NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Terpaksa

Yohan menatap bayangan dirinya yang baru saja pulih di cermin kusam, tempat wajah sedih ibunya melayang, meninggalkannya dengan kata tunggal: “PUSAKA.”

Napasnya berdesir dingin. Rasa dingin cermin itu menjalar ke jari-jarinya. Itu bukan Pusaka harta benda, pikir Yohan, meyakinkan diri. Ibunya tak pernah peduli uang atau kemewahan; ketertarikannya hanya pada puisi, musik, dan... bunga kamboja yang kini bau kematian.

“Pusaka… pasti sesuatu yang Yosef puja sampai dia rela mengorbankanmu, Bu,” gumam Yohan.

Kini, misinya jauh lebih jelas dan personal: menjual tanah sudah tak penting. Dia harus menemukan pusaka yang diucapkan Sumiati agar dia mengerti mekanisme “Janji Darah” yang dibuat ayahnya dan bagaimana memutuskannya, tanpa persetujuan Marta atau tetua adat yang licik. Pusaka itu adalah kunci kebebasan.

***

Keesokan harinya, Yohan berjalan kaki ke Perpustakaan Desa. Sebuah bangunan reyot yang berisi koleksi acak: buku sejarah Papua era kolonial, buku sekolah yang sudah kuning, dan sekumpulan besar pamflet ritual dan silsilah keluarga dalam tulisan tangan yang tersimpan di ruang belakang, yang terkunci oleh gerendel tembaga tua.

Petugas di sana—seorang pria tua yang terus-menerus menguap, tidak lebih tertarik pada aturan desa daripada Anton—memberi Yohan kunci gerendel dengan peringatan halus.

“Jangan membuat raknya ambruk, Yohan. Buku adat ini jarang dijamah. Sebagian besar isinya sudah dikuasai tetua, tapi beberapa yang tertinggal ini... bisa berdebu. Silakan,” kata pria tua itu.

Yohan masuk ke ruangan yang gelap, berbau kapur barus dan kertas berjamur. Sinar matahari tipis menembus celah, menerangi tumpukan gulungan perkamen yang disimpan tanpa tata ruang yang benar. Ia mulai menyortir rak, mencari judul yang menyebut “Darah”, “Ikatan”, atau “Yalimo”.

Saat Yohan mencapai bagian atas, tangannya menggeser sebuah lempengan batu datar yang entah mengapa diletakkan di rak buku. Lempengan itu jatuh ke lantai kayu dengan suara gedebuk, mengagetkan pria tua di depan. Beberapa buku kuno yang bersandar pada lempengan itu turut jatuh ke lantai secara berantakan.

Yohan berjongkok, merangkai kembali buku-buku yang tersebar. Bukunya acak: ‘Silsilah Marga Pertama,’ ‘Sumpah di Atas Tanah Basah,’ dan satu yang tampak lebih menarik: ‘Penjaga Keseimbangan: Pengertian Tentang Pusaka dan Jiwa Tanah.’

Yohan mengambil yang terakhir, membersihkan debu dari sampul lusuh itu. Terima kasih, Bu, batinnya. Dia membawanya ke depan dan mulai membacanya cepat. Ini bukan sejarah biasa; ini adalah kosmologi lokal Yalimo yang ditulis seabad lalu.

***

Yohan duduk di kursi keras yang terbuat dari kayu yang terlalu tua. Buku itu membahas Pusaka, yang tidak selalu berbentuk fisik. Dalam konteks kuno Yalimo, Pusaka adalah roh perlindungan, sebuah manifestasi spiritual dari kesadaran Tanah, dijaga oleh klan terkuat untuk memurnikan konflik dan mencegah bencana alam.

Yohan menggigil ketika matanya menelan paragraf yang menyinggung “Janji Darah.”

“’Janji Darah adalah tingkat ikatan Penjaga yang tertinggi, dan termulia. Jika komunitas dalam ancaman ekstrem dan pemimpin tidak bisa lagi bernegosiasi, maka salah satu anggota keluarga akan dikorbankan, entah jiwa atau hidupnya, untuk secara paksa mengikatnya pada batas tanah. Roh yang terikat akan menjadi Penjaga Abadi, memaksa kekuatan Pusaka untuk memfokuskan energinya di area yang dilindungi.’”

“Secara paksa,” bisik Yohan, hatinya sesak. Kata-kata itu mengkonfirmasi kengeriannya. Sumiati bukanlah roh dendam, bukan juga wanita depresi yang bunuh diri—melainkan korban yang diwajibkan menjadi penjaga karena keputusan Ayahnya, Yosef.

Yohan menutup buku itu dengan tiba-tiba. Wajahnya ditekuk dalam konflik yang kompleks. Kebencian masa lalunya kepada sang Ayah sebagai seorang yang gila spiritual kini bercampur dengan kemarahan terhadap Ayahnya sebagai seseorang yang pengecut, yang rela mengorbankan Ibunya untuk melindungi tanah itu—tujuan yang lebih mulia dari sekadar keserakahan bisnis Yohan, tetapi dengan cara yang terkutuk.

“Sumiati, kamu bukan monster,” Yohan berbisik lirih. Ia mengangkat wajahnya ke sinar senja yang menerobos jendela perpustakaan, rasa empati pertamanya tumbuh setelah dua puluh tahun trauma.

“Kau mencoba melindunginya karena kau terikat. Dan kau mencoba mengusirku bukan untuk menakutiku, tapi untuk memastikan aku tidak merusak perbatasan yang kau jaga.”

Tiba-tiba, seorang pemuda warga desa yang tidak Yohan kenal berdiri di ambang pintu ruangan arsip, wajahnya gelap.

“Mencari cara menjual Pusaka?” tanya pemuda itu tajam.

Yohan, terkejut, kembali ke realitas konflik manusia.

“Aku mencari cara mengakhiri Janji Darah yang membelenggu ibuku. Kenapa kamu ada di sini?” balas Yohan dingin.

“Kamu menyebabkan banyak masalah. Sejak kamu kembali, cuaca tidak menentu. Anak sungai keruh. Bahkan ternak Kepala Desa yang sakit tua sudah sembuh tiba-tiba mati.” Pemuda itu mendekat.

“Semua orang tahu, ada energi buruk yang mengikuti kamu, Pewaris yang menodai rumah leluhurnya. Kami minta kamu selesaikan urusanmu, segera.”

Yohan mendengus.

“Energi buruk? Ibuku sedang menjalankan tugasnya, menjaga perbatasan yang tidak kalian pahami. Pergi. Urusan ini adalah antara keluarga dan roh kami.”

“Keluargamu telah membuat urusan keluarga menjadi urusan komunal, saat kalian membuat Ibunya menjadi Penjaga. Kamu hanya memperburuk keadaannya dengan mencoba membakar rumah dan menunjukkan sertifikat penjualan pada pengembang asing!” bentak pemuda itu.

“Pergilah! Kami menyalahkanmu. Selama Sumiati di sana, ada sedikit kejahatan. Sekarang, energi liar terlepas.”

Pemuda itu membalikkan badan, lalu menambahkan dari ambang pintu:

“Marta sudah memperingatkan. Hentikan pembongkaran yang kamu lakukan, atau Yalimo akan bertindak melawanmu secara adat. Kami akan menutup aksesmu ke notaris dan akses logistik.”

Ancaman dari warga lokal terasa berbeda. Ini bukan birokrasi, ini kepanikan. Yohan menyadari bahwa manifestasi Sumiati telah meresahkan seluruh komunitas. Ia kini berjuang dalam dua medan perang: konflik spiritual pribadi, dan tuduhan komunal.

Bukan roh dendam. Ini adalah tugas suci yang mengerikan. Ini mengubah seluruh narasi. Yohan bangkit. Tujuannya berubah mutlak: dari lari menjadi penyelamat. Ia harus menyelamatkan ibunya. Jika ia gagal, ia tak hanya terkutuk sendiri; ia akan menghancurkan Yalimo.

“Mereka takut padaku karena takut pada kebenaran Ayah,” bisik Yohan, kembali mengambil buku tentang Pusaka dan menyembunyikannya di tas.

***

Yohan kembali ke rumah warisan setelah matahari terbenam. Dia lelah secara mental, memikirkan klausa Pusaka. Apa Pusaka itu? Apakah ia tersembunyi? Atau hanya konsep, yang hanya bisa dilepaskan dengan 'Pertukaran Jiwa' yang disebutkan dalam dokumen yang didapat dari Anton?

Yohan berbaring telentang di ranjang kayu tua, lampu dimatikan. Hanya sinar bulan purnama yang bersinar melalui celah jendela kamar ibunya yang ia segel dengan ketakutan dua malam lalu.

Dia mencoba menganalisis secara logis bagaimana Janji Darah diresmikan secara fisik. Pasti ada artefak, atau setidaknya tempat peresmian yang menyimpan energi ritual Ayahnya.

Udara dingin terasa berbeda malam ini. Bukan lagi dinginnya teror murni, tetapi dingin yang memilukan, dinginnya kesedihan tanpa dasar.

Yohan hanyut dalam tidurnya yang tidak tenang.

Namun, di tengah-tengah kelelahan itu, ia terjebak dalam kondisi tidur dan bangun—sebuah dimensi antara kesadaran dan ilusi, seperti lorong gelap yang ia lewati untuk kembali ke masa lalu.

Dalam vise (visi/mimpi) yang singkat namun sangat tajam, Yohan melihat keindahan tragis. Dia berdiri di sebuah clearing di dalam hutan yang sangat lebat. Ada formasi batuan alami, batu persembahan yang sangat besar, berlumut, dan terasa purba.

Di depan batu itu, berdiri Sumiati. Dia tidak berwujud seperti roh dendam yang menakutkan atau siluet yang mengerikan. Sumiati terlihat sama seperti di foto masa mudanya: rambutnya panjang tergerai, mengenakan pakaian sehari-hari, dan wajahnya sangat sedih.

Dia berlutut, wajahnya menyentuh batu yang dingin itu. Yohan melihat seolah-olah, secara simbolis, tali yang terbuat dari jalinan tanaman hutan dan tali pusar berwarna gelap menjerat leher Sumiati, rantai yang memancar keluar dari dasar batu persembahan, mengikatnya erat.

Sumiati memutar kepalanya. Dia melihat Yohan, tatapannya menyuarakan semua yang ia baca di buku: pengorbanan, kepatuhan yang pahit, dan tanggung jawab yang mengerikan.

Ibunya menangis. Tapi bukan menangis histeris. Ia menangis diam-diam. Dan air mata itu tidak hilang di lantai. Air mata itu mengalir dan jatuh ke dasar batu persembahan yang kini Yohan lihat.

Yohan terbangun dengan jeritan pelan, selimutnya bersimbah keringat. Ia merangkak turun dari tempat tidur, masih merasakan sisa air mata dan bekuan tanah dari mimpi. Yohan tahu kini di mana ia harus mencari Pusaka dan ritual yang disembunyikan Yosef.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!