NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 6 : Pemangsa Naga

Mayat naga itu tergeletak di atas altar batu yang basah oleh lendir. Lehernya patah pada sudut yang tidak wajar, mata ungunya menatap kosong ke langit-langit gua yang gelap.

Lu Daimeng berdiri di sampingnya. Napasnya sudah kembali teratur.

Dia tidak melihat bangkai itu sebagai makhluk legenda agung. Dia melihatnya sebagai tumpukan kalori, protein padat, dan esensi energi yang belum tercemar.

"Kau lahir untuk dimakan," ucap Lu Daimeng datar. "Jika aku yang kalah tadi, kau pasti sudah mengunyah kepalaku sekarang. Begitulah dunia ini berjalan."

Dia tidak memiliki pisau yang cukup tajam untuk memotong kulit naga muda ini—pedang hitamnya sudah hancur. Tapi dia masih memiliki gigi. Gigi yang telah ditempa oleh batu roh dan sisik cangkang.

Lu Daimeng membungkuk. Dia tidak memakan sembarangan. Dia memulai dari bagian yang paling kaya energi: Kelenjar Api di tenggorokan.

Dia merobek leher naga itu dengan tangan kosong, menggunakan kekuatan Anti-Dao untuk melemahkan ikatan daging, lalu menggigit.

Daging naga itu alot, panas, dan berasa seperti memakan bara api yang dibumbui logam. Saat dia menelan potongan pertama, sensasi terbakar menjalar ke kerongkongannya.

GLUK.

Perutnya bergejolak. Singularitas Ganda (dua inti Anti-Dao) di dalam perutnya berputar liar. Mereka menyambut daging itu bukan sebagai makanan, tapi sebagai bahan bakar.

Lu Daimeng makan.

Dia makan dengan tenang dan elegan seolah ini adalah jamuan kerajaan. Dia memisahkan daging dari tulang, menghisap sumsum, dan menelan kulit yang bersisik lunak.

Setiap gigitan meningkatkan suhu tubuhnya. Uap hitam mulai mengepul dari pori-porinya.

Satu jam berlalu.

Dua inti hitam di perutnya mencapai batas kapasitas. Mereka bergetar, tidak stabil. Energi naga terlalu padat untuk hanya ditampung oleh dua titik.

"Mari kita membelah dua inti ini," perintah Lu Daimeng.

Dia duduk bersila di samping bangkai naga yang sudah separuh habis. Dia memejamkan mata, memusatkan kesadarannya ke dalam perut.

Dia menekan kedua singularitas itu. Dia memaksa mereka untuk runtuh lebih dalam lagi ke dalam diri mereka sendiri.

Sakitnya?

Rasanya seperti ada dua tangan raksasa yang masuk ke dalam perutnya dan menarik ususnya ke arah yang berlawanan.

"ARGHHH!"

Lu Daimeng meraung. Darah segar menyembur dari hidungnya.

Tapi dia tidak berhenti. Dia menggunakan Niat Naga yang baru saja dia makan untuk menekan balik.

KRAK... KRAK.

Di dalam dimensi mikroskopis tubuhnya, dua inti itu pecah.

Dari dua menjadi empat.

Empat titik singularitas hitam kini berputar dalam formasi lingkaran di pusat tubuhnya, saling mengunci dalam orbit gravitasi yang sempurna. Mereka menyedot sisa energi naga yang membanjiri sistem pencernaannya, menstabilkan tubuhnya seketika.

"Empat," desis Lu Daimeng, matanya bersinar emas. "Masih belum cukup."

Dia kembali makan. Dia menghabiskan sisa daging di rusuk, di paha, dan di ekor.

Tiga hari berlalu dalam pesta makan yang sunyi dan mengerikan.

Kini, di atas altar, hanya tersisa kerangka putih bersih dan sebuah organ yang berdenyut pelan di tengah rongga dada yang terbuka.

Jantung Naga.

Lu Daimeng menyeka darah dari mulutnya. Dia merasa penuh. Empat singularitas di perutnya berputar stabil, mendistribusikan Dark Null ke seluruh ototnya. Fisiknya kini telah mencapai puncak yang bisa ditampung oleh daging manusia.

Tapi dia menyadari satu kelemahan fatal.

Saat dia melawan si Kerdil di luar gua, dia hampir mati karena serangan mental (Hantu Jiwa).

Tubuhnya sekeras baja, tapi otaknya—wadah kesadarannya—masih lunak. Dia tidak memiliki pertahanan jiwa. Jika dia bertemu ahli Ranah Pembentukan Jiwa yang fokus pada serangan mental, dia akan menjadi mayat hidup yang kuat tapi otak kosong.

