NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Para Penyihir

Lima hari di Ironspire.

Lima hari sebelum perjalanan terakhir menuju Arcanum Academy, sebelum ujian masuk yang akan menentukan masa depanku, sebelum aku benar-benar melangkah ke dunia yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari apa pun yang pernah kubayangkan di Ashfall.

Lima hari untuk mempersiapkan diri—atau gagal sebelum sempat mencoba.

Aku tidak menyia-nyiakan satu detik pun.

[HARI PERTAMA - KEDATANGAN & ORIENTASI]

Silver Quill Inn ternyata lebih dari sekadar penginapan biasa.

Pagi pertama setelah check in, aku turun ke ruang umum untuk sarapan dan menemukan papan pengumuman besar di dinding—penuh dengan pemberitahuan, jadwal, dan pengumuman yang jelas-jelas ditujukan untuk para kandidat Academy.

PEMBENTUKAN KELOMPOK BELAJAR - JAM 9 PAGI SETIAP HARI

SESI REVIEW TEORI SIHIR - JAM 2 SIANG

HALAMAN LATIHAN TEMPUR - TERSEDIA JAM 6-8 PAGI

TIPS UJIAN MASUK DARI ALUMNI - SESI MALAM

Elara sudah duduk di meja dekat jendela, dengan tumpukan buku tebal di sampingnya dan buku catatan terbuka yang penuh tulisan tangan yang rapi. Ia melambai ketika melihatku.

"Kael! Ke sini. Aku sudah memesan sarapan ekstra—kamu butuh energi untuk hari ini."

Aku duduk di hadapannya, menatap piring yang dipenuhi roti, telur, sosis, dan buah-buahan. Jauh lebih banyak dari yang biasa kumakan. "Ini... banyak sekali."

"Latihan intensif butuh kalori intensif," ia menjawab dengan nada lugas. "Percayalah—dua tahun persiapan mengajarkanku itu dengan cara yang susah. Makan tidak cukup sama dengan performa tidak cukup."

Aku mulai makan sementara Elara menjelaskan jadwal yang sudah ia susun.

"Kelompok belajar pertama jam sembilan—aku sudah menghubungi beberapa kandidat lain yang menginap di sini. Lima orang tertarik untuk belajar bersama. Siang kita bisa review dasar-dasar teori sihir—kamu bilang kebanyakan otodidak, kan? Aku bisa bantu mengisi kekosongannya. Sore bebas untuk latihan pribadi, dan malam ada sesi alumni di aula."

"Kamu sudah... merencanakan segalanya," aku berkomentar, terkesan.

Ia tersenyum. "Organisasi adalah setengah dari kesuksesan. Kekacauan hanya membuang waktu dan energi."

Azure Codex berdenyut pelan di dadaku—satu denyutan tunggal, seolah batu itu menyetujui pendekatan metodis Elara.

"Oh, satu hal lagi," ia menambahkan, merogoh tasnya dan mengeluarkan buklet tipis. "Ini—Soal-Soal Ujian Masuk yang Umum, Edisi Teori. Diterbitkan oleh asosiasi alumni Academy. Materi belajar yang legal, bukan contekan. Ada contoh soal dari tahun-tahun sebelumnya."

Aku mengambil buklet itu dengan hati-hati. Halaman-halaman yang dipenuhi diagram kompleks, rumus-rumus sihir, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalaku pusing hanya dari sekilas membaca.

"Soal 47: Jelaskan hubungan antara saturasi mana dan efisiensi manifestasi mantra dalam lingkungan dengan medan magis ambien yang berfluktuasi. Berikan bukti matematis."

"Ini... tingkat soal untuk ujian masuknya?" tanyaku, suara sedikit lemah.

"Yang mudah sampai menengah," Elara menjawab dengan ekspresi simpatik. "Soal yang sulit lebih parah lagi. Tapi jangan panik—banyak dari ini bisa dipelajari dengan waktu belajar yang cukup. Makanya kita punya lima hari."

