Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KEHANCURAN YANG AKAN DATANG
Steve Lim langsung menuju ke tempat Ruolan Tan, dia ingin memberitahu kabar baik tentang Wong secara langsung. Saat dia tiba di apartemen Ruolan Tan, dia melihat Ruolan Tan sedang duduk di sofa, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang jauh.
"Ruolan Tan," panggil Steve Lim, sambil menutup pintu di belakangnya.
Ruolan Tan menoleh ke arah Steve Lim, dan langsung melihat ekspresi wajahnya yang terlihat puas. "Apa kabar?" tanya Ruolan Tan, dengan nada yang penasaran.
"Wong sudah tertangkap," kata Steve Lim, sambil tersenyum. "Kamu sekarang aman darinya."
Ruolan Tan terlihat lega, dan langsung berdiri dari sofa. "Terima kasih, Steve," kata dia, dengan suara yang tulus. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tanpamu."
Steve Lim, bos besar mafia Makau, memiliki hubungan yang kompleks dengan polisi. Meskipun dia memiliki kekuasaan besar di Makau, dia juga memiliki musuh yang banyak. Oknum pemerintah yang korup telah menjebaknya dalam kasus tanah yang sebenarnya tidak dia lakukan.
Tiba-tiba, ponsel Steve Lim berdering. "Ya?" jawabnya.
"Aku tahu kamu sedang dalam masalah, Steve," kata suara di seberang telepon. "Tapi aku bisa membantumu. Bertemu denganku di gudang tua di pelabuhan."
Steve Lim mengangguk, meskipun dia tahu bahwa ini bisa menjadi perangkap. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus mencari tahu siapa yang ada di balik ini semua dan membersihkan namanya.
Di tempat lain...
Wong memang memiliki banyak sekutu dan anak buah yang setia kepadanya. Ketika dia ditangkap oleh polisi, mereka langsung bergerak untuk membebaskannya.
"Boss Wong tidak bisa ditahan begitu saja!" teriak salah satu anak buah Wong, sambil memecahkan kaca kantor polisi.
Polisi yang menjaga Wong langsung siaga, mereka tahu bahwa situasi bisa menjadi tidak terkendali jika anak buah Wong semakin banyak yang datang.
"Kita harus memindahkan Wong ke tempat yang lebih aman," kata detektif yang menangani kasus Wong.
Tapi sudah terlambat. Anak buah Wong telah berhasil membobol sel tahanan dan membebaskan Wong. Wong tersenyum sinis ketika dia keluar dari kantor polisi, dikawal oleh anak buahnya.
"Aku akan membuat Steve Lim membayar untuk apa yang dia lakukan," kata Wong, dengan mata yang membara dengan dendam.
Polisi yang mencoba untuk menangkap Wong kembali langsung dikepung oleh anak buah Wong. "Tembak!" teriak salah satu anak buah Wong, sambil menembakkan pistol ke arah polisi.
Polisi langsung membalas tembakan, dan suara tembakan mengisi udara. Wong dan anak buahnya berusaha untuk melarikan diri, tapi polisi terus mengejar mereka.
Steve Lim yang sedang berada di dekat kantor polisi langsung mendengar suara tembakan. Ia segera mengambil pistolnya dan berlari ke arah sumber suara.
"Aku harus membantu polisi," kata Steve Lim kepada dirinya sendiri.
Ketika Steve Lim tiba di tempat kejadian, ia melihat Wong dan anak buahnya sedang berusaha untuk melarikan diri. Steve Lim langsung menembakkan pistolnya ke arah mereka.
"Tangkap mereka!" teriak Steve Lim.
Polisi dan Steve Lim terus mengejar Wong dan anak buahnya, sampai akhirnya mereka berhasil melarikan diri ke dalam sebuah gang yang sempit.
Sekarang, mari kita lanjutkan dengan adegan di apartemen Ruolan Tan.
Ruolan Tan sedang duduk di sofa, masih merasa lega setelah mendengar kabar bahwa Wong telah ditangkap. Tiba-tiba, ia mendengar suara tembakan di luar apartemen.
"Apa yang terjadi?" tanya Ruolan Tan kepada dirinya sendiri.
Ia langsung berdiri dari sofa dan berjalan ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi. Ketika ia melihat ke luar jendela, ia melihat anak buah Wong sedang berusaha untuk memasuki gedung apartemen.
"Oh tidak," kata Ruolan Tan kepada dirinya sendiri. "Mereka pasti datang untukku."
Ruolan Tan langsung berlari ke arah kamar tidur untuk mencari tempat persembunyian. Ia mengunci pintu kamar tidur dan berusaha untuk tidak membuat suara.
Tapi anak buah Wong tidak menyerah begitu saja. Mereka terus berusaha untuk memasuki apartemen Ruolan Tan, dan akhirnya mereka berhasil memecahkan pintu apartemen.
"Ruolan Tan, keluarlah!" teriak salah satu anak buah Wong.
Ruolan Tan tidak menjawab, ia hanya berusaha untuk tetap diam dan tidak membuat suara.
Anak buah Wong terus berusaha untuk memasuki kamar tidur Ruolan Tan, tapi Ruolan Tan telah mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi seperti ini. Ia mengambil pistol yang disembunyikan di bawah tempat tidur dan mempersiapkan diri untuk melawan.
"Tidak ada yang bisa masuk ke sini!" teriak Ruolan Tan, sambil menembakkan pistol ke arah anak buah Wong.
Anak buah Wong terkejut dan mundur ke belakang, tapi mereka tidak menyerah begitu saja. Mereka terus berusaha untuk memasuki kamar tidur Ruolan Tan, dan pertempuran sengit pun terjadi.
Sementara itu, Steve Lim masih berada di luar apartemen, berusaha untuk mengejar Wong dan anak buahnya. Ia menerima panggilan dari polisi yang memberitahu bahwa anak buah Wong telah menyerang apartemen Ruolan Tan.
"Steve, Ruolan Tan dalam bahaya!" teriak polisi di seberang telepon.
Steve Lim langsung berlari ke arah apartemen Ruolan Tan, pistol di tangan. Ia tidak bisa membiarkan Ruolan Tan dalam bahaya.
"Aku datang, Ruolan Tan!" teriak Steve Lim, sambil berlari ke arah apartemen.
Ketika Steve Lim tiba di apartemen, ia melihat anak buah Wong sedang berusaha untuk memasuki kamar tidur Ruolan Tan. Steve Lim langsung menembakkan pistol ke arah mereka, dan anak buah Wong pun mundur ke belakang.
"Ruolan Tan, aku di sini!" teriak Steve Lim.
Ruolan Tan membuka pintu kamar tidur dan melihat Steve Lim berdiri di depan pintu apartemen. "Steve!" teriak Ruolan Tan, sambil berlari ke arah Steve Lim.
Steve Lim memeluk Ruolan Tan dan membawanya keluar dari apartemen. "Kamu aman sekarang," kata Steve Lim.
Tapi, Wong masih belum tertangkap. Ia masih memiliki rencana untuk membalas dendam kepada Steve Lim dan Ruolan Tan.
Steve Lim memeluk Ruolan Tan erat, memastikan bahwa dia aman. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Steve Lim, sambil memeriksa Ruolan Tan dari kepala hingga kaki.
Ruolan Tan mengangguk, masih terlihat ketakutan. "Aku baik-baik saja, terima kasih," kata Ruolan Tan, sambil memeluk Steve Lim lebih erat.
Steve Lim memandang sekeliling apartemen, memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman. Ia melihat beberapa anak buah Wong yang terluka dan tidak bisa bergerak lagi.
"Aku harus memastikan bahwa Wong tertangkap," kata Steve Lim, sambil memandang Ruolan Tan. "Kamu tunggu di sini, aku akan pergi mengejar Wong."
Ruolan Tan mengangguk, masih terlihat ketakutan. "Aku tidak ingin kamu pergi," kata Ruolan Tan, sambil memegang tangan Steve Lim.
Steve Lim tersenyum dan memegang tangan Ruolan Tan. "Aku akan kembali, aku berjanji," kata Steve Lim.
Dengan itu, Steve Lim meninggalkan apartemen dan mengejar Wong. Ia tidak akan membiarkan Wong melarikan diri dan membalas dendam kepada Ruolan Tan.