Lu Daimeng menatap sisa daging otak naga yang belum dia makan.

"Aku butuh benteng di kepalaku," simpulnya.

Ini adalah ide gila. Anti-Dao adalah energi penghancur. Menaruhnya di perut (pusat fisik) adalah satu hal. Menaruhnya di otak (pusat saraf dan kesadaran) adalah bunuh diri. Satu kesalahan kecil, dia akan menjadikan dirinya sendiri kelinci percobaan.

"Semakin tinggi resiko, semakin besar hasil."

Tanpa dokter bedah. Tanpa peralatan steril. Hanya dengan keberanian iblis.

Dia mengambil otak naga itu.

Lalu, dia memejamkan mata.

Dia menarik sebagian energi Dark Null dari perutnya, menyatukan energi itu ke otak naga tersebut, memasukannya ke dalam kerongkongan lalu menaikkannya, berjalan dari leher, dan masuk ke tengkorak.

"AAAARRRGGGGHHHHHH!!!"

Lu Daimeng menjerit. Dia membenturkan kepalanya ke lantai batu.

Rasanya seperti ada bor yang menembus tengkoraknya. Saraf-saraf otaknya terbakar, lalu menyambung dengan kecepatan tinggi. Dark Null mencoba "menghapus" jaringan otak naga itu karena menganggapnya materi yang mengancam.

"JANGAN HAPUS!" perintah Lu Daimeng pada energinya sendiri. "SATUKAN!"

Mata Triple Pupil-nya berputar terbalik, melihat ke dalam otaknya sendiri. Dia menggunakan kemampuan visual itu untuk memandu aliran energi serta otak naga itu menyatu dengan otak sendiri, menjauhkannya dari area vital ingatan dan motorik, memusatkannya ke kelenjar pineal dan mengabungkannya lalu memasukan otak naga itu di antara Lobus Temporal dan Lobus Frontal—pusat spiritual manusia.

Darah mengucur dari kedua telinganya. Lalu dari matanya. Lalu dari hidungnya.

Otak Naga.

Pusat dari Warisan Ingatan (Ancestral Memory), insting predator puncak, dan dominasi mental spesies naga.

"Jika aku memakannya langsung, aku hanya mendapat energinya," desis Lu Daimeng dingin. "Tapi jika aku memilikinya..."

"Otak manusia jenius untuk strategi. Otak naga purba untuk insting dan pemrosesan paralel. Dan Anti-Dao sebagai penghubung."

Dia mulai menyambungkan bagian saraf yang ada didalam otak naga itu melalui energi mentalnya sambil menahan sakit.

Setiap detiknya dia mengalami pendarahan otak masif.

Tapi regenerasi tubuhnya bertarung melawan kerusakan itu. Saraf-saraf otak mulai mati, lalu tumbuh lagi, lalu mati lagi.

Jutaan tahun ingatan genetik naga—pembantaian, terbang di angkasa, arogansi—membanjiri pikiran manusianya. Kesadarannya sebagai Lu Daimeng hampir terhapus, digantikan oleh raungan binatang buas.

"TAHAN!" raung Lu Daimeng dalam benaknya.

Dia menarik energi Anti-Dao dari perutnya, menaikkannya ke otak.

Dia menggunakan energi ketiadaan itu bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menjahit.

Dia memaksa saraf naga dan saraf manusia untuk saling melilit. Dia membangun jembatan paksa antar-kedua otak.

Tribulasi kecil terjadi di dalam tengkoraknya. Hukum alam menolak evolusi yang tidak wajar pada tempat yang seharusnya suci bagi jiwa.

Lu Daimeng bertahan. Dia menggigit bibirnya hingga putus, lalu tumbuh lagi.

Satu hari. Dua hari. Lima hari.

Dia duduk diam seperti patung berdarah.

Pada hari keenam, tribulasi dan pendarahan berhenti.

Tribulasi itu membuat Anti-Dao di kepalanya memadat, membentuk Singularitas Kelima tepat di tengah-tengah gabungan dua otak itu.

Singularitas itu bertindak sebagai Prosesor Pusat. Ia menyaring insting liar naga, mengubahnya menjadi data yang bisa dipakai oleh logika manusia.

Perlahan, kejangnya berhenti.

Lu Daimeng memfokuskan kembali regenerasinya menutup kembali bagian tubuh yang terluka akibat eksperimen ini.

Sel-sel yang rusak mulai merajut diri dengan cepat.

Dia membuka matanya.

Mata triple Pupilnya, berevolusi.

Warna menjadi ungu dan ketiga pupil didalamnya kini memiliki pola vertikal seperti reptile.

Dunia... dunia telah berubah total.