Lima hari untuk mempelajari apa yang seharusnya membutuhkan bertahun-tahun.

Tidak ada tekanan.

[JAM 9 PAGI - PEMBENTUKAN KELOMPOK BELAJAR]

Ruang belajar di lantai tiga Silver Quill Inn dirancang khusus untuk para kandidat—meja panjang, banyak kursi, papan tulis besar, rak-rak yang dipenuhi buku referensi, dan bahkan pencahayaan magis dengan kecerahan yang bisa disesuaikan.

Ketika Elara dan aku tiba, tiga orang sudah menunggu.

Yang pertama langsung menarik perhatianku—seorang kurcaci dengan jenggot cokelat lebat yang dikepang rapi, mengenakan celemek kulit yang penuh bekas terbakar dan noda alat-alat. Ia bangkit dari kursinya dengan senyum yang antusias.

"Finn Ironhammer!" ia mengumumkan, mengulurkan tangan dengan cengkeraman yang bisa menghancurkan batu kalau mau. "Magang pandai besi dari Stonehearth Forge. Mendaftar untuk jalur Enchantment—semoga."

Aku menjabatnya dengan genggaman yang kuat, berusaha tidak meringis. "Kael. Tempur... mungkin. Belum sepenuhnya memutuskan."

"Ah, tipe pejuang!" Finn mengangguk dengan setuju. "Bagus, bagus. Kita butuh keseimbangan dalam kelompok—tidak hanya kutu buku teori seperti aku dan Elara."

Dua orang lainnya memperkenalkan diri, kembar yang tampak mengejutkan mirip namun entah bagaimana jelas-jelas berbeda.

Mira—sedikit lebih tinggi, rambut panjang dalam kuncir tinggi, mata cokelat yang tajam dan analitis. "Mira Vermont. Afinitas api. Jalur Evokasi."

Kira—sedikit lebih pendek, rambut sebahu, mata cokelat yang sama tapi dengan ekspresi yang lebih lembut. "Kira Vermont. Afinitas air. Jalur Penyembuhan."

"Kembar dengan afinitas elemental yang berlawanan?" aku berkomentar, penasaran. "Itu... langka?"

"Sangat," Mira menjawab dengan senyum kecil. "Tapi menguntungkan. Kami bisa menggabungkan mantra untuk teknik berbasis uap, atau saling menutupi kelemahan masing-masing."

"Api menguapkan air, air memadamkan api," Kira menambahkan dengan lembut. "Keseimbangan yang sempurna."

Ada dinamika yang menarik di antara keduanya—Mira jelas yang lebih tegas dan cerewet, Kira lebih pendiam dan penuh pertimbangan. Tapi ketika mereka sebentar membahas teori mantra, sinkronisasi mereka sempurna. Saling menyelesaikan kalimat, membangun ide satu sama lain.

Kerja tim yang terlatih. Atau koneksi kembar. Mungkin keduanya.

Pintu ruang belajar terbuka lagi, dan dua orang lagi masuk.

Pertama—seorang perempuan elf dengan rambut perak panjang, mata hijau zamrud, membawa busur yang jelas bukan hiasan. Gerakan yang anggun, postur atletis, mata yang terus-menerus memindai ruangan seperti menilai ancaman.

"Cassia Silverwind," ia memperkenalkan diri dengan suara yang tenang dan terkendali. "Ranger dari Evergreen Woods. Spesialisasi Sihir Tempur."

Seorang ranger elf yang menginginkan Sihir Tempur alih-alih memanah tradisional atau sihir alam. Pilihan yang menarik.

Orang terakhir masuk dengan aura yang berbeda. Manusia, mungkin seusiaku, tapi cara ia berjalan, cara ia menatap semua orang seolah menilai harga mereka—

Bangsawan. Pasti bangsawan.

Pakaian mahal tapi tidak mencolok, postur sempurna, ekspresi yang hampir tidak bisa menyembunyikan rasa merendah.

"Derek Deimont," katanya dengan suara yang halus tapi entah mengapa menyebalkan. "House Deimont, salah satu keluarga pendiri di Kerajaan Tengah." Jeda, seperti mengharapkan reaksi. "Jalur Generalis, tapi aku akan spesialisasi di Sihir Politik dan Diplomasi setelah tahun fondasi."

Sihir Politik. Tentu saja.

Elara langsung mengambil alih, memberi isyarat agar semua orang duduk. "Oke, bagus! Total tujuh—ukuran yang sempurna untuk kelompok belajar. Tidak terlalu besar untuk dikelola, tidak terlalu kecil untuk kekurangan perspektif yang beragam."

Ia bergerak ke papan tulis, menulis dengan cepat dan efisien:

TUJUAN KELOMPOK BELAJAR:

Mencakup semua fondasi teoritis (5 hari)

Mempraktikkan struktur mantra dasar

Berbagi pengetahuan & saling mengisi kesenjangan

Dukungan moral & motivasi

"Aturan dasar," Elara melanjutkan, berbalik ke kelompok. "Satu: tidak ada sabotase. Kita bersaing untuk slot yang terbatas, ya, tapi menyabotase satu sama lain itu kontraproduktif dan sejujurnya kelakuan yang menyebalkan."

Derek membuka mulutnya seperti ingin protes, tapi Elara melanjutkan sebelum ia sempat bicara.

"Dua, partisipasi yang setara. Semua orang berkontribusi, semua orang belajar. Kalau kamu punya keahlian di area tertentu, bagikan. Kalau kamu lemah di area lain, ajukan pertanyaan tanpa malu."

Finn mengangkat tangan. "Aku sangat buruk dalam teori sihir—semua matematika dan konsep-konsep abstrak itu. Tapi aku sangat bagus dalam aplikasi praktis dan dasar-dasar enchantment. Barter?"

"Contoh yang sempurna," Elara berkata dengan senyum yang mendorong. "Mira, Kira—kalian berdua punya fondasi sihir elemental. Bisakah kalian membantu yang lain dalam identifikasi afinitas dan manipulasi elemental dasar?"

Kedua kembar itu mengangguk bersamaan.

"Cassia—taktik tempur dan kesadaran spasial?"

"Ya," Cassia mengkonfirmasi. "Dan sihir bertahan hidup—deteksi, pelacakan, adaptasi lingkungan."

"Luar biasa." Elara berbalik ke arahku. "Kael—kamu bilang kakekmu melatihmu dalam tempur pedang. Bisakah kamu berbagi prinsip-prinsip tempur jarak dekat?"

Semua mata beralih ke arahku. Aku mengangguk pelan. "Aku bisa mengajarkan teknik pertahanan dasar dan kesadaran tempur. Bukan yang tingkat lanjut, tapi... fondasi yang kokoh."

"Sudah cukup." Elara akhirnya menatap Derek. "Dan kamu?"

Derek bersandar di kursinya dengan ekspresi yang dengan jelas mengatakan ia tidak suka dijadikan pusat perhatian. "Teori politik, etiket bangsawan, aplikasi sihir diplomatik. Berguna untuk memahami politik internal Academy dan cara menavigasi struktur sosial."

Sebenarnya berguna, mengejutkan. Academy terkenal dengan politik yang rumit—mengetahui cara bermanuver bisa sama pentingnya dengan kekuatan magis.

"Sempurna," Elara menyimpulkan. "Jadi kita punya keahlian yang beragam. Sekarang, untuk lima hari ke depan, jadwalnya adalah—"

Ia menguraikan rencana yang terperinci: pagi untuk studi teoritis, siang untuk demonstrasi praktis, malam untuk review dan tanya jawab. Terorganisir, efisien, dioptimalkan untuk pembelajaran maksimal dalam waktu yang terbatas.

Ketika sesi pertama berakhir dua jam kemudian, kepalaku penuh dengan informasi tentang teori sirkulasi mana, struktur mantra dasar, dan prinsip-prinsip fundamental yang sejujurnya seharusnya butuh berminggu-minggu untuk dipahami sepenuhnya.

Tapi Azure Codex membantu. Batu itu berdenyut stabil selama seluruh sesi, dan aku memperhatikan—mirip dengan cara ia menganalisis pola tempur, tampaknya ia juga mengkatalogkan informasi teoritis. Bukan pemahaman yang sempurna, tapi penyerapan yang dipercepat.

Peningkatan pembelajaran sihir. Kemampuan lain yang terbuka.

[SIANG - LATIHAN PRIBADI]

Setelah makan siang singkat, aku pamit dari kelompok untuk waktu latihan pribadi.

Halaman di belakang Silver Quill Inn sederhana tapi memadai—area batu yang dipaving sekitar dua puluh kali dua puluh meter, dengan boneka latihan di satu sudut, rak senjata dengan senjata latihan kayu, dan ruang yang cukup untuk latihan gerakan.

Ketika aku tiba, halaman itu kosong. Sempurna.

Aku mulai dengan pemanasan dasar—peregangan, kardio ringan, rotasi sendi untuk memastikan tubuh siap. Bahuku yang cedera akibat pertarungan Shadow Stalker masih sesekali berdenyut, tapi sebagian besar sudah sembuh. Salep penyembuhan Gareth dan pemulihan alami telah bekerja dengan baik.

Kemudian, bentuk-bentuk pedang.

Aku mencabut pedang—bilah menangkap sinar matahari sore, memantul dengan kilau yang redup. Senjata ini sudah menjadi perpanjangan dari diriku sendiri, berat dan keseimbangan yang familiar, gagang yang terbentuk sempurna untuk genggamanku dari bertahun-tahun penggunaan.

Mulai dengan Bentuk Pertama—kuda-kuda dan serangan dasar yang pertama kali Kakek ajarkan, fondasi dari semua teknik lanjutan.

Tebasan vertikal, potongan horizontal, serangan diagonal, tusukan, dan posisi tangkisan.

Sederhana dan berulang.

Azure Codex berdenyut di dadaku—ritme stabil yang sudah kukenali sebagai "mode analisis." Batu itu mengamati, mengkatalogkan, membandingkan dengan data tempur tersimpan dari pemilik-pemilik sebelumnya.

Setelah sepuluh menit bentuk dasar, penglihatanku tiba-tiba bergeser.

Lapisan-lapisan muncul—sosok-sosok transparan yang melakukan bentuk yang sama tapi dengan variasi yang halus. Hantu-hantu prajurit masa lalu, kenangan yang tersimpan dalam Azure Codex yang menunjukkan teknik-teknik alternatif.

Ini pernah terjadi sebelumnya, sekilas, tapi kini lebih stabil. Lebih jelas.

Satu hantu—prajurit dalam baju zirah pelat berat—menggeser distribusi berat secara berbeda, menciptakan basis yang lebih stabil untuk serangan-serangan yang kuat.

Yang lain—petarung dengan zirah ringan—menggunakan rotasi pergelangan tangan untuk menambah kekuatan memotong tanpa memberi sinyal gerakan.

Yang ketiga—seseorang dengan postur yang mirip denganku—menggabungkan kerja kaki dengan putaran tubuh untuk menghasilkan momentum tambahan.

Semua penyesuaian kecil. Tapi secara keseluruhan, peningkatannya signifikan.

Jangan melawan, datang kesan dari Azure Codex—bukan kata-kata, melainkan perasaan, maksud. Amati, pahami, integrasikan.

Aku memperlambat bentuk-bentukku dengan sengaja, mengamati lapisan hantu dengan perhatian yang terfokus. Mencatat perbedaan-perbedaan, menganalisis mengapa penyesuaian tertentu lebih efisien, memahami biomekanika di balik setiap variasi.

Kemudian aku mencoba mengintegrasikan koreksi-koreksi itu.

Menggeser berat seperti prajurit berat—kuda-kuda langsung terasa lebih kokoh, serangan membawa lebih banyak kekuatan.

Menambahkan rotasi pergelangan seperti petarung ringan—gerakan memotong menjadi lebih tajam, membutuhkan lebih sedikit ancang-ancang.

Menggabungkan kerja kaki dan tubuh seperti prajurit berbadan mirip—pembangkitan momentum meningkat tanpa mengorbankan keseimbangan.

Bentuk-bentuknya terasa lebih baik. Lebih mulus. Lebih natural.

Aku tidak hanya belajar meniru, tapi memahami prinsip-prinsip dan beradaptasi.

Batu itu secara aktif mengajar.

Aku melanjutkan latihan dengan fokus yang diperbarui, mengulangi semua bentuk dasar berkali-kali, setiap iterasi memasukkan lebih banyak koreksi, menyempurnakan gerakan, meningkatkan efisiensi.

Ketika matahari mulai turun menuju cakrawala, seluruh tubuhku basah keringat, otot-otot terasa sakit dengan nyaman dari kerja keras, tapi gerakanku jauh lebih halus dibandingkan pagi ini.

Peningkatan nyata. Dalam satu sore saja.

Bukan transformasi yang dramatis—masih berminggu atau berbulan-bulan sebelum eksekusi di level master. Tapi kemajuannya tidak bisa dipungkiri.

"Dedikasi yang mengesankan."

Suara dari belakang membuat aku terkejut. Aku berputar, pedang setengah terangkat dalam refleks bertahan—

Cassia berdiri di pintu masuk halaman, busur tersampir di punggung, ekspresi netral tapi mata yang penuh perhatian.

"Maaf," katanya, mengangkat tangan dalam gestur damai. "Tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku hanya... mengamati. Kamu berlatih dengan intensitas yang langka untuk petarung otodidak."

Aku menurunkan pedang, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu. "Kebiasaan dari kakekku. Ia selalu bilang latihan yang konsisten lebih penting dari kejeniusan yang sesekali."

"Orang yang bijak." Cassia berjalan lebih dekat, gerakannya sunyi meski memakai sepatu bot di atas permukaan batu. Latihan ranger, mungkin. "Boleh aku bertanya—teknik yang kamu gunakan, apakah itu gaya aliran tertentu atau campuran eklektik?"

Pertanyaan yang rumit. Kebenarannya adalah teknik itu kebanyakan berasal dari Kakek, tapi belakangan ini dipengaruhi kenangan-kenangan Azure Codex dari tak terhitung prajurit. Tapi aku tidak bisa menjelaskan itu.

"Eklektik," aku menjawab dengan hati-hati. "Kakekku mengajar dari pengalaman tempur pribadi, bukan akademi formal. Aplikasi praktis daripada bentuk-bentuk tradisional."

Ia mengangguk, mengerti. "Teknik yang ditempa dalam pertempuran. Seringkali lebih efektif dari teori kelas." Jeda sebentar. "Aku memperhatikan kamu menyesuaikan bentuk di tengah latihan. Koreksi diri atau...?"

Ia terlalu jeli!

"Bereksperimen," aku berkata, menjaga nada tetap santai. "Mencoba distribusi berat yang berbeda, melihat mana yang paling efisien."

Bukan kebohongan yang lengkap. Hanya... bukan kebenaran yang lengkap.

Cassia menatapku dengan pandangan yang menilai cukup lama, lalu mengangguk. "Pembelajaran adaptif. Keahlian yang bagus untuk dimiliki di Academy. Mereka terus-menerus memberikan tantangan yang tidak terduga—kekakuan dihukum, fleksibilitas diberi penghargaan."

Ada pesan tersirat di sana. Peringatan? Saran?

