Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI-HARI YANG MEMBIASAKAN
Seminggu kemudian...
Wei Chen sudah mulai mengenal ritme Desa Qinghe.
Bangun pagi sebelum matahari terbit. Air sumur yang dingin. Sarapan bubur atau nasi sisa semalam. Lalu ke sawah atau kebun sampai menjelang siang. Istirahat saat matahari paling panas. Kemudian kerja lagi sampai sore. Malamnya, duduk bersila belajar kultivasi.
Sederhana. Berulang. Tapi anehnya, dia tidak bosan.
Mungkin karena Mei Ling.
Setiap pagi, dia sudah menunggu dengan sarapan. Setiap di sawah, dia bekerja di sampingnya, sesekali bercerita tentang desa atau tentang orang-orang yang lewat. Setiap malam, dia duduk di sampingnya saat kultivasi, mengoreksi posisi duduknya, membetulkan napasnya.
Perlahan, tanpa sadar, Wei Chen mulai menantikan saat-saat itu.
Suatu sore, saat mereka beristirahat di pematang sawah, seorang pria paruh baya mendekat. Wajahnya keras, langkahnya tegap. Dia memanggul cangkul, tapi tatapannya seperti prajurit, bukan petani.
"Wei Chen?" suaranya berat.
Wei Chen mengangguk.
"Aku kepala desa. Pak Harto." Pria itu duduk di dekat mereka tanpa dipersilakan. "Mau bicara."
Mei Ling menegang. "Pak Harto, ada apa?"
"Tenang, Nok." Pak Harto melambaikan tangan. "Hanya mau kenalan." Matanya mengamati Wei Chen dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Orang baru di desa kita. Sudah seminggu. Kerja di sawah Nok Mei Ling. Tidak pernah bikin masalah."
Wei Chen diam. Menunggu.
"Tapi aku harus tanya — kau dari mana?"
"Timur," jawab Wei Chen singkat.
"Timur mana? Kota apa?"
"Surabaya."
Pak Harto mengerutkan kening. "Surabaya? Tidak pernah dengar."
"Kota kecil. Di timur jauh."
Pak Harto diam. Matanya masih tajam. Tapi akhirnya dia menghela napas.
"Dengar, Nak. Aku tidak tahu kau ini siapa, dari mana, atau kenapa bisa sampai di sini. Tapi selama kau kerja, tidak bikin masalah, dan hormati adat desa, kau boleh tinggal." Dia berdiri. "Tapi kalau kau bikin masalah — kau akan kusir sendiri."
Wei Chen mengangguk. "Mengerti."
Pak Harto menatapnya sekali lagi, lalu pergi.
Setelah dia jauh, Mei Ling menghela napas lega.
"Aku kira dia akan marah," bisiknya.
"Dia orang baik." Wei Chen masih menatap punggung Pak Harto. "Tegas, tapi adil."
"Kau bisa lihat dari sekali bicara?"
"Bisa."
Mei Ling menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Kau benar-benar aneh, Chen."
"Aneh bagaimana?"
"Bicaranya seperti orang tua. Matanya seperti... seperti sudah melihat banyak." Dia menunduk. "Tidak seperti pemuda seusiamu."
Wei Chen diam. Dia tidak bisa bilang bahwa sebenarnya dia memang orang tua — 40 tahun — yang terjebak di tubuh pemuda 18 tahun.
"Mungkin karena hidupku keras," jawabnya akhirnya.
Mei Ling tidak bertanya lebih lanjut. Tapi matanya — matanya berkata bahwa dia tahu Wei Chen menyembunyikan sesuatu.
Malam harinya, mereka duduk bersila di beranda, seperti biasa.
Tapi kultivasi malam ini berbeda.
Wei Chen sudah seminggu mencoba. Setiap malam, dia duduk, mengatur napas, berusaha merasakan aliran qi. Hasilnya? Nyaris nihil. Hanya sensasi hangat di perut yang kadang datang, kadang tidak.
Tapi malam ini — entah kenapa — sesuatu berbeda.
Saat dia memejamkan mata, konsentrasi penuh pada napas, tiba-tiba...
Hangat.
Bukan hangat biasa. Tapi hangat yang mengalir. Seperti sungai kecil di dalam tubuhnya. Dari perut, merambat ke dada, ke lengan, ke kaki.
Mata Wei Chen terbuka.
"Mei Ling."
"Hm?"
"Aku merasakannya."
Mei Ling menoleh. "Rasakan apa?"
"Qi. Alirannya."
Mei Ling terbelalak. "Itu... itu tidak mungkin. Butuh waktu berbulan-bulan untuk pemula bisa merasakan aliran qi."
"Aku merasakannya."
Mei Ling meraih tangannya, menempelkan jari di pergelangan Wei Chen. Memejamkan mata.
Lima detik. Sepuluh detik.
Matanya terbuka lebar.
"Kau... kau benar-benar merasakannya." Suaranya tidak percaya. "Bahkan aku butuh setahun untuk sampai ke tahap ini."
Wei Chen tidak tahu harus berkata apa.
"Ini... bagus atau tidak?"
Mei Ling menatapnya. Campuran antara kagum dan... sesuatu yang lain.
"Bagus. Sangat bagus." Dia tersenyum — tapi senyumnya getir. "Kau berbakat, Chen. Mungkin kau bisa jadi kultivator hebat."
"Tapi?"
"Tapi..." Dia menunduk. "Tidak. Tidak ada tapi."
Wei Chen tahu dia menyembunyikan sesuatu. Tapi tidak mendesak.
Malam itu, kultivasi mereka lebih lama dari biasanya.
Keesokan harinya, Wei Chen bangun dengan perasaan berbeda.
Tubuhnya lebih ringan. Pikirannya lebih jernih. Bahkan rasa pegal di punggung — efek kerja di sawah — berkurang.
Ini efek kultivasi?
Dia keluar. Mei Ling sudah di dapur. Tapi hari ini, dia lebih banyak diam.
Saat sarapan, Wei Chen bertanya, "Ada yang mengganggumu?"
Mei Ling menggeleng. "Tidak."
"Bohong."
Dia menatapnya. Lalu menghela napas.
"Aku hanya berpikir... dengan bakatmu, mungkin kau akan pergi suatu hari. Ke kota besar. Ke sekte terkenal." Suaranya pelan. "Tidak akan tinggal di desa kecil ini selamanya."
Wei Chen diam.
Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Tapi Mei Ling benar. Di bumi, dia selalu bergerak. Selama 40 tahun, dia tidak pernah tinggal di satu tempat lebih dari 5 tahun. Perusahaan, ekspansi, target baru — itu hidupnya.
Tapi di sini... di desa kecil ini... rasanya berbeda.
"Aku belum punya rencana pergi," jawabnya akhirnya.
"Tapi suatu hari?"
Wei Chen menatapnya. Matanya — cokelat hangat itu — menyembunyikan kesedihan yang dalam.
"Mungkin," katanya jujur. "Tapi tidak sekarang."
Mei Ling tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Siang harinya, Wei Chen pergi ke sawah sendiri. Mei Ling memilih tinggal di rumah — katanya mau membereskan kebun.
Dia bekerja sendiri. Tapi pikirannya melayang.
Mei Ling.
Gadis itu aneh. Dia kuat — hidup sendiri sejak orang tuanya mati, mengurus sawah dan kebun sendirian. Tapi di saat yang sama, dia rapuh. Seperti ada beban yang dia pikul sendiri.
Kutukan?
Dia menyebutnya semalam — "setahun". Tapi tidak menjelaskan.
Wei Chen memutuskan tidak akan memaksa. Tapi suatu hari, dia harus tahu.
Saat sedang mencabut rumput liar, seseorang mendekat.
Seorang pemuda, mungkin 25 tahun, dengan jubah yang lebih bagus dari petani biasa. Wajahnya tampan, senyumnya ramah. Tapi matanya — matanya menghitung.
"Kau Wei Chen?" sapanya.
Wei Chen mengangguk.
