bercanda. Ia tersenyum tipis ke arah laki-laki itu.
Kevandra hanya terkekeh kecil, merasa lucu mendengar ucapan gadis itu. "Apa rumahku ini seperti permainan labirin, Li! sampai membuat tunanganmu tersesat? Kamu ini ada-ada aja." balasnya santai.
Liora menatap iba ke arah laki-laki itu. "Kamu belum tahu aja, apa yang sebenarnya terjadi, Kevan." gumamnya lirih dalam hati.
Ia pun bangkit dari kursinya, melangkah pelan meninggalkan ruang makan dengan perasaan yang sudah dipenuhi berbagai dugaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dapur saat ini, suasana antara Raka dan Salsa masih belum mereda. Ketegangan di antara mereka masih memanas, seolah amarah yang terpendam sulit untuk mereda.
"Tapi kamu menikmati perlakuannya, kan?" tanya Salsa dengan nada penuh sindiran. Ia melepaskan pelukan Raka dengan kasar.
Matanya menatap tajam ke arah laki-laki itu, seolah menuntut jawaban darinya. Wajahnya terlihat dingin, tetapi di balik tatapan itu tersimpan rasa cemburu yang begitu besar.
Raka terdiam sejenak. Ia tahu apa pun yang ia katakan saat ini bisa semakin memperkeruh keadaan.
"Aku harus bagaimana? Jika aku menolak, itu justru akan membuat Liora curiga dengan perubahanku." jawab Raka pelan, mencoba memberi alasan.
Salsa hanya tersenyum sinis mendengar pembelaan itu. Baginya, alasan Raka terdengar tidak meyakinkan.
"Jadi kamu lebih memilih membuatku sakit hati daripada membuatnya curiga?" jawabnya dengan nada bergetar.
Pertanyaan itu membuat Raka semakin terpojok. Ia menghela napas panjang, merasa benar-benar berada di posisi yang sulit, terjebak di antara dua wanita yang kini sama-sama menuntut perhatian darinya.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya berusaha menjaga keadaan agar tetap aman untuk kita berdua." ucapnya dengan nada lembut mencoba menenangkan gadis itu.
Namun di dalam hati Salsa, kemarahan itu belum juga mereda.
"Aku hanya mencintaimu, Sa." lanjut Raka dengan nada lebih lembut untuk meyakinkan keraguan Salsa.
Ia menatap Salsa dalam-dalam, berusaha membuat wanita itu luluh dan percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tangannya masih mencoba menggenggam jemari Salsa yang terasa dingin karena menahan amarah.
Salsa menghela napas panjang. Hatinya berkecamuk antara percaya dan ragu. Cemburu yang ia rasakan malam ini benar-benar menguasai pikirannya, membuatnya sulit berpikir jernih.
"Aku tidak ingin berbagi kamu dengannya."
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya, penuh emosi yang selama ini ia pendam. Tatapannya tajam, seolah menuntut kepastian dari Raka.
Raka terdiam sejenak mendengar pengakuan itu. Ia tahu Salsa pasti terluka. Namun di saat yang sama, ia sama sekali tidak memikirkan perasaan tunangannya yang justru menjadi korban terbesar dari pengkhianatan mereka.
"Bukankah aku sudah menjadi milikmu seutuhnya? Apa perlu kita mengulangnya di sini?" bisik Raka dengan nada sensual dan senyum nakal, mencoba mengalihkan perhatiannya.
Ucapan itu justru membuat Salsa mendengus kesal, meskipun diam-diam ada perasaan senang terselip di hatinya.
"Jangan bercanda, Raka. Ini bukan waktunya." balas Salsa dengan nada ketus, mencoba menormalkan wajahnya yang mulai memerah.
Raka kembali mendekat, menatap Salsa dengan lebih serius. Sorot matanya seolah ingin menegaskan bahwa ia sungguh-sungguh.
"Aku serius, Sa. Kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan. Semua yang kulakukan di depan Liora hanya sandiwara."
Namun bagi Salsa, kata-kata itu belum cukup untuk menenangkan hatinya. Cemburu yang ia rasakan malam ini belum sepenuhnya hilang begitu saja.
Dari arah lain, langkah Liora mulai mendekat ke arah mereka. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti, saat kedua matanya menangkap pemandangan yang seharusnya tidak pernah ia lihat.
"Benar-benar pasangan menjijikkan."
Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya, hingga kukunya memutih.