Dia tidak hanya melihat. Dia memproses.

Otak manusianya menganalisis struktur gua. Otak naganya merasakan getaran elektromagnetik dari mineral di dalam tanah. Dia bisa berpikir dua hal berbeda secara bersamaan dengan kejernihan sempurna. Kapasitas mentalnya melonjak seratus kali lipat.

"Aku bisa mendengar... debu jatuh," bisiknya.

Dia mencoba memproyeksikan niat membunuhnya.

BOOM.

Gravitasi di gua itu meningkat puluhan kali lipat. Bukan karena Qi, tapi karena Tekanan Mental murni yang dipancarkan oleh otak hibridanya.

"Selesai satu bagian,"

Dia melihat ke altar.

Masih ada satu lagi. Jantung Naga.

Jantung itu seukuran kepala manusia, masih berdetak kuat.

"Otak sudah. Sekarang mari kita lanjutkan evolusi."

Dia melihat ke altar.

Kerangka naga itu sudah bersih. Kecuali satu benda.

Jantung Naga.

Jantung itu seukuran kepala manusia, berwarna ungu kehitaman, dan masih berdetak lemah meskipun tubuhnya sudah mati seminggu yang lalu. Vitalitasnya mengerikan.

Lu Daimeng mencoba menggigitnya sedikit.

Gigi bajanya tidak bisa menembusnya. Jantung ini adalah inti kehidupan naga, lebih keras dari cangkang telur, lebih ulet dari karet dewa.

"Tidak bisa dimakan," analisis Lu Daimeng. "Sistem pencernaanku tidak bisa menghancurkannya."

Jika tidak bisa dimakan, maka tidak bisa diserap.

Kecuali...

Mata Lu Daimeng turun ke dadanya sendiri. Ke sisi kiri, di mana jantung manusianya berdetak. Lalu ke sisi kanan.

"Mari kita Transplantasi lagi."

Lu Daimeng mengambil Jantung Naga itu. Terasa hangat dan berat.

Dia merogoh saku jubah (dari mayat kultivator liar). Dia mengeluarkan sebotol Pil Penyembuh Luka Besar. Dia menelannya semua sekaligus untuk mempersiapkan lonjakan regenerasi.

Transplantasi kali ini dia mempersiapkannya lebih matang, dari sebelumnya.

Dia mengambil belati beracun milik si Kerdil (yang racunnya sudah dia bersihkan).

"Ini akan jauh lebih mudah dari sebelumnya," gumamnya.

Dia menusuk dada kanannya sendiri.

JLEB.

Dia mengiris vertikal, dari bawah tulang selangka sampai ke diafragma.

Darah muncrat. Dia menahan napas, menahan teriakan.

Dia memasukkan tangannya ke dalam dadanya sendiri, mematahkan tiga tulang rusuk kanannya secara paksa untuk membuat bukaan yang cukup lebar.

KRAK. KRAK. KRAK.

Rasa sakitnya membuat pandangannya memutih. Paru-paru kanannya tertekan, membuatnya sesak napas.

Dengan tangan gemetar dan bermandikan darah sendiri, Lu Daimeng mengambil Jantung Naga itu dan menyajikannya ke dalam rongga dadanya yang terbuka.

Benda itu besar. Terlalu besar.

Dia harus menekannya paksa.

"Masuk..." desisnya.

Jantung naga itu masuk, mendesak paru-paru kanannya.

Sekarang, bagian tersulit. Koneksi.

Lu Daimeng menggunakan ujung jarinya yang dialiri Dark Null halus untuk memotong pembuluh darah arteri utamanya sendiri, lalu "menyambungkannya" ke pembuluh darah Jantung Naga.

Ini adalah pemaksaan biologis. Dia kembali membiarkan Anti-Dao di tubuhnya bertindak sebagai lem, memaksa jaringan pembuluh darah manusia dan naga untuk menyatu.

DUM!

Jantung Naga itu berdetak di dalam dadanya.

Seketika, darah Lu Daimeng yang masuk ke jantung itu tidak dipompa keluar sebagai darah biasa. Darah itu dipompa keluar sebagai Darah Naga Hitam. Panas, korosif, dan penuh kekuatan purba.

BOOOM!

Tubuh Lu Daimeng kejang hebat.

Darah baru itu berbenturan dengan darah lamanya. Panas yang luar biasa membakar seluruh tubuhnya dari dalam. Kulitnya melepuh lalu mengelupas, digantikan oleh kulit baru yang lebih padat dan berat.

Dia jatuh terlentang.

Dia mengambil sisa jubah wanita kultivator yang sudah membusuk di sudut gua, mengikat dadanya yang terbuka dengan kasar untuk menahan jantung itu agar tidak jatuh keluar selagi kulitnya menutup.

