NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Tiga Wajah dalam Satu Napas

(Dosen. Kalangan Atas. Mafia.)

Hari-hari setelah aku jatuh sakit berlalu dengan aneh.

Haruka kembali ke kampus. Kembali mengajar. Kembali mengenakan wajah dosen yang tenang, rapi, dan nyaris tanpa celah emosi.

Di rumah, ia adalah suamiku—yang menyiapkan obat di atas meja, memastikan aku makan, lalu duduk agak jauh seolah jarak adalah satu-satunya cara ia bisa bernapas.

Dan di luar semua itu… ada sisi lain yang mulai terasa.

Sisi yang tidak pernah ia ceritakan, tapi hadir dalam keheningan yang terlalu berat.

Aku menyadarinya dari hal-hal kecil.

Ponselnya yang tak pernah jauh dari jangkauan.

Tatapan matanya yang sesekali mengeras saat membaca pesan singkat tanpa nama.

Dan caranya berdiri—selalu seperti seseorang yang siap melindungi… atau menyerang.

“Haruka,” panggilku suatu malam saat ia berdiri di dekat jendela.

Ia menoleh. “Istirahat. Kamu belum sembuh.”

“Aku tidak bertanya soal itu,” kataku pelan. “Aku bertanya… kamu kenapa?”

Ia terdiam.

Lampu kamar redup. Bayangan wajahnya jatuh setengah terang, setengah gelap—seolah menggambarkan hidupnya sendiri.

“Ada dunia yang tidak boleh kamu lihat,” ucapnya akhirnya.

Aku menelan ludah. “Karena itu kamu menjauh?”

“Karena itu aku bertahan,” jawabnya. “Dengan caraku.”

Aku bangkit dari ranjang, meski tubuhku masih lemah. Langkahku goyah, tapi aku tetap mendekat.

“Kamu bukan cuma dosen di kampus,” kataku.

“Kamu bukan cuma orang dari kalangan atas,” lanjutku.

“Dan kamu jelas bukan pria biasa.”

Ia menatapku tajam. “Berhenti, Alya.”

“Tapi kamu juga suamiku,” kataku lirih. “Dan itu berarti aku hidup di tengah semua wajahmu.”

Keheningan turun lagi.

“Ada wajah ketiga,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.

“Dan wajah itu… tidak pantas untukmu.”

Aku menggeleng. “Aku tidak minta kamu berubah.”

“Aku mafia,” ucapnya akhirnya. Datar. Tanpa kebanggaan. Tanpa ancaman.

Hanya fakta.

Dadaku terasa kosong sesaat.

Namun anehnya… aku tidak takut.

“Aku tahu,” jawabku jujur.

Ia terkejut. Untuk pertama kalinya malam itu.

“Kau… tahu?”

“Aku merasakannya,” kataku. “Dari caramu melindungiku. Dari caramu selalu pulang dengan luka yang tidak pernah kau jelaskan. Dari caramu memandang dunia seolah kau tidak pernah benar-benar menjadi bagiannya.”

Ia menutup mata.

“Alya,” katanya berat, “dunia itu kejam. Dan aku adalah bagian darinya.”

Aku mengangkat tanganku, menyentuh dadanya—tepat di atas jantungnya yang berdetak keras.

“Tapi napas ini,” kataku, “masih bernapas untukku.”

Ia membuka mata.

“Selama kamu tidak pernah menyakitiku,” lanjutku, “aku tidak peduli berapa wajah yang harus kamu pakai untuk bertahan.”

Ia menggenggam pergelangan tanganku. Erat. Bukan menahan—melainkan memastikan aku nyata.

“Aku bersumpah,” ucapnya rendah, “selama aku bernapas… kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari kegelapan itu.”

..............

Hari ketika demamku benar-benar turun terasa… aneh.

Bukan karena tubuhku sudah pulih sepenuhnya, melainkan karena dunia kembali berjalan seolah tidak pernah berhenti hanya karena aku sempat jatuh sakit.

Pagi itu, cahaya matahari masuk lewat jendela kamar. Tidak terlalu silau. Tidak terlalu hangat.

Cukup—seperti hidup yang akhirnya memberiku ruang bernapas lagi.

“Aku sudah bisa ke kampus,” kataku sambil duduk di tepi ranjang.

Haruka yang sedang merapikan jasnya berhenti bergerak.

“Belum,” jawabnya otomatis.

Aku menghela napas. “Haruka… aku bukan porselen.”

Ia menatapku. Lama. Seolah menimbang antara logika dan rasa takut kehilangan.

“Aku akan menjemputmu,” katanya akhirnya. “Dan mengantarmu pulang.”

Aku tersenyum kecil.

Itu caranya mengalah.

Di kampus, semuanya terasa familiar. Langkah kakiku di koridor. Suara mahasiswa lain. Tawa kecil yang sempat kurindukan tanpa sadar.

Teman-temanku menyambutku seolah aku baru kembali dari perjalanan panjang.

“Kamu hilang lama,” kata salah satu dari mereka.

“Ada urusan keluarga,” jawabku singkat.

Aku tidak berbohong.

Aku hanya tidak menceritakan semuanya.

Dari kejauhan, aku melihat Haruka.

Ia berdiri di depan kelas, mengenakan kemeja rapi dan ekspresi tenang yang sama seperti hari pertama ia mengajar. Dosen yang dikagumi banyak orang. Sosok yang tampak sempurna dari luar.

Tak ada yang tahu…

pria itu semalaman memastikan aku minum obat tepat waktu.

Tak ada yang tahu…

ia tertidur sambil duduk di samping ranjangku karena takut aku demam lagi.

Dan aku—harus berpura-pura tidak mengenalnya.

Aneh rasanya.

Di kelas, pikiranku sempat melayang. Tapi kali ini bukan karena jarak—melainkan karena perasaan yang mulai tertata.

Aku mencatat. Bertanya. Menjawab.

Perlahan kembali menjadi Alya yang punya dunia sendiri.

Saat jam kuliah selesai, aku merapikan buku dan keluar kelas.

Langkah kaki itu muncul di sampingku—terlalu familiar untuk salah.

“Jangan begadang malam ini,” ucapnya datar.

Aku menahan senyum. “Baik, Pak Dosen.”

Ia melirikku sekilas. Ada peringatan di sana.

Di rumah, ritme kami juga berubah.

Aku kembali belajar sampai malam.

Ia kembali dengan jadwal yang padat.

Namun kini… ada kesepakatan tak terucap.

Ia akan menyiapkan teh hangat.

Aku akan menunggu tanpa bertanya ke mana ia pergi.

Di sela kesibukan itu, aku sadar satu hal:

Aku tidak lagi hidup hanya sebagai istri kontrak.

Dan ia tidak lagi memperlakukanku sebagai beban yang harus dijauhkan.

Kami berjalan berdampingan.

Masih dengan jarak kecil.

Masih dengan rahasia.

Tapi kini… tanpa rasa ingin pergi.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak lama—

aku menjalani aktivitasku bukan sebagai seseorang yang bertahan.

Melainkan sebagai seseorang yang hidup.

Dan saat itu juga aku mengerti.

Haruka Sakura hidup dengan tiga wajah dalam satu napas:

Mengajar dunia dengan pikiran.

Memimpin kalangan atas dengan nama.

Dan bertahan sebagai mafia demi bertahan hidup.

di hadapanku…

Ia memilih menjadi manusia.

Dan mungkin…

itulah wajah yang paling rapuh sekaligus paling jujur yang pernah ia miliki.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!