"Terima kasih atas wawasannya," aku berkata dengan tulus.

"Sama-sama." Ia berbalik untuk pergi, tapi berhenti. "Kael—satu hal lagi. Hati-hati dengan Derek."

"Kenapa?"

"Karena ia tipe yang melihat semua orang sebagai alat yang berguna atau hambatan yang harus dieliminasi. Dan aku belum bisa menentukan kategori mana yang ia tempatkan kamu." Ekspresinya sedikit menggelap. "Politik bangsawan itu rumit. Brutal dengan cara yang berbeda dari tempur."

"Dicatat."

Ia pergi tanpa kata-kata lebih lanjut, melebur ke dalam bayangan-bayangan bangunan dengan kemudahan yang terlatih.

Aku berdiri di halaman, pedang masih di tangan, memikirkan peringatannya.

Derek. Manuver politik, skema bangsawan.

Satu hal lagi yang harus dikhawatirkan dalam situasi yang sudah penuh tekanan.

Luar biasa.

Kuasai fundamentalnya dulu. Politik belakangan.

Aku menyarungkan pedang, mengumpulkan perlengkapan, dan masuk ke dalam untuk makan malam dan sesi malam.

Besok—hari kedua dari lima. Lebih banyak belajar, lebih banyak latihan, lebih banyak persiapan.

Selangkah demi selangkah menuju Academy.

Selangkah demi selangkah menuju masa depan yang masih tidak pasti tapi tak terbantahkan penting.

[MALAM - SESI ALUMNI]

Aula utama Silver Quill Inn telah diubah untuk sesi malam—kursi-kursi diatur dalam setengah lingkaran menghadap panggung kecil, pencahayaan yang diredupkan menciptakan suasana yang intim, sekitar tiga puluh kandidat hadir.

Di atas panggung berdiri seorang pria di penghujung dua puluhan, mengenakan jubah Academy dengan lencana yang menandakan ia lulus lima tahun lalu. Rambut cokelat yang berantakan, kacamata yang terus-menerus melorot ke bawah hidungnya, tapi mata yang tajam dan cerdas.

"Selamat malam, para calon mahasiswa," ia menyapa dengan senyum yang ramah. "Nama saya Marcus Threadwell—ya, Marcus yang berbeda dari Marcus mana pun yang mungkin kalian kenal, tolong jangan sampai tertukar. Saya lulus dari Arcanum Academy lima tahun lalu, saat ini bekerja sebagai peneliti independen dalam teori sihir."

Beberapa tawa kecil dari hadirin. Ketegangan sedikit berkurang.

"Malam ini saya akan berbagi perspektif jujur tentang kehidupan Academy—bukan propaganda dari materi rekrutmen, tapi pengalaman nyata dari seseorang yang bertahan selama empat tahun dan hidup untuk menceritakannya."

Ia mengkonjurasikan proyeksi sihir di udara—gambar kampus utama Academy, menara-menara masif yang menjangkau awan, platform-platform yang melayang menghubungkan bangunan-bangunan, taman-taman yang tampak menentang gravitasi.

"Kebenaran pertama, Arcanum Academy adalah institusi sihir paling bergengsi di Avalon. Bukan karena pemasaran, tapi karena hasil nyata. Alumni mencakup Archimagus, Penyihir Istana, petualang-petualang legendaris, dan beberapa individu paling kuat di benua ini."

Proyeksi bergeser—menampilkan potret-potret alumni terkenal.

"Kebenaran kedua, gengsi itu datang dengan harga. Tekanan akademis sangat intens, persaingan sangat ketat, tingkat kegagalan sangat tinggi. Sekitar empat puluh persen mahasiswa yang diterima tidak berhasil lulus. Putus di tengah, gagal mata kuliah, atau lebih buruk lagi—kecelakaan selama pelatihan praktis."

Pengingat yang memudarkan semangat. Academy berbahaya, bukan sekadar sulit.

"Ujian masuk," Marcus melanjutkan, "dirancang untuk menyaring mereka yang belum siap. Tiga bagian sebagaimana yang mungkin sudah kalian ketahui—ujian teori tertulis, demonstrasi praktis, penilaian tempur."

Proyeksi menampilkan statistik rinci: tingkat eliminasi ujian tertulis 60%, tingkat eliminasi ujian praktis 30%, ujian tempur menyisihkan lebih banyak hingga tersisa 10% terakhir.

"Ujian tertulis tidak hanya menguji hafalan, tapi pemahaman dan penerapan. Mereka akan memberikan rumus yang sengaja tidak lengkap, pertanyaan yang ambigu, skenario jebakan. Tujuannya adalah melihat apakah kalian bisa berpikir kritis atau hanya mengulang dari buku teks."

Finn mengangkat tangan. "Berapa lama ujiannya?"

"Empat jam. Lima puluh soal, kesulitan yang bervariasi. Manajemen waktu sangat krusial—jangan terjebak pada satu soal yang sulit."

Mira bertanya, "Apa format ujian praktisnya?"

"Demonstrasi individual di depan panel penguji. Mereka memberikan mantra acak dari repertoar dasar—pembuatan cahaya, levitasi benda, manipulasi elemental minor, penghalang sederhana. Kalian harus mengeksekusi dengan kendali yang tepat, manifestasi yang stabil, mana yang tidak terbuang percuma. Kriteria kegagalan adalah mantra yang meleset, kehilangan kendali, atau sama sekali tidak bisa merapalkan."

Kira mengangkat tangan dengan ragu. "Bagaimana jika... bagaimana jika afinitas kita tidak cocok untuk mantra yang ditugaskan? Misalnya, penyihir api diminta merapalkan mantra air?"

"Pertanyaan yang bagus. Para penguji biasanya memberikan sesuatu yang sesuai dengan afinitas yang terdeteksi, tapi kadang sengaja menguji fleksibilitas dengan elemen yang berlawanan. Ketidakmampuan merapalkan afinitas berlawanan bukan otomatis gagal, tapi kompetensi minimal tetap diharapkan."

Derek angkat bicara—pertama kalinya berkontribusi secara produktif. "Struktur ujian tempur?"

"Bervariasi setiap tahun, tapi inti konsepnya tetap sama—tunjukkan kemampuan tempur di bawah tekanan. Formatnya bisa duel individual, skenario tim, simulasi monster, jalur rintangan dengan elemen tempur, atau kombinasi. Menang bukan satu-satunya kriteria—mereka mengevaluasi taktik, manajemen sumber daya, pengambilan keputusan di bawah tekanan, dan kemampuan beradaptasi."

Ekspresi Marcus menjadi lebih serius. "Kebenaran ketiga, dan ini penting—Academy tidak hanya mencari penyihir yang kuat. Mereka mencari individu yang memiliki potensi untuk berkontribusi positif bagi komunitas magis. Orang sombong dengan kekuatan mentah mungkin lulus ujian, tapi biasanya mereka kesulitan dalam mata kuliah kerja tim atau dikeluarkan karena masalah disiplin."

Pandangan sekilas ke arah tempat Derek duduk. Halus, tapi pesannya jelas.

Sesi itu berlanjut selama satu jam lagi—Marcus berbagi anekdot dari kehidupan Academy, menjawab pertanyaan dengan detail yang jujur, memberikan tips praktis untuk persiapan ujian.

Di akhir sesi, aku punya gambaran yang lebih jelas tentang apa yang menanti.

Penuh tantangan.

Tapi juga... kesempatan. Kesempatan nyata untuk tumbuh, untuk belajar, untuk menjadi cukup kuat untuk menemukan kebenaran tentang orang tuaku dan bertahan di dunia yang jelas-jelas penuh dengan ancaman.

Satu hari lagi terselesaikan. Empat hari tersisa.

Kemudian—Academy.

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!