Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Menghilangkan Jejak.
Kenzo dan Rania kembali masuk ke dalam mobil setelah menyusun belanjaan di bagasi belakang, lalu Kenzo segera melajukan mobil itu untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Rania.
Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi, dia lalu mengambil ponsel dan memperhatikan foto Dafa yang sedang tersenyum dengan sangat menggemaskan.
"Mama sangat merindukanmu, Dafa," gumam Rania. Dia menggenggam erat ponselnya dan mengecup ponsel itu dengan mata berkaca-kaca.
Kenzo melirik ke arah Rania saat mendengar gumaman wanita itu, lalu tiba-tiba matanya melihat ke arah spion depan—memperhatikan sebuah mobil yang sedang melaju tepat di belakangnya.
Sudut bibir Kenzo terangkat membentuk sebuah seringai saat menyadari jika mobil itu sepertinya sedang mengikuti mereka, dia lalu menekan pedal gasnya dengan kuat membuat mobilnya melaju kencang di jalanan.
Rania yang sedang memikirkan Dafa tersentak saat Kenzo melajukan mobil dengan sangat kencang, spontan dia melihat ke arah laki-laki itu yang sedang fokus melihat lurus ke depan.
"Ke-kenzo," panggil Rania. "Bukannya ini terlalu kencang?" katanya cemas.
Kenzo melirik sekilas, lalu dengan cepat memutar setir mobilnya membuat tubuh Rania miring ke kanan dan tangannya refleks berpegangan pada pegangan pintu.
"Pelan-pelan, Ken!" pinta Rania dengan tajam, jantungnya hampir saja melompat keluar karena apa yang laki-laki itu lakukan.
Bukannya menuruti ucapan Rania, Kenzo malah semakin mempercepat mobilnya membuat Rania mendessah kesal dan memejamkan kedua matanya karena ketakutan.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba dia ugal-ugalan kayak gini?" Rania mencengkram seatbelt yang terikat di tubuhnya dengan perasaan cemas, takut sesuatu terjadi pada mereka berdua.
Kenzo sendiri tetap melajukan mobilnya menyalip semua kendaraan yang melintas di depannya, mobil itu meliuk-liuk ke sana kemari membuat suara klakson dari kendaraan lain saling bersahut-sahutan.
"Kalian kira mudah mengejarku!" Kenzo tersenyum sinis melihat mobil yang tadi mengikutinya sudah tidak terlihat lagi.
Kemudian Kenzo memutar setir mobilnya dengan cepat membuat Rania terlonjak kaget dan wanita itu menjerit takut atas aksi yang sedang dia lakukan.
Ciiittttt.
Brak!
"Kenzo!" teriak Rania dengan kuat saat terdengar suara benturan keras dari arah depan, seketika kedua matanya terbuka lebar dan terkejut karena ternyata mobil laki-laki itu hampir saja menabrak rumah seseorang.
Kenzo sendiri juga tampak sedikit kaget, dia yang sedang fokus mencari jalan pintas untuk mengecoh mobil di belakang, mendadak terkejut saat melihat seekor kucing berlari di jalanan. Sontak dia memutar setir mobilnya dengan cepat sampai mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah orang lain.
"Apa kau sudah gila, Kenzo!?" bentak Rania dengan tubuh gemetaran. Kedua matanya menatap laki-laki itu dengan tajam.
Kenzo segera melepas seatbelt dan menoleh ke arah Rania. "Ikut aku." perintahnya, kemudian berlalu keluar meninggalkan Rania yang menatapnya dengan berapi-api.
"Apa-apaan sih, dia?!" ucap Rania dengan kesal, dadanya bahkan sampai berdebar keras dan membuat napasnya sesak.
Kemudian Rania segera keluar dari mobil, dia membanting pintu mobil itu karena benar-benar sangat kesal dengan apa yang Kenzo lakukan.
"Kemari." Kenzo menarik tangan Rania membuat wanita itu terkesiap dan refleks mengikutinya.
Kenzo membawa Rania ke sebuah gazebo yang ada di samping rumah itu, lalu bersembunyi di balik pohon besar yang menutupi gazebo tersebut dari jalanan.
"Kenzo, sebenarnya apa yang-ummph."