"Aku Aris. Putra Pak Harto." Dia duduk di pematang, tidak peduli jubahnya kotor. "Aku dengar ada orang baru di desa. Penasaran."
Wei Chen terus bekerja. Tidak terpengaruh.
"Kau tinggal di rumah Mei Ling?" tanya Aris.
"Gubuk belakangnya."
"Mei Ling... gadis baik." Suaranya berubah — lebih pelan. "Kami sebenarnya sebaya. Dulu sering main bersama. Tapi setelah orang tuanya mati, dia jadi lebih pendiam."
Wei Chen berhenti. Menatap Aris.
"Kau suka dia?"
Aris terkejut. Lalu tertawa. "Langsung, ya?" Dia mengangguk. "Iya. Aku suka dia. Tapi dia... tidak pernah lihat aku seperti itu."
Wei Chen diam. Ada sesuatu di dadanya — aneh. Tidak nyaman.
"Dia anggap aku kakak," lanjut Aris. "Mungkin itu sudah ditakdirkan." Dia menatap Wei Chen. "Tapi kau... kau baru seminggu, dan dia sudah dekat denganmu."
"Aku hanya numpang."
"Mungkin." Aris berdiri, merapikan jubahnya. "Tapi aku kenal Mei Ling sejak kecil. Aku tahu matanya saat dia melihat orang yang berarti." Dia menatap Wei Chen dalam. "Jaga dia, Wei Chen. Dia tidak punya siapa-siapa lagi."
Aris pergi. Meninggalkan Wei Chen dengan perasaan aneh.
Aku jaga dia? Untuk apa?
Tapi di lubuk hatinya, dia tahu jawabannya.
Malam harinya, saat kultivasi, Wei Chen bertanya.
"Mei Ling, kenapa kau bilang 'selama masih bisa' waktu itu? Waktu kau bilang ingin hidup tenang selama masih bisa?"
Mei Ling diam lama. Matanya menatap bulan.
"Aku... tidak mau bicara."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku bicara, kau akan kasihan. Dan aku tidak mau dikasihani."
Wei Chen memegang tangannya — tanpa sadar.
"Aku tidak akan kasihan. Tapi aku ingin tahu."
Mei Ling menatap tangan Wei Chen yang menggenggam tangannya. Lalu, perlahan, dia bicara.
"Keluargaku... ada kutukan." Suaranya bergetar. "Ibu mati di usia 25. Nenek mati di usia 24. Kakak laki-laki ibu mati di usia 26. Semua dari pihak ibu."
Wei Chen mengerutkan kening. "Penyakit?"
"Bukan. Kutukan." Dia tertawa pahit. "Setiap orang dari pihak ibuku, kalau perempuan, mati muda. Tidak ada yang pernah lewat 25."
Dia menatap Wei Chen.
"Aku tahun depan 25."
Wei Chen membeku.
Jadi ini rahasianya. Jadi ini sebab dia selalu tersenyum getir. Jadi ini sebab dia bilang "selama masih bisa".
"Tidak ada obatnya?" tanyanya.
"Tidak ada." Mei Ling menggeleng. "Sudah dicoba segalanya. Tabib, dukun, bahkan kultivator level tinggi. Semua bilang sama — ini kutukan takdir."
Wei Chen menggenggam tangannya lebih erat.
"Takdir bisa diubah."
Mei Ling tersenyum — senyum yang sama, getir.
"Kau terlalu percaya diri, Chen."
"Aku selalu percaya diri." Suaranya tegas. "Itu yang membuatku berhasil di ... tempat asalku."
Mei Ling menatapnya lama. Lalu, tiba-tiba, dia memeluknya.
Wei Chen kaku. Tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Makasih," bisik Mei Ling di bahunya. "Makasih sudah peduli."
Wei Chen diam. Lalu perlahan, tangannya naik, membalas pelukan itu.
Hangat.
Pikirannya — yang biasanya selalu sibuk, selalu menganalisis — tiba-tiba sunyi.
Hanya ada kehangatan ini.
Chapter 3 END.