"Aku berhasil..." racau Lu Daimeng.

Dia menggunakan empat singularitas di perutnya untuk memfilter darah naga itu, menjinakkannya agar tidak membakar organ dalamnya.

Satu jam. Dua jam.

Detak jantung di dadanya menjadi ganda.

Dug-Dug... DUM... Dug-Dug... DUM...

Satu jantung manusia (kiri) menjaga ritme kehidupan biologis.

Satu jantung naga (kanan) memompa kekuatan monster dan esensi kehampaan.

Luka di dadanya perlahan menutup.

Ketika Lu Daimeng akhirnya bisa duduk kembali, dia merasa... penuh.

Sangat penuh.

Dia mengangkat tangannya.

Kini darah didalam tubuhnya membawa energi Darknull secara masif. Mengalirkan lebih banyak energi ke seluruh tubuhnya.

Saat dia mencoba menyentuh lantai batu.

Sebelum jarinya menyentuh batu, batu itu sudah berlekuk. Ada lapisan tipis di atas kulitnya—sekitar satu milimeter—yang secara konstan menekan materi.

"Kekuatan fisik setara dengan Puncak Ranah Pembentukan Qi. Tapi dengan Anti-Dao, Otak Naga dan Jantung Naga ini..." Lu Daimeng mengepalkan tangannya, merasakan ledakan tenaga. "...Aku bisa meremas leher kultivator Ranah Pembentukan Jiwa tahap 2 seperti meremas tahu."

Tiga belas hari telah berlalu sejak dia selesai melakukan Transplantasi jantung.

Dia telah memakan naga. Dia telah memodifikasi otak dan dadanya.

Sekarang, tahap terakhir.

Lu Daimeng memejamkan mata. Dia memusatkan perhatian pada Singularitas Psikis di kepalanya.

Setelah Pembentukan Tubuh.

Kultivator Konvensional akan langsung naik ke Ranah Pembentukan Jiwa yang memiliki 9 tahap.

Tahap Pertama (Inti Jiwa)

Tahap Kedua (Inti jiwa emas)

Tahap Ketiga (Jiwa Baru lahir dapat keluar dari tubuh)

Tahap keempat - kelima (Formasi Jiwa)

Tahap Keenam - Kedelapan (Transformasi Jiwa)

Tahap Kesembilan (Douluo)

Seorang kultivator Ranah Pembentukan Jiwa yang di akui umumnya bisa melepaskan jiwa mereka keluar dari tubuh untuk memindai area atau menyerang. Tapi itu terlalu berbahaya. Jiwa yang keluar sangat rentan.

Lu Daimeng memiliki pendekatan berbeda.

"Kenapa aku harus keluar?" pikirnya. "Jika aku bisa mengirim."

Dia menarik energi Dark Null dari perutnya, menaikkannya ke otak, lalu memproyeksikannya keluar melalui Triple Pupil-nya.

Di depan Lu Daimeng, udara bergetar.

Bayangan hitam mulai merembes keluar dari tubuhnya. Bayangan itu memadat, membentuk siluet yang identik dengan dirinya. Tinggi 2,3 meter, rambut panjang, mata menyala.

Tapi sosok ini bukan fisik. Ini adalah Avatar.

Sosok itu tidak memiliki organ. Ia hanya kumpulan niat membunuh dan energi Dark Null yang dipadatkan menjadi bentuk manusia.

Lu Daimeng menggerakkan Avatar itu dengan pikirannya.

"Aku sudah setara dengan tahap 6 yaitu Transformasi Jiwa," analisis Lu Daimeng, melihat avatar itu dengan puas. "Ini adalah 'Avatar'. Aku bisa melihat apa yang dia lihat. Aku bisa menyuruhnya membunuh. Dan jika dia hancur, aku hanya kehilangan sedikit energi, bukan nyawaku."

Ini adalah teknik yang melampaui pemahaman kultivasi standar.

Lu Daimeng berdiri.

Dia menatap pintu gua yang tertutup reruntuhan (akibat ledakan sebelumnya).

Alam Rahasia telah tertutup. Dia terkunci di sini.

Bagi orang lain, ini penjara. Bagi Lu Daimeng, ini adalah tempat latihan tertutup yang sempurna.

"Mari kita kosongkan alam rahasia ini lebih dulu" katanya, suaranya bergema ganda—satu dari mulutnya, satu dari resonansi avatar.

Lu Daimeng berjalan menuju kegelapan gua yang lebih dalam, diikuti oleh Avatarnya. Langkah kakinya berat, DUM... DUM..., diiringi detak jantung ganda yang mengerikan.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!