Kenzo langsung menutup mulut Rania menggunakan sebelah tangannya membuat ucapan wanita itu terhenti. "Jangan berisik." katanya sembari fokus melihat ke arah sebuah mobil yang tadi mengikutinya sedang berhenti di pinggir jalan, tidak jauh dari tempat mereka saat ini.
Rania yang merasa kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi, ikut melirik ke arah yang sedang dilihat oleh Kenzo. Dia mengernyitkan kening saat melihat dua orang lelaki memakai pakaian serba hitam dan juga topi yang menutupi wajah mereka.
"S*ialan!" umpat salah satu di antara lelaki itu sambil menendang mobilnya, sementara laki-laki yang lain tampak sibuk menelepon seseorang. "Bisa-bisanya kita kehilangan mereka!" katanya kesal.
"Diamlah! Aku sedang menghubungi yang lain untuk membantu mencari mereka," balas laki-laki yang lain, tangannya sibuk menghubungi teman-teman mereka untuk mengirim bala bantuan karena kehilangan Rania.
Kenzo yang bisa mendengar ucapan mereka tersenyum sinis, dia lalu menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah Rania yang sedang berada dalam dekapannya dengan mulut tertutup sebelah tangannya.
Dengan cepat Kenzo menarik tangannya dari mulut Rania membuat wanita itu mendongakkan kepala dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Siapa mereka?" tanya Rania dengan berbisik, dia kembali melihat ke arah dua lelaki tadi, lalu mendongakkan kepala menatap Kenzo.
"Aku tidak tau." Kenzo menggelengkan kepala.
"Apa mereka mengikuti kita?" Rania seketika merasa cemas.
Kenzo mengangguk, lalu tangannya mengambil ponsel yang ada di saku celana untuk menelepon Damian. Namun, belum sempat panggilan itu tersambung, kedua lelaki itu kembali bersuara membuatnya langsung membatalkan panggilan tersebut.
"Maaf, bos. Kami kehilangan jejak mereka," lapornya pada sang atasan.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kalian kehilangan mereka padahal aku sudah memperingati kalian?!"
laki-laki itu menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan dari bosnya. "Ma-maaf, bos. Kami pasti akan kembali mencari wanita itu."
"Brengs*ek! Kalau kalian tidak bisa menemukan Rania, maka kalian akan mati ditanganku!"
Panggilan itu langsung terputus begitu saja membuat kedua lelaki itu mendessah frustasi. "Ah bener-benar s*ial! Kita akan mati kalau tidak bisa menemukan Rania."
Deg.
Tubuh Rania seketika menegang saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Me-mereka memencariku?" ucapnya lirih, tangannya mencengkram lengan Kenzo dengan kuat.
Kenzo melihat kekhawatiran diwajah Rania, lalu kembali menarik tangan wanita itu untuk kembali ke mobil.
"Kau tidak bisa kembali ke rumahmu," ucap Kenzo setelah mereka berada di dalam mobil.
Rania terdiam, memikirkan alasan kenapa dua orang lelaki itu mencarinya. Apakah semua itu ulah Rangga?
"Bajing*an brengs*ek!" Rania mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu menoleh ke arah Kenzo yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Kau benar, aku tidak bisa tinggal di sini," ucap Rania. "Aku harus mencari tempat tinggal baru yang bisa membuatku tetap aman." sambungnya dengan lelah.
Tanpa menjawab ucapan Rania, Kenzo segera melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat tersebut. Dia berniat untuk membawa Rania ke salah satu apartemennya yang dirasa cukup aman untuk wanita itu.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Dafa sedang mengamuk karena ingin bertemu dengan mamanya. Dia menangis histeris sembari melempar semua mainan yang ada di hadapannya dan berteriak memanggil sang mama.
"Aku mau mama, mama... mama... " teriak Dafa, suaranya sampai serak karena terus menangis sejak dua jam yang lalu.
Martha mendessah frustasi melihat kelakukan cucunya, dengan cepat dia menghampiri Dafa lalu berjongkok di depan bocah itu.
"Mamamu gak akan datang ke sini, Dafa. Mamamu sudah pergi, dia sudah membuangmu dan tidak peduli lagi padamu."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda